Strategi Perawatan Akhir Perawatan Rumah Jompo Apa itu Perawatan Paliatif Gambaran Umum,

Peringkat broker opsi biner:

12 Contoh Tinjauan Pustaka dan Cara Membuatnya Lengkap

Tinjauan pustaka dengan nama lain studi literatur atau studi kepustakaan merupakan bagian penting yang tak boleh hilang dalam susunan karya tulis, baik makalah, skripsi, laporan, karya ilmiah, penelitian, bahkan sekelas jurnal internasional pun selalu mempergunakan tinjauan pustaka ini. Oleh karena itulah pada artikel ini akan memberikan sejumlah contoh tinjauan pustaka dan cara membuatnya.

Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka dalam sebuah susunan karya tulis ilmiah bisa diartikan sebagai penegasan terhadap batasan-batasan karya ilmiah. Intisari pada bagian ini termuat secara utuh dalam keyoword di bagian abstrak. Oleh karenanya penyusunan karya tulisan apapaun haruslah berkewajiban membuat studi kepustakaan.

Pendapat para ahli terhadap pengertian tinjauan pustaka ini juga dikemukakan oleh Gandas, yang menurutnya tinjauan pustaka adalah bab yang mengemukakan sejumlah teori serta pendapat ahli terhadap fokus penelitian yang ingin dilakukan.

Dari sejumlah pembahasan di atas, secara singkat dalam tinjauan pustaka ini menciri khaskan sebagai bagian yang mengemukakan teori dan pendapat para ahli terhadap masalah-masalah serta dasar dalam penelitian yang dilakukan.

Membuat Tinjauan Pustaka

Cara membuat bagian tinjauan pustaka dalam sebuah karya tulis bisa dibilang susuah-gampang. Asalkan tahu tentang inti bahasan yang disampaikan bisa di pastikan seseorang bisa dengan mudah membuat bagian tinjauan pustaka ini, langkah sederhannya agar membuat bagian ini menjadi baik ialah dengan beberapa tips berikut ini;

Membuat Outline

Membuat outline bisa dengan mencari intisari bagian penulisan karya tulis yang berisi tentang hal-hal umum atau pendapat umum terhadap masalah-masalah yang berkaitan. Misalnya saja begini, ketika membuat karya tulis berisi pengaruh narkoba terhadap anak maka seyogyanya kata “narkoba” dan “anak” adalah bagian umum yang perlu dituliskan dalam tinjauan pustaka.

Peringkat broker opsi biner:

Mencari Literatur

Prosesi kedua yang bisa dijalankan dalam upaya membuat studi keputakaan ialah dengan mencari literatur. Langkah ini bisa dikerjakan misalnya dengan pergi ke perpustakaan, ataupun bisa juga dengan membaca jurnal-jurnal internasional. Agar apa yang ditulisan nantinya bisa dipertanggung jawabkan.

Menyusun dengan Bahasa Sendiri

Agar tidak dianggap plagiat dari karya orang lain, penting bagi siapapun untuk membuat tinjauan pustaka dengan menulis ulang bahasa serta susunan kata yang di peroleh pada bagian pencarian literatur. Lankah sederhannya bisa dengan mempergunakan kutipan langsung ataupun tidak langsung.

Melihat Umum Bagian Judul

Terakhir, dalam pembuatan tinjauan pustaka yang mudah dilakukan ialah dengan melihat bagian umum pada judul. Bagian ini tentusaja hal-hal “dalam judul” yang bisa di definisikan secara teoritis dan secara lebih luas lagi, misalnya saja kata-kata seperti “korupsi, pertanian, kelapa sawit, asam basa, dan lain sebaginya.

Apabila cara penyusunan tinjauan pustaka ini di kerjakan steep by steep sudah dapat dipastikan dengan begitu mudahnya seseorang dapat mengerajkan bagian ini. Lantaran bagian ini bisa dibilang tidak terlalu susah akan tetapi amat sangat penting keberadaan.

Contoh Tinjauan Pustaka

Pengulasan terhadap cara membuat tinjauan pustaka tidak akan sempurna jika artikel ini tidak memberikan contoh-contohnya. Oleh karena itulah contoh yang ada dalam bagian ini bisa kamu tiru dan modifikasi, baik untuk keperluan penelitian, skripsi, makalah, proposal, ataupun untuk keperluan karya tulis ilmiah.

Contoh Tinjauan Pustaka Penelitian

Pertama, mengenai contoh ini ialah tentang penelitian dengan judul “Persionalisasi di Lembaga Pemasyarakatan”. Maka secara otomatis hal-hal yang perlu disampaikan dalam bagian studi literatur ini adalah sebagai berikut;

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA PENELITIAN

Dalam suatu penetian diperlukan dukungan hasil-hasil penetian yang telah ada sebelumnya yang berkiatan dengan penetian tersebut.

Dari penelitian Eddy Rifai (1995) telah banyak ditemukanya sistem persionalisasi di lembaga pemasyarakatan di Indonesia karena pada dasarnya sistem pemasyarakatan di Indonesia. Baru pada tahap merubah namanya dari sistem kepenjaraan menjadi sistem pemsyarakatan, tetapi praktek pelaksanaanya masih berada pada sistem kepenjaraan yang dikerenakan adanya berbagai keterbatasan, seperti perundang-undangan, sarana dan prasarana dan lain sebagainya. Sehingga upaya penuntasan persionalisasi harus segera dilakukan.

Sedangkan dari penelitian Mansila M. Moniaga (2020) dari jurnalnya yang berjudul “Sanksi Hukum Terhadap Anak di Bawah Umur Menurut Sistem Hukum Indonesia Dan Akibat Pidana Penjara” mengungkapkan sistim kenjaraan dan persionalisasi terhadap anak sering dijumpai di lembaga pemasyarakatan Indonesia sehingga pada ahirnya akan mempengaruhi pola kehidupan serta cap atau lebel masyarakat tentang anak-anak yang keluar dari penjara sebagai anak-anak yang memiliki prilaku tidak baik.

Dengan demikian maka persionalisasi yang ada di dalam lembaga pemasyarakatan harus segera mungkin untuk di anatasi sebagai persiapan sentral menghadapi bonus demografi di Indonesia.

Contoh Tinjauan Pustaka Skripsi

Contoh ke- 2, ialah bagian tinjauan pustaka dalam skripsi yang fokus pembiacaraannya ialah pada Radikalisme Islam yang memang tema-tema seperti ini sangat familiar di banyak kalangan. Apalagi dengan munculnya berbagai bentuk perusakan dalam Islam, seperti adanya ISIS atau gerakan lainnya;

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA SKRIPSI

Radikalisme Islam

Munculnya gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat radikal merupakan fenomena penting yang turut melukai perkembangan agama-agama didunia, terlebih agama Islam karena beberapa dekade ini terus-terusan menjadi objek sehingga diberikan lebel sebagai agama garis keras oleh bangsa-bangsa barat terutama Amerika Serikat.

Sehingga berbagai sebutan Islam, misalnya “Islam Revivalis” atau “Islam Funamentalis” menjadi hal menegangkan karena penuh dengan hal-hal keburukan, tentu istilah tersebut akan bermakna perojatif karena memeberikan gambaran yang buruk dan menyudutkan kelompok-kelompok Islam yang sudah ada.

Sedangkan Istilah Islam radikal oleh Jamri dan Jajang Jahroni (2004) adalah suatu kelompok yang mempunyai keyakinan ideologis dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk mengantikan tatanan nilai dan sisitem yang sedang berlangsung, dalam kegiatannya seringkali mengunakan aksi-aksi yang keras, bahkan tidak menutup kemungkinan kasar terhadap kegiatan kelompok lain yang dinilai bertentangan dengan keyakinan meraka.

Maka sangatlah wajar jikalau praktek-praktek kekerasan yang dilakukan sekelompok Islam tertentu dengan membawa simbol-simbol agama telah dimanfaatkan oleh orang-orang barat dan radikal Islam sendiri dengan memanfaatkan media massa sebagai alat utama dalam memegang tampuk wacana peradaban sekligus penanaman idiologi. Karena kemajuan dan perkembangan media komunikasi saat ini jauh melebih yang dibayangkan oleh orang pada masa lampau.

Kemajuan tersebut memang membuat sebuah pesan dapat tersebar secara massal ke seluruh penjuru dunia, dalam waktu yang hampir seketika. Dan kerananyalah komunikasi bukan hanya sebagai media penyampaian pesan, melainkan posisinya semakin menguat sebagai perangkat pembentuk opini yang ampuh.

Terutama dalam menyudutkan agama Islam sekaligus proses perekrutan radikal Islam yang dilakukan oleh kelompok-kelompok garis keras seperti ISIS dengan mengunakan isu-isu lebih tepat sebagai gejala sosial-politik ketimbang gejala keagamaan.

Contoh Tinjauan Pustaka Karya Ilmiah

Penyusnan dalam Karya Ilmiah melibatkan tentang masalah dan solusi yang di tawarkan. Maka dalam bentuk tinjaun pustaka yang bisa dipilih pada bagian ini ialah solusi serta hal-hal teoritis yang berkaitan dengan intisari kepenulisan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA KARYA ILMIAH

Diskusi

Secara bahasa istilah diskusi awal mulanya berasal dari kata “discuture” yang artinya sesuatu keadaan jelas dengan cara-cara dilakukan iala melalui pemecahan atapun menguraikan (to clear away by breaking up or cuturing). Menurut Busyiruddin Uswan (2002), pengertian diskusi adalah proses yang mampu melibatkan dua individu atau lebih, saling ber integrasi secara verbal dan saling berhadapan, bertukar informasi, dan mempertahankan pendapat. Dalam upaya memecahkan masalah-masalah tertentu (problem solving) dengan langkah rasional dan objektif.

Dengan demikian upaya menumbuhkan wacana dikusi terhadap generasi muda sangatlah penting dilakukan yang tujuanya untuk membentuk sikap kritis dan peka sekaligus menelaah lebih dalam terhadap fenomena sosial yang ada, selain itu juga upaya peningkatan diskusi mengintegrasikan kebersamaan untuk mengasah ilmu pengetahuan, sebab Kusumah Indra (2007) mengatakan bahwa akal kolektif lebih kuat daripada akal individual.

Misalnya hal yang patut dijadikan tema diskusi adalah fenomena media massa yang sedang ramai menjadi pembicaraan publik karena adanya pemblokiran media khususnya Islam yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan alasan memprotek konflik hirizonatl (agama) dan sekaligus mencagah pertumbuhan terorisme di Indonesia. Oleh karena itu disnilah menjadi alasan mengapa peran pemuda harus ikut berdiskusi sebagai sikap kritis, mengingat pemuda adalah massa depan bangsa.

Contoh Tinjauan Pustaka Makalah

Contoh terkhir, dalam pembuatan tinjauan pustaka ini seringkali berkaitan erat dengan makalah. Susunan karya tulis disini ialah membahas insirasi makalah tentang “Generasi Emas dan Bahasa Inggris”. Adapun tinjauan pustaka adalah sebagai berikut;

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA MAKALAH

Generasi Emas

Pengertian generasi emas menurut adalah generasi muda yang menjadi penerus bangsa nilai produktif, berharga dan memiliki kegunaan apabila dilakukan pegelolaan dengan baik. Generasi ini akan ada di Indonesia pada tahun 2045 (Mungin Eddy Wibowo, 2020)

Dari bahasan generasi emas di atas dapat dikatakan bahwa diakui atau tidakgenerasi emas menjadi harapan besar yang dianggap mampu untuk mensejahteraan masyarakat Indonesia secara utuh, apalagi setelah 71 tahun kemerdekaan. Langkah untuk meningkatkan genrasi emas ini salah satinya ialah dengan melakukan penekanan peluang yang dinamakan bonus demografi (demographic dividend).

Bonus demografi sendiri menurut Wongboonsin (2003) dalam paparan kepala BKKBN Nasonal Prof. dr. Fasli Jalal, PhD, SpGK di Univeritas Undayana diartikan sebagai keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh menurunnya Rasio Ketergantungan sebagai hasil penurunan fertilitas jangka panjang. Sehingga dalam upaya itu semua diperlukanlah kebijakan trategis dalam pembangunan bidang pendidikan untuk memaksimalakan bonus demografi yang dialami bangsa Indonesia pada tahun 2020-2035.

Harapan tentang generasi emas melalui bonus demografi tentu menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk menjadi lebih baik. Akan tetapi berbagai problematika mengimplementasikan kemajuan generasi emas melalui sebuah pembangunan pendidikan terlebih bahasa masih sangat kurang padahal ini semua adalah landasan dasar dalam mewujudkan persaingan di era pasar global.

Oleh karena itu dalam menyiapakan generasi emas dan menyambut peluang bonus demografi yang dialami oleh bangsa Indonesia pada tahun 2020-2035 hal yang paling mendasar adalah menyiapkan keahlian bahasa sebab bahasa dalam arti subjektif akan mempu meningkatakan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia.

Pendidikan Bahasa Inggris

Bahasa inggris adalah bahasa internasional yang berperan sebagai alat komunikasi potensial dalam era persaingan pasar global. Terlebih untuk memaksimalkan dan menyambut MEA 2020 bahasa ingris bukan hanya sekedar bahasa akan tetapi lebih memberi esensi dalam memperlancar komunikasi antar negara sehingga diharapkan dapat mewujudkan kesejahterakan seluruh masyarakat melali komunikasi yang sempurna.

Oleh karena demikian prihal kebijakan pendidikan bahasa ingris untuk masyarakat sangatlah penting dalam upaya responsi MEA 2020. Dengan kebijakan pendidikan oleh pemerintah yang mengacu pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran , serta pasal 31 ayat 3 yang juga menegaskan bahwa pemerintah dan menyelenggarkan suatu sisitem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, diharapakan mampu meningkatkan kapasitas dan kualitas masyarakat Indonesia dalam menghadapi MEA.

Berdasakan upaya penekanan kebijakan penerapan pendidikan bahasa ingris tersebut diharapkan mampu dan sadar untuk menyiapkan generasi emas melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

Dari sejumlah contoh dan cara membuat tinjauan pustaka di atas, dapat dikatakan bahwa bagian ini menjadi syarat mutlak yang harus ada dalam penyusunan karya ilmiah. Baik skripsi, makalah, penelitian, proposal, bahkan jurnal-jurnal ilmiah.

Alasan demikian karena sejatinya dalam tinjauan pustaka memiliki banyak manfaat, diantarnya adalah sebagai berikut;

Menguraikan Variable

Manfaat yang di dapatkan dari pembuatan tinjauan pustaka ialah dapat menguraikan sejumlah variable umum dalam penulisan. Keadaan ini tentusaja akan mempu mendorong seseorang untuk mendapatkan hasil penelitian yang labih baik.

Memberikan Batasan

Secara langsung proses dalam pembuatan tinjauan pustaka yang baik akan mampu memberikan batasan terhadap tulisan yang disampaikan. Dengan demikian bagi siapapun yang melakukan penelitian di haruslah membuat bagian ini.

Mempercepat Proses Analisis Data

Kebermanfaatan dalam pembuatan tinjauan pustaka ialah mampu mempermudah analisisi data dengan tempat. Baik mempergunakan metode penelitian kualitatif ataupun kuantitatif dalam pembuatannya diperlukan panduan utuh, salah satunya dengan melihat pada bagian tinjauan pustaka. Selengkapnya, baca; Teknik Analisis Data Kuantitatif & Kualitatif

Meningkatkan Kepercayaan

Bagian tinjauan pustaka akan mempu meningkatkan kepercayaan pembaca, hal ini lantaran apa yang dituliskan selalu berdasarkan pada teori serta refrenesi dari penulis-penulis sebelumnya yang tentusaja kondisi ini menghilangkan kefiktifak penulisan karya ilmiah.

Demikianlah tulisan dan penjelasan mengenai pengertian, cara menulis, manfaat, dan contoh-contoh tinjauan pustaka. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa memberikan wawasan dan pengetahun bagi setiap pembaca dalam memahami bagian “tinjauan pustaka”. Trimakasih,

FORUM PEMBELAJARAN KESEHATAN MASYARAKAT

nyeri dan tata laksana nyeri pada lansia

DISUSUN OLEH:

FITA LESTARI (07.40.020)

PEMBIMBING: ERFANDI,S kep. Ners

NYERI PADA USIA LANJUT

Pendahuluan

Setiap orang, apalagi lansia lansia, tentu pernah merasakan nyeri selama perjalanan hidupnya. Perasaan nyeri ini kualitas dan kuantitasnya berbeda dari satu orang ke orang lain, tergantung dari tempat nyeri,waktu,, penyebab lain. Pada lansia rasa nyeri ini sudah menurun, sehinggga keluhan akan berkuran, karena kepekaan sarafnya sudah mulai berkurang bahkan sampai hilang sama sekali. Karena berkurangnya rasa nyeri inilah maka diagnosis nyeri pada lansia seringkali sulit atau bahkan kabur untuk dapat menentukan tempat/daerah asal nyeri (Warfielfs, 1991 : Park and Fulton, 1991).

Riwayat pengobatan nyeri sudah dapat ditemukan di zaman Babilonia, papyrus Mesir dan dokumen-dokumen zaman Persia dan Troy. Untuk mengobati rasa nyeri, di zaman primitive dilakukan dengan cara sangat sederhana tetapi cukup efektif, misalnya dengan penekanan atau direndam air dingin dari sungai. Pda zaman dulu nyeri dianggap sebagai hukuman dari Tuhan. Oleh karena itu istilah pain berasal dari bahasa Latin poena yang berarti hukuman. Pyramid dibangun untukmemuja Tuhan sebagai bagian dari upacara pemujaan untuk korban sebagai pengobatan pada rasa nyeri.

Pada tahun 2600 sebelum Kristus, di daratan China dikenal istilah yin dan yang yaitu dua kekuatan yang saling bertentangan, yang dipersatukan oleh kekuatan yang membantu energy vital (chi) untuksirkulasi. Keadaan yang tidak seimbang dari kedua kekutan tersebut akan menyebabkan rasa nyeri. Akupuntur akan memperbaiki ketidakseimbangan itu dan menyembuhkan rasa nyeri. Tata cara pengobatan Cina kuno juga dilakukan dengan cara diet, pijat atau membakar setiap ramuan dari tumbuh-tumbuhan (moksisbusi). Pada zaman Mesir kuno dipercaya bahwa nyeri disebabkanoleh spirit (roh) dari kematian, yang masuk ke badan melalui hidung atau telinga dalam suasana gelap. Karena itu untuk mengeluarkan nyeri tersebut dilakuakan dengan jalan mengusahakan muntah-muntah, kencing, bersin, atau keringat. Juga dengan cara lain yaitu meletakkan ikan listrik atau sungai nil di atas nyeri tersebut. Hal ini serupa dengan terapi yang dilakukan saat ini, yaitu stimulasi listrik trans-cutaneus yang menyebabkan naiknya opium dalam darah (endorphin).

Pada 5000 tahun sebelum Kristus dipercaya bahwa nyeri merupakan akibat rasa frustasi dari keinginan yang tak tersampaikan. Agama Hindu menyatakan bahwajantung adalah tempat dari segala macam nyeri. Agak berbeda, Fisolof Yunani kuno memikirkan bahwa yang jadi pusat dari perasaan nyeri adalah otak dan bukan jantung. Hippocrates berpendapat bahwa fungsi badan kita dikontrol oleh 4 cairan yaitu darah, phlegm, empedu kuning dan empedu hitam. Nyeri merupakan manifestasi ketidakseimbangan keempat cairan tersebut. Plato berpikir bahwa jantung dan hati merupakan pusat nyeri. Aristotle mempercayai bahwa nyeri berpusat di jantung. Konsep Aristotle ini diteruskan oleh Wiliam Harvey pada tahun 1623. Celcus mengemukakan teori yang saat ini menjadi sangat terkenal, yaitu hubungan antara dolor (pain), tumor, rubor, dan color. Pada 2000 sebelum Kristus, Galen berpendapat adanya adanya sesuatu system syaraf yang terdiri dari cranial, spinal dan saraf simpatis dengan otak sebagai pusatnya.

Pertentangan antara pendapat yang menyatakan jantung atau otak sebagai pusat nyeri, berlanjut sampai abad ke-19, yang akhirnya menyatakan bahwa pusat nyeri adalah di otak. Begitu pula tentang bermacam-macam obat mulai dari opium, ramuan-ramuan dan lain sebagainya sampai ditemukannya morfin (dari opium).

Cara psikologis juga dicoba untuk menghilangkan nyeri mulai dari cara magis sampai daya hipnotis. Sampai saat ini obat-obat penghilang rasa nyeri masih terus diteliti dengan hasil berbagai macam obat yang efek sampingannya makin berkurang.

Patofisiologi Nyeri

Nyeri adalah suatu sensasi yang disebabkan karena rusaknya jaringan, bisa di kulit sampai jaringan yang paling dalam. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa, nyeri yang sering dijumpai pada penderita lansia biasanya sering diterapi secara paliatif, bahwa dengan manajemen yang sering tidak adekuat (Monti, DA. 1998). Nyeri yang kronis biasanya berpengaruh pada fungsi fisiologis berupa bertambahnya penderitaan dan menurunya kualitas hidup.

Klasifikasi Nyeri

Nyeri dapat dibagi menurut berbagai cara, diantaranya berdasar pada sifat, kronologik, atau atas dasar patofisiologinya.

Atas dasar sifat nyeri terdapat 2 macam nyeri, ialah: (Dwarakanath GK,1991).

  1. Nyeri tajam (sharp pain), nyeri ini berupa perasaan yang menyengat, lokasinya jelas dan rangsangan sangat cepat dijalarkan ke pusat.Nyeri jenis ini biasanya terdapat di kulit dan rangsangan bersifat tidak terus menerus.
  2. Nyeri tumpul (dull pain), biasanya didahului oleh sharp pain. Nyeri ini dirasakan di kulit sampai jaringan yang lebih dalam, terasa menyebar dan lambat dijalarkan sedangkan bersifat terus menerus.

Atas dasar kronologi, nyeri dapat dibagi kedalam 2 golongan yaitu akut dan kronik.

Nyeri akut

Biasanya disebabkan karena penyakit dan merupakan reaksi biologis yang merupakan suatu peringatan bagi pasien untuk segera mencari pertolongan. Nyeri ini merupakan petunjuk diagnosis bagi dokter.Nyeri jenis ini merupakan suatu rangsangan yang sering mengakibatkan gerakan tak terkendali (refleks) segera serta respons dari korteks sersbri. Refleks yang dihasilkan merupakan usaha untuk mempertahankan homeostatis yang menyebabkan kontraksi otot-otot badan. Gerakan ini merangsang kelenjar-kelenjar dan vasomotor yang seterusnya menyebabkan perubahan system kasrdiovaskuler, pernafasan perubahan dalam pencernaan dan pengaruhnya menyebarke seluruh system endokrin tubuh. ( Dwarakanath, 1991 ; Potency, 1997).

Respon korteks serebri termasuk perasaan emosional, kecemasan, ketakutan dan reaksi “ menyeringai “, atau berteriak. Meskipun tidak diobati, dengan tidak menggerakkan atau memfiksasi daerah nyeri, nyeri sering dapat sembuh sendiri, tetapi bila nyeri adalah karena luk, misalnya luka bakar atau luka pasca bedah, upaya tersebut tidak akan mempercepat penyembuhan. Bahkan bila luka ini tidak mendapatkan pengobatan yang memadai, akan menimbulkan keadaan abnormal yang sangat serius, baik secara fisiologis maupun psikologis, yang pada akhirnya akan menimbulkan komplikasi yang akan memperlama penyembuhan.

Ransang nyeri diteruskan melalui 2 serabut saraf. Serabut besar bermielin disebut serabut A-delta, menghantar secara cepat stimuli nyeri fasik yang dapat memberikan keterangan tentang loaksi dan itensitas nyeri. Serabut kedua, serabut C, merupakan penghantar lambat nyeri tonik berupa karakter nyeri misalnya “tumpul” , “menyengat” (aching) atau rasa “terbakar” . Neuron sensorik berupa neuron bipolar yang badan selnya terletak di ganglia cornu dorsalis yang masuk ke medulla spinalis melalui cornu dorsalis. Disini terjadisinaps dengan interneuron dalam traktus spinotalamikus lateral dan posterior asendens. Traktus ini melanjutkan informasi sensorik ke batang otak dan thalamus dengan proyeksi ke rarh korteks serebri. Selain jalur tersebut terdapat pula jalur desendens dalam medulla spinalis yang menghantarkan informasi penghambat rasa nyeri dari korteks, system limbik, thalamus dan otak tengah ke tingkat spinal. Dapatan mengejar jalur penghambat rasa nyeri ini dapat menjelaskan mengapa tindakan akupuntur, anti depresan trisiklik, dan palsebo dpat mengurangi rasa nyeri di tingkat spinal (ferrel,1998) Saat ini juga diketahui bahwa rangsang nyeri dapat diteruskan melalui saraf simpatis yang menyertai pembuluh darah dan organ dalam tubuh. Hal ini menjelaskan terjadinya sindrom nyeri neuropatik tertentu, yang membaik dengan blockade pada ganglia atau saraf simpatis.

Nyeri Kronis

Bila nyeri dirasakan lebih lama dari perjalanan penyakit atau lukanya, artinya rasa nyeri masih menetap sesudah penyembuhan penyakit atau disertai dengan kelainan kronis, maka disebut sebagai nyeri kronis. Kelainan ini dapat somatic atau psikologik atau keduanya (Dwarakanath 1991, Portency 1997). Definisi tersebut seringkali diberi batasan parameter waktu, yang beberapa ahli menyatakan 3 bulan, sedangkan ahli lain member batasan 6 bulan atau lebih. Secara psikologik nyeri dibedakan menjadi: nyeri nosiseptif, nyeri neurpatik, nyeri psikologik dan nyeri campuran atau yang sebabnya tak ditentukan.

Beberapa keadaan yang menyebabkan hal tersebut diatas adalah adalah:

  1. Kekurangan pengetahuan atau pada control nyeri
  1. Diantaranya kurang pengertian tentang patfisiologi dari nyeri
  2. Katidaktahuan tentang obat-obat analgesic atau cara-cara alternatif lain yang meningkatkan efektivitas obat-obat yang ada.
  3. Kurang trampil dalam cara pemberian obat analgesik secara regional.
  1. Kekeliruan asesmen nyeri dan penyembuhannya.
  2. Kekeliruan dalam komunikasi.
  3. Ketakutan akan adiksi
  4. Ketakutan efek samping obat
  5. Takut akan menjadi masking effect
  6. Pendapat bahwa “penderitaan adalah suatu yang berharga”. Hal ini membuat staf medis mempunyai pendapat bahwa sakit tersebut sangat bermanfaat bagi penyembuhan pasien.
  7. Aspek hukum

Penatalaksanaan

  1. Analgesik sederhana:

Parasetamol dan aspirin merupakan analgesic sederhana, diaman aspirin juga mempunyai efek anti inflamasi. Dalam penatalaksanaan nyeri asoirin tidak lebih baik dari obat AINS lain dan penggunaannya tidak di rekomendasikan untuk pemakain rutin yang teratur.

Parasetamol merupakan merupakan analgesic yang paling sering digunakan, aman dan dapat diberikan secara teratur. Metabolismenya melalui glukuronodasi yang pada usia lanjut tidak berubah kapasitasnya. Hepatotoksisitas terjadi pada dosis yang lebih tinggi, dan dosis 4g/hari merupakan dosis maksimal harian. Kadang-kadang dosis sampai 6g/hari bisa diberikan, akan tetapi sebaiknya tidak diberikan dalam jangka panjang.

Obat AINS merupakan analgesic efektif dengan daya anti inflamasi. Obzt ini sering digunakan pada atritis dan nyeri musculoskeletal serta keluhan nyeri lain yang berdasar ats peradangan. Dikatakan bahwa golongan obat terbanyak ke-4 yang diresepkan pada usia lanjut.

Untuk pemakain pada usia lanjut, harus diperhatikan bahwa ekskresi ginjal sudah menurun, oleh karena itu obat AINS yang diekskresikan lewat ginjal (diflunsial, indometasin, naproksen dan ketoprofen) harus diberikan dengan agak hati-hati. Perlu diperhatikan pula efek samping pada saluran cerna, yang sering kali meningkat dengan lanjutnya usia.

Berbagai obat AINS mengadakan interaksi dengan obat-obat lain yang sering banyak digunakan pada usia lanjut, diantaranya digoksin, warfarin, fenitoin, valproat dan litium. Untuk mengatisipasi hal ini, lakukan monitoring kadar obat dalam plasma.

  1. Analgesik opioid:

Terdapat pengertian yang keliru mengenai efek analgesic opioid pada usia lanjut dan golongan usia lainnya.

Asosiasi Internasional untuk studi tentang nyeri telah memberikan panduan untuk pemakain golongan obat ini:

Kodein, sendiri atau kombinasi dengan paracetamol cukup efektif untuk mengontrol nyeri sedang sampai berat.

Oksi-kodon merupakan obat analgesic opioid yang lebih kuat disbanding kodein. Ditoleransi dengan lebih baik, dengan efek samping konstipasi yang lebih sedikit dan jangka kerja yang lebih panjang.

Morfin merupakan obat yang sangat baik untuk mengontrol nyeri kronik berat dan tersedia dalam berbagai bentuk sediaan. Morfin sirup digunakan untuk nyeri berat yang memerlukan kaerja cepat, sedangkan utnuk nyeri kronik, penggunaan perparat lepas lambat dapat mengontrol nyeri sepanjang 24 jam.

Karbamasepin, vaproat sodium dan fenitoin sering kali digunakan pada nyeri neuropatik. Pada usia lanjut, nyeri pasca-herpetika, nyeri pasca stroke dan nyeri neuropati perifer sering terdapat dan obat anti koonvulsan ini sering kali lebih efektif disbanding analgesic intuk mengontrolnya. Kesemua obat tersebut dieliminasi secara lambat pada lansia, dengan efek samping sentral berupa sedasi, konfusio dan penurunan konsentrasi.

Nyeri kronik sering kali didapatkan bentuk campuran dengan depresi klinik, yang mungkin timbul sekunder akibat nyeri yang menetap yang sering kali mengakibatkan imobilitas dan ketegantungan. Depresi dapat diterapi dengan obat anti depresan atau psikoterapi.

  1. Terapi fisik dan rehabilitasi lain

Teknik fisioterapi spesifik, antara lain olah raga ringan, pelatihan kembali pada gerak langkah, hidroterapi, interferential dan terapi panas tau dinginsngat berharga dalam pengurangan rasa nyeri.

Terapi psikologik:

Lansia sering kali memerlukan intervensi psikologik untuk penalaksanaan nyeri kroniknya. Edukasi tentang apa itu nyeri dan akibatny, konseling, relaksasi, imagery, bio-feedback, teknik distraksi, hipnotis atau meditasi lebih bermanfaat. Beberapa lansia mungkin mengalami kesulitan untuk merubah pola piker dan perilaku, akan tetapi banyak diantaranya yang mendapat manfaat dari strategi non farmakologik ini

Penutup

Nyeri pada lansia dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, fisik dan psikologis. Penanganan nyeri pada lansia, tergantung dari lokasi, lamanya nyeri tersebut berlangsung dan berbagai faktor lain yang mempengaruhi. Penanganan rasa nyeri ini harus dilakuakan secara adekuat. Nyeri akut harus diselesaikan segera, dan penanganan nyeri kronis harus dilakukan secara hati-hati.

PENYAKIT YANG SERING TERJADI PADA LANSIA

KEPERAWATAN GERONTIK I

PENYAKIT YANG

SERING TERJADI PADA LANSIA”

Disusun oleh :

Ika Fitri Aprilianti (07.40.023)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN MALANG

Jl. Panggungrejo No. 17 Telp. (0341) 397644

Oktober 2009

PENYAKIT YANG

SERING TERJADI PADA LANSIA

Dengan bertambahnya usia, wajar saja bila kondisi dan fungsi tubuh pun makin menurun. Tak heran bila pada usia lanjut, semakin banyak keluhan yang dilontarkan karena tubuh tak lagi mau bekerja sama dengan baik seperti kala muda dulu.

Nina Kemala Sari dari Divisi Geriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam suatu pelatihan di kalangan kelompok peduli lansia, menyampaikan beberapa masalah yang kerap muncul pada usia lanjut , yang disebutnya sebagai a series of I’s. Mulai dari immobility (imobilisasi), instability (instabilitas dan jatuh), incontinence (inkontinensia), intellectual impairment (gangguan intelektual), infection (infeksi), impairment of vision and hearing (gangguan penglihatan dan pendengaran), isolation (depresi), Inanition (malnutrisi), insomnia (ganguan tidur), hingga immune deficiency (menurunnya kekebalan tubuh).

Sumber lain menyebutkan, penyakit utama yang menyerang lansia ialah hipertensi, gagal jantung dan infark serta gangguan ritme jantung, diabetes mellitus, gangguan fungsi ginjal dan hati. Juga terdapat berbagai keadaan yang khas dan sering mengganggu lansia seperti gangguan fungsi kognitif, keseimbangan badan, penglihatan dan pendengaran.

Secara umum, menjadi tua ditandai oleh kemunduran biologis yang terlihat sebagai gejala-gejala kemuduran fisik, antara lain :

  1. Kulit mulai mengendur dan wajah mulai keriput serta garis-garis yang menetap
  2. Rambut kepala mulai memutih atau beruban
  3. Gigi mulai lepas (ompong)
  4. Penglihatan dan pendengaran berkurang
  5. Mudah lelah dan mudah jatuh
  6. Gerakan menjadi lamban dan kurang lincah

Disamping itu, juga terjadi kemunduran kognitif antara lain :

  1. Suka lupa, ingatan tidak berfungsi dengan baik
  2. Ingatan terhadap hal-hal di masa muda lebih baik daripada hal-hal yang baru saja terjadi
  3. Sering adanya disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang
  4. Sulit menerima ide-ide baru

MASALAH FISIK SEHARI-HARI YANG SERING DITEMUKAN PADA LANSIA

  1. Mudah jatuh
    1. Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat kejadian, yang mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka (Ruben, 1996).
    2. Jatuh dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor intrinsik: gangguan gaya berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah, kekuatan sendi dan sinkope-dizziness; faktor ekstrinsik: lantai yang licin dan tidak rata, tersandung oleh benda-benda, penglihatan kurang karena cahaya yang kurang terang dan sebagainya.
  2. Mudah lelah, disebabkan oleh :
    • Faktor psikologis: perasaan bosan, keletihan, depresi
    • Gangguan organis: anemia, kurang vitamin, osteomalasia, dll
    • Pengaruh obat: sedasi, hipnotik

Kekacauan mental karena keracunan, demam tinggi, alkohol, penyakit metabolisme, dehidrasi, dsb Nyeri dada karena PJK, aneurisme aorta, perikarditis, emboli paru, dsb Sesak nafas pada waktu melakukan aktifitas fisik karena kelemahan jantung, gangguan sistem respiratorius, overweight, anemia Palpitasi karena gangguan irama jantung, penyakit kronis, psikologis Pembengkakan kaki bagian bawah karena edema gravitasi, gagal jantung, kurang vitamin B1, penyakit hati, penyakit ginjal, kelumpuhan, dsb Nyeri pinggang atau punggung karena osteomalasia, osteoporosis, osteoartritis, batu ginjal, dsb. Nyeri sendi pinggul karena artritis, osteoporosis, fraktur/dislokasi, saraf terjepit Berat badan menurun karena nafsu makan menurun, gangguan saluran cerna, faktor sosio-ekonomi Sukar menahan BAK karena obat-obatan, radang kandung kemih, saluran kemih, kelainan syaraf, faktor psikologis Sukar menahan BAB karena obat-obatan, diare, kelainan usus besar, kelainan rektum Gangguan ketajaman penglihatan karena presbiopi, refleksi lensa berkurang, katarak, glaukoma, infeksi mata Gangguan pendengaran karena otosklerosis, ketulian menyebabkan kekacauan mental Gangguan tidur karena lingkungan kurang tenang, organik dan psikogenik (depresi, irritabilitas) Keluhan pusing-pusing karena migren, glaukoma, sinusitis, sakit gigi, dsb Keluhan perasaan dingin dan kesemutan anggota badan karena ggn sirkulasi darah lokal, ggn syaraf umum dan lokal Mudah gatal-gatal karena kulit kering, eksema kulit, DM, gagal ginjal, hepatitis kronis, alergi

KARAKTERISTIK PENYAKIT LANSIA DI INDONESIA

  1. Penyakit persendian dan tulang, misalnya rheumatik, osteoporosis, osteoartritis
  2. Penyakit Kardiovaskuler. Misalnya: hipertensi, kholesterolemia, angina, cardiac attack, stroke, trigliserida tinggi, anemia, PJK
  3. Penyakit Pencernaan yaitu gastritis, ulcus pepticum
  4. Penyakit Urogenital. Seperti Infeksi Saluran Kemih (ISK), Gagal Ginjal Akut/Kronis, Benigna Prostat Hiperplasia
  5. Penyakit Metabolik/endokrin. Misalnya; Diabetes mellitus, obesitas
  6. Penyakit Pernafasan. Misalnya asma, TB paru
  7. Penyakit Keganasan, misalnya; carsinoma/ kanker
  8. Penyakit lainnya. Antara lain; senilis/pikun/dimensia, alzeimer, parkinson, dsb

PENYAKIT YANG SERING TERJADI PADA LANSIA

Nina Kemala Sari dari Divisi Geriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam suatu pelatihan di kalangan kelompok peduli lansia, menyampaikan beberapa masalah yang kerap muncul pada usia lanjut , yang disebutnya sebagai a series of I’s. Mulai dari immobility (imobilisasi), instability (instabilitas dan jatuh), incontinence (inkontinensia), intellectual impairment (gangguan intelektual), infection (infeksi), impairment of vision and hearing (gangguan penglihatan dan pendengaran), isolation (depresi), Inanition (malnutrisi), insomnia (ganguan tidur), hingga immune deficiency (menurunnya kekebalan tubuh).

Selain gangguan-gangguan tersebut, Nina juga menyebut tujuh penyakit kronik degeratif yang kerap dialami para lanjut usia, yaitu:

  1. Osteo Artritis (OA)

OA adalah peradangan sendi yang terjadi akibat peristiwa mekanik dan biologik yang mengakibatkan penipisan rawan sendi, tidak stabilnya sendi, dan perkapuran. OA merupakan penyebab utama ketidakmandirian pada usia lanjut, yang dipertinggi risikonya karena trauma, penggunaan sendi berulang dan obesitas.

Osteoporosis merupakan salah satu bentuk gangguan tulang dimana masa atau kepadatan tulang berkurang. Terdapat dua jenis osteoporosis, tipe I merujuk pada percepatan kehilangan tulang selama dua dekade pertama setelah menopause, sedangkan tipe II adalah hilangnya masa tulang pada usia lanjut karena terganggunya produksi vitamin D.

Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik sama atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi dari 90mmHg, yang terjadi karena menurunnya elastisitas arteri pada proses menua. Bila tidak ditangani, hipertensi dapat memicu terjadinya stroke, kerusakan pembuluh darah (arteriosclerosis), serangan/gagal jantung, dan gagal ginjal

  1. Diabetes Mellitus

Sekitar 50% dari lansia memiliki gangguan intoleransi glukosa dimana gula darah masih tetap normal meskipun dalam kondisi puasa. Kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes melitus, dimana kadar gula darah sewaktu diatas atau sama dengan 200 mg/dl dan kadar glukosa darah saat puasa di atas 126 mg/dl. Obesitas, pola makan yang buruk, kurang olah raga dan usia lanjut mempertinggi risiko DM. Sebagai ilustrasi, sekitar 20% dari lansia berusia 75 tahun menderita DM. Beberapa gejalanya adalah sering haus dan lapar, banyak berkemih, mudah lelah, berat badan terus berkurang, gatal-gatal, mati rasa, dan luka yang lambat sembuh.

Merupakan kumpulan gejala yang berkaitan dengan kehilangan fungsi intelektual dan daya ingat secara perlahan-lahan, sehingga mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari. Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering terjadi pada usia lanjut. Adanya riwayat keluarga, usia lanjut, penyakit vaskular/pembuluh darah (hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi), trauma kepala merupakan faktor risiko terjadinya demensia. Demensia juga kerap terjadi pada wanita dan individu dengan pendidikan rendah.

  1. Penyakit jantung koroner

Penyempitan pembuluh darah jantung sehingga aliran darah menuju jantung terganggu. Gejala umum yang terjadi adalah nyeri dada, sesak napas, pingsan, hingga kebingungan.

Kanker merupakan sebuah keadaan dimana struktur dan fungsi sebuah sel mengalami perubahan bahkan sampai merusak sel-sel lainnya yang masih sehat. Sel yang berubah ini mengalami mutasi karena suatu sebab sehingga ia tidak bisa lagi menjalankan fungsi normalnya. Biasanya perubahan sel ini mengalami beberapa tahapan, mulai dari yang ringan sampai berubah sama sekali dari keadaan awal (kanker). Kanker merupakan penyebab kematian nomor dua setelah penyakit jantung. Faktor resiko yang paling utama adalah usia. Dua pertiga kasus kanker terjadi di atas usia 65 tahun. Mulai usia 40 tahun resiko untuk timbul kanker meningkat.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

  • Pengelompokan askep dasar pada lansia
    • Aktif  support personal hygiene
    • Pasif  total care
  • Lansia potensial mengalami decubitus
    • Penyebab: immobilisasi, defisit jaringan lemak, defisit jaringan kolagen
    • Faktor intrinsic: status gizi, anemia, hipoalbuminemia, penyakit neurologik, penyakit pemb. Darah, dehidrasi
    • Faktor extrinsic: kurang bersih tempat tidur, alat tenun yang kusut dan kotor, defisit personal hygiene
  • Pengelompokan decubitus
    • Derajat I: terbatas pada epidermis
      Perawatan: bersihkan dgn air hangat dan sabun, lotion, masase 2-3 x/h, perubahan posisi
    • Derajat II: mencapai dermis – subkutan
      Perawatan: perawatan luka aseptik & antiseptik, gosok dgn es dan dihembus udara hangat bergantian, pengobatan topikal, dibalut
    • Derajat III: meliputi jaringan lemak subkutan dan cekung, berbau
      Perawatan: debridement, pertahankan sirkulasi & oksigenasi
    • Derajat IV: meluas sampai ke tulang
      Perawatan: debridement, perawatan luka aseptik & antiseptik, transplantasi kulit setempat (bila memungkinkan)

PENDEKATAN PERAWATAN LANSIA

  1. Pendekatan fisik terdiri dari aktif – pasif
  2. Pendekatan piskis menggunakan komunikasi edukatif
  3. Pendekatan sosial dengan cara diskusi, sharing perception
  4. Pendekatan spiritual dengan peace

TUJUAN ASKEP

  1. Kemandirian yaitu health promotion, preventive, maintenance
  2. Mempertahankan kesehatan
  3. Mempertahankan semangat hidup (life support)
  4. Menolong dan merawat klien lansia yang mengalami sakit
  5. Merangsang petugas kesehatan mengenal & menegakkan diagnosa yang tepat

FOKUS ASKEP
1. Health promotion
2. Prevention disease
3. Mengoptimalkan fungsi mental
4. mengatasi gangguan kesehatan yang umum

PENGKAJIAN

  • Tujuan
    o Menentukan kemampuan klien memelihara diri sendiri
    o Melengkapi dasar-dasar rencana perawatan individu
    o Membantu menghindarkan bentuk dan penandaan klien
    o Memberi waktu kepada klien untuk menjawab
  • Meliputi: fisik, psikologis, ekonomi, spiritual

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  • Fisik
    o Gangguan nutrisi : defisit/over
    o Gangguan persepsi sensorik : pendengaran, penglihatan
    o Defisit knowledge
    o Resti cedera fisik
    o Gangguan pola tidur
    o Perubahan pola eliminasi
    o Gangguan mobilitas fisik
  • Psikologis: Isolasi sosial, Menarik diri, Depresi, Harga diri rendah, Coping tidak adekuat
  • Spiritual: reaksi berkabung/berduka, penolakan terhadap proses penuaan, marah terhadap Tuhan, perasaan tidak tenang

RENCANA KEPERAWATAN

  • Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi
  1. Penyebab
    • Penurunan alat penghiduan dan pengecapan
    • Organ pengunyah kurang sempurna
    • Rasa penuh pada perut dan susah BAB
    • Melemah otot-otot lambung dan usus
  2. Masalah gizi: berlebihan, berkurang, kekurangan/kelebihan vitamin
  3. Kebutuhan nutrisi
    • Kalori ? 2100 kal pada laki-laki, 1700 kal pada wanita
    • Karbohidrat, 60% dari jumlah kalori yang dibutuhkan
    • Lemak tidak dianjurkan, 15-20% dari total kalori yang dibutuhkan
    • Protein 20-25% dari total protein yang dibutuhkan
    • Vitamin dan mineral sama dengan usia muda
    • Air 6-8 gelas/h
  4. Rencana tindakan
    1. Berikan makanan porsi kecil tapi sering
    2. Banyak minum dan kurangi makanan yang terlalu asin
    3. Berikan makanan yang mengandung serat
    4. Batasi pemberian makanan yang tinggi kalori
    5. Batasi minum kopi dan teh
  • Peningkatan keamanan dan keselamatan
  1. Penyebab
    • Fleksibilitas kaki yang berkurang
    • Fungsi penginderaan dan pendengaran yang menurun
    • Pencahayaan yang berkurang
    • Lantai licin dan tidak rata
    • Tangga tidak ada pengaman
    • Kursi/ tempat tidur yang mudah bergerak
  2. Tindakan mencegah kecelakaan
    1. Klien :
      • Anjurkan klien menggunakan alat bantu (sesuai indikasi)
      • Latih untuk pindah dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya
      • Biasakan gunakan pengaman tempat tidur, jika tidur
      • Bantu klien bila ke kamar mandi
      • Usahakan ada yang menemani ketika berpergian
    2. Lingkungan :
      • Tempatkan di tempat khusus yang mudah diobservasi
      • Letakkan bel di bawah bantal & ajarkan cara menggunakannya
      • Tempat tidur tidak terlalu tinggi
      • Letakkan meja dekat tempat tidur, atur peralatan mudah pakai
      • Lantai bersih, rata, tidak licin dan basah serta pasang pegangan kamar Mandi
      • Kunci semua peralatan yang menggunakan roda
      • Hindarkan lampu redup dan menyilaukan
      • Gunakan sandal atau sepatu yang beralaskan karet
  • Memelihara kebersihan diri
  1. Penyebab
  • Penurunan daya ingat
  • Kurangnya motivasi
  • Kelemahan dan ketidak mampuan fisik
  1. Rencana tindakan
    1. Mengingatkan/membantu melakukan personal hygiene
    2. Menganjurkan gunakan sabun lunak mengandung minyak/skin lotion
  • Memelihara keseimbangan istirahat/tidur
  1. Penyebab
  • Personal hygiene kurang  gatal-gatal
  • Ggn psikologisinsomsia
  • Faktor lingkungan kebisingan, ventilasi dan sirkulasi Kelemahan dan ketidakmampuan fisik
  1. Rencana tindakan
    1. Menyediakan tempat/ waktu tidur yang nyaman
    2. Mengatur lingkungan yang adekuat
    3. Latihan fisik ringan memperlancar sirkulasi dan melenturkan otot
    4. Minum hangat sebelum tidur
  • Meningkatkan hubungan interpersonal melalui komunikasi
  1. Penyebab
    • daya ingat menurun, depresi, lekas marah, mudah tersinggung dan curiga
  2. Rencana tindakan :
    1. Berkomunikasi dengan mempertahankan kontak mata
    2. Mengingatkan terhadap kegiatan yang akan dilakukan
    3. Menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan klien
    4. Memberi kesempatan untuk mengekspresikan diri
    5. Melibatkan klien dalam kegiatan sesuai kemampuan
    6. Menghargai pendapat klien

TINDAKAN KEPERAWATAN

  1. Menumbuhkan dan membina rasa saling percaya
  2. Penerangan cukup
  3. Meningkatkan ransangan panca indera  membaca, rekreasi
  4. Mempertahankan dan latih daya orientasi nyatakalender, jam
  5. Berikan perawatan sirkulasi
  6. Berikan perawatan pernafasan
  7. Berikan perawatan pada alat pencernaan
  • Berikan perawatan genitourinaria
  • Berikan perawatan kulit

Daftar Pustaka

Darmojo, Boedhi,et al.2000.Beberapa masalah penyakit pada Usia Lanjut. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Lueckenotte. 1997. Pengkajian Gerontologi edisi 2.EGC: Jakarta

www.google.com. Keyword: Penyakit yang Sering Muncul pada Lansia. Diakses tanggal 12 September 2009 pukul 12.16 WIB

strategi pencapaian kesehatan mental untuk masa tua yang sukses

STRATEGI PENCAPAIAN KESEHATAN MENTAL UNTUK MASA TUA YANG SUKSES

Agung Wahyu Eko P (07.40.051)

Beberapa tingkah laku masyarakat yang beraneka ragam mendorong para ahli Ilmu Psikologi untuk menyelidiki apa penyebab perbedaan tingkah laku orang-orang dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, juga menyelidiki penyebab seseorang tidak mampu memperoleh ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupannya. Usaha ini kemudian melahirkan satu cabang termuda dari ilmu Psikologi, yaitu Kesehatan mental (Mental Hygiene) (Yusak Burhanuddin, 1999: 10).

Kesehatan mental, sebagai disiplin ilmu yang merupakan bagian dari psikologi agama, terus berkembang dengan pesat. Hal ini tidak terlepas dari masyarakat yang selalu membutuhkan solusi-solusi dari berbagai problema kehidupan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi belum mampu memenuhi kebutuhan ruhani, bahkan menambah permasalahan-permasalahan baru, seperti kecemasan dengan kemewahan hidup. Akibat lain adalah rasionalitas teknologi lebih diutamakan sehingga nilai kemanusiaan diabaikan. Demikian ungkap Sayyid Husain Nasr.

Pada bagian lain, berbagai persoalan hidup yang melanda bangsa Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan krisis multi dimensi di berbagai pelosok nusantara. Belum tuntas permasalahan ekonomi, muncul konflik berbau Sara, baru saja meredam pertikaian tersebut, bangsa kita dilanda berbagai bencana, semakin memperbukuk kondisi mental bangsa ini. Menurut Sururin persoalan kesehatan mental perlu perhatian serius semenjak adanya asumsi bahwa 2% bangsa Indonesia terganggu jiwanya.

Di samping itu, adanya perhatian manusia yang besar terhadap kesejahteraan hidupnya, serta adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya dilakukan pembinaan kesejahteraan hidup bersama ikut mempercepat perkembangan ilmu kesehatan mental.

II. Kesehatan Mental

A. Pengertian Secara Etimologis dan Terminologis

Secara etimologis, kata “mental” berasal dari kata latin, yaitu “mens” atau “mentis” artinya roh, sukma, jiwa, atau nyawa. Di dalam bahasa Yunani, kesehatan terkandung dalam kata hygiene, yang berarti ilmu kesehatan. Maka kesehatan mental merupakan bagian dari hygiene mental (ilmu kesehatan mental) (Yusak Burhanuddin, 1999: 9).

Menurut Kartini Kartono dan Jenny Andary dalam Yusak (1999: 9-10), ilmu kesehatan mental adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan mental/jiwa, yang bertujuan mencegah timbulnya gangguan/penyakit mental dan gangguan emosi, dan berusaha mengurangi atau menyembuhkan penyakit mental, serta memajukan kesehatan jiwa rakyat.

Sebagaimana seorang dokter harus mengetahui faktor-faktor penyebab dan gejala-gejala penyakit yang diderita pasiennya. Sehingga memudahkan dokter untuk mendeteksi penyakit dan menentukan obat yang tepat. Definisi mereka berdua menunjukan bahwa kondisi mental yang sakit pada masyarakat dapat disembuhkan apabila mengetahui terlebih dulu hal-hal yang mempengaruhi kesehatan mental tersebut melalui pendekatan hygiene mental.

Dalam perjalanan sejarahnya, pengertian kesehatan mental mengalami perkembangan sebagai berikut :

a. Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gangguan dan penyakit jiwa (neurosis dan psikosis).

Pengertian ini terelihat sempit, karena yang dimaksud dengan orang yang sehat mentalnya adalah mereka yang tidak terganggu dan berpenyakit jiwanya. Namun demikian, pengertian ini banyak mendapat sambutan dari kalangan psikiatri (Sururin,2004: 142)

Kembali pada istilah neorosis, pada awalnya kata tersebut berarti ketidakberesan dalam susunan syaraf. Namun, setelah para ahli penyakit dan ahli psikologi menyadari bahwa ketidakberesan tingkah laku tersebut tidak hanya disebabkan oleh ketidakberesan susunan syaraf, tetapi juga dipengaruhi oleh sikap seseorang terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain, maka aspek mental (psikologi) dimasukkan pula dalam istilah tersebut.

b. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup.

Pengertian ini lebih luas dan umum, karena telah dihubungkan dengan kehidupan sosial secara menyeluruh. Dengan kemampuan penyesuaian diri, diharapkan akan menimbulkan ketentraman dan kebahagiaan hidup.

c. Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk mengatasi problem yang biasa terjadi, serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin (konflik).

d. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi, bakat dan pembawaan semaksimal mungkin, sehingga membawa kebahagiaan diri dan orang lain, terhindar dari gangguan dan penyakit jiwa.

Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang sehat mentalnya adalah orang yang terhindar dari gangguan dan penyakit jiwa, maupun menyesuaikan diri, sanggup menghadapi masalah-masalah dan kegoncangan-kegoncangan yang bias, adanya keserasian fungsi jiwa, dan merasa bahwa dirinya berharga, berguna, dan berbahagia serta dapat menggunakan potensi-potensi yang ada semaksimal mungkin (Sururin,2004: 144).

Kesehatan mental (mental hygiens) adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan ruhani (M. Buchori dalam Jalaluddin,2004: 154) Menurut H.C. Witherington, kesehatan mental meliputi pengetahuan serta prinsip-prinsip yang terdapat lapangan Psikologi, kedokteran, Psikiatri, Biologi, Sosiologi, dan Agama (M. Buchori dalam Jalaluddin,2004: 154)

Kesehatan Mental merupakan kondisi kejiwaan manusia yang harmonis. Seseorang yang memiliki jiwa yang sehat apabila perasaan, pikiran, maupun fisiknya juga sehat. Jiwa (mental) yang sehat keselarasan kondisi fisik dan psikis seseorang akan terjaga. Ia tidak akan mengalami kegoncangan, kekacauan jiwa (stres), frustasi, atau penyakit-penyakit kejiwaan lainnya. Dengan kata lain orang yang memiliki kesehatan mental juga memiliki kecerdasan baik secara intelektual, emosional, maupun spiritualnya.

B. Pengertian Jiwa (mental) Sebagai Objek Kajian Kesehatan Mental

Di dalam Ensiklopedia Indonesia, Hassan Shadily dkk. (1992: 2787) menulis bahwa kata “Jiwa” berasal dari kata “Psyche” yang berarti jiwa, pikiran, hidup. Dalam agama, jiwa merupakan sebagian dari kerohanian manusia, dalam arti kesanggupan merasakan sesuatu. Suatu makhluk baru dikatakan berjiwa, jika sanggup mengalami, merasa, berkemauan, dan sebagainya (Hassan Shadily dkk.,1991: 1597). Jiwa adalah energi mental yang memiliki kekuatan untuk dapat memotivasi terjadinya proses perilaku yang menjadi bentukan aktivitas yang dilakukan sehari-hari. (http://id.wikipedia.org/wiki/Jiwa)

Demikianlah pengertian jiwa (mental) secara umum. Di dalam memahami jiwa ini, penulis teringat dengan unsur-unsur pada struktur jiwa manusia menurut Sigmund Freud, yakni id, ego,dan super ego (Abdul Mujib,1999: 99). Dan yang menarik adalah unsur ego dan super ego. Dikatakan demikian karena keduanya dapat dihubungkan dengan jiwa (mental). Ego dikenal sebagai eksekutif kepribadian (pengontrol tindakan) yang bersifat rasional-logis. Sedangkan Super ego berperan dalam penentuan nilai moral suatu tindakan.

Lantas, dimanakah letak hubungannya dengan jiwa?, penulis memahami bahwa jiwa (mental) cukup rawan mengalami kegoncangan atau ketidakstabilan. Maka dari itu, jiwa (mental) sangat memerlukan pondasi atau pegangan yang mampu mengokohkannya bahkan menjadikannya sebagai jiwa yang sehat. Ego dan super ego sangat berpotensi untuk menjadi penopang dan pendorong jiwa (mental) ke arah demikian.

Di dalam mengkaji dan memahami Ilmu Kesehatan Mental, jiwa (mental) yang dijadikan objek kajian ilmu ini tidaklah cukup diartikan sebagai kondisi kejiwaan manusia yang dikaji dari kesehatan pada jaringan syaraf otak atau secara fisik saja. Sehingga jika salah satu simpul saraf otak rusak seseorang akan menderita kelainan jiwa (gila). Sedangkan tidak semua tingkatan gangguan kejiwaan manusia berakibat gila. Sementara pengertian sakit jiwa adalah kondisi kejiwaan seseorang yang tidak mampu mengaktualkan tiga potensi dalam dirinya yaitu adaptasi, regulasi dan interaksi.(http://www.waspada.co.id)

Maka dari itu, jiwa (mental) dalam hal ini adalah pusat kepribadian manusia yang memiliki kepekaan dalam berinteraksi dengan dirinya sendiri maupun dengan lingkungan di luar dirinya untuk menentukan sikap yang baik dan benar. Ary Ginanjar Agustian (2002: 65), menggambarkan kondisi mental yang ideal didasari dari “penjernihan emosi” sehingga memunculkan kecerdasan emosi dan spiritual (Emotional Spiritual Quotient).

Hal tersebut menunjukkan begitu penting penatatan potensi emosi spiritual pada masing-masing individu yang berpusat pada sumber spiritual manusia, yaitu Tuhan. Dengan demikian seseorang akan terbimbing dengan kesadaran pribadi mengenali energi jiwanya guna meraih ketenangan atau keharmonisan diri.

Melalui pengkajian jiwa (mental) dirinya sendiri, manusia mampu membimbing dirinya untuk mencintai diri sendiri. Secara fitrah manusia tidak mau dirinya bobrok dan kacau. Apalagi dirinya disakiti dan merasa ditindas. Semua orang yang bermental sehat hidup di dunia menginginkan ketenangan dan kebahagiaan diri bukan sebaliknya. Wajar jika manusia akan membela diri ketika ada hal-hal yang dapat membahayakan dirinya.

C. Pengertian Jiwa (mental) yang Sehat

Seorang ahli bijak pernah berkata: ”Kesehatan itu mahkota, tak bisa merasakannya kecuali orang sakit.” Nikmat sehat memang menjadi sangat mahal. Apalah artinya bergelimang kekayaan, rumah mewah dengan jabatan dan kekuasaan yang tinggi serta anak-anak yang tampan bila tidak disertai nikmat kesehatan. Karena itulah, semua manusia berlomba untuk mendapatkan nikmat sehat

Di dalam hadis-hadisnya, Rasulullah Saw. menjelaskan kesehatan dan kestabilan jiwa (mental) seseorang memiliki beberapa indikasi antara lain adanya rasa aman. Ini disebutkan dalam sabdanya: ”Siapa yang menyongsong pagi hari dengan perasaan aman terhadap lingkungan sekitar, kondisi tubuh yang sehat, serta adanya persediaan makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dia telah memperoleh seluruh kenikmatan dunia.” (HR Tirmidzi).

Pada umumnya pribadi yang normal memiliki mental yang sehat. Demikian sebaliknya, bagi yang pribadinya abnormal cenderung memiliki mental yang tidak sehat (Yusak Baharuddin, 1999: 13). Orang yang bermental sehat adalah mereka yang memiliki ketenangan batin dan kesegaran jasmani.

Untuk memahami jiwa yang sehat, dapat diketahui dari beberapa ciri seseorang yang memiliki mental yang sehat. Dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1959 memberikan batasan mental yang sehat adalah sebagai berikut :

1. Dapat menyesuaikan diri secara konstuktif pada kenyataan meskipun kenyataan itu buruk banginya.

2. Memperoleh kepuasan dari hasil jerih payah usahanya.

3. Merasa lebih puas memberi dari pada menerima.

4. Secara relatif bebas dari rasa tegang dan cemas.

5. Berhubungan dengan orang lain secara tolong-menolong dan saling memuaskan.

6. Menerima kekecewaan untuk dipakainya sebagai pelajaran dikemudian hari.

7. Menjuruskan rasa permusuhan kepada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif.

8. Mempunyai rasa kasih sayang yang besar.

Kriteria tersebut disempurnakan dengan menambahkan satu elemen spiritual (agama). Sehingga kesehatan mental ini bukan sehat dari segi fisik, psikologik, dan sosial saja, melainkan juga sehat dalam art spiritual.

Dan tidak kalah pentingnya adalah mengetahui sekaligus memahami prinsip-prinsip dari kesehatan mental itu. Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip kesehatan mental adalah dasar yang harus ditegakkan orang dalam dirinya untuk mendapatkan kesehatan mental yang baik serta terhindar dari gangguan kejiwaan. Prinsip-prinsip tersebut adalah:

1. Gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri (self image)

Prinsip ini dapat dicapai dengan penerimaan diri, keyakinan diri dan kepercayaan pada diri sendiri. Citra diri positif akan mewarnai pola hidup, sikap, cara pikir dan corak penghayatan, serta ragam perbuatan yang positif pula.

2. Keterpaduan antara Integrasi Diri. Adanya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan jiwa dalam diri, kesatuan pandangan (falsafah) dalam hidup dan kesanggupan mengatasi stres (Sururin,2004: 146).

3. Perwujudan Diri (aktualisasi diri)

Inilah proses pematangan diri. Menurut Reiff, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang mampu mengaktualisasikan diri atau mampu mewujudkan potensi yang dimilikinya, serta memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dengan cara yang baik dan memuaskan.

4. Mau menerima orang lain, mampu melakukan aktifitas sosial dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal.

5. Berminat dalam tugas dan pekerjaan

Suka pada pekerjaan tertentu walaupun berat maka akan mudah dilakukan dibandingkan dengan pekerjaan yang kurang diminati.

6. Agama, cita-cita, dan falsafah hidup. Demi menggapai ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan.

7. Pengawasan diri

Hal ini dapat dilakukan terhadap keinginan-keinginan dari ego yang bersifat biologis murni. Sehingga dapat dikendalikan secara sehat dan terarah.

8. Rasa benar dan tanggung jawab. Ini penting bagi tingkah laku.Dengan demikian muncul rasa percaya diri dan bertanggung jawab penuh atas segala tindakan sehingga tidak menutup kemungkinan kesuksesan diri akan diraih.

Cara menjaga kesehatan fisik supaya tetap sehat dan kuat, antara lain yaitu:

  • Memilih jenis makanan sehat (empat sehat lima sempurna), yaitu: tidak makan sembarangan (teratur), makan yang mengandung kalori, karbohidrat, protein, mineral, vitamin, susu dan sejenisnya.
  • Menjaga kebersihan tempat tidur. Tempat tidur merupakan tempat kita beristirahat dari aktivitas. Dianjurkan apabila hendak tidur agar membersihkan anggota tubuh seperti kaki, tangan, mulut, dan lain-lain. Tempat tidur yang tidak bersih dapat menimbulkan penyakit, badan pegal-pegal dan lain-lain. Kalau tidur dalam keadaan bersih anggota badan kita tentu akan terhindar dari penyakit. Bangun tidur tubuh menjadi segar. Artinya organ-organ tubuh kita siap bekerja dan melakukan aktivitas.
  • Menjaga kebersihan badan. Menjaga kebersihan badan merupakan hal penting yamg harus di lakukan bila kita menginginkan tubuh tetap sehat. Hal penting yang terkait dengan kesehatan badan meliputi seluruh anggota tubuh maupun lingkungan di luar kita seperti lingkungan rumah, halaman, tempat belajar, kantor dan lain-lain. Agama apapun menuntut kita untuk selalu bersih, karena kebersihan sebagian dari iman.
  • Pemeriksaan badan ke Puskesmas atau dokter untuk menjaga kesehatan fisik antara lain: pemeriksaan mata, gigi dan lain-lain. Gigi dan mata merupakan organ yang sangat fundamental untuk kesehatan badan secara keseluruhan. Selain itu gigi sebagai daya tarik pemikat senyum, harus di periksa dan di rawat sebaik-baiknya. Hal ini juga dapat menambah percaya diri.

Cara memiliki dan menjaga kesehatan mental yang tangguh.

Keberhasilan seseorang dalam melakukan atau mencapai sesuatu sangat banyak dipengaruhi bagaimana ia mampu menjaga kesehatan fisik dan mental sebaik-baiknya (seimbang). Kesehatan fisik dan mental seseorang menjadi satu kesatuan penting dan tidak terpisahkan dalam setiap aspek kehidupan untuk dapat melakukan dan mencapai sesuatu secara optimal.

Untuk itu setiap orang agar memilki kemampuan menghadapi persoalan atau masalah hendaknya;

  1. Menerima dan mengakui dirinya sebagaimana adanya.
  2. Tekun beribadah dan berakhlak mulia.
  3. Bersikap sportif.
  4. Percaya diri.
  5. Memiliki semangat atau motivasi.
  6. Tidak takut menghadapi tantangan dan berusaha terus untuk mengatasinya (hal positif).
  7. Terbuka.
  8. Tenang, tidak emosi bila menghadapi masalah (pikirkan dengan kepala dingin).
  9. Banyak bergaul dan bermasyarakat (bergaul yang positif).
  10. Bangun komunikasi yang baik dengan orang tua, teman, guru, dosen, atasan, dan lain-lain.
  11. Banyak latihan mengendalikan diri, seperti tidak pemarah, tidak cemas, berpikir positif, mudah memaafkan dan lain-lain.
  12. Membiasakan diri untuk selalu peduli dengan lingkungan dan orang lain.
  13. Demikianlah tips untuk bisa hidup sehat fisik dan mental. Sebaiknya kita mencobanya kemudian membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Tubuh kita yang sehat harus diimbangi dengan mental yang kuat. Mental yang kuat itupun harus dilatih secara rutin.

Setelah dipaparkan beberapa pengertian seputar kesehatan mental, dapat diketahui bersama bahwa sebenarnya kesehatan mental selain sebagai salah satu cabang ilmu Psikologi termuda, juga berfungsi sebagai alat solusi dari beragam permasalahan kesehatan kejiwaan pada masyarakat. Melalui pendekatan Mental Hygiene inilah penyakit jiwa (mental) dapat terdeteksi dan ada harapan untuk disembuhkan.

Sedangkan menurut definisi umum, kesehatan mental adalah kondisi kejiwaan manusia yang harmonis yang memungkinkan perkembangan fisik, mental dan intelektual yang optimal dari seseorang serta perkembangan tersebut berjalan selaras dengan orang lain.

Kesehatan jiwa juga merupakan perasaan sehat dan berbahagia mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan mempunyai sikap positip terhadp diri sendiri dan orang lain.

Ciri-ciri sehat jiwa yakni menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya, mampu menghadapi stress kehidupan yang wajar, dapat berperan serta dalam lingkungan hidupnya, menerima baik yang ada pada dirinya dan mampu bekerja produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya serta merasa nyaman bersama orang lain.

Abdul Aziz el Quussy, Ilmu Jiwa : Prinsip-prinsip dan Implementasinya dalam

Pendidikan, Jakarta: Bulan Bintang, 1976

Abdul Mujib, Fitrah & Kepribadian Islam: Sebuah Pendekatan Psikologis, Jakarta:

Ary Ginanjar Agustian,. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi Dan Spiritual (ESQ: Emotional Spiritual Quotient). Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2002

Hassan Shadily dkk., Ensiklopedia Indonesia, Jakarta: PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve,

Jalaluddin, Psikologi Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004.

Sururin, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004

Yusak Burhanuddin, Kesehatan Mental, Bandung: CV Pustaka Setia, 1999

PROSES ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA INDIVIDU

  1. Bayu Agung (07.40.006)
  2. Dohiriyah A (07.40.015)
  3. Irvan Fanani (07.40.024)
  4. Khilwi M (07.40.026)
  5. Moch Anton K (07.40.033)
  6. Rudy Rusdiono (07.40.042)
  • I.DEFINISI

Proses asuhan keperawatan pada usia lanjut adalah kegiatan yang dimaksuddkan untuk memberikan bantuan, bimbingan, pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara individu, seperti di rumah/lingkungan keluarga, panti werda maupun piskesmas, yang diberikan oleh perawat untuk asuhan keperawatan yang masih dapat dilakukan oleh anggota keluarga atau petugas social yang bukan tenaga keperawatan, diperlukan latihan sebelumnya atau bimbingan langsung pada waktu tenaga keperawatan melakukan asuhan keperawatan di rumah atau panti (Depkes, 1993 1b).

  • II.KLASIFIKASI

Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan, disesuaikan pada kelompok lanjut usia, apakah lanjut usia aktif atau pasif, anatra lain;

  1. Lanjut usia aktif, asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal hygiene, kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu, kebersihan diri termasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata, serta telinga; kebersihan lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan; makanan sesuai, misalnya porsi kecil bergizi, bervariasi dan mudah dicerna, dan kesegaran jasmani.
  2. Lanjut usia pasif, yang tergantung pada orang lain. Hal yang perrlu diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif pada dasarnya sama seeperti pada lanjut usia aktif, dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga atau petugas.

III. PENDEKATAN PERAWATAN LANJUT USIA

Perawatan yang memperhatikan obyektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang dialami klien lanjut semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bias dicapai dan dikembangkan, dan penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progrevitasnya.

Perawatan fisik seecara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian, yakni:

  • Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu melakukan sendiri.
  • Klien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit, perawat harus mengetahui dasar perawatan klien lanjut usia ini terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan keberhasilan perorangan untuk memepertahankan kesehatannya. Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha menceggah timbulnya peradangan, mengingat sumber infeksi dapat timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian.

Di samping itu, kemunduran kondisi fisik akibat prosees ketuaan, dapat mempengaruhi ketahanan tubbuh terhadap gangguan atau serangan infeksi dari luar.

Untuk klien lanjut usia yang masih aktif dapat diberikan bimbingan mengenai kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan rambut dan kuku, kebersihan tempat tidur serta posisi tidurnya, hal makanan, cara memakan obat, dan cara pindah dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya. Hal ini penting karena meskipun tidak selalukeluhan-keluhan yang dikemukakan atau gejala-gejala yang ditemukan memerlukan perawatan, tidak jarang para klien lanjut iusia dihapdapkan pada dokter dalam keadaan gawat yang memerlukan tindakan darurat dan intensif.

Adapun komponen pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah memperhatikan dan membantu para klien lanjut usia untuk bernafas dengan lancer, makan termasuk memilih dan menentukan makanan, minum, melakuan eliminasi, tidur, menjaga sikap tubuh waktu berjalan, duduk, merubah posisi tiduran, beristirahat, kebersihan tubuh, memakai dan menukar pakaian, mempertahankan suhu badan, melindungi kulitg dan kecelakaan.

Toleransi terhadap kekurangan O2 sangat menuru n pada klien lanjut usia, untuk itu kekurangan O2 yang mendadak harus dicegah dengan posisi bersandar pada beberapa bantal, jangan makan terlalu banyak dan jangan melakukan gerak badan yang berlebuhan.

Di sini perawat mempunyai peranan penting mengadakan pendekatan edukatifpada klien lanjut usia, perawat dapat berperan seebagai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas. Perrawat harus selalu memegang prinsip “Tripple S”, yaitu Sabar, Simpatik, dan Service.

Pada dasarnya klien lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari lingkugan, termasuk perawat yang memberikan perawatan. Untuk itu perawat harus selalu menciptakan suasana aman, tidak gaduh, membiarkan mereka melkukan kegiatan dalam batas kemampuan dan hobi yang dimilikinya.

Perawat harus dapat membangkitkan semangat dan kreasi klien lanjut usia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus asa, rasa rendah diri, rasa keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan fisik, dan kelainan yang dideritanya.

Hal ini perlu dilkukan karena perubahan psikologi terjadi bersama dengan berlanjutnya usia.Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala, seperti menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi , berkurangnya kegairahan keinginan , peningkatan kewaspadaan, perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran di waktu siang, dan pergeseran libido.

Perawat harus sabar mendengarkan cerita-cerita dari masa lampau yang membosankan, jangan mentertawakan atau memarahi klien lanjut usia bila lupa atau kesalahan. Harus diingat, kemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu.

Bila perawat ingin mengubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan, perawat bias melakukannya secara perlahan-lahandan bertahap, perawatharus dapat mendukung mental mereka kea rah pemuasan pribadi sehingga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diuasahakan agar di masa lanjut usia ini mereka dapat merasa puas dan bahagia.

Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu upaya perawat dalam pendekatan social. Memberikan kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesame kklien lanjut usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Jadi, pendekatan social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang diahadapinya adalah makhluk social yang membutuhkan orang lain. Dalam pelaksanaannya perawat dapat menciptakan hubungan social antara lanjut usia dan lanju usia dan perawat sendiri.

Perawat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para lanjut usia untuk mengadakan komunikasi dan melakukan rekreasi, missal jalan pagi, menonton film, atau hiburan-hiburan lain.

Para lanjut usia perlu dirangsang untuk mengetahui dunia luar, seperti menonton televise, mendengarkan radio, atau membaca surat kabar dan majalah. Dapat disadari bahwa pendekatan komunikasi dalam perawatan tidak kalah pentingnya denganh upaya pengobatan medis dalam proses penyenbuhan atau ketenangan para klien lanjut usia.

Tidak sedikit klien tidak dapat tidur karena stress, stress memikirkan penyakit, biaya hidup, keluarga yang di rumah sehingga menimbulkan kekecewaan, ketakutan atau kekhawatiran, dan rasa kecemasan. Untuk menghilangkan rasa jemu dan menimbulkan perhatian terhadap sekelilingnya perlu diberi kesempatan kepada lanjut usia untuk menikmati keadaan di luar, agar merasa masih ada hubungan dengan dunia luar.

Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian di antara lanjut usia (terutama yang tinggal dip anti werda), hal ini dapat diatasi dengan berbagai usaha, antara lain selalu mengadakan kontak dengan mereka, senasib dan sepenanggungan, dan punya hak dan kewajiban bersama. Dengan demikiian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap mempunyai hubungan komunikasi baik sesame mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan kesejahteraan social bagi lanjut usia dip anti werda.

Perawat harus bias memberikan ketentuan dan kepuasan batin dalam hubungannya ddengan tujuan atau agama yang dianutnya, terutama bila klien lanjut usia dalam keadaan sakit atau mendekati kematian.sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia yang menekati kematian, DR Toni Setyobudhi mengemukakan bahwa maut sering kali menggugah rasa takut. Rasa takut semacam ini di dasari oleh berbagai macam factor seperti, ketidakpastian pengalaman selanjutnya, adanya rasa sakit/penderitaan yang sering menyertainya, dan kegelisahan untuk tidak kumpul lagi dengan keluarga/lingkungan sekitarnya.

Dalam menghadapi kematian, setiap klien lanjut usia akan memberikan reaksi-reaksi yang berbeda, tergantung dari kepribadian dan cara mereka menghadapi hidup ini. Sebab itu, perawat harus meneliti dengan cermatdi manakah letak kelemahan dan di mana letak kekuatan klien, agar perawat selanjutnya akan lebih terarah lagi. Bila kelemahan terletak pada seegi spiritual, sudah seelayaknya perawat dan tim berkewajiban mencari upaya agar klien lanjut usia ini dapat diringankan penderitaannya. Perawat bias memberikan keseempatan pada klien lanjut usia untuk melaksanakan ibadahnya, atau secara langsung memberikan bimbingan rohani dengan menganjurkan melaksanakan ibadahnya seperti membaca kitab atau membantu lanjut usia dalam menunaikan kewajiban terhadap agama yang dianutnya.

Apabila kegelisahan yang timbul disebabkan oleh persoalan keluarga, maka perawat harus dapat meyakinkan lanjut usia bahwa kelurga tadi di tinggalkan, masih ada orang lain yang mengurus mereka. Seedangkan bila ada rasa bersalah yang menghantui pikiran lanjut usia, segera perawat segera menghubungi seeorang rohaniawan untuk dapat mendampingi lanjut usia dan mendengarkan keluhan-keluhannya maupun pengakuan-pengakuannya.

Umumnya pada waktu kematian akan dating, agama atau kepercayaan seseorang merupakan factor yang penting sekali. Pada waktu inilah kehadiran seorang imam sangat perlu untuk melapangkan dada klien lanjut usia.

Dengan demikian pendekatan perawat lanjut usia bukan hanya terhadap fisik, yakni membantu merekadalam keterbatasan fisik saja, melainkan perawat lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama mereka.

  1. IV. TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA
    1. Agar lanjut usia dapat melakukan kegiatan sehari-hari seecara mandiri
    2. Mempertahankan kesehatan dan kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut usia dan jalan perawatan dan pencegahan
    3. Membantu memperrtahankan serta membesarkan semangat hidup klien lanjut usia
    4. Merawat dan menolong klien lanjut usia yang menderita penyakit atau mengalami gangguan tertentu (kronis maupun akut)
    5. Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnose yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai suatu kelainan tertentu
    6. Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para klien lanjut usia yang menderita suatu penyakit atau gangguan , masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perrlu suatu pertolongan

    V. FOKUS KEPERAWATAN LANJUT USIA

      1. Peningkatan kesehatan (health promotion)
      1. Pencegahan penyakit (preventif)
      2. Mengoptimalkan fungsi mental
      3. Mengatasi gangguan kesehatan yang umum

PROSES ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA

  1. I.PENGKAJIAN

Wawancara

  • Pandangan lanjut usia tentang kesehatannya
  • Kegiatan yang mampu dilakuakn lanjut usia
  • Kebiasaan lanjut usia merawat diri sendiri
  • Kekuatan fisik lanjut usia: otot, sendi, penglihatan, dan pendengaran
  • Kebiasaan gerak badan/olah raga/senam lanjut usia
  • Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur, buang air besar/kecil
  • Perrubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan
  • Kebiasaan lanjut usia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan dalam minum obat
  • Masalah-masalah seksual yang dirasakan

Pemeriksaan fisik

  • Pemeriksaan dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi untuk mengetahui perubahan system tubuh
  • Pendekatan yang digunakan dalam pemeriksaan fisik, yaitu head to toe dan system tubuh
  1. Psikologis
  • Apakah mengenal masalah-masalah utamanya?
  • Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan?
  • Apakah dirinya merasa dibutuhkan?
  • Apakah optimis dalam memandang suatu kehidupan?
  • Bagaimana mengatasi stress yang dialami?
  • Apakah mudah dalam menyesuaikan diri?
  • Apakah lanjut usia sering menngalami kegagalan?
  • Apakah harapah pada saat ini dan yang akan dating?
  • Perlu dikaji juga mengenai fungsi kognitif: daya ingat, proses piker, alam perasaan, orientasi, dan kemampuan dalam penyelesaian masalah
  1. Social Ekonomi
  • Dari mana sumber keuangan lanjut usia?
  • Apa saja kesibukan lanjut usia dalam mengisi waktu luang?
  • Dengan siapa dia tinggal?
  • Kegiatan organisasi apa yang diikuti lanjut usia?
  • Bagaimana pandangan lanjut usia terhadap lingkungannya?
  • Berapa sering lanjut usia berhubungan dengan orang lain di luar rumah?
  • Siapa saja yang mengunjungi?
  • Seberapa besar ketergantungannya?
  • Apakah dapat menyalurkan hobi atau keinginannya dengan fasilitas yang ada?
  1. Spiritual
  • Apakah secara teratur melakukan ibadah seeduai dengan keyakinan agamanya?
  • Apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan, misalnya pengajian?
  • Bagaimana cara lanjut usia menyelaesaikan masalah apakah dengan berdoa?
  • Apakah lanjut usia terlihat sabar dan tawakal?

Pengkajian dasar

Mungkin serendah 95˚F (hipotermi) 35˚C

Lebih teliti diperiksakan di sublingual

Kecepatan, irama, volume

Apical, radial, pedal

Kecepatan, irama, dan kedalaman

Todak teraturnya pernapasan

Saat baring, duduk, berdiri

Hipotensi akibat posisi tubuh

  1. Berat badan perlahan lahan hilang pada tahun-tahun terakhir
  2. Tingkat orientasi
  3. Memori (ingatan)
  4. Pola tidur
  5. Penyesuaian psikososial

System pernapasan

  1. Kesimetrisan raut wajah
  2. Tingkat kesadaran adanya perubahan-perubahan dari otak

Tidak semua orang menjadi snile

Kebanyakan mempunyai daya ingatan menurun atau melemah

  1. Mata: pergerakan, kejelasan melihat, adanya katarak
  2. Pupil: kesamaan, dilatasi
  3. Ketajaman penglihatan

Jangan dites di depan jendela

Pergunakan tangan atau gambar

Cek kondisi kacamata

  1. Sensory deprivation (gangguan sensorik)
  2. Ketajaman pendengaran

Apakah menggunakan alat bantu dengar

Serumen telinga bagian luar jangan dibersihkan

  1. Adanya rassa sakit atau nyeri

System Kardiovaskuler

  1. Sirkulasi perifer, warna, dan kehangatan
  2. Auskultasi denyut nadi apical
  3. Periksa adanya pembengkakan vena jugularis
  4. Pusing
  5. Sakit
  6. Edema

System Gastrointestinal

  1. Status gizi
  2. Pemasukan diet
  3. Anoreksia, tidak dicerna, mual, dan muntah
  4. Mengunyah dan menelan
  5. Keadaan gizi, rahang, dan rongga mulut
  6. Auskultasi bising usus
  7. Palpasi apakah perut kembung ada pelebaran kolon
  8. Apakah ada konstipassi, diare,dan inkontenensia alvi

System Genitourinarius

  1. Warna dan bau mulut
  2. Distensi kandung kemih, inkontenensia (tidak dapat menahan untuk buang air kecil)
  3. Frekuensi, tekanan, atau desakan
  4. Pemasukan dan pengeluaran cairan
  5. Disuria
  6. Seksulitas

Kurang minat untuk melaksanakan

Adanya kecacatan social yang mengarah ke aktivitas seksual

System kulit

Temperature, tingkat kelembaban

Keutuhan luka, luka terbuka, robekan

Turgor (keknyalan kulit)

  1. Adanya jaringan parut
  2. Keadaan kuku
  3. Keadaan rambut
  4. Adanya gangguan-gangguan umum

System Muskuloskeletal

Ambulasi dengan atau tanpa bantuan/peralatan

Kemampuan melangkah atau berjalan

Psikososial

  1. Menunjukkan tanda-tanda meningkatnya ketergantungan
  2. Focus-fokus pada diri bertambah
  3. Memperlihatkan semakin sempitnya perhatian
  4. Membutuhkan bukti nyata akan rasa kasih saying yang berlebihan

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Fisik/Biologis

  • Gangguan nutrisi: kurang/berlebihan dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan pemasukan yang tidak adekuat
  • Gangguan perpepsi sensorik: pendengaran, penglihatan sehubungan dengan hambatan penerimaan, dan pengiriman rangsangan.
  • Kurangnya perawatan diri sehubungan dengan penurunan minat dalam perawatan diri.
  • Potensial cedera fisik sehubungan dengan penurunan fungsi tubuh.
  • Gangguan pola tidur sehubungan dengan kecemasan atau nyeri.
  • Perubahan pola eliminasi sehubungan dengan penyempitan jalan napas atau adanya secret pada jalan napas.
  • Gangguan mobilitas fisik sehubungan dengan kekuatan sendi.

2. Psikososial

  • Isolasi sosial sehubungan dengan perasaan curiga.
  • Menarik diri dari lingkungan sehubungan dengan perasaan tidak mampu.
  • Depresi sehubungan dengan isolasi sosial.
  • Harga diri rendah sehubungan dengan perasaan ditolak.
  • Coping tidak adekuat sehubungan dengan ketidakmampuan mengemukakan perasaan secara tepat.
  • Cemas sehubungan dengan sumber keuangan yang terbatas.

3. Spiritual

  • Reaksi berkabung atau berduka sehubungan dengan ditinggal pasangan.
  • Penolakan terhadap proses penuaan sehubungan dengan ketidakpastian menghadapi kematian.
  • Marah terhadap tuhan sehubungan dengan kegagalan yang dialami.
  • Perasaan tidak tenang sehubungan dengan ketidakmampuan melakukan ibadah secara tepat.

H. RENCANA KEPERAWATAN

  1. Melibatkan klien dan keluarganya dan perencanaan.
  2. Bekerja sama dengan profesi kesehatan lainnya.
  3. Tentukan prioritas:
  • Klien mungkin puas dengan situasi demikian.
  • Bangkitkan perubahan tetapi jangan memaksakan.
  • Keamanan atau rasa aman adalah utama yang merupakan kebutuhan.
  1. Cegah timbulnya masalah-masalah.
  2. Sediakan klien cukup waktu untuk mendapat input atau pemasukan.
  3. Tulis semua rencana dan jadwal.

Perencanaan

Tujuan tindakan keperawatan lanjut usia diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar, antara lain:

  1. Pemenuhan kebutuhan nutrisi.
  2. Peningkatan keamanan dan keselamatan.
  3. Memelihara kebersihan diri.
  4. Memelihara keseimbangan istirahat/tidur.
  5. Meningkatnya hubungan interpersonal melalui komunikasi efektif.

Pemenuhan kebutuhan nutrisi

Penyebab gangguan nutrisi pada lanjut usia:

  • Penuruna alat penciuman dan pengecap.
  • Pengunyahan kurang sempurna.
  • Gizi yang tidak lengkap.
  • Rasa penuh pada perut dan susah buang air besar.
  • Melemahnnya otot-otot lambung dan usus.

Masalah gizi yang timbul pada lanjut usia:

  • Gizi berlebihan.
  • Gizi kurang.
  • Kekurangan vitamin.
  • Kelebihan vitamin.

Kebutuhan nutrisi pada lanjut usia:

  1. Kalori pada lanjut usia:

Laki-laki = 2.100 kalori

Perempuan = 1.700 kalori

Dapat dimodifikasi tergantung keadaan lanjut usia, misalnya: gemuk/kurus atau disertai penyakit demam.

  1. Karbohidrat, 60% dari jumlah kalori yang dibutuhkan.
  2. Lemak, tidak dianjurkan karena menyebabkan hambatan pencernaan dan terjadi penyakit, 15-20% dari total kalori yang dibutuhkan.
  3. Protein, untuk mengganti sel-sel yang rusak, 20-25% dari total kalori yang dibutuhkan.
  4. Vitamin dan mineral sama dengan usia muda kebutuhannya.
  5. Air, 6-8 gelas perhari.

Rencana makanan untuk lanjut usia

  1. Berikan makanan porsi kecil tapi sering.
  2. Banyak minum dan kurangi makanan yang terlalu asin.
  3. Berikan makanan yang mengandung serat.
  4. Batasi pemberian makanan yang tinggi kalori.
  5. Membatasi minum kopi dan teh.

Meningkatkan keamanan dan keselamatan lanjut usia

Penyebab kecelakaan pada lanjut usia:

  • Fleksibilitas kaki yang berkurang.
  • Fungsi penginderaan dan pendengaran menurun.
  • Pencahayaan yang berkurang.
  • Lantai licin dan tidak rata.
  • Tangga tidak ada pengaman.
  • Kursi atau tempat tidur yang mudah bergerak.

Tindakan mencegah kecelakaan:

  1. Klien/lanjut usia:
  • Biarkan lanjut usia menggunakan alat bantu untuk meningkatkan keselamatan.
  • Latih lanjut usia untuk pindah dari tempat tidur ke kursi.
  • Biasakan menggunakan pengaman tempat tidur, jika tidur.
  • Bila mengalami masalah fisik, misalnya reumatik, latih klien untuk menggunakan alat bantu berjalan.
  • Bantu klien ke kamar mandi terutama untuk lanjut usia yang menggunakan obat penenang/diuretic.
  • Menggunakan kaca mata apabila berjalan atau melakukan sesuatu.
  • Usahakan ada yang menemani.
  1. Lingkungan
  • Tempatkan klien di ruangan khusus dekat kantor sehingga mudah diobservasi bila lanjut usia tersebut dirawat.
  • Letakkan bel di bawah bantal dan ajarkan cara menggunakannya.
  • Gunakan tempat yang tidak terlalu tinggi.
  • Letakkan meja kecil dekat tempat tidur agar lanjut usia menempatkan alat-alat yang selalu digunakannya.
  • Upayakan lantai bersih, rata, tidak licin, dan basah.
  • Kunci semua peralatan yang menggunakan roda untuk lanjut usia yang menggunakannya.
  • Pasang pegangan di kamar mandi.
  • Hindari lampu yang redup dan menyilaukan, sebaiknya gunakan lampu 70-100 watt.
  • Jika pindah dari ruang terang ajarkan klien untuk memejamkan mata sesaat.
  • Gunakan sandal/sepatu yang beralas karet.
  • Gunakan perabotan yang penting-penting saja di ruang lanjut usia.

Memelihara kebersihan diri

  1. Penyebab kurangnya perawatan diri pada lanjut usia adalah:
  • Penurunan daya ingat.
  • Kurangnya motivasi.
  • Kelemahan dan ketidakmampuan fisik.
  1. Upaya yang dilakukan untuk kebersihan diri, antara lain:
  • Mengingatkan atau membantu lanjut usia untuk melakukan upaya kebersihan diri.
  • Menganjurkan lanjut usia untuk menggunakan sabun lunak yang mengandung minyak atau berikan skin lotion.
  • Mengingatkan lanjut usia untuk membersihkan lubang telinga, mata, dan gunting kuku.

Memelihara keseimbangan istirahat/tidur

Upaya yang dilakukan, antara lain:

  1. Menyediakan tempat/waktu tidur yang nyaman.
  2. Mengatur lingkungan yang cukup ventilasi, bebas dari bau-bauan.
  3. Melatih lanjut usia untuk latihan fisik ringan untuk memperlancar sirkulasi dan melenturkan otot-otot.
  4. Memberikan minuman hangat sebelum tidur, misalnya susu hangat.

Meningkatkan hubungan interpersonal melalui komunikasi

  1. Masalah umum yang dikemukakan pada lanjut usia adalah daya ingat menurun, depresi, lekas marah, mudah tersinggung, dan curiga. Hal ini disebabkan hubungan interpersonal yang tidak adekuat.
  2. Upaya yang dilakukan antara lain:
  • Berkomunikasi dengan lanjut usia dengan kontak mata.
  • Memberikan stimulus/mengingatkan lanjut usia terhadap kegiatan yang akan dilakukan.
  • Menyediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan lanjut usia.
  • Memberikan kesempatan kepada lanjut usia untuk mengekspresikan atau tanggap terhadap respons non verbal lanjut usia.
  • Melibatkan lanjut usia untuk keperluan tertentu sesuai dengan kemampuan lanjut usia.
  • Menghargai pendapat lanjut usia.
  1. I.TINDAKAN KEPERAWATAN
  1. Tumbuhkan dan bina rasa saling percaya.
  2. Sediakan cukup penerangan.
  • Penerangan alam lebih baik.
  • Hindarkan cahaya yang menyilaukan.
  • Penerangan malam sepanjang waktu di kamar mandi dan ruangan.
  1. Tingkatkan rangsangan panca indera melalui:
  • Buku-buku yang dicetak besar.
  • Perubahan lingkungan.
  • Berikan warna-warna yang dilihat klien.
  1. Pertahankan dan latih daya orientasi nyata, dapat menggunakan:
  • Kalender dan penanggalan.
  • Jam.
  • Saling mengunjungi.
  1. Berikan perawatan sirkulasi
  • Hindarkan pakaian yang menekan, mengikat, atau sempit.
  • Ubah posisi.
  • Berikan kehangatan dengan selimut dan pakaian.
  • Berikan dorongan dalam melakukan aktivitas untuk meningkatkan sirkulasi.
  • Berikan bantuan, dukungan dan gunakan tindakan yang aman selama perpindahan.
  • Lakukan penggosokan perlahan-lahan pada waktu mandi.
  1. Berikan perawatan pernapasan
  • Bersihkan nostril atau kotoran hidung.
  • Lindungi dari angin.
  • Tingkatkan aktivitas pernapasan dengan latihan-latihan, seperti:
    • Bernapas dalam (deep breathing).
    • Latihan batuk.
    • Latihan menghembus napas menggunakan mainan.
    • Hati-hati dengan terapi O2 cek terjadinya CO2 narkosis, yang biasanya ditandai dengan:
      • Gelisah.
      • Keringat berlebihan.
      • Gangguan penglihatan.
      • Kejang otot.
      • Tekanan darah rendah (hipotensi).
      • Kerja otak menurun.
  1. Berikan perawatan pada alat pencernaan
  • Rangsang nafsu makan.
    • Berikan makan dengan porsi sedikit-sedikit tapi sering dan kualitasnya bergizi.
    • Berikan makanan yang menarik.
    • Sediakan makanan yang hangat-hangat.
    • Sediakan makanan jika mungkin yang sesuai dengan pilihannya.
    • Cegah terjadinya gangguan pencernaan
      • Berikan sikap fowler waktu makan.
      • Pertahankan keasaman lambung.
      • Berikan makanan yang tidak membentuk gas.
      • Cukup cairan.
      • Cegah konstipasi atau sembelit
        • Jamin kecukupan cairan dalam diet.
        • Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas.
        • Fasilitas gerakan usus dalam mencerna.
        • Berikan kebebasan dan posisi tubuh normal.
        • Berikan laksativ atau supositorial, jika hal-hal diatas tak efektif.
  1. Berikan perawatan genitourinaria
  • Cukup cairan masuk 2000-3000 ml/hari.
  • Cegah inkontinensia.
    • Jelaskan dan berikan dorongan pada klien untuk buang air kecil (bak) tiap 2 jam.
    • Pertahankan penerangan di kamar mandi untuk mencegah jatuh.
    • Observasi jumlah urine untuk hasil maksimum selama siang hari.
    • Batasi cairan terutama mendekati waktu tidur.
    • Seksualitas
      • Sediakan waktu untuk diskusi atau konsultasi.
      • Berikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya terhadap keinginan seksual.
      • Berikan dorongan untuk menumbuhkan rasa persahabatan.
  1. Berikan perawatan kulit
  • Mandi
    • Jelaskan dan beri dorongan pada klien untuk mandi bersih hanya 2 kali seminggu untuk mencegah kekeringan kulit.
    • Gunakan sabun superfot atau lotion yang mengandung lemak untuk menambah kesehatan kulit.
    • Potong kuku kaki jika tidak ada kontraindikasi, missal: ada jamur di kuku atau adanya gangguan medic atau bedah.

10. Berikan perawatan musculoskeletal

  • Bergerak dengan keterbatasan.
  • Ganti posisi tiap 2 jam, luruskan dan hati-hati.
  • Cegah osteoporosis dari tulang panjang dengan memberikan latihan.
  • Lakukan latihan aktif dan pasif, misalnya waktu istirahat atau pada waktu-waktu tertentu.
  • Berikan arah dan latihan pada semua sendi 3 kali.
  • Anjurkan dan berikan dorongan pada keluarga untuk memandirikan klien contohnya membiarkan klien duduk tanpa dibantu.

11. Berikan perawatan psikososial

  • Jelaskan dan berikan dorongan untuk melakukan aktivitas psikososial agar tercipta suasana normal.
  • Bantu dalam memilih dan mengikuti aktivitas.
  • Fasilitas pembicaraan.
  • Pertahankan sentuhan yang merupakan satu alat yang sangat berguna dalam menetapkan atau memelihara kepercayaan.
  • Berikan penghargaan dan rasa simpati.
  • Pertahankan pendekatan kebaikan.

12. Pelihara keselamatan

  • Usahakan agar pagar tempat tidur (pengaman) tetap dipasang karena klien:
    • Sering terbangun (orientasi mengalami kemunduran yang disebabkan oleh beberapa hal).
    • Mudah jatuh karena kelemahan otot-otot.
    • Hipertensi bila dalam posisi tegak.
    • Tempat tidur dalam posisi rendah bila klien sedang tidak mendapatkanperawatan langsung.
    • Klien diberikan pegangan di kamar mandi dan ruangan.
    • Kamar dan lantai berantakan.
    • Cukup mendapatkan penerangan.
    • Berikan penyangga sewaktu berdiri bila diperlukan.
    • Berikan dorongan untuk berjalan, lebih baik latihan sendiri untuk klien lanjut usia.

J. PERAWATAN SEHARI – HARI YANG HARUS DILAKUKAN

Perawatan yang harus dilakukan kepada klien lanjut usia terutama yang berhubungan dengan kebersihan perorangan (personal hygiene), yakni :

Kebersihan mulut dan gigi

Kebersihan mulut dan gigi harus tetap dijaga dengan menyikat gigi dan kumur – kumur secara teratur, meskipun sudah ompong, bagi yang masih aktif dan yang masih mempunyai gigi agak lengkap dapat menyikat giginya sendiri sekurang – kurangnya 2 kali sehari, pagi bangun tidur dan malam sebelum tidur. Bagi lanjut usia yang menggunakan gigi palsu (protesa) dapat dipelihara, caranya sebagai berikut :

  1. Gigi palsu dilepas, keluarkan dari mulut dengan menggunakan kain kasa atau sapu tangan yang bersih, bila kesulitan bisa dibantu oleh keluarga atau perawat.
  2. Gigi palsu kemudian disikat perlahan – lahan di bawah air mengalir sampai bersih. Bila perlu dapat digunakan pasta gigi.
  3. Pada waktu tidur, gigi palsu tidak dipakai dan di rendam dengan sir bersih di dalam gelas. Tidak boleh direndam di air panas atau di jemur. Bagi mereka yang sudah tidak mempunyai gigi lagi atau tidak memakai gigi palsu, setiap kali habis makan harus berkumur – kumur untuk mengeluarkan sisa makanan yang melekat diantara gigi. Bagi yang masih mempunyai gigi tapi kondisinya lemah atau lumpuh, usaha untuk membersihkan gigi dan mulut perlu mendapat bantuan dari keluarga atau jika tinggal di panti bisa dibantu perawat atau petugas.

Yang perlu diperhatikan dalam membersihkan gigi – gigi :

  • Sikat gigi (oleskan pasta gigi secukupnya diatas sikat gigi).
  • Air bersih dalam gelas untuk kumur.
  • Kom plastik sedang untuk membuang air kumur.
  • Handuk untuk alas di dada, agar tidak basah dan untuk lap mulut setelah sikat gigi selesai.

Caranya :

  1. Alat – alat, seperti : kom, sikat gigi, pasta gigi, dan handuk diletakkan diatas meja kecil atau kursi didekat tempat tidur.
  2. Usahakan duduk dengan posisi yang enak, bila tidak dapat duduk usahakan untuk dapat duduk setengah miring dengan cara meninggikan bantal untuk menahan punggungnya.
  3. Handuk direntangkan melebar sehingga menutup dada, gunanya untuk menjaga agar tidak basah.
  4. Sikatlah gigi secara perlahan – lahan mulai dari bagian luar, lalu ke dalam dan kebelakang gigi, cara menyikatnya dari atas ke bawah untuk gigi bagian atas, dan dari bawah ke atas untuk gigi bagian bawah agar kotoran/sisa makanan bisa tersapu.
  5. Berikan air bersih untuk kumur – kumur sampai bersih.
  6. Sisa air kumur dituangkan dan di tampung dalam kom plastik.
  7. Bersihkan sekitar mulut dengan handuk sehingga bersih dan kering.

Kebersihan kulit dan badan

Fungsi kulit :

  1. Melindungi bagian tubuh atau jaringan di bawahnya terhadap pukulan, untuk mencegah kuman – kuman penyakit, dan kedinginan.
  2. Sebagai panca indera perasa dan peraba.
  3. Mengatur suhu badan.
  4. Mengeluarkan ampas – ampas berupa zat – zat yang tak terpakai, misalnya keringat.
  5. Tempat memasukkan obat – obat injeksi.

Pentingnya pemeliharaan kulit

Kulit menerima berbagai rangsangan (stimulus) dari luar, kulit merupakan pintu masuk ke dalam tubuh. Kebersihan kulit mencerminkan kesadaran seseorang akan pentingnya arti kebersihan. Kebersihan kulit dan kerapihan dalam berpakaian pada klien lanjut usia perlu tetap diperhatikan agar penampilan mereka tetap segar. Usaha membersihkan kulit dapat dengan cara mandi tiap hari secara teratur, paling sedikit dua kali sehari.

  1. Menghilangkan bau.
  2. Menghilangkan kotoran.
  3. Merangsang peredaran darah.
  4. Memberikan kesegaran pada tubuh.

Pengawasan yang perlu dilakukan :

  1. Ada tidaknya lecet.
  2. Mengoleskan minyak pelembab kulit setiap selesai mandi agar tidak terlalu kering atau keriput.
  3. Mempergunakan air hangat untuk mandi, dalam usaha merangsang peredaran darah dan mencegah kedinginan, temperatur air hangat sebaiknya kurang lebih 80 – 90° f.
  4. Menggunakan sabun yang halus dan jangan terlampau sering, karena hal ini dapat mempengaruhi keadaan kulit yang sudah kering dan keriput.

Bantuan perawatan bagi yang keadaan fisiknya memerlukan bantuan orang lain, seperti memandikan cukup di tempat tidur.

Prinsipnya adalah :

  1. Sediakan air hangat – hangat kuku dalam dua buah waskom.
  2. Sediakan waslap (handuk kecil) dan handuk, jika mungkin masing – masing dua buah.
  3. Sabun mandi dalam tempatnya.
  4. Bedak talk atau bodylotion (krem pelembab).
  5. Pakaian bersih, sisir, sapu tangan bersih untuk wanita umngkin juga bedak.

Pelaksanaannya :

  1. Setelah alat – alat semua tersedia, pintu, dan jendela di tutup.
  2. Jelaskan ke klien apa ayang akan dilakukan.
  3. Buka pakaian bagian atas bentangkan handuk di atas dada, kemudian mulai menyeka bagian muka (tanpa sabun, kecuali diminta).
  4. Lalu dibilas dengan waslap hingga bersih dan kering.
  5. Kemudian berturut – turut menyeka tangan dan lengan. Mulailah tangn dan lengan yang jauh dari penolong, kemudian tangan dan lengan yang dekat. Selanjutnya bagian dada di seka seperti lengan dan tangan, lalu dikeringkan dan diberi talk atau bodylotion.
  6. Setelah selesai dada ditutup dengan kain selimut, lalu dikeringkan kemudian diberi talk atau bodylation.
  7. Bagian akhir adalah anggota badab bagian bawah. Menyeka anggota badan bagian bawah hendaknya memakai air bersih sebelumnya.
  8. Yang terakhir sekali menyeka selangkangan atau bagian kemaluan. Jangan sampai ada sisa sabun yang tertinggal dan keadaannya benar – benar bersih dan kering.
  9. Ganti pakaian yang bersih, tempat tidur di bersihkan.

Kebersihan kepala dan rambut

Rambut seperti juga kuku tumbuh di luar epidermis. Pertumbuhan ini terjadi karena rambut mendapat makanan dari pembuluh – pembuluh darah sekitar rambut. Warna rambut ditentukan karena adanyapigmen, bila rambut tidak dibersihkan akan menjadi kotor dan debu melekat pada rambut.

Tujuan membersihkan kepala untuk menghilangkan debu – debu dan kotoran yang melekat di rambut dan dikulit kepala, klien lanjut usia yang amsih aktif dapat mencuci rambutnya sendiri.

Cara mencucui tambut :

  1. Sediakan air hangat secukupnya di waskom/ember plastik.
  2. Bilas rambut dengan air hangat tersebut lalu beri atau tuangkan shampo sedikit demi sedikit.
  3. Usapkan dan gosokkan shampo itu di kepala hingga rata.
  4. Kemudian bilas sampai bersih.
  5. Lalu keringkan dengan handuk.

Perlu diperhaikan :

  • Bila terdapat ketombe atau kutu rambut dapat diberikan obat, misalnya peditox.
  • Untuk rambut yang kering, bisa diberi minyak atau urang – aring atau lainnya.

Untuk mereka yang sama sekali tidak mencuci rambutnya sendiri baik karena habis sakit atau kondisi fisiknya tidak memungkinkan, dapat mencuci rambut di tempat tidur dengan bantuan salah satu anggota keluarga atau perawat.

Bila lanjut usia yang sering atau banyak berbaring di tempat tidur harus lebih di perhatikan kebersihan rambutnya mengingat posisi tidur sering membuat rambut kusut, kering, dan berbau serta gatal – gatal.

Adapun cara – caranya sebagai berikut :

  1. Persiapan
  • Ember (1 berisi air hangat dan 1 lagi untuk menampung air kotor).
  • Shampo, sisir, handuk serta alas dari kain karet, atau plastik.
  1. Pelaksanaan
  • Letakkan kepala dipinggir tempat tidur dan di bawahnya diberi alas kain karet atau kain plastik yang dihubungkan dengan ember kosos\ng penampung air kotor, yang diletakkan di bawah tempat tidur.
  • Rambut di basahi sedikit demi sedikit dan dishampo, sambil dilakukan 2 kali agar bersih betul, kemudian di bilas sampai bersih.
  • Kemudian di keringkan dengan handuk.

Mencuci rambut di tempat tidur yang perlu diperhatikan :

  1. Membilas sisa sabun, shampo harus benar – benar bersih agar tidak menimbulkan rasa gatal – gatal atau ketombe dan timbul alergi.
  2. Menyisir rambut di tempat tidur harus terlebih dahulu di berikan alas di atas bantal dengan handuk, kemudian baru di sisir dengan hati – hati.
  3. Miringkan kepala agar rambut mudah dijalin, terutama bagi yang berambut panjang. Rontokan rambut yang melekat pada sisir masukkan ke dalam penampung yang berisikan larutan lisol.

Cara pemeliharaan kuku :

Kuku yang panjang mudah menyebabkan berkumpulnya kotoran dan bahkan kuman – kuman penyakit. Oleh karena itu, harus selalu disarankan agar lanjut usia secara teratur memotong kukunya. Bagi yang tidak mampu melakukan sendiri, hendaklah perawat atau keluarga memotongnya dan jangan terlalu pendek sebab akan terasa sakit.

Kebersihan tempat tidur dan posisi tidur

Tempat tidur yang bersih dapat memberikan kenikmatan atau perasaan nyaman pada waktu tidur. Oleh karena itu, kebersihan tempat tidur perlu sekali di perhatikan. Namun perlu diingat dan disadari bahwa kondisi fisik untuk lanjut usia yang masih aktif cukup diberikan pengarahan cara membersihkan tempat tidur.

Bantuan kepada klien lanjut usia yang masih aktif, misalnya :

  1. Bila keadaan kasur cekung di tengah, hendaknya di balik tiap kali membersihkan tempat tidur.
  2. Alas kasur di tarik kencang dan ujung – ujungnya dilipat dan disorongkan kebawah kasur sehingga tak mudah menimbulkan lipatan – lipatan yang mungkin menyebabkan lecet.
  3. Alat kasur atau seprei diganti tiap 3 hari sekali, kecuali kalau kotor.
  4. Bagi klien lanjut usia yang mengalami inkontinensia urin, alas kasur diganti tiap kali basah. Kasur tiap hari dijemur dipanas matahari.

Bantuan atau pertolongan yang pasif

Bagi klien lanjut usia yang terus menerus beristirahat di tempat tidur harus selalu diusahakan dapat beristirahat atau tidur dalam keadaan atau posisi yang menyenangkan atau nyaman. Usahakan pula agar bantal jangan terlalu lembek atau terlalu keras. Latihan bangun dan tidur diatas usaha sendiri perlu dibina, bukan saja agar otot – otot badan tetap aktif tetapi juga untuk menghindari pegal – pegal dan mencegah atrofi. Letaka atau posisi tidur harus diatru sedemikian rupa sehingga klien merasa enak, dan harus sering di buat selang – seling agar tidak timbul luka lecet – lecet atau dekubitus akibat penekanan yang terus menerus.

Letak atau posisi tidur dapat diatur, antara lain :

  1. Letak guling di bawah lututnya usahakan agar kakinya tidak tergelincir jatuh kesamping dan tidak dalam posisi drop foot.
  2. Untuk mencgah luka lecet (dekubitus) tumit dan bokong di beri bantal angin (windring).
  3. Agar dapat tidur terlentang dengan punggung dan bokong lurus hendakya diberi papan di bawah kasurnya, jika tempat tidur tersebut terdiri dari kawat – kawat (springbed).
  4. Pada letak atau posisi setengah duduk di bagian kepala tempat tidur di beri sandaran kursi atau papan.

Catatan :

  1. Bagi klien yang mengalami inkontinensia urin sebaiknya di beri perlak karpet atau plastik untuk melindungi kasur.
  2. Kebersihan mutlak diperhatikan untuk mencegah adanya semut atau binatang – binatang kecil lainnya.
  3. Jika tidak dalam keadaan tidur sebaiknya di beri suatu aktifitas untuk melatih pergerakan ototnya supaya tidak kaku ataupun merasa gelisah.
  4. Kesabaran serta ketekunan keluarga yang merawat klien lanjut usia mutlak perlu ditumbuhkan agar klien lanjut usia tetap merasa diperhatikan.

Makan dan cara memberi obat

Kebutuhan gizi

Kebutuhan gizi bagi klien lanjut usia perlu dipenuhi secra adekuat karena merupakan pokok kelangsungan proses pergantian sel – sel dalam tubuh, dan guna mengatasi proses menua serta memperlambat terjadinya usia biologis. Kebutuhan kalori pada klien lanjut usia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari kegiatan fisik.

Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya : untuk janutng, usus, pernafasan, dan ginjal.

Kebutuhan kalori bagi klien lanjut usia dianjurkan tidak melebihi 1700 kalori sebaiknya disesuaikan dengan macam kegiatannya, kebutuhan untuk protein normal pada usia lanjut usia adalah 1 gr/kg bb/hari.

Sebaiknya dikurangi makan makanan yang mengandung lemak hewani, misalnya : daging sapi, daging kerbau, kuning telur, dan otak. Bagi klien lanjut usia disarankan perlu mkanan tambahan yang banyak mengandung kalsium (ca) = zat kapur. Kebutuhan kalsium pada klien lanjut usia 14,1 mg/kg bb/hari. Zat besi perlu diberikan untuk memperlancar pembentukan darah. Sedangkan mengenai pemberian garam natrium supaya dikurangi, sehubungan dengan kemungkinan tekanan darah tinggi. Pada klien lanjut usia perlu pula diberikan untuk buah – buahan untuk mendapatkan vitamin, guna memperlancar pekerjaan dalam tubuh. Untuk meghindari konstipasi (sembelit) klien lanjut usia perlu diberikan cukup makanan yang mengandung serat, misalnya : beras tumbuk, akar – akar hijau, kacang – kacangan, buah – buahan, serta banyak minum kurang lebih 1500 – 2000 cc yang sekaligus berguna membantu kerja ginjal.

Faktor yang mempengaruhi kebuttuhan gizi pada lanjut usia

  1. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan (akibat kerusakan gigi/ompong).
  2. Berkurang cita rasa (rasa dan buah).
  3. Berkurangnya koordinasi otot – otot saraf.
  4. Keadaan fisik yang kurang baik.
  5. Faktor ekonomi dan sosial.
  6. Faktor penyerap makanan (daya absorpsi).

Masalah gizi yang sering timbul pada lanjut usia :

Gizi berlebihan pada lanjut usia banyak terdapat dinegara barat dan kota – kota besar. Kebiasaan amakan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebihan, apalagi pada waktu lanjut usia penggunaan kalori berkurang karena kurangnya aktifitas fisik. Kebiasaan amakan tersebut sukar untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan.

Kegemukan merupakan salah satu penceus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, diabetes mellitus, penyempitan pembuluh darah, dan tekanan darah tinggi.

Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah – masalah sosial ekonomi dan juga kaena gangguan penyakit. Bila konsusmsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan berkurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan – kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah kena infeksi pada organ – orga tubuh yang fital.

Bila konsumsi buah dan sayur – sayuran dalam makan kurang, apabila ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan, akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan mundur, kulit kering, lesu, dan tidak semangat.

  1. Nugroho,Wahjudi. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran EGC.Jakarta;1999
  2. Stanley,Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC. Jakarta;2002

PROSES MENUA PADA SISTEM GASTRO – INTESTINAL

OLEH: EKO HARIONO (07.40.016)

PROSES MENUA PADA SISTEM GASTRO – INTESTINAL

Dibidang gastro-intestinal, pad populasi usia lanjut sebenarnya tidak ada kelainan yang sangat khas. Walaupun terdapat perubahan seluler stukturalseperti organ lainnya, fungsi system gastro-intestinal pada umumnya dapat dipertahankan sebagaimana manusia sehat. Gangguan fungsi biasanya terjadi apabila terdapat proses patologis pada organ tertentu, atau bilamana terjadi stress lain yang memperberat beban dari organ yang sudah mulai menurun fungsi dan anatomiknya.

Proses menua saluran cerna :

Gigi mulai banyak yang tanggal, disamping itu juga terjadi kerusakan gusi karena proses degenerasi. Kedua hal ini sangat mempengaruhi proses mastikasi makanan. Lansia mulai sukar, kemudian lama kelamaan malas, untuk makan makanan berkonsistensi keras.

2. Faring dan Esofagus

Banyak lansia sudah mengalami lelemahan otot polos sehingga proses menelan sering sukar. Kelemahan otot esofagus sering menyebabkan proses patologis yang disebut hernia hiatus.

Terjadi atropi mukosa. Atropi dari sel kelenjar, sel pariental dan sel chief akan menyebabkan sekresi asam lambung,pepsin dan faktor intrinsik berkurang. Ukuran lambung pada lansia menjadi lebih kecil, sehingga daya tamping makanan menjadi berkurang. Proses perubahan protein menjadi pepton terganggu karena sekresi asam lambung berkurang rangsang lapar juga berkurang.

Mukosa usus halus juga mengalami atropi, sehingga luas permukaan berkurang, sehingga jumlah viili berkurang dan selanjutnya juga menurunkan proses absorbsi. Didaerah duodenum enzim yang dihasilkan oleh pancreas dan empedu juga menurun, sehingga metabolism karbohidrat,protein dan lemak menjadi tidak sebaik sewaktu muda. Keadaan ini sering menyebabkan gangguan yang disebut sebagai : maldigesti dan mal absorsi.

Produksi enzim amylase,tripsin dan lipase akan menurun sehingga kasitas metabolisme karbohidrat, protein dan lemak juga akan menurun. Pada lansia sering terjadi pankreatitis yang dihubungkan dengan batu empedu. Batu empedu yang menyumbat ampula Vateri akan menyebabkan oto-digesti parenkim pankreas oleh enzim elastasedan fosfolipase-A yang diaktifkan oleh tripsin dan/atau asam empedu.

Hati berfungsi sangat penting dalam proses metabolism karbohidrat, protein, dan lemak. Disamping juga memegang peranan besar dalam proses detoksifikasi, sirkulasi, penyimpanan vitamin, konjugasi bilirubin dsb. Dengan meningkatnya usia, secara histologik dan anatomik akan terjadi terjadi perubahan akibat atrofi sebagian besar sel, berubah bentuk menjadi jaringan fibrous dan dapat menyebabkan penurunan fungsi hati.

7. Usus besar dan rectum

Pada usus besar kelokan pembuluh darah meningkat sehingga motilitas kolon berkurang, ini akan menyebabkan absorbs air dan elektrolit meningkat (pada kolon sudah tidak terjadi absorbsi makanan), feses menjadi lebih keras sehingga keluhan sulit buang air merupakan keluhan yang sering didapat pada lansia.

Imunitas Gastro-intestinal Pada Usia Lanjut

Sistem imun pada traktus gastro-intestinal merupakan salah satu alat pertahanan primer tubuh manusia terhadap faktor lingkungan yang masuk melalui mulut. Faktor penting yang sangat berpengaruh pada system imunitas terhadap infeksi pada orang tua adalah nutrisi. Walaupun masih masih memerlukan penelitian yang lebih luas, pada umumnya disepakati bahwa nutrisi yang kurang baik akan menyebabkan penderita lebih rentan terhadap infeksi. Kontroversi yang samp[ai sekarang masih terjadi adalah tentang mekanisme terjadinya imunosenesens (Arans, and Ferguson,1992). Imunosenesens adalah perubahan gradual pada system imun yang terjadi pada individu yang telah mencapai kematangan seksual. Perubahan itu berhubungan erat dengan proses invilusi dan atropi kelenjar timus (Busby, and Caranasos, 1985).

Proses menua membawa banyak perubahan pada lanjut usia. Pada system gastro-intestinal, mulai gigi geligi sampai ke kolon/rectum. Walaupun demikian, proses menua tidak berarti terjadinya gangguan gastro-intestinal. Adanya gangguan system gastro-intestinal harus menyebabkan pertma-tama pemikiran kearah adanya proses patologis. Asesmen geriatric yang baik biasanya akan menemukan proses penyakit yang mendasari, yang mungkin diperberat oleh gangguan fisiologik dan anatomic akibat proses menua. Oleh karena gangguan pada system gastro-intestinal sering kali menyebabkan gangguan nutrisi yang kemudian secara berantai menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, maka asesmen yang teliti dan tindakan penatalaksanaan yang baik diperlukan agar penderita usia lanjut dapat melanjutkan kehidupannya dengan baik.

Darmojo, R Boedhi & H Hadi Martono.1999. BUKU AJAR GERIATRI (ILMU KESEHATAN USIA LANJUT) EDISI KE 2. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

harapan lansia terhadap perlakuan menjelang kematian

dimensi budaya dalam keperawatan gerontik

konsep proses menua

  1. ANDITA AYU K S 07.40.002
  2. DEDI EKO R 07.40.011
  3. FITA LESTARI 07.40.020
  4. MARIA M 07.40.029
  5. RANI WAHYU I 07.40.038
  6. SITI DUROTUL I 07.40.047
  1. DEFINISI
  • Aging proses adalah suatu periode menarik diri yang tak terhindarkan dengan karakteristik menurunnya interaksi antara lansia dengan orang lain di sekitarnya. Individu diberi kesempatan untuk mempersiapkan dirinya menghadapi “ketidamampuan” dan bahkan kematian. (Cox, 1984).
  1. TEORI-TEORI PROSES PENUAAN
  • Teori Biologi

1) Perubahahn biologi yang berasal dari dalam(intrinsik)/ Teori Genetika

a) Teori jam biologi (Biological clock theory), Proses menua dipengaruhi oleh faktor-faktor keturunan dari dalam. Umur seseorang seolah-olah distel seperti jam.

b) Teori menua yang terprogram (program aging theory), sel tubuh manusia hanya dapat membagi diri sebanyak 50 kali.

c) Teori Mutasi (somatic mutatie theory), setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.

d) The Error Theory, “Pemakaian dan rusak” kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai).

2) Perubahan biologik yang berasalah dari luar/ekstrinsik (Teori Non Genetika).

a) Teori radikal bebas, meningkatnya bahan-bahan radikal bebas sebagai akibat pencemaran lingkungan akan menimbulkan perubahan pada kromosom pigmen dan jaringan kolagen.

b) Teori imunologi, perubahan jaringan getah bening akanmengakivbatkan ketidakseimbangan sel T dan terjadi penurunan fungsi sel-sel kekebalan tubuh, akibatnya usia lanjut mudah terkena infeksi.

1) Maslow Hierareky Human Needs Theory

Teori Maslow mengungkapkan hirarki kebutuhan manusia yang meliputi 5 hal (kebutuhan biologik, keamanan da kenyamanan , kasih sayang, harga diri, aktualisasi diri dan aktualisasi diri.

2) Jung’s Theory of invidualsm

Teori individualism yang dikemukakan Carl Jung (1960) mengungkapkan perkembangan personality dari anak-anak, remaja, dewasa muda, dewasa pertengahan hingga dewasa tua (lansia) yang dipengaruhi baik dari internal maupun eksternal.

3) Course of Human Life Theory

Chorlotte Buhler juga merupakan penganut teori psikologik dengungkapkan bawa teori perkembangan dasar manusia yang difokuskan pada identifikasi pencapaian tujuan hidup seseorang dalam melalui fase-fase perkembangan.

4) Eight Stages of Life Theory

Teori “Eight Stages of Life” yang dikemukakan Erikson (1950) adalah suatu teori perkembangan psikososial yang terbagi atas 8 tahap, yang mempunyai tugas dan peran yang perlu diselesaikan dengan baik :

Tahap I

Tahap VIII

Masa bayi à timbul kepercayaan dasar (basic trust)

Tahap penguasaan diri (autonomi)

Timbulnya kemauan untuk berkarya (Industriousness)

Mencari identitas diri (Identy)

Timbulnya keintiman (Intimacy)

Mencapai kedewasaan (generativity)

Memasuki usia lanjut akan mencapai kematangan kepribadian (ego Integrity), dia merupakan orang yang memiliki integritas dalam kepribadian sehingga mampu berbuat untuk kepentingan umum. Kegagalan pada tahap ini akan menyebabkan cepat putus asa.

Demikian juga dengan teori “Developmental Task” yang dikemukakan Havighurst (1972) bahwa masing-masing individu melalui tahap-tahap perkembangan secara spesifik dan terjadi variasi/perbedaan antara individu satu dengan lainnya.

Tahap perkembangan ini harus dilalui dengan baik sehingga individu akan merasakan kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup.

Tujuan hidup manusia itu ialah menjadi tua tetapi tetap sehat (Healty Aging). Healty Aging artinya menjadi tua dalam keadaan sehat.

Healty Aging dipengaruhi oleh beberapa factor sbb:

  1. Endogenic aging, yang dimulai dengan cellular aging, lewat tissue dan anatomical aging ke arah proses menuanya organ tubuh. Proses ini seperti jam yang terus berputar.
  2. 2.Exogenic factor, yang dapat dibagi dalam sebab lingkungan (environment) dimana seseorang hidup dan factor sosio budaya yang paling tepat disebut gaya hidup (life style). Factor exogenic aging sekarang lebih dikenal dengan sebutan factor resiko.

D.PERAN PERAWAT PADA KLIEN SESUAI PROSES PENUAAN

  • Proses Perawatan Kesehatan bagi para Lansia merupakan tugas yang membutuhkan suatu kondisi yang bersifat komprehnsif sehingga diperlukan suatu upaya penciptaan suatu keterpaduan antara berbagai proses yang dapat terjadi pada lansia.
  • Untuk mencapai tujuan yang lebih maksimal, konsep dan strategi pelayanan kesehatan bagi para lansia memegang peranan yang sangat penting dalam hal ini tidak lepas dari peran perawat sebagai unsur pelaksana.
  • Dalam proses tersebut, peran perawat yang dapat dikembangkan untuk merawat lansia, berdasarkan proses penuaan yang terjadi, yaitu :

5.1 Peran Perawat dalam menghadapi Perubahan Biologik (Fisik).

Perawatan dengan perubahan fisik adalah perawatan yang memperhatikan kesehatan objektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yagn dialami oleh lansia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dan dikembangkan, serta penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progresivitasnya.

Perawatan fisik ini tebagi menjadi dua bagian, yaitu :

  1. Perawatan bagi usila yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga kebutuhannya sehari-hari bisa dipenuhi sendiri.
  2. Perawatan bagi usila yang pasif atau tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau kesakitan sehingga memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan kebutuhannya sendiri. Disinilah peran perawat teroptimalkan, terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya, dan untuk itu perawat harus mengetahui dasar perawatan bagi pasien lansia.

Peran perawat dalam membantu kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan, mengingat sumber infeksi dapat timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian. Selain itu kemunduran kondisi fisik akibat proses ketuaan dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan infeksi dari luar. Untuk para lansia yang masih aktif, peran perawat sebagai pembimbing mengenai kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan rambut dan kuku, kebersihan tempat tidur serta posisi tidir, hal makanan, cara mengkonsumsi obat, dan cara pindah dari kursi ke tempat tidur atau sebaliknya. Kegiatan yang dilakukan secara rutin akan sangat penting dipertahankan pada lansia dengan melihat. Kemampuan yang ada, karena adanya potensi kelemahan atropi otot dan penurunan fungsi.

5.2 Peran Perawat dalam menghadapi Perubahan Sosial.

Dalam perannya ini, perawat perlu melakukan pendekatan sosial sebagai salat satu upayanya adalah memberikan kesempatan berkumpul dengan sesama usila. Mereka dapat bertukar cerita atau bertukar pikiran dan memberikan kebahagiaan karena masih ada orang lain yang mau bertukar pikiran serta menghidupkan semangat sosialisasi. Hfasil kunjungan ini dapat dijadikan pegangan bahwa para lansia tersebut adalah makluk sosial juga, yang membutuhkan kehadiran orang lain.

5.3 Peran Perawat dalam menghadapi Perubahan Psikologi.

Pada lansia, terutama yang melakukan kegiatan pribadi, memerlukan bantuan orang lain, memerlukan sebagai suporter, interprester terhadap segala sesuatu yang asing, penampung rahsia pribadi, dan sahabat yang akrab. Peran perawat disini melakukan suatu pendekatan psikis, dimana membutuhkan seorang perawat yang memiliki kesabaran, ketelitian dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai keluhan agar para usila merasa puas.

Pada dasarnya pasien lansia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih lingkungannya, termasuk perawat sehingga perawat harus menciptakan suasana aman, tenang dan membiarkan klien lansia melakukan atau kegiatan lain yang disenangi sebatas kemampuannya.

Peran perawat disini juga sebagai motivator atau membangkitkan kreasi pasien yang dirawatnya untuk mengurangi rasa putus asa, rendah diri, rasa terbatas akibat ketidak mampuannya. Hal ini perlu dilakukan karena bersamaan dengan makin lanjutnya usia, terjadi perubahan psikis yang antara lain menurunnya daya ingat akan peristiwa yang baru saja terjadi, perubahan pola tidur dengan kecenderungan untuk tiduran di siang hari dan pengeseran libido.

Mengubah tingkahl laku dan pandangan terhadap kesehatan lansia tidak dapat dilakukan seketika. Seorang perawat harus melakukannya secara perlahan-lahan dan bertahap serta mendukung mental mereka kearah pemuasan pribadi sehingga seluruh pengalaman yang dilalui tidak menambah beban tetapi justru tetap memberikan rasa puas dan bahagia.

Annette G. Lueckenotte, 1996. Gerontologic Nursing , Sint louis Mosby Year Book. Inc.

Barbara C. Long, 1989. Perawatan Medical Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Sint Louis. Mosby Year Book. Inc.

Hudak and Gallo, 1994. Keperawatan Kritis, Philadelphia Lippincott Company.

Lueckenotte, 1998. Pengkajian Gerontologi. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC.

Wahjudi Nugroho, 1992. Perawatan Lanjut Usia. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC.

Untari, Salinan Penerbit Lansia, UNAIR Surabaya, 2000.

etika dan hukum keperawatan gerontik

07.04.013 Diah Purwaning

07.04.022 Herman Adi S

07.04.031 Meida Fitri y

07.04.049 Vina Rosita D

Dalam bidang geriatri, masalah etika (termasuk hukum) sangat penting artinya, bahkan diantara berbagai cabang kedokteran mungkin pada cabang inilah etika dan hukum paling berperan. Kane (1994) dkk menyatakan : ”…. ethic is fundamental part of geriatrics. While it is central to the practice of medicine it self, the dependent nature of geriatric patients, makes it a special concern………….”.

Bebagai hal yang sangat perlu diperhatikan adalah, antara lain, keputusan tentang mati hidup penderita. Apakah pengobatan diteruskan atau dihentikan. Apakah perlu tindakan resusitasi. Apakah makanan tambahan per infuse tetap diberikan pada penderita kondisi yang sudah jelas akan meninggal? Dalam geriatric aspek etika ini erat dengan aspek hokum, sehingga pembicaraan mengenai kedua aspek ini sering disatukan dalam satu pembicaraan. Aspek hokum penderita denagn kemampuan kognitif yang sudah sangat rendah seperti pada penderita dementia sangat erat kaitannya dengan segi etik. Antara lain berbagai hal mengenai pengurusan harta benda enderita lansia yang tidak mempunyai anak dan lain sebagainya.

Beberapa hal tersebut perlu mendapatkan perhatian di Indonesia, Dimana giriatri merupakan bidang ilmu yang baru saja mulai berkembang. Oleh karena itu, beberapa dari prinsip etika yang dikemukakan berikut ini sering belum terdapat / dilaksanakan di Indonesia. Pengertian dan pengetahuan mengenai hal ini akan memberi gambaran bagaimana seharusnya masalah etika dan hukum pada perumatan penderita lanjut usi diberlakukan.

PRINSIP ETIKA PELAYANAN KESEHATAN PADA LANSIA

Beberapa prinsip etika yang harus dijalankan dalam pelayanan pada penderita usia lanjut adalah (Kane et al, 1994, Reuben et al, 1996) :

  • Empati : istilah empati menyangkut pengertian : ”simpati atas dasar pengertian yang dalam”. Dalam istilah ini diharapkan upaya pelayanan geriatri harus memandang seorang lansia yang sakit denagn pengertian, kasih sayang dan memahami rasa penderitaan yang dialami oleh penderita tersebut. Tindakan empati harus dilaksanakan dengan wajar, tidak berlebihan, sehingga tidak memberi kesan over-protective dan belas-kasihan. Oleh karena itu semua petugas geriatrik harus memahami peroses fisiologis dan patologik dari penderita lansia.
  • Yang harus dan yang ”jangan” : prinsip ini sering dikemukakan sebagai non-maleficence dan beneficence. Pelayanan geriatri selalu didasarkan pada keharusan untuka mngerjakan yang baik untuk pnderita dan harus menghindari tindakan yang menambah penderita (harm) bagi penderita. Terdapat adagium primum non nocere (”yang penting jangan membuat seseorang menderita”). Dalam pengertian ini, upaya pemberian posisi baring yang tepat untuk menghindari rasa nyeri, pemberian analgesik (kalau perlu dengan derivat morfina) yang cukup, pengucapan kata-kata hiburan merupakan contoh berbagai hal yang mungkin mudah dan praktis untuk dikerjakan.
  • Otonomi : yaitu suatu prinsip bahwa seorang inidividu mempunyai hak untuk menentukan nasibnya, dan mengemukakan keinginannya sendiri. Tentu saja hak tersebut mempunyai batasan, akan tetapi di bidang geriatri hal tersebut berdasar pada keadaan, apakah penderita dapat membuat putusan secara mandiri dan bebas. Dalam etika ketimuran, seringakali hal ini dibantu (atau menjadi semakin rumit ?) oleh pendapat keluarga dekat. Jadi secara hakiki, prinsip otonomi berupaya untuk melindungi penderita yang fungsional masih kapabel (sedanagkan non-maleficence dan beneficence lebih bersifat melindungi penderita yang inkapabel). Dalam berbagai hal aspek etik ini seolah-olah memakai prinsip paternalisme, dimana seseorang menjadi wakil dari orang lain untuk membuat suatu keputusan (mis. Seorang ayah membuat keuitusan bagi anaknya yang belum dewasa).
  • Keadilan : yaitu prinsip pelayanan geriatri harus memberikan perlakuan yang sama bagi semua penderita. Kewajiban untuk memperlakukan seorang penderita secara wajar dan tidak mengadakan pembedaan atas dasar karakteristik yang tidak relevan.
  • Kesungguhan Hati : yaitu suatu prinsip untuk selalu memenuhi semua janji yang diberikan pada seorang penderita.

Mengenai keharusan untuk berbuat baik dan otonomi, Meier dan Cassel menulis sebagai berikut : ”…………..although the medical community has ferquently been attacked for its attitude toward patients, it is usually conceded that paternalism can be justified if certain criteria are met; if the dangers averted or benefits gained for the person outweigh the loss of autonomy resulting from intervention; if the person is too ill to choose the same intervention…………………………”.

Dengan melihat prinsip diatas tersebut, asek etika pada pelayanan geriatric berdasarkan prinsip otonomi kemudian di titik beratkan pada berbagai hal sebagai berikut :

  1. penderita harus ikut berpartisipasi dalam prosea pengambilan keutusan dan pembuatan keputusan. Pada akhirnya pengambilan keputusan harus bersifat sukarela.
  2. keputusan harus telah mendapat penjelasan cukup tentang tindakan atau keputusan yang akan diambil secara lengkap dan jelas.
  3. keputuan yang diambil hanya dianggap sah bial penderita secara mental dianggap kapabel.

Atas dasar hal diatas maka aspek etika tentang otonomi ini kemudian ituangkan dalam bentuk hukum sebagai persetujuan tindakan meik (pertindik) atau informed consent. Dalam hal seperti diatas, maka penderita berha menolak tindakan medik yang disarankan oleh dokter, tetapi tidak berarti boleh memilih tindakan, apabila berdasarkan pertimbangan dokter yang bersangkutan tindakan yang dipilih tersebut tidak berguan (useless) atau bahkan berbahaya (harmful).

Kapasitas untuk mengambil keputusan, merupakan aspek etik dan hokum yang sangat rumit. Dasar dari penilaian kapasitas pengambilan keputusan penderita tersebut haruslah dari kapasitas fungsional penderita dan bukan atas dasar label iagnosis, antara lain terlihat dari :

  • apakan penderita bisa buat/tunjukan keinginan secara benar ?
  • dapatkah penderita memberi alasan tentang pilihan yang dibuat ?
  • apakah alasan penderita tersebut rasional (artinya setelah penderita mendapatkan penjelasan yang lengkap dan benar) ?
  • apakah penderita mengerti implikasi bagi dirinya ? (misalnya tentang keuntungan dan kerugian dari tindakan tersebut ? dan mengerti pula berbagai pilihan yang ada) ?

pendekatan fungsional tersebut memang sukar, karena seringkali masih terdapat fungsi yagn baik dari 1 aspek, tetapi fungsi yagn lain sudah tidak baik, sehingga perlu pertimbangan beberapa faktor. Pada usia lanjut serinkali sudah terdapat gangguan komunikasi akibat menurunnya pendengaran, sehingga perlu waktu, upaya dan kesabaran yang lebih guna mengetahui kapasitas fungsional penderita.

Pada dasarnya prinsip etika ini mnyatakan bahwa kapasitas penderita untuk mengambil/menentukan keputusan (prinsip otonomi) dibatasi oleh :

  • realitas klinik adanya gangguan proses pengambilan keputusan (misalnya pada keadaan depresi berat, tidak sadar atau dementia). Bila gangguan tersebut demikian berat, sedangakan keputusan harus segera diambil, maka keputusan bisa dialihkan kepada wakil hukum atau walimkeluarga (istri/suami/anak atau pengacara). Dalam istilah asing keadaan ini disebut sebagai surrogate decission maker.
  • Apabila keputusan yang diharapkan bantuannya bukan saja mengenai aspek medis, tetapi mengenai semua aspek kehidupan (hokum, harta benda dll) maka sebaiknya terdapat suatu badan pemerintah yang melindungi kepentingan penderita yang disebut badan perlindungan hokum (guardianship board). (Brocklehurst and Allen 1987, Kane et al, 1994).

Dalam kenyatannya pengambila keputusan ini sering dilakukan berdasarkan keadaan de-facto yaitu oleh suami/istri/anggota kelurga, dinbanding keadaan de-jure oleh pengacara, karena hal yang terkhir ini sering tidak praktis, waktu lama, dan sering melelahkan baik secara fisik maupun emosional.

Oleh Karen suatu hal, misalnya gangguan komunikasi, salah pengertian, kepercayaan penderita atau latar belakang budaya dapat menyebabkan penderita mengambil keputusan yang salah ( antara lain menolak tramfusi / tindakan bedah yagn live saving). Dalam hal ini, dokter dihadapkan pada keadaan yang sulit, dimana atas otonomi penderita tetap harus dihargai.

Yang penting adalah bahwa dokter mau mendengar semua keluhan atau alas an penderita dan kalau mungkin memperbaiki keputusan penderita tersebut denagn pemberian edukasi. Seringkali perlu diambil tindakan “kompromi” antara apa yang baik menurut pertimbangan dokter dan apa yang diinginkan oleh penderita.

ARAHAN KEINGINAN PENDERITA (ADVANCE DIRECTIVES) (Reuben et al, 1996, Kane et al, 1994)

Dalam hal menghargai hak otonomi penderita, dikenal apa yang disebut sebagai arahan keinginan penderita, yaitu ucapan atau keingginan penderita yang diucapkan pada saat penderita masih dalam keadaan kapasitas fungsional yagn baik. Arahan keinginan yang diucapkan ini sebaiknya dicatat/direkam untuk kemudian digunakan sebagai pedoman bilamana diperlukan untuk pengam,bilan keputusan pada saat kapasitas fungsional penderita terganggu atau menurun. Bahkan apabila arahan tersebut tidak dicatat/direkam, tetap mempunyai kekuatan hukum, asalkan terdapat saksi-saksi yang cukup pada saat arahan tersebut diucapkan.

Yang lebih kuat dari arahan keinginan pendeita adalah apa yang disebut sebagai testament kematian (living will), yaitu suatu pernyataan dari penderita saat masih kapabel secara fungsional didepan seorang petugas hukum (pengacara/notaries). Testament kematian ini bisa memberi kekuatan hokum atas tindakan dokter unruk memberikan, menghentikan atau melepas segala tindakan pemberian alat Bantu perpanjangan hidup.

PEMBERIAN PERALATAN PERPANJANGN HIDUP (Life Sustaining Device)

Salah satu aspek etika yang penting dan tetpa controversial dalam pelayanan geriatric adalah penggunaan perpanjangan hidup, antara lain ventilator dan upaya perpanjangan hidup yang lai (resusitasi kardio-pulmoner dll). Pada penderita dewasa muda hal ini sering klai tidak menjadi masalah, karena sering diharapkan hidup penderita masihj akan berlangsung lama bila jiwanya bisa ditolong. Pada usia lanjut apalagi kalau penyakitnya sudah meluas (advanced) pemberian peralatan tersebut seringkali diperdebatkan justru merupakan tindakan yang “kejam” (futile treatment).

Dikatakan sebagai “kekejaman fisiologik” bila terapi/tindakan yang diberikan tidaka akan memberikan perbaikan (plausible effect) sama sekali pada kesehatan penderita. “kekejaman kuantitatif” bila tindakan atau terapi tampaknya tidak ada gunanya. “Kekejaman kualitatif” bila tindakan atau terapi perpanjangn hidup tidak menunjukan perbaiakan atau justru mengurangi kualitas hidup penderita.

Walaupun sering menimbulakan tanggapan emosional dari keluarga, penghentian peralatan penpanjangan hidup (ventilator dsb) harus diberi pertimbangan yang sama dengan pertimbangan apakah alat tersebut perlu dipasang atau tidak. Pemasangan alat ini tidak dengan sendirintya menghalangi untuk suatu saat menghentikannya bila dianggap tidak ada gunannya lagi.

Dokter harus menjelaskan hal ini kepada keluarga penderita dan memberi pengertian bahwa evaluasi menunjukkan pemberian peralatan tersebut perlu dihentikan.

PERUMATAN PENDERITA TERMINAL DAN HOSPIS (Shaw, 1984; Kane et al, 1994; Ruben et al, 1996; Pearlman, 1990)

Penderita yang secara medik di dignosis dalam keadaa terminal tidak terbatas hanya pada penderita lanjut usia, akan tetapi tidak bisa dimungkiri bahwa sebagaian besar merupakan penderita berusia lanjut. Oleh karena itulah perawatan hospis atau erawatan bagi penderita terminal atau menuju kematian merupakan bagian yang penting dari pelayanan geriatri.

Bagi penderita yang keadaannya tidak sadar/koma dalam, semua fungsi organ sudah jelas tidak bisa membaik dengan berbagai pengobatan, nafas agonal dan keadaan yang jelas ”tidak memberi harapan”, masalhnya mungkin tidak begitu sulit. Akan tetapi pada penderita yang masih sadar penuh, masih mobilitas dengana berbagai fungsi organ masih cukup baik, persoalan etika dan hukum menjadi lebih rumit. Pada penderita ini (misalnya dengan diagnosis karsinoma metastasis lanjut), beberapa hal perlu ditimbangkan :

  • Apakah penderita perlu diberitahu
  • Kalau jelas-jelas semua tindakan medis/operatif tidak bisa dikerjakan, apakah ada hal lain yang perlu dilakukan, atau apakah etis kalau dokter tetap memaksakan pemberian sotostatika atau tindakan lain ?

Hal-ha seperti diatas merupakan masalah yang kemudian menimbulkan upaya hospis menjadi penting

Dari prinsip otonomi seperti dijelaskan diatas jelas bahwa penderita harus dibertahu keadaan yang sebenarnya. Walaupun di Indonesia, seringkali atas pertimbangan keluarga hal ini sering tidak dilaksanakan.

ASPEK HUKUM DAN ETIKA

Poduk hukum tentang Lanjut Usia dan penerapannya disuatu negara merupakan gambaran sampai berapa jauh perhatian negara terhadap para Lanjut Usianya. Baru sejak tahun 1965 di indonesia diletakkan landasan hukum, yaitu Undang-Undang nomor 4 tahun 1965 tentang Bantuan bagi Orang Jompo. Bila dibandingkan dengan keadaan di negara maju, di negara berkembang perhatian terhadap Lanjut Usia belum begitu besar.

Di Australia, misalnya, telah diundangkan Aged Person Home Act (1954), Home Nursing Subsidy Act (1956), The Home and Community Care Program (1985), Bureau for the Aged (1986), Outcome Standards of Residential Care (1992), Charter for Resident’s Right (1992), Community Option Program (1994), dan Aged Care Reform Strategy (1996).

Di Amerika Serikat di undangkan Social Security Act yang meliputi older American Act (Title III), Medicaid (Title VII), Medicare (Title XIX, 1965), Social Service block Plan (Title XX) dan Supplemental Security Income (Title XVI). Selanjutnya diterbitkan Tax Equity and Fiscal Responsibility Act (1982), Omnibus Budget Reconcilliation Act (OBRA, 1987), The Continuun of Long-term Care (1987) dan Program of All Care of the Elderly (PACE, 1990).

Di Inggris di undangkan National Assistence Act, Section 47 (1948) dan telah ditetapkan standardisasi pelaytanan di rumah sakit serta di masyarakat. Juga telah ditentukan ratio tempat tidur per lanjut usia dan continuing care.

Di Singapura dibentuk Advisory Council on the Aged, Singapore Action Group of Elders (SAGE) dan The Elders’ Village.

LANDASAN HUKUM DI INDONESIA

Berbagai nproduk hokum dan perundang-undangan yang langsung mengenai Lanjut Usia atau yang tidak langsung terkai dengan kesejahteraan Lanjut Usia telah diterbitkan sejak 1965. beberapa di antaranya adalah :

  1. Undang-undang nomor 4 tahun 1965 tentang Pemberian bantuan bagi Orang Jompo (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1965 nomor 32 dan tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 2747).
  2. Undang-undang Nomor 14 tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja.
  3. Undang-undang Nomor 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial.
  4. Undang-undang Nomor 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita.
  5. Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan nasional.
  6. Undang-undang Nomor 2 tahun 1982 tentang Usaha Perasuransian.
  7. Undang-undang Nomor 3 tahun 1982 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
  8. Undang-undang Nomor 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman.
  9. Undang-undang Nomor 10 tahun 1992 tentang PErkembangan Kependudukan dan Pembangunan keluarga Sejahtera.]
  10. Undang-undang Nomor 11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun.
  11. Undang-undang Nomor 23 tentang Kesehatan.
  12. Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera.
  13. Peraturan Pemerintah Nomor 27 ahun 1994 tentang Pengelolaan Perkembangan Kependudukan.
  14. Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia (Tambahan lembaran Negara nomor 3796), sebagai pengganti undang-Undang nomor 4 tahun 1965 tentang Pemberian bantuan bagi Orang jompo.

Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 ini berisikan antara lain :

    1. Hak, kewajiban, tugas dan tanggung jawab pemerintah, masyarakat dan kelembagaan.
    2. Upaya pemberdayaan.
    3. Uaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia potensial dan tidak potensial.
    4. Pelayanan terhadap Lanjut Usia.
    5. Perlindungan sosial.
    6. Bantuan sosial.
    7. Koordinasi.
    8. Ketentuan pidana dan sanksi administrasi.
    9. Ketentuan peralihan.

Permasalahan yang masih terdapat pada Lanjut Usia, bila ditinjau dari aspek hokum dan etika, dapat disebabkan ole factor, seperti berikut :

Walaupun telah diterbitkan dalam jumlah banyak, belum semua produk hokum dan perundang-undangan mempunyai Peraturan Pelakisanaan. Begitu pula, belum diterbirkan Peraturan Daerah, Petunjuk Pelaksanaan serta Ptunjuk Teknisnya, sehingga penerapannya di lapangan sering menimbulkan permasalahan. Undang-undang terakhir yang diterbitkan yaitu Undang-undang Nomor 13 tahun 1998, baru mengatur kesejahteraan sosial Lanjut Usia, sehingga perlu dipertimbangkan diterbitkannya undang-undang lainnya yang dapat mengatasi permasalahan Lanjut Usia secara spesifik.

Prasarana pelayanan terhadap Lanjut Usia yang terbatas di tingkat masyarakat, pelayanan tingkat dasar, pelayanan rujuikan tingkat I dan tingkat II, sering menimbulkanpermasalahan bagi para Lanjut Usia. Demikian pula, lembaga sosial masyarakat dan ortganisasi sosial dan kemsyarakatan lainnya yang menaruh minat pada permasalahan ini terbatas jumlahnya. Hal ini mengakibatkan para Lanjut Usia tak dapat diberi pelayanan sedini mungkin, sehingga persoalanya menjadi berat pada saat diberikan pelayanan.

  1. Keterbatasan sumberdaya Manusia

Terbatasntya kuantitas dan kualitas tenaga yang dapat memberi pelayanan serta perawatan kepada Lanjut Usia secara bermutu dan berkelanjutan mengakibatkan keterlambatan dalam mengetahui tanda-tanda dini adanya suatu permasalahan hukum dan etika yang sedang terjadi. Dengan demikian, upaya mengatasinya secara benar oleh tenaga yang berkompeten sering dilakukan terlambat dan permasalahan sudah berlarut. Tenaga yang dimaksud berasal dari berbagai disiplin ilmu, antara lain :

  1. Tenaga ahli gerontology
  2. Tenaga kesehatan : dokter spesalis geriatric, psikogeriatri, neurogeriatri, dokter spesialis dan dokter umum terlatih, fisioterapis, speech therapist, perawat terlatih.
  3. Tebaga sosisal : sosiolog, petuga syang mengorganisasi kegiatan (case managers), petugas sosial masyarakat, konselor.
  4. Ahli hukum: sarjana hokum terlatih dalam gerontology, pengacara terlatih, jaksa penunutut umum, hakim terlatih.
  5. Ahli psikolog : psikolog terlatih dalam gerontology, konselor.
  6. Tenaga relawan : kelompok masyarakat terlatih seperti sarjana, mahasiswa, pramuka, pemuda, ibu rumah tangga, pengurus lembaga ketahanan masyarakat desa, Rukun Warga/RW, Rukun Tetangga/RT terlatih.
  7. Hubungan Lanjut Usia dengan Keluarga

Menurut Mary Ann Christ, et al. (1993), berbagai isu hokum dan etika yang sering terjadi pada hubungan Lanjut Usia dengan keluarganya adalah :

  1. Pelecehan dan ditentarkan (abuse and neglect)
  2. Tindak kejahatan (crime)
  3. Pelayanan perlindungan (protective services)
  4. Persetujuan tertulis (informed consent)
  5. Kualitas kehidupan dan isu etika (quality of life and related ethical issues)
  1. Pelecehan dan ditentarkan (abuse and neglect)

Pelecehan dan ditelantarkan merupakan keadaan atau tindakan yang menempatkan seseorang dalam situasi kacau, baik mencakup status kesehatan, pelayanan kesehatan, pribadi, hak memutuskan, kepemilikan maupun pendapatannya. Pelaku pelecehan dapat dari pasangan hidup, anak lelaki atau perempuan bila pasangan hidupnya telah meninggal dunia atau orang lain. Pelecehan atau ditelantarkan dapat berlangsung lama ata8u dapat terjadi reaksi akut, bila suasana sudah tidak tertanggungkan lagi.

Penyebab pelecehan menurut International Institute on Agening (INIA, United Ntions-Malta, 1996) adalah :

q Beban orang yang merawat Lanjut usia tersebut sudah terlalu berat.

q Kelainan kepribadian dan perilaku Lanjut usia atau keluarganya.

q Lanjut Usia yang diasingkan oleh keluarganya.

q Penyalahgunaan narkotika, alkohol dan zat adiktif lainnya.

q Faktor lainnya yang terdapat di keluarga seperti :

  • Perlakuan salah terhadap Lanjut Usia.
  • Ketidaksiapan dari orang yang akan merawat Lanjut Usia.
  • Konflik lama di antara Lanjut Usia dengan keluarganya.
  • Perilaku psikopat dari Lanjut Usia dan atau keluarganya.
  • Tidak adannya dukungan masyarakat.
  • Keluarga mengalami kehilangan pekerjaan/pemutusan hubungan kerja.
  • Adanya riwayat kekerasan dalam keluarga.

Gejala yanag terlihat pada pelecehan atau ditelantarkan antara lain :

q Gejala fisik berupa memar, patah tulang yang tidak jelas sebabnya, higiena jelek, malnutrisi dan adanya bukti melakukan pengobatan yang tidak benar.

q Kelainan perilaku berupa rasa ketakutan yang berlebihan menjadi penurut atau tergantung, menyalahkan diri, menolak bila akan disentuh orang yang melecehkan, memperlihatkan tanda bahwa miliknya akan diambil orang lain dan adanya kekurangan biaya transpor, biaya berobat atau biaya memperbaikik rumahnya.

q Adanya gejala psikis seperti stres, cara mengatasi suatu persoalan secara tidak benar serta cara mengungkapkan rasa salah atau penyesalan yang tidak sesuai, baik dari Lanjut Usia itu sendiri maupun orang yang melecehkan.

Jenis pelecehan dan ditelantarkan adalah :

  • Pelecehan fisik atau menelantarkan fisik.
  • Pelecehan psikis atau melalui tutur kata.
  • Pelanggaran hak.
  • Pengusiran.
  • Pelecehan di bidang materi atau keuangan.
  • Pelecehan seksual.

Upaya pencegahan terhadap terjadinya kelantaran pasif (passive neglect) dan keterlantaran aktif (active neglect) pada lanjut Usia dapat dekelompokan sebagai berikut :

q Teryhadap keterlantaran pasif atau tak disengaja:

  • Mendapatkan orang yang di[ercaya untuk melakukan tindakan hukum atau melakukan transaksi keuangan.
  • Mengusahakan bantuan hukum dari seorang pengacara.

q Terhadap keterlantaran aktif atau tindak pelecehan:

  • Mengusahakan agar Lanjut Usia tidak terisolir.
  • Anggota keluarga tetap dekat dan memperhatikan Lanjut Usia selalu mendapatkan informasi baik tentang keadaan fisi, emosi, maupiun keadaan keuangan Lanjut Usia tersebut.
  • Orang yang merawat lanjut Usia menyadari keterbatasannya tidak ragu-ragu mencari pertolongan atau melimpahkan tanggung jawaabnya kepada fasilitas yang lebih mampu, manakala mereka tidak sanggup lagi merawatnya.
  • Masyarakat mengemban sistem pengamatan terhadap tindak pelecehan kepada Lanjut Usia (neighbourhood watch).
  • Melaksanakan program pelatihan tentang perawatan Lanjut Usia jompo di rumah, pengenalan tanda-tanda terjadinya tidak pelecehan, pemberian bantuan kepada Lanjut Usia, cara melakukan intervensi dan melakukan rujuakn kepada fasilitas yang lebih mampu.

Tindak intervensi bila telah terjadi tindak pelecehan terhadap Lanjut Usia adalah sebagai berikut :

q Memberikan dukungan kepada korban pelecehan.

q Lanjut Usia di rumah dan panti Tresna Wredha berhak menolak tindakan intervensi tertentu.

q Melatih keluarga untuk melaksanakan tindakan pelayanan tertentu.

q Memberikan pertolongan dan pengobatan kepada orang yang melecehakan Lanjut Usia tersebut.

q Mengajukan tuntutan hukum kepada orang yagn melecehakan Lanjut Usia tersebut.

Lanjut usia pada umumnya lebih takut terhadap tindak kejahatan bila dibandingakan dengan ketakutan terhadap penyalit dan pendapatan yang berkurang. Kerugian yang diderita oleh mereka tidak melebihi penderitaan yang dialami oleh kaum muda. Hanya akibat yang ditimbulkan pada Lanjut Usia lebih parah, berupa rasa ketakutan, kesepian, merasa terisolasi dan tidak berdaya.

Faktor yang mempengaruhi tindak kejahatan berupa factor fisik, keuangan dan kedaan lingkungan di sekitar Lanjut Usia tersebut.

Jenis tindak kejahatan adalah:

q Pencurian dan perampokan.

q Penipuan dalam pengobatan penyakit.

q Penipuan oleh orang tak dapat dipercaya, pemborong, sales, dll.

  1. Pelayanan perlindungan (protective services)

Pelayanan perlindungan adalah pelayanan yang dibeikan kepada para Lanjut Usia yang tidak mempu melindungi dirinya terhadap kerugian yang terjadi akibat mereka tidak dapat merawat diri mereka sendiri atau dalam melakukan kiegiatan sehari-hari.

Pelayanan perlindungan bertujuan memberikan perlindungan kepada para Lanjut Usia, agar kerugian yang terjadi ditekan seminimal mungkin. Pelayanan yang diberikan akan menimbulkan keseimbangan di antara kebebasan dan keamanan.

Jenis pelayanan yang diberikan dapat berupa pelayanan medik, sosial atau hukum.

Pelayanan medik: pelayanan perorangan.

Pelayanan gawat darurat.

Pelayanan berupadukungan guna me-

ningkatkan ADL (activities of daily life).

Pelayanan Sosial: dukungan sosial.

Pelayanan hokum: bantuan pengacara (power of attorney).

Perlindungan (informal guardianship).

Perlindungan hokum uang dapat diberikan kepada Lanjut Usia dapat berupa:

q Bantuan pengacara (power of attorney).

Lanjut Usia harus cukup kompeten untuk mengambil inisitif dalam menyerahkan urusannya kepada orang lain.

q Joint Tenancy.

Joint tenancy merupakan suatu produk hokum yang memungkinkan Lanjut Usia lain atau seorang pengacara untuk mengurus urusan seorang Lanjut Usia.

q Intervivos trust.

Pada keadaan ini seorang lanjut usia menunjuk orang lain sebagai pewaris.

Perorangan atau sebuah badan ditunjuk oleh pengadilan untuk melindungi ha milik seorang lanjut usia yang telah dianggap ta sanggup atau inkompeten, pada umumnya bila lanjut usia tersebut berusia lebih dari 75 tahun.

Permohonan suatu Conservatorship biasanya diajukan oleh keluarga atau instansi.

Dengan adanya Conservatorship ini, seorang lanjut usia tak lagi dapat bersuara dan megurus keuangannya serta menentukan tempat tinggalnya atau mengambil suatu keputusan penting lainnya.

q Informal guardianship.

Pengaturan jenis ini berdasakan suatu hokum, akan tetapi meruakan suatu kesepakatan bahwa pelindung bagi lanjut usia tersebut adalah tetangganya, panti atau suatu perusahaan.

  1. Persetujuan tertulis (Informed consent).

Persetujuan tertulis merupakan suatu persetujuan yang diberikan sebelum prosedur atau pengobatan diberikan kepada seorang lanjut usia atau penghuni panti. Syarat yang diperlukan bila seorang lanjut usia memberikan persetujuan ialah ia masih kompeten dan telah mendapatkan informasi tentang manfaat dan risiko dari suatu prosedur atau pengobatan tertentu yan g diberikan kepadanya. Bila seoang lanjut usia inkompeten, persetujuan diberikan oleh pelindung atau seorang walui.

  1. Kualitas kehidupan dan isu etika (quality of life and related ethical issue).

Berbagai factor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang yang mempengaruhi kualitas kehidupan lanjuy usia adalah:

q Kemajuan ilmu kedoktean di bidang diagnostic seperti CT-scan dan katerisasi jantung, MRI, dsb.

q Kemajuan dibidang pengobatan seperti transplatasi organ, raidasi.

q Bertambahnya risiko pengobatan.

q Biaya pengobatan yang meningkat.

q Manfaat pengobatan yang masih diragukan.

q Database yang diperlukan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Isu etika muncul bila terjadi suatu pertentangan antara pendapat ilmiah atau ilmu kedokteran dengan pandangan etika atau perikemanusiaan, misalnya :

q Untukm mengawali atau melanjutkan pengobatan terhadap lanjut usia yang sakit berat.

q Mempertahankan atau melepaskan infuse atau tube feeding.

q Melakukan tindakan yang biayanya mahal.

Isu euthanasia merupakan isu yang hangat dipertentangan di luar negeri, tetapi belum merupakan hal yang penting di Indonesia, mengingat hal ini bertentangan denagn hokum dan perundang-undangan serta kode etik kedokteran di Indonesia. Di luar negeri keputusan yang diambil berupa :

q Keinginan lanjut usia dan keluarganya.

q Derajat penderitaan dan derajat gangguan kognitif lanjut usia tersebut.

q Prognosa penyakit yang diderita.

q Kualitas kehidupan dari lanjut usia.

q Perawatan yang sedang diberikan.

Jenis euthanasia yang diberikan adalah active euthanasia (orang luar mempercepat lanjut usia untuk mengakhiri hidupnya) dan passive euthanasia (orang lain atau petugas kesehatan menolak memberikan pertolongan ytertentu kepada penderita terminal)

Dibandungkan dengan keadaan negara maju, hukum perundang-undangan terhadap lanjut usia di Indonesia masih memiliki banyak kekurangan, antara lain belum adanya undang-undang tentang lanjut usia (Senior Citizen’s Act), elayanan berkelanjutan bagi lanjut usai 9Continuum of Care), tunjangan pelayanan dan peraawatan terhadap lanjut usai (Medicare), hak penghuni panti (Charter of Resident’s Right) dan pelayanan lanjut usia di masyarakat. Keadaaan ini menimbulkan berbagai permasalahn. Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tetang kesejahteran lanjut usia merupaan langkah awal guna m3ningkatkan perhatian pemerintah dan masyarakat kepada lanjut usia.

  • Darmojo, Boedhi, dan Martono, Hadi. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut), Edisi 2. 2000. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
  • SKM, Hardiwinoto, Stiabudi, Tony. Pandaun Gerontologi, Tinjauan Dari Berbagai Aspek. 2005. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

gangguan tidur pada lansia

Oleh : Meida fitri Y / 3A / 07.031

Tidur merupakan suatu proses otak yang dibutuhkan oleh seseorang untuk dapat berfungsi dengan baik. Masyarakat awam belum begitu mengenal gangguan tidur sehingga jarang mencari pertolongan. Pendapat yang menyatakan bahwa tidak ada orang yang meninggal karena tidak tidur adalah tidak benar. Beberapa gangguan tidur dapat mengancam jiwa baik secara langsung (misalnya insomnia yang bersifat keturunan dan fatal dan apnea tidur obstruktif) atau secara tidak langsung misalnya kecelakaan akibat gangguan tidur. Di Amerika Serikat, biaya kecelakaan yang berhubungan dengan gangguan tidur per tahun sekitar seratus juta dolar. Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan. Setiap tahun diperkirakan sekitar 20%-50% orang dewasa melaporkan adanya gangguan tidur dan sekitar 17% mengalami gangguan tidur yang serius. Prevalensi gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67 %. Walaupun demikian, hanya satu dari delapan kasus yang menyatakan bahwa gangguan tidurnya telah didiagnosis oleh dokter.

Irwin Feinberg mengungkapkan bahwa sejak meninggalkan masa remaja, kebutuhan akan tidur siang menjadi relatif tetap. Luce and Segal mengungkapkan bahwa faktor usia merupakan faktor terpenting yang berpengaruh terhadap kualitas tidur. Telah dikatakan bahwa keluhan terhadap kualitas tidur sering dengan bertumbuhnya usia. Pada kelompok lanjut usia (40 tahun) hanya dijumpai 7% kasus yang mengeluh masalah tidur (hanya dapat tidur tidak lebih dari 5 jam sehari). Hal yang sama di jumpai pada 22% kasus pada kelompok usia 70 tahun. Demikian pula, kelompok lanjut usia lebih banyak mengeluh terbangun lebih awal dari pukul 05.00 pagi. Selain itu, terdapat 30% kelompok usia 70 tahun yang banyak terbagnun diwaktu malam hari. Anka ini ternyata 7x lenih besar dibandingkan dengan kelompok usia 20 tahun.

Gangguan tidak saja menunjukan indikasi akan adanya kelainan jiwa yang dini tetapi merupakan keluhan dari hampir 30% penderita yang berobat ke dokter, disebabkan oleh :

  1. Faktor Ekstrinsik (luar) misal: lingkungan yang kurang tenang.
  2. faktor intrinsik, mial bisa organik dan psikogenik.
  • Organik, misal: nyeri, gatal-gatal dan penyakit tertentu yang membuat gelisah.
  • Psikogenik, misal: depresi, kecemasan dan iritabilitas.

Lansia dengan depresi, stroke, penyakit jantung, penyakit paru, diabetes, artritis, atau hipertensi sering melaporkan bahwa kualitas tidurnya buruk dan durasi tidurnya kurang bila dibandingkan dengan lansia yang sehat. Gangguan tidur dapat meningkatkan biaya penyakit secara keseluruhan. Gangguan tidur juga dikenal sebagai penyebab morbiditas yang signifikan. Ada beberapa dampak serius gangguan tidur pada lansia misalnya mengantuk berlebihan di siang hari, gangguan atensi dan memori, mood depresi, sering terjatuh, penggunaan hipnotik yang tidak semestinya, dan penurunan kualitas hidup. Angka kematian, angka sakit jantung dan kanker lebih tinggi pada seseorang yang lama tidurnya lebih dari 9 jam atau kurang dari 6 jam per hari bila dibandingkan dengan seseorang yang lama tidurnya antara 7-8 jam per hari.

Berdasarkan dugaan etiologinya, gangguan tidur dibagi menjadi empat kelompok yaitu, gangguan tidur primer, gangguan tidur akibat gangguan mental lain, gangguan tidur akibat kondisi medik umum, dan gangguan tidur yang diinduksi oleh zat. Gangguan tidur-bangun dapat disebabkan oleh perubahan fisiologis misalnya pada proses penuaan normal. Riwayat tentang masalah tidur, higiene tidur saat ini, riwayat obat yang digunakan, laporan pasangan, catatan tidur, serta polisomnogram malam hari perlu dievaluasi pada lansia yang mengeluh gangguan tidur. Keluhan gangguan tidur yang sering diutarakan oleh lansia yaitu insomnia, gangguan ritme tidur,dan apnea tidur

KLASIFIKASI GANGGUAN TIDUR

I. Gangguan tidur primer

Gangguan tidur primer adalah gangguan tidur yang bukan disebabkan oleh gangguan mental lain, kondisi medik umum, atau zat. Gangguan tidur ini dibagi dua yaitu disomnia dan parasomnia. Disomnia ditandai dengan gangguan pada jumlah, kualitas, dan waktu tidur. Parasomnia dikaitkan dengan perilaku tidur atau peristiwa fisiologis yang dikaitkan dengan tidur, stadium tidur tertentu atau perpindahan tidur-bangun. Disomnia terdiri dari insomnia primer, hipersomnia primer, narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan, gangguan ritmik sirkadian tidur, dan isomnia yang tidak dapat diklasifikasikan. Parasomnia terdiri dari gangguan mimpi buruk, gangguan teror tidur, berjalan saat tidur, dan parasomnia yang tidak dapat diklasifikasikan. Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007196

II. Gangguan tidur terkait gangguan mental lain

Gangguan tidur terkait gangguan mental lain yaitu terdapatnya keluhan gangguan tidur yang menonjol yang diakibatkan oleh gangguan mental lain (sering karena gangguan mood) tetapi tidak memenuhi syarat untuk ditegakkan sebagai gangguan tidur tersendiri. Ada dugaan bahwa mekanisme patofisiologik yang mendasari gangguan mental juga mempengaruhi terjadinya gangguan tidur-bangun. Gangguan tidur ini terdiri dari: Insomnia terkait aksis I atau II dan Hipersomnia terkait aksis I atau II.

III. Gangguan tidur akibat kondisi medik umum

Gangguan akibat kondisi medik umum yaitu adanya keluhan gangguan tidur yang menonjol yang diakibatkan oleh pengaruh fisiologik langsung kondisi medik umum terhadap siklus tidur-bangun.

IV. Gangguan tidur akibat zat

Yaitu adanya keluhan tidur yang menonjol akibat sedang menggunakan atau menghentikan penggunaan zat (termasuk medikasi). Penilaian sistematik terhadap seseorang yang mengalami keluhan tidur seperti evaluasi bentuk gangguan tidur yang spesifik, gangguan mental saat ini, kondisi medik umum, dan zat atau medikasi yang digunakan, perlu dilakukan

FISIOLOGI TIDUR NORMAL

Rata-rata dewasa sehat membutuhkan waktu 7½ jam untuk tidur setiap malam. Walaupun demikian, ada beberapa orang yang membutuhkan tidur lebih atau kurang. Tidur normal dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya usia. Seseorang yang berusia muda cenderung tidur lebih banyak bila dibandingkan dengan lansia.

Waktu tidur lansia berkurang berkaitan dengan faktor ketuaan. Fisiologi tidur dapat dilihat melalui gambaran ekektrofisiologik sel-sel otak selama tidur. Polisomnografi merupakan alat yang dapat mendeteksi aktivitas otak selama tidur. Pemeriksaan polisomnografi sering dilakukan saat tidur malam hari. Alat tersebut dapat mencatat aktivitas EEG, elektrookulografi, dan elektromiografi. Elektromiografi perifer berguna untuk menilai gerakan abnormal saat tidur. Stadium tidur – diukur dengan polisomnografi – terdiri dari tidur rapid eye movement (REM) dan tidur non-rapid eye movement (NREM).

Tidur REM disebut juga tidur D atau bermimpi karena dihubungkan dengan bermimpi atau tidur paradoks karena EEG aktif selama fase ini. Tidur NREM disebut juga tidur ortodoks atau tidur gelombang lambat atau tidur S. Kedua stadia ini bergantian dalam satu siklus yang berlangsung antara 70 ­ 120 menit. Secara umum ada 4-6 siklus REM-REM yang terjadi setiap malam. Periode tidur REM I berlangsung antara 5-10 menit. Makin larut malam, periode REM makin panjang. tidur NREM terdiri dari empat stadium yaitu stadium 1,2,3,4.

STADIUM TIDUR NORMAL PADA DEWASA

Stadium 0 adalah periode dalam keadaan masih bangun tetapi mata menutup. Fase ini ditandai dengan gelombang voltase rendah, cepat, 8-12 siklus per detik. Tonus otot meningkat. Aktivitas alfa menurun dengan meningkatnya rasa kantuk. Pada fase mengantuk terdapat gelombang alfa campuran.

Stadium 1 disebut onset tidur. Tidur dimulai dengan stadium NREM. Stadium 1 NREM adalah perpindahan dari bangun ke tidur. Ia menduduki sekitar 5% dari total waktu tidur. Pada fase ini terjadi penurunan aktivitas gelombang alfa (gelombang alfa menurun kurang dari 50%), amplitudo rendah, sinyal campuran, predominan beta dan teta, tegangan rendah, frekuensi 4-7 siklus per detik. Aktivitas bola mata melambat, tonus otot menurun, berlangsung sekitar 3-5 menit. Pada stadium ini seseorang mudah dibangunkan dan bila terbangun merasa seperti setengah tidur.

Stadium 2 ditandai dengan gelombang EEG spesifik yaitu didominasi oleh aktivitas teta, voltase rendah-sedang, kumparan tidur dan kompleks K. Kumparan tidur adalah gelombang ritmik pendek dengan frekuensi 12-14 siklus per detik. Kompleks K yaitu gelombang tajam, negatif, voltase tinggi, diikuti oleh gelombang lebih lambat, frekuensi 2-3 siklus per menit, aktivitas positif, dengan durasi 500 mdetik. Tonus otot rendah, nadi dan tekanan darah cenderung menurun. Stadium 1 dan 2 dikenal sebagai tidur dangkal. Stadium ini

menduduki sekitar 50% total tidur.

Stadium 3 ditandai dengan 20%-50% aktivitas delta, frekuensi 1-2 siklus per detik, amplitudo tinggi, dan disebut juga tidur delta. Tonus otot meningkat tetapi tidak ada gerakan bola mata.

Stadium 4 terjadi jika gelombang delta lebih dari 50%. Stadium 3 dan 4 sulit dibedakan. Stadium 4 lebih lambat dari stadium 3. Rekaman EEG berupa delta. Stadium 3 dan 4 disebut juga tidur gelombang lambat atau tidur dalam. Stadium ini menghabiskan sekitar 10%-20% waktu tidur total. Tidur ini terjadi antara sepertiga awal malam dengan setengah malam. Durasi tidur ini meningkat bila seseorang mengalami deprivasi tidur. Tidur REM ditandai dengan rekaman EEG yang hampir sama dengan tidur stadium 1. Pada stadium ini terdapat letupan periodik gerakan bola mata cepat. Refleks tendon melemah Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007 197

Gangguan Tidur Lanjut Usia atau hilang. Tekanan darah dan nafas meningkat. Pada pria terjadi ereksi penis. Pada tidur REM terdapat mimpi-mimpi. Fase ini menggunakan sekitar 20%-25% waktu tidur. Ratensi REM sekitar 70-100 menit pada subyek normal tetapi pada penderita depresi, gangguan makan, skizofrenia, gangguan kepribadian ambang, dan gangguan penggunaan alkohol durasinya lebih pendek. Sebagian tidur delta (NREM) terjadi pada separuh awal malam dan tidur REM pada separuh malam menjelang pagi.

Tidur REM dan NREM berbeda dalam hal dimensi psikologik dan fisiologik. Tidur REM dikaitkan dengan mimpi-mimpi sedangkan tidur NREM dengan pikiran abstrak. Fungsi otonom bervariasi pada tidur REM tetapi lambat atau menetap pada tidur NREM. Jadi, tidur dimulai pada stadium 1, masuk ke stadium 2, 3, dan 4. Kemudian kembali ke stadium 2 dan akhirnya masuk ke periode REM 1, biasanya berlangsung 70-90 menit setelah onset. Pergantian siklus dari NREM ke siklus REM biasanya berlangsung 90 menit. Durasi periode REM meningkat menjelang pagi 2.

Kondisi tidur siang hari dapat dinilai dengan multiple sleep latency test (MSLT). Subyek diminta untuk berbaring di ruangan gelap dan tidak boleh menahan kantuknya. Tes ini diulang beberapa kali (lima kali pada siang hari). Latensi tidur yaitu waktu yang dibutuhkan untuk jatuh tidur.Waktu ini diukur untuk masing-masing tes dan digunakan sebagai indeks fisiologik tidur. Kebalikan dari MSLT yaitu maintenance of wakefulness test (MWT). Subyek ditempatkan di dalam ruangan yang tenang, lampu suram, dan diinstruksikan untuk tetap terbangun. Tes ini juga diulang beberapa kali. Latensi tidur diukur sebagai indeks kemampuan individu untuk mempertahankan tetap bangun.

Beberapa terminologi standar ukuran polisomnografi

1. Kontinuitas tidur yaitu keseimbangan antara tidur dengan bangun selama satu malam. Kontinuitas tidur dikatakan baik bila tidur lebih banyak daripada bangun dan dikatakan buruk bila tidur sering terinterupsi atau terbangun. Ukuran kontinuitas tidur yang spesifik adalah latensi tidur (jumlah waktu yang dibutuhkan untuk jatuh tidur, biasanya dihitung dalam menit). Terbangun intermiten yaitu jumlah waktu terbangun setelah onset tidur (dalam menit).

2. Efisiensi tidur yaitu rasio antara waktu sebenarnya yang digunakan untuk tidur dengan waktu yang dihabiskan di tempat tidur – diukur dalam persentase. Angka tinggi menunjukkan efisiensi tidur baik.

3. Arsitektur tidur yaitu jumlah dan distribusi stadium tidur. Ukurannya adalah jumlah absolut tidur REM dan masing-masing tidur NREM, dihitung dalam menit. Tidur manusia bervariasi sepanjang kehidupannya. Pada anak-anak dan remaja awal, jumlah tidur gelombang lambat relatif stabil. Kontinuitas dan dalamnya tidur berkurang setelah dewasa. Pengurangan tersebut ditandai dengan peningkatan frekuensi bangun, tidur stadium 1, serta penurunan stadium 3 dan 4. Oleh karena itu, usia harus dipertimbangkan dalam

mendiagnosis gangguan tidur. Siklus sirkadian tidur-bangun dapat mempengaruhi fungsi neuroendokrin misalnya sekresi kortisol, melatonin, dan hormon pertumbuhan. Pada dewasa normal, temperatur tubuh juga mengikuti ritme sirkadian; puncaknya pada sore hari dan paling rendah pada malam hari. Gangguan siklus temperatur dikaitkan dengan insomnia. Umur, pola tidur premorbid, dan status kesehatan secara umum mempengaruhi tidur. Apabila dibandingkan dengan tidur subyek dengan usia muda, tidur lansia kurang dalam, lebih sering terbangun, tidur delta berkurang, dan tidurnya tidak efektif. Mengantuk di siang hari sering terjadi pada lansia. Keadaan ini dapat mempengaruhi jadual tidur-bangunnya di malam hari. Walaupun demikian, beberapa individu memang mempunyai durasi tidur lebih pendek atau kebutuhan tidurnya lebih sedikit. Individu ini tidak mempunyai keluhan susah masuk tidur dan tidak ada tanda-tanda khas insomnia seperti sering terbangun, letih, susah konsentrasi, dan iritabilitas. Fungsi siang harinya tidak terganggu meskipun ia tidur kurang dari tujuh jam

Gangguan Tidur Lanjut Usia tidurnya. Perubahan yang sangat menonjol yaitu terjadi pengurangan pada gelombang lambat, terutama stadium 4, gelombang alfa menurun, dan meningkatnya frekuensi terbangun di malam hari atau meningkatnya fragmentasi tidur karena seringnya terbangun. Gangguan juga terjadi pada dalamnya tidur sehingga lansia sangat sensitif terhadap stimulus lingkungan. Selama tidur malam, seorang dewasa muda normal akan terbangun sekitar 2-4 kali. Tidak begitu halnya dengan lansia, ia lebih sering terbangun. Walaupun demikian, rata-rata waktu tidur total lansia hampir sama dengan dewasa muda. Ritmik sirkadian tidur-bangun lansia juga sering terganggu. Jam biologik lansia lebih pendek dan fase tidurnya lebih maju. Seringnya terbangun pada malam hari menyebabkan keletihan, mengantuk, dan mudah jatuh tidur pada siang hari. Dengan perkataan lain, bertambahnya umur juga dikaitkan dengan kecenderungan untuk tidur dan bangun lebih awal. Toleransi terhadap fase atau jadual tidur-bangun menurun, misalnya sangat rentan dengan perpindahan jam kerja. Adanya gangguan ritmik sirkadian tidur juga berpengaruh terhadap kadar hormon yaitu terjadi penurunan sekresi hormon pertumbuhan, prolaktin, tiroid, dan kortisol pada lansia. Hormon-hormon ini dikeluarkan selama tidur dalam. Sekresi melatonin juga berkurang.

Melatonin berfungsi mengontrol sirkadian tidur. Sekresinya terutama pada malam hari. Apabila terpajan dengan cahaya terang, sekresi melatonin akan berkurang 2.

HIGIENE TIDUR PADA LANSIA

Gangguan tidur dapat berbentuk buruknya higiene tidur dan gangguan tidur spesifik. Evaluasi keluhan tidur lansia hendaklah selalu dilakukan. Keluhan tidur hendaknya jangan diabaikan meskipun mereka sudah tua. Buruknya higiene tidur dapat disebabkan oleh harapan yang berlebihan terhadap tidur atau jadual tidur. Akibatnya, lansia sering menghabiskan waktunya di tempat tidur atau sebentar-sebantar tertidur di siang hari.

CHECKLIST HIGIENE TIDUR

Tidur bangun

Waktu tidur yang tidak teratur menunjukkan adanya gangguan ritmik sirkadian tidur. Pemanjangan latensi tidur menunjukkan adanya ketegangan atau kecemasan sehingga terjadi insomnia. Peningkatan frekuensi dan durasi terbangun di malam hari dikaitkan dengan nokturia, kejang otot kaki, pernafasan pendek, dan kecemasan. Terbangun dini hari atau memanjangnya durasi tidur dapat menunjukkan depresi. Peningkatan frekuensi dan durasi mengantuk di siang hari menunjukkan tidak adekuatnya tidur di malam hari. Pasien mesti didorong untuk mengatur dan mengurangi waktunya di tempat tidur. Selain itu, pasien mesti didorong untuk lebih aktif di siang hari (fisik dan sosial).

Lingkungan

Suara gaduh, cahaya, dan temperatur dapat mengganggu tidur. Lansia sangat sensitif terhadap stimulus lingkungannya. Penggunaan tutup telinga dan tutup mata dapat mengurangi pengaruh buruk lingkungan. Temperatur dan alas tidur yang tidak nyaman juga dapat mengganggu tidur. Kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik di tempat tidur juga harus dihindari misalnya makan, menonton TV, dan memecahkan masalah-masalah serius. Faktor-faktor ini mesti dievaluasi ketika berhadapan dengan lansia yang mengalami gangguan tidur. Lansia mesti dianjurkan untuk menciptakan suasana yang nyaman untuk tidur.

Diet dan Penggunaan obat

Minum kopi, teh, dan soda, serta merokok sebelum tidur dapat mengganggu tidur. Alkohol dapat mempercepat onset tidur tetapi beberapa jam kemudian pasien kembali tidak bisa tidur. Obat-obat tidur atau obat-obat yang diresepkan untuk gangguan kondisi medik dapat kadang-kadang dapat mengganggu tidur. Pengaruhnya dapat terjadi secara berangsur-angsur setelah beberapa lama menggunakan obat tersebut. Pasien dianjurkan untuk mengurangi atau mengubah jam-jam penggunaan obat atau diet yang dapat mempengaruhi tidur.

Hal-hal Umum

Edukasi tentang tidur malam perlu diberikan kepada lansia. Pasien dianjurkan untuk membuat kontak sosial dan aktivitas fisik secara teratur di siang hari. Pasien harus pula dibantu untuk kenghilangkan kecemasannya. Membaca sampai mengantuk merupakan salah satu cara untuk menghilangkan kecemasan yang mengganggu tidur 1,2

Gangguan tidur pada lansia

Gangguan tidur pada lansia dapat bersifat nonpatologik karena faktor usia dan ada pula gangguan tidur spesifik yang sering ditemukan pada lansia. Ada beberapa gangguan tidur yang sering ditemukan pada lansia.

INSOMNIA PRIMER

· Keluhan sulit masuk tidur atau mempertahankan tidur atau tetap tidak segar meskipun sudah tidur. Keadaan ini berlangsung paling sedikit satu bulan Cermin Dunia Kedokteran No. 157, 2007 199

· Menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinik atau impairment sosial, okupasional, atau fungsi penting lainnya.

· Gangguan tidur tidak terjadi secara eksklusif selama ada gangguan mental lainnya.

· Tidak disebabkan oleh pengaruh fisiologik langsung kondisi medik umum atau zat.

Seseorang dengan insomnia primer sering mengeluh sulit masuk tidur dan terbangun berkali-kali. Bentuk keluhan tidur bervariasi dari waktu ke waktu. Misalnya, seseorang yang saat ini mengeluh sulit masuk tidur mungkin suatu saat mengeluh sulit mempertahankan tidur. Meskipun jarang, kadang-kadang seseorang mengeluh tetap tidak segar meskipun sudah tertidur. Diagnosis gangguan insomnia dibuat bila penderitaan atau impairmentnya bermakna. Seorang penderita insomnia sering berpreokupasi dengan tidur. Makin berokupasi dengan tidur, makin berusaha keras untuk tidur, makin frustrasi dan makin tidak bisa tidur. Akibatnya terjadi lingkaran setan.

INSOMNIA KRONIK

Disebut juga insomnia psikofisiologik persisten. Insomnia ini dapat disebabkan oleh kecemasan; selain itu, dapat pula terjadi akibat bebiasaan atau pembelajaran atau perilaku maladaptif di tempat tidur. Misalnya, pemecahan masalah serius di tempat tidur, kekhawatiran, atau pikiran negatif terhadap tidur ( sudah berpikir tidak akan bisa tidur). Adanya kecemasan yang berlebihan karena tidak bisa tidur menyebabkan seseorang berusaha keras untuk tidur tetapi ia semakin tidak bisa tidur. Ketidakmampuan menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggu ketika berusaha tidur dapat pula menyebabkan insomnia psikofisiologik. Selain itu, ketika berusaha untuk tidur terjadi peningkatan ketegangan motorik dan keluhan somatik lain sehingga juga menyebabkan tidak bisa tidur. Penderita bisa tertidur ketika tidak ada usaha untuk tidur. Insomnia ini disebut juga insomnia yang terkondisi. Mispersepsi terhadap tidur dapat pula terjadi. Diagnosis ditegakkan bila seseorang mengeluh tidak bisa masuk atau mempertahankan tidur tetapi tidak ada bukti objektif adanya gangguan tidur. Misalnya, pasien mengeluh susah masuk tidur (lebih dari satu jam), terbangun lebih lama (lebih dari 30 menit), dan durasi tidur kurang dari lima jam. Tetapi dari hasil polisomnografi terlihat bahwa onset tidurnya kurang dari 15 menit, efisiensi tidur 90%, dan waktu tidur totalnya lebih lama. Pasien dengan gangguan seperti ini dikatakan mengalami mispersepsi terhadap tidur.

Insomnia idiopatik adalah insomnia yang sudah terjadi sejak kehidupan dini. Kadang-kadang insomnia ini sudah terjadi sejak lahir dan dapat berlanjut selama hidup. Penyebabnya tidak jelas, ada dugaan disebabkan oleh ketidakseimbangan neurokimia otak di formasio retikularis batang otak atau disfungsi forebrain. Lansia yang tinggal sendiri atau adanya rasa ketakutan yang dieksaserbasi pada malam hari dapat menyebabkan tidak bisa tidur. Insomnia kronik dapat menyebabkan penurunan mood (risiko depresi dan anxietas), menurunkan motivasi, atensi, energi, dan konsentrasi, serta menimbulkan rasa malas. Kualitas hidup berkurang dan menyebabkan lansia tersebut lebih sering menggunakan fasilitas kesehatan.

Seseorang dengan insomnia primer sering mempunyai riwayat gangguan tidur sebelumnya. Sering penderita insomnia mengobati sendiri dengan obat sedatif-hipnotik atau alkohol. Anksiolitik sering digunakan untuk mengatasi ketegangan dan kecemasan. Kopi dan stimulansia digunakan untuk mengatasi rasa letih. Pada beberapa kasus, penggunaan ini berlanjut menjadi ketergantungan zat. Pemeriksaan polisomnografi menunjukkan kontinuitas tidur yang buruk (latensi tidur buruk, sering terbangun, efisiensi tidur buruk), stadium 1 meningkat, dan stadium 3 dan 4 menurun. Ketegangan otot meningkat dan jumlah aktivitas alfa dan beta juga meningkat 2,3

PERJALANAN GANGGUAN INSOMNIA PRIMER

Faktor-faktor yang mempresipitasi insomnia berbeda-beda. Onset insomnia bisa bersifat tiba-tiba. Insomnia biasanya terjadi akibat stresor psikologik, fisik dan sosial. Insomnia sering berlanjut meskipun kausanya sudah dapat diatasi. Hal ini disebabkan terjadinya kondisioning negatif atau kewaspadaan yang meningkat. Misalnya, seorang lansia yang menderita nyeri dapat menghabiskan waktunya di tempat tidur dan sulit tidur karena nyerinya. Kondisioning negatif dapat terjadi. Kondisi ini dapat bertahan meskipun nyeri sudah tidak ada lagi. Insomnia juga dapat berkembang dalam konteks stresor psikologik akut atau gangguan mental. Perjalanan insomnia dapat bervariasi. Insomnia harus dibedakan dari gangguan mental yang salah satu gambaran kliniknya insomnia (skizofrenia, gangguan depresi berat, gangguan cemas menyeluruh). Insomnia primer tidak ditegakkan jika insomnia terjadi secara eksklusif selama adanya gangguan mental lain. Diagnosis insomnia primer dibuat jika gangguan mental lain tidak dapat menerangkan insomnia, atau jika insomnia dan gangguan mental mempunyai perjalanan yang berbeda. Jika insomnia merupakan manifestasi gangguan mental dan secara eksklusif terjadi selama gangguan mental lain, diagnosis yang lebih cocok adalah insomnia terkait gangguan mental lain. Diagnosis dibuat jika keluhan insomnia sangat menonjol dan perlu mendapat perhatian klinik tersendiri.

  • Darmojo, Boedhi, dan Martono, Hadi. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut), Edisi 2. 2000. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
  • SKM, Hardiwinoto, Stiabudi, Tony. Tinjauan Dari Berbagai Aspek. 2005. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Peringkat broker opsi biner:
Penghasilan di Internet
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: