Strategi Trading Saham, Strategi Sukses Trading Saham (Buat Orang Sibuk)

Peringkat broker opsi biner:

Strategi Trading Saham: “Beli Rendah, Jual Tinggi”

“Membeli harga rendah, dan menjual saat harga tinggi” adalah salah satu strategi trading saham yang sering diterapkan oleh para trader saham untuk mengambil keuntungan dari pasar saham. Tak hanya berlaku di pasar saham, strategi ini bisa diterapkan di pasar lainnya seperti obligasi, valas, dll. Walaupun kelihatannya sederhana, tetapi dalam eksekusinya seringkali sulit untuk dilakukan.

Sangat mudah untuk mengatakan apakah harga saham tertentu rendah atau tinggi dalam retrospeksi, tetapi pada saat itu secara monumental terbilang sulit. Harga mempengaruhi psikologi dan emosi para pelaku pasar.

Karena alasan itulah strategi trading saham, “beli rendah jual tinggi”, bisa jadi menantang untuk dapat diterapkan secara konsisten. Trader saham dapat menggunakan alat bantu seperti moving average dan siklus bisnis.

Kesulitan Strategi Trading Saham “Beli Rendah, Jual Tinggi”

Ada contoh kasus klasik dari kondisi pasar yang terdorong ke titik ekstrem, yaitu harga tinggi karena terjadi gelembung pasar atau harga rendah karena terjadinya kepanikan pasar. Ini salah satu peluang terbaik untuk menerapkan strategi membeli dengan harga rendah dan menjualnya dengan harga tinggi.

Akan tetapi, ada banyak waktu saat pasar terus bergerak ke satu arah, menjadi hukuman bagi mereka yang ingin membeli (harga) rendah dan menjual (harga) tinggi. Apa yang tampak seperti harga tinggi pada suatu hari akan terlihat seperti harga rendah di hari yang lain.

Trader dan investor saham harus memiliki metode obyektif tertentu untuk menentukan apakah harga sedang tinggi atau rendah. Manusia terkondisikan untuk mengikuti orang banyak. Ada kesulitan yang melekat secara konsisten saat ingin membeli rendah dan menjualnya dengan tinggi.

Peringkat broker opsi biner:

Ketika harga rendah, sentimen cenderung sangat negatif terhadap saham. Banyak pemegang bullish dipaksa membuang sahamnya. Demikian pula, ketika harga tinggi, sulit membayangkan melepaskan saham yang harganya tinggi.

Strategi trading saham “beli rendah, jual tinggi” bisa menyesatkan dalam beberapa hal, karena posisi terendah dan tertinggi hanya menjadi jelas dalam retrospeksi. Selalu ada bull yang menganggap harga saham rendah dan bear yang menganggapnya tinggi.

Seringkali, kedua belah pihak membuat argumen yang meyakinkan. Tantangan bagi investor dan trader adalah untuk menentukan saham mana yang terdorong ke arah ekstrem berdasarkan fundamental dan yang didorong oleh emosi.

Penggunaan Moving Averages

Salah satu cara sederhana untuk menerapkan strategi beli rendah, menjual tinggi adalah dengan menggunakan moving averages. Indikator ini berasal dari harga dan sangat membantu trader serta investor dalam menentukan tren saham.

Menggunakan moving averages dari durasi yang lebih pendek dan satu dengan durasi yang lebih lama dapat membantu dalam membantu trader membeli rendah dan menjual tinggi serta melindungi risiko downside. Sebagai contoh, salah satu metode umum adalah menggunakan indikator rata-rata bergerak 50 hari dan 200 hari. Ketika rata-rata bergerak 50 hari melintasi 200 hari, maka menghasilkan sinyal beli. Ketika melintasi lainnya, maka menghasilkan sinyal jual.

Indikator ini efektif dalam membantu trader mengatur waktu masuk ke titik ketika tren sedang goyah. Salah satu masalah penerapan strategi trading saham dengan buy low sell high adalah membeli atau menjual sebelum tren telah sepenuhnya habis. Dengan penggunaan indikator tersebut, akan terhindar dari masalah ini,

Siklus Bisnis dan Sentimen

Suatu pendekatan membeli tinggi, menjual rendah, lebih cocok untuk investor jangka panjang. Pendekatan ini menggunakan siklus bisnis dan survei sentimen sebagai alat pengukur waktu pasar. Pasar mengikuti pola yang agak konsisten bergerak dari rasa takut ke keserakahan dalam jangka waktu yang lama.

Waktu ketakutan maksimum adalah waktu terbaik untuk membeli saham, sementara keserakahan adalah waktu optimal untuk menjual dengan harga tinggi. (Baca lebih lanjut: Psikologi Trading Saham: Keserakahan dan Ketakutan)

Kondisi ekstrem ini terjadi beberapa kali setiap dekade dan memiliki kesamaan yang luar biasa. Siklus emosional ini mengikuti siklus bisnis. Ketika ekonomi berada dalam resesi, rasa takut mendominasi ketika aktivitas ekonomi menurun. Ini saatnya membeli saham dengan harga rendah.

Ketika siklus bisnis berada dalam fase ekspansi, aktivitas ekonomi meningkat. Biasanya, orang merasa optimis tentang masa depan. Ini saatnya menjual saham dengan harga tinggi. Survei sentimen dari perusahaan survei dapat memberikan wawasan lebih jauh ke dalam siklus bisnis.

Strategi Belajar Trading Saham Untuk Pemula & Generasi Z

Assalamualaykum milenials, uda siap trading saham?

Beberapa waktu lalu saya ketemu gadis cantik, berambut panjang, dengan kulit eksotis dan tubuh tinggi semampai. Namanya… Ah, kita kan mau ngomongin soal investasi, kenapa malah deskripsi orang. Pokoknya pada saat berjumpa, dia bilang begini, (sedikit editorial biar dramatis)

“Kakanda, akutu pengen investasi. Generasiku juga minat banget soal mengelola duit. Tapi jangan yang susah kayak saham, apalagi dipantau harian gitu.”

Katanya sambil monyongin bibir, siapa yang tahan coba?

Singkat kata saya jadi berpikir, apakah generasi milenial dan bahkan Gen Z menganggap trading saham sebagai momok menakutkan setelah pelajaran matematika. Di buku Investory sebenarnya telah saya jelaskan dengan runtut mulai perencanaan keuangan, masalah utang, baru menjelaskan perkara saham. Kenapa penjelasannya bisa lebar gitu, jawabnya adalah agar sudut pandang pembaca luas sehingga Anda tidak takut untuk mulai investasi saham.

Back to trading saham. . .

Seorang pemula biasanya menghindari melakukan trading saham karena dua hal yaitu malas melihat harga saham setiap hari dan takut belajar analisis gambar. Akibatnya mereka mengambil jalur yang “katanya” investasi, long term. Mengidolakan Warren Buffet, Charlie Munger, dan Long Kheng Hong, tapi tidak secara kaffah atau totalitas. Masalahnya muncul disini, akan sangat baik bila Anda konsisten investasi. Tapi jika alasannya takut belajar trading, maka itu salah.

Artikel kali ini akan sharing khusus mengenai trading saham untuk pemula dengan cara yang seharusnya mudah dan membahagiakan. Sehingga bahkan seorang pemula Gen Z bisa mulai mempelajarinya.

Bagaimana cara belajar trading saham dengan mudah?

1. Mulai dari nominal kecil

Siapa bilang investasi tidak bisa dilakukan dengan modal kecil? Main saham pakai duit seuprit dimungkinkan kok, tapi ya “mainnya” jangan main-main. Nyari duit kan harus serius, makanya perlu dianggap sebagai bisnis sekecil apapun uang yang dikeluarkan sebagai modal.

Kenapa saya menyarankan mulai dengan nominal yang tidak terlampau banyak?

Trading saham merupakan salah satu investasi berisiko tinggi, tidak semua orang cocok di bidang itu. Oleh karena itu, kita harus tahu terlebih dulu apakah Anda cocok di bidang tersebut atau tidak. Setelah beberapa waktu dijalani dan tidak merasa cocok, kenapa harus diteruskan?

Lain ceritanya kalau merasa nyaman trading meskipun masih mengalami kerugian di tahap belajar, tidak ada salahnya pembelajaran saham berlanjut.

Pertanyaan berlanjut menjadi seberapa kecil nominal uang yang disiapkan?

Semampu Anda! Yang penting ikhlas!

2. Modal utama adalah. . . pengetahuan

Klise sih, tapi bener lhoh.

Bagaimana Anda bisa bertempur di medan perang kalau tidak punya senjata penghancur untuk trading saham. Enggak tahu dimana titik support, kapan harus jual dan pilihan-pilihan lain semacam itu. Terjebak dalam kondisi semacam itu secara terus menerus akan membuat Anda masuk ke zona spekulasi.

Inga-inga, trading sangat jauh berbeda dengan spekulasi!

Belajar saham memang bukan “cara cepat jadi kaya”, tapi “cara tepat menuju kemapanan”. Lha kalian mau jadi dokter tajir aja butuh sekolah bertahun-tahun, masa jadi trader cuma mau belajar semalem. Impossible donk. Kalau saya langsung ngomong soal fibonacci, elliot wave, dan macem-macem lainnya, bisa jadi Anda langsung nyerah. Saya kira teknik belajar paling mudah adalah mengenal simbol chart dan membaca tren. Ga melulu berhasil memang, paling tidak Anda bisa belajar seperti apa analisa teknikal.

Ini ada dua jenis stick yang jamak dipake ya, candlestick ama bar stick, yang kadang disebut OHLC. Sebenarnya OHLC singkatan dari Open High Low Close. Bacanya sudah tau kan? Open ketika pasar buka, close pas tutup, high itu harga tertinggi di range itu, dan low yang terendah. Pretty easy kan?

Dua jenis chart dan cara bacanya. (Sumber: Investory)

Oh ya, kali ini kita tidak perlu membicarakan nilai intrinsik perusahaan atau analisis fundamental ya. Perkara tersebut kita bahas lain waktu ketika fokus investasi dan time frame agak panjang.

3. Memilih perusahaan sekuritas

Duit sudah siap, begitupula dengan sedikit belajar tentang analisis buat trading. Next step? Ya cari perusahaan sekuritas buat kalian menanamkan uangnya. Betul sekali, memilih broker saham kadang tricky agar tidak merasa dirugikan. Apalagi kalian akan masuk kategori trading yang frekuensi transaksinya tentu lebih banyak dibandingkan orang yang sekedar beli doang dan ditahan lama.

Karena lebih sering bertransaksi, mau tidak mau cari apps yang mudah dan ringan. Enggak asik kan, pas sibuk liatin saham, terus smartphone mati gara-gara terlalu berat.

4. Menghindari saham gorengan

Gorengan emang enak pake banget, saya suka makan semacam itu dari kecil. Tapi kalau kebanyakan bikin blenger dan keblinger, begitu pula saham gorengan. Banyak trader senior mainin saham model begini, tapi jelas bukan barang yang cocok digunakan oleh para pemula dan generasi Z. Kenapa tidak cocok?

Pertama, saham gorengan sangat susah dibaca dari sisi analisis teknikal, apalagi fundamental. Gerakannya yang begitu volatil menjadi tidak terprediksi dengan baik, karena sentimen dan pompomers menjadi faktor paling dominan dalam menggerakkan harga saham semacam ini.

Kedua, gerakan yang sangat acak tadi tidak pas sebagai sarana belajar trader pemula. Akan lebih mudah jika belajar dari saham-saham yang gerakannya cenderung normal, blue chip, atau second liner boleh lah.

5. Ketimpangan order jual dan beli

Saat Anda mau beli saham, harus ketemu order jual dan beli bukan? Nah coba perhatikan saham-saham yang ketimpangannya sangat tinggi, dimana order beli jauh lebih banyak daripada yang jual. Kemudian mulai belajar di titik kritis yaitu saat awal dan akhir perdagangan, serta menjelang istirahat (jam 11-12).

Itu menurut saya lho ya, ada juga yang berpendapat lain kok. Makanya coba juga kalian bermain ke beberapa forum saham, seperti misalnya pernah saya baca seorang trader memilih jam kritisnya di sore hari.

Kenapa harus perhatikan order beli yang jauh lebih banyak?

Karena itu adalah indikasi kenaikan kuat saham, artinya pasti ada “sesuatu” yang membuat saham tersebut menarik. Kalau saya, langsung cari berita dari internet untuk mencari tahu penyebab orang-orang berburu saham tadi.

Masuk akal? Tinggal dibeli.

6. Pemula jangan gunakan semua modal ke satu transaksi

Meskipun dalam beberapa kali di artikel saya menyebut soal diversifikasi, saya tidak mengharuskan Anda untuk melakukannya. Bagaimanapun juga setiap orang bebas melakukan strategi trading saham sesuai kenyamanan masing-masing. Tetapi. . .

Sekali lagi, tetapi ya. . .

Untuk pemula sangat tidak disarankan menggunakan seluruh modal hanya demi satu transaksi. Andaipun tidak diversifikasi, lebih baik gunakan sedikit saja, sisanya disimpan dulu. Jadi Anda bisa merasakan seperti apa sih trading, sekaligus cara penanganannya dengan tingkat kerugian yang sudah bisa dibatasi. Bayangkan saja jika Anda taruh semua modal dan berakhir rugi, terlalu mahal harga belajarnya.

7. Cut loss dan profit yang realistis

Semua pebisnis tentunya sadar tidak semua usaha menghasilkan keuntungan, ada kalanya mengalami kerugian. Tidak berbeda dengan bisnis saham. Apa aja yang bisa bikin trader merugi?

  • Harga sahamnya turun, sehingga modal yang kita masukkan berkurang.
  • Modal bisa hilang jika perusahaan bangkrut.

Jarang sih ada trader yang sampe hilang semua duitnya sebagai akibat perusahaan bangkrut, karena biasanya langsung responsif. Para trader yang ngeyel sama analisanya sendiri justru menjadi korban. Misalnya AISA, orang sudah tau secara fundamental perusahaan sedang tidak bagus. Kemudian mulai menggunakan teknikal sederhana, kelihatan sudah saatnya dijual. Eh tapi ga dijual. Coba lihat chart di bawah deh,

Secara teknikal harusnya pada bulan September uda ga ada barang lagi karena titik support uda jebol, apalagi titik resisten bulan Agustus tidak tersentuh. Faktanya beberapa trader tidak yakin dengan analisisnya sendiri dan memegang saham AISA, hingga akhirnya ambles ke 168 dan saham tersebut per hari ini tidak didagangkan lagi. Entah bagaimana nasib para pemegangnya, karena masih harus diselesaikan pihak otoritas.

Itulah kenapa kalau mau jadi trader harus tega cut loss, siapkan titik terendah.

Sama juga pas ngincer cuan, Anda harus tahu berapa profit yang diinginkan. Let’s say 10% atau 20%, selain itu menggunakan titik resisten. Oleh karena itu, trading plan menjadi penting bagi seorang trader namun tidak digunakan oleh para investor yang jarang membatasi titik profit dan cutloss.

Pilih jadi investor atau trader?

Trader pemula biasanya kebingungan diantara dua pilihan di atas. Padahal di antara kedua pilihan tersebut, jauh lebih penting tanggung jawab bisnisnya. Enggak ada cerita orang awalnya trading, terus gara-gara nyangkut banyak sok-sok jadi investor. Bunuh diri dua kali namanya.

Kalau mau jadi investor, ya belajar urusan intrinsik perusahaan. Benar-benar menunggu saat harga saham below the normal line, serta ga usah gatel buat ngutak atik duitnya ke pasar modal tiap hari. Ibarat singa yang lagi nunggu mangsa gitu lhoh. Lain cerita trader, seperti elang yang mengawasi terus kalau ada potensi profit jangka pendek. Makanya grafik menjadi sangat penting.

Adapula yang memilih keduanya, baiknya sih menggunakan dua perusahaan sekuritas agar tidak kecampur lifestylenya. Begitulah kira-kira, sudah paham semua ya?

Peringkat broker opsi biner:
Penghasilan di Internet
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: