Strategi Perdagangan Berjangka Indonesia Strategi Penetrasi Rifan di Industri Perdagangan Berjangka

Peringkat broker opsi biner:

marcomm

Strategi Penetrasi Rifan di Industri Perdagangan Berjangka Komoditi

Penetrasi pasar Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) di Tanah Air rupanya tak setinggi pasar modal. Artinya, pasar PBK terhitung lambat berkembang jikadibandingkan pasar modal. Hal itu ditunjukkan dari jumlah nasabah baru yang berhasil dihimpun di tahun 2020 lalu. Jika pasar modal mampu menghimpun 200 ribuan nasabah baru, maka pasar PBK hanya mampu menghimpun ribuan nasabah baru.

Alhasil, jumlah total nasabah pasar mdoal di tahun lalu sudah sanggup menembus 800 ribu lebih nasabah. Sementara PBK, hanya mampu menyentuh belasan ribu nasabah. Dari total nasabah PBK, yang aktif pun hanya 20%. Fakta itu, menurut Chief Business Officer PT Rifan Financindo Berjangka Teddy Prasetya, mengindikasikan bahwa PBK belum menjadi alternatif yang menarik untuk berinvestasi bagi masyarakat Indonesia.

Diakui Teddy, lambannya penetrasi PBK di Indonesia tak lepas dari kurangnya dukungan dari pemerintah, termasuk Kementerian Perdagangan yang memang memayungi industri PBK. “Perlakukan pemerintah terhadap industri PBK sangat berbeda dengan industri pasar modal. Mulai dari Presiden hingga menteri selalu hadir dalam setiap agenda atau kegiatan pasar modal. Sayangnya, perlakuan itu tidak terjadi pada industri PBK. Belum lagi, masalah belum adanya kepastian pajak di PBK, sehingga membuat industri ini makin sulit berkembang. Industri PBK seperti dianaktirikan,” tuturnya di sela-sela media gathering yang digelar hari ini (17/1) di Jakarta.

Akibatnya, pemberitaan tentang PBK pun jauh di bawah pemberitaan postiif pasar modal. Bagi Rifan sebagai pemain di industri PBK, tentu hal itu menjadi tantangan yang harus mampu dihadapi. Oleh karena itu, dengna bermodal 10 cabang yang telah tersebar di seluruh Indonesia, Rifan massif menggelar program edukasi sekaligus sosialisasi, baik kepada media maupun calon nasabah.

Hasilnya, sepanjang tahun 2020, Rifan berhasil membukukan total volume transaksi 1,178 juta lot atau melonjak 93,08% dibandingkan tahun 2020. “Ini merupakan rekor baru dalam pencapaian kinerja Perseroan dan melebihi target yang ditetapkan di awal tahun 2020 yang hanya 1 juta lot,” tutur Teddy.

Sementara itu, sampai akhir Desember 2020, Rifan berhasil menghimpun total 2.833 nasabah baru, atau tumbuh 33,51% dari tahun 2020 yang hanya 2.122 nasabah baru. Peningkatan jumlah nasabah baru itu, diyakini Teddy, seiring dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap jasa perusahaan pialang PT Rifan Financindo Berjangka serta peningkatan layanan di berbagai sisi.

Peringkat broker opsi biner:

Ditambahkan Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) Stephanus Paulus Lumintang, saat ini RFB tercatat sebagai perusahaan pialang terbesar dan terdepan di industri PBK dengan kontribusi terbanyak di BBJ. “Rifan berhasil menjadi market leader di industri PBK dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 15,7% dan 16,43% untuk transaksi bilateral,” ungkapnya.

Sukses Rifan, diakui Teddy, tak lepas dari prinsip transparansi. Di antaranya, memfasilitasi sistem transaksi dengan SITNA atau Sistem Informasi Transaksi Nasabah yang telah disediakan oleh Kliring Berjangka Indonesia dan Bursa Berjangka Jakarta. Dengan adanya SITNA, setiap transaksi kontrak berjangka yang tercatat di bursa berjangka dapat dipantau oleh nasabah kapan pun dan di mana pun.

Di samping SITNA, saat ini Rifan juga menyediakan fasilitas registrasi online dan aplikasi transaksi berbasis aplikasi di IOS maupun android. Dengan sistem ini nasabah bisa melakukan transaksi secara real time. “Ke depan, semua proses akan didigitalisasi secara bertahap sehingga semakin memudahkan nasabah dalam berinteraksi dan bertransaksi di Rifan,” katanya.

Tahun 2020, Rifan optimistis menetapkan target total volume transaksi sebesar 1,5 juta lot yang terdiri dari 1,1 juta lot untuk volume transaksi bilateral dan 400 ribu lot untuk volume transaksi multilateral. Sementara untuk nasabah baru, kami menargetkan 3.500 nasabah baru di tahun 2020 ini.

Realisasi angka tersebut akan didukung dengan pengembangan infrastruktur dan ekspansi Sumber Daya Manusia dengan penambahan jumlah dan skill marketing di setiap cabang. Saat ini Rifan memiliki 10 kantor yang tersebar di Jakarta (2 kantor), Bandung, Semarang, Surabaya, Solo, Medan, Pekanbaru, Palembang, dan Yogyakarta.

“Melalui tim di sepuluh cabang, kami akan lebih agresif melakukan edukasi dan sosialisasi tentang produk PBK. Yang jelas fokus strategi kami tetap sama dengan sebelumnya, yaitu mengedukasi masyarakat seluas-luasnya agar semakin banyak yang memahami dan meyakini pilihan berinvestasi di PBK. Termasuk, berinovasi merancang aneka produk investasi yang memenuhi kebutuhan nasabah dan pasar,” tutur Teddy.

Lantas, akankah Rifan menyasar segmen millennials, yang notabene tengah digarap industri pasar modal? Dijawab Teddy, di industri PBK, nasabah yang berasal dari millennials sangat sedikit. “Sebab, nilai transaksi kami minimal Rp 100 jtua per lot-nya. Oleh karena itu, target yang kami sasar memang kalangan menengah atas,” tutupnya.

Sempena Hati

it is wisdom to believe the heart

Perdagangan Berjangka Komoditi di Indonesia

(Tulisan ini di muat di Warta ISEI Edisi Juli-Agustus 2008)

Pengaduan atas praktek penipuan yang dilakukan oleh perusahaan pialang yang bergerak di industri perdagangan berjangka komoditas terhadap nasabah mereka sampai dengan pertengahan tahun 2008 masih terjadi. Jumlah dana yang menjadi obyek penipuan, menurut pengaduan itu mencapai angka milyaran rupiah.

Bagaimana sebenarnya perkembangan industri perdagangan berjangka komoditas di Indonesia? Bagaimana sebenarnya peran masing-masing lembaga yang ada di dalam industri ini? Apa peran pemerintah dalam pengembangan industri ini?

Industri perdagangan berjangka komoditas di Indonesia didasarkan pada Undang-undang No. 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi dan Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Komoditi.

Menurut UU No. 32/1997 lembaga yang diberi tugas untuk melakukan pembinaan, pengaturan, pengawasan sehari-hari kegiatan perdagangan berjangka yang teratur wajar, efisien, dan efektif serta dalam suasana persaingan yang sehat adalah Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Selain itu Bappebti juga bertugas melindungi kepentingan semua pihak dalam perdagangan berjangka serta mewujudkan kegiatan perdagangan berjangka sebagai sarana pengelolaan risiko harga dan pembentukan harga yang transparan. Bappebti berada dibawah naungan Departemen Perdagangan.

Pelaku Utama dalam Industri Perdagangan Berjangka

Pelaku utama industri berjangka terdiri dari Bursa Berjangka, Lembaga Kliring Berjangka, Pialang Berjangka dan Pedagang Berjangka.

Bursa berjangka merupakan Self Regulatory Organization (SRO) sebagai penyelengara perdagangan berjangka dengan tujuan untuk menyelenggarakan transaksi kontrak berjangka yang teratur, wajar, efisien, efektif dan transparan. Sedangkan tugasnya adalah menyediakan fasilitas yang cukup untuk dapat terselenggaranya transaksi kontrak berjangka. Di Indonesia bursa berjangka yang beroperasi hanya ada satu yaitu PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ).

Lembaga Kliring Berjangka juga merupakan Self Regulatory Organization (SRO) yang melakukan registrasi dan penjaminan penyelesaian transaksi perdagangan berjangka komoditas. Lembaga Kliring yang didirikan khusus untuk perdagangan berjangka yaitu PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) (PT KBI). PT KBI, atas persetujuan Bappebti dan rekomendasi dari Bank Indonesia, melakukan kerjasama dengan perbankan untuk menjadi bank penyimpan margin, dana kompensasi, dan dana jaminan yaitu BCA, Bank Niaga dan Bank Century.

Pialang Berjangka adalah merupakan lembaga yang mempunyai hak menghimpun dana nasabah dan menyalurkan amanat nasabah untuk melakukan transaksi berjangka ke Bursa Berjangka. Perusahaan Pialang Berjangka wajib mempunyai modal disetor sebanyak Rp 2,5 Milyar dan modal bersih disesuaikan (MBD) minimal Rp 500 juta atau 10% dari dana nasabah yang dikelolanya. Pialang berjangka merupakan ujung tombak industri berjangka, karena perusahaan pialang inilah yang mencari nasabah/investor dan menghimpun dananya dalam rekening terpisah yang telah ditentukan (seggregated account) untuk kemudian ditransaksikan, baik oleh nasabah secara langsung atau oleh orang yang dipercaya nasabah (trader)

Praktek Industri Berjangka pada saat ini

Komoditas yang diperdagangkan di BBJ menurut data bulan Agustus 2008 terdiri dari 4 macam yaitu OLE (Kontrak Berjangka Olein), KIE (Kontrak Indeks Emas), KGE (Kontrak Gulir Emas) dan Emas. Volume transaksi untuk dua komoditas terakhir sangatlah minim, sehingga kontrak yang masih ditransaksikan hanya OLE dan KIE. Namun sedemikian menarikkah olein dan emas?

Ternyata tidak, karena kedua komoditas tersebut hanya diperjualbelikan oleh beberapa pialang dan pedagang dengan jumlah transaksi yang sangat minim. Sampai dengan akhir Agustus 2008, volume transaksi kedua komoditas ini pun hanya 28.778 lot. Oleh karena itu, jika hanya mengandalkan kedua jenis transaksi ini, sangat mustahil industri berjangka di Indonesia dapat tetap bertahan hidup dan berkembang.

Hingga saat ini, industri berjangka bisa terus tumbuh dan berkembang karena perdagangan over the counter (OTC/perdagangan di luar bursa), yaitu perdagangan derivatif berupa indeks bursa dunia dan mata uang asing (atau disebut Sistem Perdagangan Alternatif/SPA), serta komoditas yang diperdagangkan di bursa komoditas Jepang, baik Tokyo maupun Osaka yang dikenal dengan Penyalur Amanat Luar Negeri (PALN). Total transaksi SPA dan PALN di BBJ sampai dengan bulan Agustus 2008 mencapai 3.668.591 lot.

Sebenarnya, disinilah dasar permasalahan industri perdagangan berjangka di Indonesia. Pada awalnya, industri perdagangan berjangka diharapkan menjadi semacam pembentuk harga komoditas yang wajar, yang sebenarnya banyak dihasilkan di dalam negeri seperti padi, karet, CPO, coklat dan lainnya. Namun karena tidak adanya arah, tujuan dan pemanfaatan yang jelas dari industri berjangka ini, maka idealisme itu pun menjadi terabaikan.

Para pialang, pedagang dan juga nasabah lebih tergiur pada kontrak-kontrak derivatif yang sangat likuid dengan harapan bahwa nasabah bisa membukukan keuntungan (semacam capital gain) yang sangat tinggi dengan jangka waktu yang cepat yaitu transaksi SPA. Padahal dasar hukum penyelenggaraannya tidak kuat, yaitu hanya berdasarkan surat keputusan dari kepala Bappebti. Padahal transaksi SPA khususnya perdagangan mata uang asing, sulit untuk dikatakan sebagai perdagangan berjangka.
Keputusan ini didasari atas banyaknya transaksi perdagangan SPA ilegal yang diselenggarakan perusahaan investasi yang disebut commission house. Kegiatan investasi ilegal ini sangat rawan tindak penipuan dan kecurangan, sehingga banyak nasabah yang merasa dirugikan dan tidak bisa mengadukan masalah tersebut karena tidak mempunyai perlindungan hukum.

Kondisi seperti ini membuat fungsi Bursa Berjangka Jakarta dan PT KBI hanya menjadi semacam pencatat transaksi dan mengutip fee dari kegiatan tersebut. Selain lemah dari dari sisi kebijakan, terdapat juga beberapa kecurangan dalam praktek sehari-hari di industri perdagangan berjangka, yaitu:

Pertama, adanya upaya untuk memberikan iming-iming yang berlebihan kepada nasabah, yang dilakukan oleh marketing perusahaan pialang berjangka. Nasabah sering dijanjikan tingkat keuntungan setiap bulan yang jauh lebih tinggi dari tingkat bunga deposito. Hal ini biasanya merupakan kelalaian nasabah dalam memandang investasi di dunia derivatif. Walaupun menjanjikan keuntungan yang sangat tinggi, resiko yang ditanggung juga sangat tinggi. Menjadi tidak masuk akal bila berinvestasi derivatif dijanjikan tingkat keuntungan yang tetap setiap bulan (fixed income).

Praktek kedua dan yang paling tidak manusiawi adalah terjadinya kecurangan yang dilakukan oleh para trader perusahaan pialang tertentu untuk melakukan transaksi dana nasabah dengan rekayasa teknologi informasi. Hal ini memang sangat sulit dibuktikan, akan tetapi benar-benar terjadi bagi nasabah yang sering melakukan transaksinya secara online, dimana informasi pergerakan harga hanya bersumber dari pialang, sehingga tidak transparan. Seharusnya, informasi pergerakan harga tidak bersumber dari pialang, namun dari provider umum yang terpercaya misalnya Reuters, WinQuote dll.

Praktek kecurangan ketiga di industri berjangka adalah adanya afiliasi dibawah tangan antara perusahaan pialang berjangka dengan perusahaan pedagang berjangka. Pada perjanjian ini biasanya, bila nasabah rugi dalam bertransaksi, maka kerugian tersebut akan dikembalikan oleh pedagang kepada pialang. Hal ini akan memicu pialang untuk bertindak nakal dan berusaha untuk membuat nasabah selalu merugi dalam transaksinya. Hal inilah yang memicu praktek kecurangan kedua diatas.

Selain itu yang keempat adalah adanya kecenderungan kecurangan dalam pembukaan cabang perusahaan pialang. Beberapa pialang mendirikan cabang di luar kota dengan melakukan kerjasama dengan pihak lain (semacam franchise). Seharusnya Bappebti lebih hati-hati dan tidak mudah memberikan ijin pembukaan cabang, karena akan memberikan kerancuan akan hak dan tanggung jawab antara perusahaan dengan local partner-nya.

Bappebti sebagai otoritas tertinggi sebenarnya telah meningkatkan pengawasan dan pembinaan terhadap praktek industri berjangka. Kenakalan perusahaan pialang berjangka untuk melakukan penipuan pun semakin sempit. Hal ini meliputi, pertama dengan diwajibkannya nasabah menyetor dana investasinya ke rekening penampungan pada bank yang ditunjuk (seggregated account). Kedua, adanya keharusan melakukan compliance terhadap nasabah oleh karyawan atau pihak perusahaan pialang yang telah dinyatakan lulus ujian standar profesi sebagai Wakil Pialang Berjangka. Tujuannya adalah membuat nasabah aware terhadap resiko yang dihadapi. Ketiga, diwajibkannya perusahaan pialang dan pedagang untuk melaporkan posisi dana nasabah dan kontrak nasabah setiap bulan, serta posisi modal bersih perusahaan disesuaikan setiap 3 bulan kepada Bappebti. Keempat, harus menyampaikan posisi dana dan kontrak nasabah setiap hari kepada nasabah. Serta beberapa langkah lainnya yang ditujukan untuk melindungi semua pihak yang terlibat di industri berjangka.

Tetapi upaya Bappebti ini akan menjadi sia-sia bila hanya berlandaskan pada hal yang bersifat legalitas dengan kewenangan yang terbatas. Kecurangan-kecurangan yang dilakukan dengan adanya perjanjian dibawah tangan dan rekayasa teknologi membuat Bappebti sendiri tidak mampu berbuat banyak. Bila legalisasi SPA ini ditujukan untuk melindungi nasabah dan melegalkan perdagangan commission house pada masa lalu, seharusnya praktek-praktek kecurangan bisa diminimalkan. BBJ dan KBI seharusnya mampu membuat suatu trading platform tunggal yang bisa digunakan nasabah sehingga tidak akan terjadi manipulasi harga.

Industri perdagangan berjangka dikhawatirkan hanya menjadi sarana investasi semu berbau spekulasi bagi nasabah tertentu saja dan hanya menjadi tempat legalisasi praktek penipuan, serta tidak mempunyai kontribusi positif terhadap perekonomian nasional. Social cost untuk mengedukasi masyarakat supaya mengenal dan memahami industri ini menjadi terlalu mahal. Pendapatan negara dari industri ini dan multiflier effect bagi perekonomian nasional pun menjadi tidak signifikan. Sehingga bagaimanapun juga, tetap diperlukan upaya pembenuhan yang serius, terus menerus dan simultan antar berbagai pihak baik Departemen Perdagangan, Departemen Keuangan, Bank Indonesia, ataupun lembaga SRO industri perdagangan berjangka yaitu Bursa Berjangka Jakarta dan PT Kliring Berjangka Indonesia.

Peringkat broker opsi biner:
Penghasilan di Internet
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: