Sistem Perdagangan Multi-pasar Sistem perdagangan multi-pasar, isi kandungan

Peringkat broker opsi biner:

Anc_Nbx’Poenya

Mimpi tidak akan menjadi kenyataan jika kita asyik tidur

6 Isu Besar Ekonomi Dunia Tahun 2020

Sejumlah , akademisi, korporasi, dan lembaga sosial yang tergabung dalam World Economic Forum (WEF) menyatakan terdapat enam agenda penting dunia yang harus mendapat perhatian besar pada tahun 2020.

Agenda penting dunia tersebut disusun berdasarkan kejadian yang muncul pada tahun ini dimulai dari krisis Fukushima, Jepang, krisis Libya, dan terakhir aksi pendudukan Wall Street atau Occupy Wall Street.

Dalam Laporan WEF berjudul “Outlook in the Global Agenda 2020” yang diperoleh VIVAnews, Rabu, 14 Desember 2020 disebutkan sebanyak 1.500 ahli berkumpul dalam pertemuan tahunan WEF Network of Global Agenda Council yang berlangsung di Uni Emirat Arab.

WEF berharap agenda penting ekonomi dunia yang kemungkinan bakal menyita perhatian pada tahun depan ini bisa menjadi jawaban bagi negara-negara di dunia dalam mengambil kebijakan.

Inilah 6 agenda penting ekonomi yang bakal menyita perhatian pada tahun 2020:

1. Outlook ekonomi global

Peringkat broker opsi biner:

Ekonomi dunia pada tahun 2020 kemungkinan masih akan didominasi oleh krisis Eropa, di mana pembahasan para ahli WEF menyoroti masalah kondisi surat utang negara.

Pada tahun 2008 ketika negara berkembang membantu sistem perbankan dalam menangani krisis keuangan, dengan sendirinya mereka membawa masalah itu dalam keuangan negaranya. Saat ini, negara besar di dunia tengah menghadapi krisis surat utang disaat pertumbuhan ekonomi dunia tengah mengalami perlambatan dibarengi memuncaknya jumlah pengangguran.

Hasilnya, kondisi ekonomi pada tahun 2020 akan diwarnai instabilitas di mana muncul ketiadaan aturan sistem keuangan yang bisa diterima semua negara, rendahnya kepercayaan pada pasar, dan munculnya spekulasi.

2. Peralihan kekuatan ekonomi dunia dan Emerging Market

Kondisi ekonomi dan politik akan terus berlanjut dengan adanya peralihan dari negara-negara di Utara ke Selatan dan dari Barat ke Timur.

Transisi ini menyebabkan pelemahan pada sistem multilateral atau institusi internasional. Selain itu, hal ini juga menyebabkan meningkatnya kekuatan regional dalam hubungan internasional termasuk di dalamnya keamanan, perdagangan, dan keuangan.

Pada tahun 2020, dunia akan dipenuhi dengan peralihan pengaruh dari intitusi yang berpusat pada negara ke koalisi berdasarkan keinginan dan institusi non pemerintahan. Hal itu terlihat dari kegiatan diplomasi dan aksi dari organisasi regional.

3. Pertumbuhan ekonomi inklusif dan penciptaan lapangan kerja

Masalah pengangguran saat ini menjadi isu ekonomi dan politik yang dihadapi pemimpin negara-negara di dunia. Pengangguran merupakan perwujudan dari sejumlah kesalahan struktural, pertambahan populasi dunia, perbedaan yang melebar antara miskin dan kaya, serta adanya gap antara pendidikan, keahlian, dan pekerjaan.

4. Pertahanan politik dan multi stakeholder governance

Dihadapkan pada krisis ekonomi terbesar sejak Great Depression, sistem politik di AS dan Eropa telah runtuh. Kemandegan pengambilan keputusan di salah satu pasar utama dunia ini membuat seluruh sistem di dunia ikut hancur. Di sisi lain, fokus pemerintah yang berupaya memperbaiki kondisi ekonomi domestik menyebabkan kekosongan kepemimpinan pada isu-isu global.

Institusi politik diperkirakan akan menghadapi masa kritis karena berkurangnya kepercayaan masyarakat.

Dengan pelemahan fungsi negara, mekanisme baru seperti kemitraan multi stakeholder dalam berbagai bentuk dan tingkatan sangat diharapkan memainkan peranan penting dalam menyalurkan nilai-nilai publik.

5. Kelangkaan sumber daya alam dan perubahan iklim

Tekanan pada sumber daya alam dan akselerasi iklim ekstrim diperkirakan akan meningkatkan dampak pada pembangunan ekonomi dan pertumbuhan di beberapa negara. Tekanan ekonomi akan menyebabkan perlunya inovasi dalam pertumbuhan teknologi yang berkelanjutan dan model ekonomi.

6. Era revolusi digital

Internet akan menjadi pilar utama kesejahteraan dunia. Pekerjaan, hiburan, konsumsi, keputusan kebijakan, rantai pasokan, sistem keamanan, dan komunikasi serta semua aspek yang berhubungan dengan gaya hidup modern akan dibentuk di dunia digital.

Namun, perembesan digitalisme dalam hubungan manusia juga akan memunculkan bahaya sama besar dengan kesejahteraan. Kalangan swasta ditantang untuk mengembangkan kapasitas dan legitimasi terhadap lingkungan digital di sebuah negara.

Sistem terpusat dan hierarkis diperkirakan akan bergerak menjadi jaringan yang terdistribusi. Langkah pemerintah memperketat akses Internet hanya akan memperparah tekanan terhadap privasi masyarakat, kebebasan berekspresi, dan tuntutan transparansi.

Pertumbuhan Pada Tumbuhan

PERTUMBUHAN adalah proses pertambahan ukuran sel atau organisme. Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif/ terukur.

PERKEMBANGAN adalah proses menuju kedewasaan pada organisme. Proses ini berlangsung secara kualitatif.

Baik pertumbuhan atau perkembangan bersifat irreversibel.

PERTUMBUHAN PADA TUMBUHAN

Secara umum pertumbuhan dan pekembangan pada tumbuhan diawali untuk stadium zigot yang merupakan hasil pembuahan sel kelamin betina dengan jantan. Pembelahan zigot menghasilkan jaringan meristem yang akan terus membelah dan mengalami diferensiasi.

Diferensiasi adalah perubahan yang terjadi dari keadaan sejumlah sel, membentuk organ-organ yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda.

Terdapat 2 macam pertumbuhan, yaitu:

1. Pertumbuhan Primer

Terjadi sebagai hasil pembelahan sel-sel jaringan meristem primer. Berlangsung pada embrio, bagian ujung-ujung dari tumbuhan seperti akar dan batang.

Embrio memiliki 3 bagian penting :
a. tunas embrionik yaitu calon batang dan daun
b. akar embrionik yaitu calon akar
c. kotiledon yaitu cadangan makanan

Gbr. Embrio Tumbuhan

Pertumbuhan tanaman dapat diukur dengan alat yang disebut auksanometer.

Daerah pertumbuhan pada akar dan batang berdasar aktivitasnya tcrbagi menjadi 3 daerah
a. Daerah pembelahan
Sel-sel di daerah ini aktif membelah (meristematik)
b. Daerah pemanjangan
Berada di belakang daerah pembelahan
c. Daerah diferensiasi
Bagian paling belakang dari daerah pertumbuhan. Sel-sel mengalami diferensiasi membentuk akar yang sebenarnya serta daun muda dan tunas lateral yang akan menjadi cabang.

2. Pertumbuhan Sekunder

Merupakan aktivitas sel-sel meristem sekunder yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan ini dijumpai pada tumbuhan dikotil, gymnospermae dan menyebabkan membesarnya ukuran (diameter) tumubuhan.

– Mula-mula kambium hanya terdapat pada ikatan pembuluh, yang disebut kambium vasis atau kambium intravasikuler. Fungsinya adalah membentuk xilem dan floem primer.

– Selanjutnya parenkim akar/batang yang terletak di antara ikatan pembuluh, menjadi kambium yang disebut kambium intervasis.

– Kambium intravasis dan intervasis membentuk lingkaran tahun Þ bentuk konsentris.

Kambium yang berada di sebelah dalam jaringan kulit yang berfungsi sebagai pelindung. Terbentuk akibat ketidakseimbangan antara permbentukan xilem dan floem yang lebih cepat

dari pertumbuhan kulit.

– ke dalam membentuk feloderm : sel-sel hidup
– ke luar membentuk felem : sel-sel mati

Gbr. Lingkaran tahun
karena aktivitas xilem sekunder

Gbr. Irisan melintang batang waru

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan

A. Faktor Luar
1. Air dan Mineral Þ berpengaruh pada pertumbuhan tajuk 2 akar. Diferensiasi salah satu unsur hara atau lebih akan menghambat atau menyebabkan pertumbuhan tak normal.

3. Suhu Þ di antaranya mempengaruhi kerja enzim. Suhu ideal yang diperlukan untuk pertumbuhan yang paling baik adalah suhu optimum, yang berbeda untuk tiap jenis tumbuhan.

4. Cahaya Þ mempengaruhi fotosintesis. Secara umum merupakan faktor penghambat. Etiolasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat di tempat yang gelap Fotoperiodisme adalah

respon tumbuhan terhadap intensitas cahaya dan panjang penyinaran.

B. Faktor Dalam
1. Faktor hereditas.
2. Hormon.
a. Auksin
adalah senyawa asam indol asetat (IAA) yang dihasilkan di ujung meristem apikal (ujung akar dan batang). F.W. Went (1928) pertama kali menemukan auksin pada ujung koleoptil kecambah gandum Avena sativa.
– membantu perkecambahan
– dominasi apikal
b. Giberelin
Senyawa ini dihasilkan oleh jamur Giberella fujikuroi atau Fusarium moniliformae, ditemukan oleh F. Kurusawa.
Fungsi giberelin :
– pemanjangan tumbuhan
– berperan dalam partenokarpi
c. Sitokinin
Pertama kali ditemukan pada tembakau. Hormon ini merangsang pembelahan sel.
d. Gas etilen
Banyak ditemukan pada buah yang sudah tua
e. Asam absiat
f. Florigen
g. Kalin
Hormon pertumbuhan organ, terdiri dari :
– Rhizokalin
– Kaulokali
– Filokalin
– Antokalin
h. Asam traumalin atau kambium luka
Merangsang pembelahan sel di daerah luka sebagai mekanisme untuk menutupi luka

Gbr. a. Distribusi Auksin pada Kecambah

Gbr. b. Pertumbuhan Ujung Akar dan Ujung Batang

PRINSIP-PRlNSIP DASAR PEREKONOMIAN BERBASIS KERAKYATAN (PBR) DI PROVINSI PAPUA

4.1. PBR adalah Kemandirian Ekonomi

Kemandirian ekonomi kerakyatan adalah suatu keadaan ekonomi rakyat yang semakin terpenuhi kebutuhannya secara lebih baik dan memadai seperti kebutuhan konsumsi dan gizi, pakaian yang cukup, perumahan yang sehat, kebutuhan biaya kesehatan dan pendidikan yang terpenuhi, guna mencapai kesejahteraan kehidupan sesuai cita-cita pembangunan.

Kesejahteraan rakyat tersebut hanya akan dapat dicapai dan terus ditingkatkan secara berkesinambungan oleh masyarakat itu sendiri dengan memanfaatkan potensi sumberdaya yang dimilikinya melalui peningkatan produksi setiap orang atau kelompok (keret) yang dapat menciptakan peningkatan pendapatan dan membudayakan kebiasaan menabung.

Kebiasaan menabung akan tercipta bila perubahan perilaku dari gaya hidup konsumtif menjadi budaya wirausaha dalam pengertian luas yaitu selalu berpikir maju untuk merubah hidup bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih dari hari ini.

Dalam arti tidak hanya menikmati kehidupan sesaat, tetapi memiliki perencanaan jangka panjang (kampanye gerakan modernisasi ekonomi) masa depan, melalui perilaku hidup hemat dan menabung.

Selain Itu setiap aparat pengambii keputusan dan pembina usaha ekonomi rakyat perlu pemahaman yang sama, bahwa ;

  1. Setiap manusia dan masyarakat memiliki potensi (daya) yang dapat dikembangkan.
  2. Memperkuat potensi (daya) yang dimiliki oleh masyarakat (empowering) dan memberdayakan, mengandung pula pengertian melindungi.

Oleh karena itu guna terwujudnya program pemberdayaan ekonomi kerakyatan maka diperlukan komitmen nyata dan sungguh-sungguh dengan suasana hati yang berpihak dari pengambil keputusan dan pembina ekonomi kerakyatan. Guna mencapai “kemandirian” dari rakyat itu sendiri, maka rakyat harus didorong ke arah kemandirian untuk menorong dirinya sendiri, melalui peningkatan produksi, peningkatan pendapatan dan membiasakan menabung.

Peningkatan produksi setiap orang di Tanah Papua ini akan memarjinalkan produksi (Output/PDRB) dari berbagai sektor usaha ekonomi yang pada akhirnya akan tercipta pertumbuhan ekonomi daerah.

Dengan bertumbuhnya produksi daerah melalui diversifikasi produk baik untuk kebutuhan konsumsi masyarakat di Tanah Papua ini, manpun untuk pasar regional, nasional dan ekspor melalui pengembangan usaha agribisnis dan agroindustri, maka hal ini akan secara langsung mengurangi ketergantungan sebagian kebutuhan pokok dan kebutuhan lain masyarakat Papua dari luar daerah yang juga sekaligus mengurangi jumlah uang dari daerah ini untuk berpindah ke daerah lain (capital flight).

Bila gambaran keadaan ekonomi seperti diuraikan diatas tercapai. maka itu berarti mulai terciptanya “Kemandirian Ekonomi Daerah”.

4.2 PBR diarahkan Sebanyak-banyaknya bagi Pengembangan Orang Asli Papua

Perekonomian di Tanah Papua yang merupakan bagian dari perekonomian nasional dan global diarahkan unluk menciptakan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat Papua, dengan tetap menjunjung tinggi prinstp-prinsip pertumbuhan ekonomi, keadilan dan pemerataan.

Adanya tuntutan dan harapan dari Orang Asli Papua agar tingkat hidupnya lebih baik, khususnya dalam Era Otonomi Khusus, sehingga rakyat tidak merasa tertinggal atau ditinggalkan, karena semua merasa mendapat bagian dari dana Otonomi Khusus.

Di lain pihak adanya kesenjangan sebagai pelaku ekonomi khususnya di pasar-pasar antara Orang Asli Papua dengan Orang Papua pendatang. Karena itu pembangunan perekonomian yang berbasis kerakyatan dilaksanakan dengan memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada Orang Asli Papua.

Sehubungan dengan itu ada 4 (empat) pilar yang harus dilakukan dalam usaha pemberian dan perluasan kesempatan bagi pengembangan ekonomi Orang Asli Papua, yaitu :

Pemerintah bersama BUMD, BUMN, Sektor Swasta Nasional harus menciptakan kesempatan berusaha kepada Orang Asli Papua.

Pemerintah, BUMD, BUMN, Sektor Swasta Nasional memfasilitasi dan mengakomodasi peran serta aktif masyarakat Asli Papua yang dalam berbagai kegiatan meliputi : aspek ekonomi dan sosial dan politik, sehingga mereka dapat ikut mengontrol keputusan yang menyangkut kepentingannya, ikut menyalurkan serta mengidentifikasi masalah dan kebutuhannya sendiri.

Pemerintah, BUMD, BUMN dan Sektor Swasta Nasional meningkatkan kapasitas atau kemampuan rakyat agar mampu bekerja dan berusaha secara lebih produktif dalam usaha memperbaiki tingkat hidupnya.

Pemerintah melalui kebijakan publik, mengajak BUMD, BUMN. Sektor Swasta Nasional dan rakyat memberikan perlindungan antara lain perlindungan (proteksi) untuk hasil produksi tertentu Orang Asii Papua.

Dalam kaitan ini ekonomi rakyat diartikan sebagai ekonomi pribumi (indigenous people economy), oleh karena itu sasaran/obyek pelaku ekonomi kerakyatan dalam hal ini adalah masyarakat lokal yaitu masyarakat yang sudah cukup lama berdiam pada suatu lokasi (Pribumi Asli Papua).

Perluasan kesempatan berusaha kepada Orang Asli Papua dapat diarahkan berusaha dalam beberapa cara yaitu :

  1. Perorangan (individu), keluarga dan kelompok usaha sejenis (sentra usaha, sentra industri).
  2. Pendekatan ekonomi keret (clan economy) dengan memanfaatkan penguasaan dan pemilikan sumber daya alam atas dasar hak ulayat untuk kesejahteraan bersama anggota keret.
  3. Pendekatan ekonomi kerakyatan yaitu perekonomian yang melibatkan partisipasi rakyat banyak, yang merupakan mata pencaharian rakyat banyak dan yang memberikan manfaat bagi rakyat banyak. Dalam hal ini pembinaan dilakukan oleh BUMD, BUMN atau Swasta Nasional.

– PT. Pangan Sari menampung hasil-hasil produksi peternakan, perikanan dan pertanian rakyat untuk dipasarkan guna memenuhi kebutuhan kepada perusahaan swasta nasional.

– Industri pakan ternak yang membeli bahan baku berupa kedelai, jagung dan ikan teri dari hasil produksi rakyat.

Orang Asli Papua yang hendak diberdayakan adalah golongan ekonomi lemah (GEL) yang tinggal dan berdiam :

– Di kota, pinggiran kota.

– Di pedesaan, pedalaman. pegunungan dan lembah.

– Nelayan di pantai, pesisir, danau dan pulau-pulau kecil.

– Pengusaha kecil, pengrajin dan sektor informal.

– Para pencari kerja dan pemuda pengangguran.

4.3. PBR Berorientasi Pasar

Perekonomian berbasis kerakyatan “Pasar” menciptakan pasar sebagai perekonomian yang berbasis kerakyatan, pasar sangat tergantung pada jumlah pembeli yang berada dalam pasar, ada tiga karakteristik pokok yaitu, mempunyai minat, penghasilan dan akses ketiga karakteristik tersebut :

  1. Pasar potensial, konsumen yang memiliki tingkat minjt tertentu terhadap penawaran pasar tertentu; misalnya semua orang berminat membeli kakao, namun akses ke petani kako sulit, atau petani di kampung cukup potensial namun sulit ke pasar oleh karena jalan transpor.
  2. Pasar yang tersedia (Available Market) konsumen yang memiliki kemampuan daya beli namun petani sebagai produsen kako tidak menjamin kualitas, kontinuitas
  3. Pasar yang memenuhi syarat (Qualified Available Market) sekumpulan konsumen yang memiliki minat, penghasilan, akses dan kualifikasi untuk penawaran tertentu.
  4. Pasar yang dilayani (served market otau target market) bagian dari kualifikasi available market yang ingin dimasuki kepmpok pengusaha lokal sebagai mitra kerja untuk mengakses kepada pasar yang potensial seperti eksport.
  5. Pasar Penetrasi (penetrated market) sekumpulan konsumen yang benar-benar telah membeli produk lokal.

4.3.1 Strategi Pasar Tunggal

Ada berbagai macam alasan yang mendasari sebuah perusahaan untuk memusatkan perhatian dan usahanya pada segmen pasar tunggal tertentu. Misalnya keterbatasan dana dan sumberdaya, segmen tersebut dipandang sangat potensial untuk dijadikan “batu loncatan” demi keperluan ekspansi dimasa datang. dan keinginan untuk meraih posisi pasar yang kuat dalam segmen yang dilayani. Disamping itu, sering kali untuk menghindari persaingan langsung dengan para pesaing besar, perusahaan kecil melakukan konsentrasi pada segment pasar tunggal, yakni dengan cara memilih ceruk pasar yang unik (Unique niche). Pasar yang dipilih ini bisa berupa segmen yang terabaikan atau kurang terlayani atau juga yang kurang menarik (karena dianggap terlalu kecil bagi perusanaan-perusahaan besar).

Tujuan pokok strategi ini adalah mencari suatu segmen yang diabaikan saat ini atau kurang terlayani, kemudian berusaha memenuhi kebutuhan segmen tersebut. Hasil yang diharapkan dapat tercapai adalah biaya yang rendah dan laba yang lebih tinggi. Bila dilaksanakan dengan baik, maka perusahaan yang menjalankannya akan memperoleh reputasi tersendiri dalam segmen pasar yang dituju. Meskipun demikian, strategi ini juga mengandung resiko besar, yaitu apabila terjadi perubahan lingkungan, terutama selera pasar. Jika konsumen mulai berubah seleranya, maka penghasilan perusahaan secara keseluruhan akan tergoncang. Selain itu bila segmen tersebut ternyata bisa mendatangkan keuntungan yang besar, maka sangat mungkin bila banyak pesaing yang tertarik. Dengan meningkatnya persaingan, maka profitabilitas perusahaan dapat berkurang.

Dalam rangka menerapkan strategi ini ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya :

  1. Melayani pasar dengan sungguh-sungguh, meskipun terdapat kesulitan pada mulanya.
  2. Menghindari persaingan dengan perusahaan-perusahaan yang telah mapan.

4.3.2 Strategi Multi pasar

Berbeda dengan strategi pasar tunggal yang hanya melayani satu segmen pasar saja, maka dalam strategi multi-pasar. perusahaan berusaha melayani beberapa pasar yang berbeda. Usaha yang dilakukan bisa berupa :

  1. Menjual produk yang berbeda dalam segmen pasar yang berlainan
  2. Mendistribusikan produk yang sama kepada sejumlah segmen pasar yang berbeda.

Tujuan strategi ini adalah untuk mendisversifikasikan dan mengurangi resiko, sehingga tidak bergantung semata-mata pada satu segmen pasar saja, Dengan demikian, bila suatu segmen pasar mengalami guncangan atau penurunan, maka secara keseluruhan perusahaan tidak terlalu terpengaruh. Persyaratan yang dibutuhkan untuk menerapkan strategi ini adalah:

  1. Memilih dan mempertimbangkan dengan matang dan hati-hati segmen-segmen yang akan dilayani.
  2. Menghindari konfrontasi dengan perusahaan yang melayani semua pasar.

Dengan menerapkan strategi ini diharapkan akan tercapai peningkatan penjualan dan pangsa pasar. Hal ini akan lebih mudah dicapai, bila setiap produk dan segmen pasar yang dilayani bisa memberikan sinerji positif.

4.3.3 Strategi Pasar Keseluruhan

Strategi ini dilaksanakan dengan cara melayani seluruh spectrum pasar dengan menjual produk yang terterdiferensiasi kepada segmen-semen pasar yang beda. Misalnya suatu perusahaan pakaian berusaha menawarkan busana bagi semua kelompok umur dan jenis kelamin. Tujuan digunakannya strategi ini adalah untuk menyaingi semua produk dalam pasar. Umumnya hanya perusahaan-perusahaan yang dominan dan telah mampu yang dapat menerapkan strategi ini. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam strategi ini, yaitu :

  1. Perusahaan perlu melakukan kombinasi yang berbeda-beda terhadap aspek harga produk, promosi dan strategi distribusi pada segmen-segmen yang berlainan.
  2. Harus ada komitmen manajemen puncak untuk berusaha mencakup dan melayani seluruh pasar.
  3. Perusahaan harus memiliki posisi keuangan yang kuat. Hal ini mutlak diperlukan karena tidak mungkin melayani semua segmen tanpa dukungan finansial yang kuat,

Hasil yang dicapai dan strategi ini adalah adanya peningkatan pertumbuhan dan pangsa pasar yang semakin luas. Hanya sedikit perusahaan yang mennerapkan strategi ini, diantaranya IBM (komputer mainframe dan personal computer), Coca cola (menawarkan berbagai macam minuman dengan variasi rana. seperti Coca coin, Diet Coke, ta, Minute maid dan fanta) dan General Motors (terdiri atas Chevrolet, Pontiac, Oldsmobile, Buick, Cadilac dan truk-truk kecil).

4.3.4 Strategi Geografis Pasar

Berdasarkan aspek geografis, strategi pasar dapat dibagi menjadi 4 macam, yaitu strategi pasar lokal, strategi pasar regional, strategi pasar nasional dan strategi pasar internasional.

Strategi ini dijalankan dengan melakukan konsentrasi usaha di suatu daerah tertentu yang relatif terbatas dan masih dekat dengan lokasi perusahaan. Umumnya perusahaan-peaisahaan pengecer dan organisasi jasa banyak yang mulai dengan strategi ini. Tujuannya adalah untuk mempertahankan kendali atas usaha atau bisnis yang dijalankan. Untuk dapat menerapkan strategi ini ada dua faktor yang perlu dipenuhi. yaitu :

  1. Perusahaan memiliki reputasi yang baik di daerah geografi tersebut.
  2. Perusahaan bisa mempertahankan persyaratan pasar.

Hasil yang ingin dicapai dari strategi ini adalah kesuksesan dalam jangka pendek, yang pada gilirannya akan diperluas kedaerah geografis lainnya. Dengan demikian, sebenarnya strategi ini baru langkah awal, yang kemudian akan dikembangkan dan diperluas hingga dapat mencakup daerah geografis yang lebih luas.

  1. Strategi Pasar Regional

Perusahaan yang menerapkan strategi ini beroperasi dalam dua atau tiga provinsi atau wilayah dari suatu negara. Contohnya harian Suara Merdeka yang berkonsentrasi dalam melayanj permintaan di Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Ada dua sasara utama dari penerapan strategi ini, yaitu :

  1. Untuk mendifersifikasikan resiko, sehingga tidak hanya tergantung pada satu bagian dari suatu wilayah.
  2. Mempertahankan pengendalian yang tersentralisasi.

Dengan menggarap pasar regional, hasil yang diharapkan adalah peningkatan pertumbuhan pangsa pasar yang lebih luas, dan mampu mengatasi para pesaing. Untuk mencapai hasil tersebut perlu dipenuhi 3 syarat berikut:

  1. Adanya komitmen manajemen untuk melakukan ekspansi
  2. Tersedianya sumberdaya yang memadai
  3. Memiliki kemampuan logistik unluk melayani daerah regional.
  1. Strategi Pasar Nasional

Strategi ini ditandai dengan beroperasinya perusahaan secara nasional, dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan memperluas jangkauan pelayan. Contohnya Harian Kompas, Republika Suara Pembaharuan, Media Indonesia, Bisnis Indonesia, dll. Minimal ada 3 persyaratan utama dalam menerapkan strategi ini, yaitu :

  1. Adanya komitmen manajemen puncak
  2. Sumber daya modal yang besar
  3. Kemauan untuk mengambil resiko, karena strategi ini mengandung resiko kegagalan yang besar. Hasil yang ingin dicapai melalui strategi pasar nasional adalah meningkatnya pertumbuhan, pangsa pasar dan laba.
  1. Strategi Pasar Internasional

Cakupan wilayah geografi dalam stralegi ini sangat luas, yaitu meliputi beberapa negara. Semakin maraknya pernbentukan blok-blok perdagangan (seperti MEE, AFTA, NAFTA. dll) dan diratifikasinya perjanjian perdagangan bebas menciptakan peluang besar untuk memasuki pasar internasional. Perusahaan yang menerapkan strategi ini bertujuan untuk mencoba memanfaatkan peluang diluar bisnis domestik. Persyaratan pokok yang harus dipenuhi antara lain.

  1. Adanya komitmen manajemen puncak
  2. Sumber daya modal yang besar.
  3. Memiliki pemahaman mengenai pasar internasional.

4.4. PBR Bagian Dari Perokonomian Nasional dan Global

Dasar perekonomian Berbasis Kerakyatan (PBR) muncul sebagai akibat adanya kesenjangan sosial ekonomi dalam masyarakat yang tampak pada perbedaan pendapatan dan kesejahteraan yang mencolok antara satu kelompok dengan kelompok yang lain dalam masyarakat. Ada kelompok masyarakat yang tingkat pendapatan dan kesejahteraannya tinggi, ada kelompok masyarakat yang pendapatan dan kesejahteraannya rendah, dan ada pula yang pendapatan dan kesejahteraannya sangat rendah atau miskin sekali. Kegiatan ekonomi masyarakat lapisan bawah inilah yang disebut ekonomi rakyat.

Keadaan kesenjangan tersebut telah terjadi dan berlanjut dalam dimensi waktu sejak zaman pemerintah Belanda dikenal sebagai keadaan yang dualistis. Ini bukan hanya fenomena yang terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara berkembang lainnya. Dengan perjalanan waktu, terlebih lagi dengan kemajuan teknologi, perbedaan produktivitas makin tajam, sehingga menyebabkan seakan-akan ada pengotakan antara pelaku ekonomi penduduk asli yang lemah dan bersifat tradisional, ekonomi rakyat, dan ekonomi pendatang yang modern dan kuat.

Sampai sekarang dualisme dalam perekonomian Indonesia belum berhasil dihilangkan, meskipun integrasi sistem ekonomi tradisional ke dalam sistem ekonomi modern sudah semakin jauh berlangsung, Sebagai pendekatan, PBR dapat dikenal dari ciri-ciri pokoknya yang bersifat tradisional, skala usaha kecil, dan kegiatan atau usaha ekonomi bersifat sekadar untuk bertahan hidup (survival). Dualisme tersebut tidak mudah dihilangkan, karena menyangkut masalah penguasaan teknologi, pemilikan modal, akses ke pasar dan kepada sumber-sumber informasi, serta keterampilan manajemen.

Kenyataan tersebut membuat perekonomian Indonesia sulit untuk tinggal landas secara serempak di seluruh wilayah tanah air. Tinggl landas dimulai pada perekonomian masyarakat kota yang meliputi hanya sebagian kecil maryarakat Indonesia. Kelompok-kelompok masyarakat yang jumlahnya lebih besar yang menghuni daerah perdesaan dan pedalaman masih menghadapi tantangan berat untuk bisa mengaitkan kegiatan ekonomi mereka dengan sistem perekonomian modern yang sangat menekankan efisiensi dan produktivilas.

Dalam memasuki abad ke-21, bangsa Indonesia bertekad untuk kembali menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang sekarang ini sudah jauh lebih maju ekonominya. Akan tetapi tekad ini tidak ada artinya tanpa upaya untuk mengambil langkah-langkah kongkret sejak sekarang untuk benar-benar mewujudkan ekonomi tinggal landas secara lebih merata. Tantangan yang sudah jelas terbentang adalah liberalisasi perdagangan di kawasan ASEAN.

Tidak sedikit orang yang memandang dengan penuh kecemasan gagasan liberalisasi perdagangan itu. Bagi mereka liberalisasi perdagangan akan lebih menguntungkan negara-negara maju. Banyak yang mengkhawatirkan bahwa bagi negara-negara sedang berkembang liberalisasi perdagangan pada saat sumber daya manusia belum disiapkan dan pranata-pranata sosial, politik, dan ekonomi belum kukuh akan mengarah pada ketergantungan yang lebih besar pada negara-negara maju, mulai dengan ketergantungan ekonomi sampai pada ketergantungan budaya.

Di pihak lain, kenyataan menunjukkan bahwa negara-negara yarrg menempuh jalan ekonomi bebas tumbuh lebih maju dari pada mereka yang menganut paham lain. Berbagai studi menunjukkan bahwa perdagangan dunia akan meningkat dengan berlakunya rezim berdagangan bebas. Peningkatan volume perdagangan berarti peningkatan produksi yang berarti pula peningkatan lapangan kerja dan akhirnya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.

Bahwa perdagangan internasional adalah pendorong kemajuan yang efektif secara empiris telah dibuktikan oleh percepatan proses industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi negara-negara industri baru, yang melandaskan, strateginya pada ekspor. Selain itu, sekarang ini persoalannya bukan lagi setuju atau tidak setuju, ikut atau tidak ikut. Tidak ada bangsa di dunia ini yang bisa memilih tidak ikut, karena itu akan berarti tersingkir dari arus perdagangan dan pergaulan ekonomi masyarakat dunia. Hubungan internasional, perdagangan termasuk di dalamnya, menganut asas resiprositas. Kalau ingin sebanyak-banyaknya dan sebebas-bebasnya memasuki pasar orang lain, maka juga harus memberikan kesempatan orang lain untuk memasuki pasar domestik. Makin lama pembedaan pasar domestik dan pasar internasional akan menjadi makin tipis dan kabur, akhirnya yang ada hanyalah satu pasar saja.

Persoalan yang mendasar bukanlah memperdebatkan prinsipnya. tetapi bagaimana memanfaatkannya untuk keuntungan yang sebesar-besarnya bagi bangsa Indonesia, dan mengurangi kemungknan dampak-dampak yang merugikan. Jawabannya sebetulnya hanya satu, yaitu meningkatkan daya saing. Peningkatan daya saing ini harus bersumber dari peningkatan efisiensi dan produktivitas, dan tidak bisa melalui cara lain. Proteksi untuk sementara masih bisa digunakan untuk menopang daya saing di pasar dalam negeri Itupun secara bertahap harus dilepas, lebih cepat lebih baik, karena adanya proteksi membuat beberapa lini ekonomi berproduksi secara tidak efisien.

Peningkatan daya saing untuk memenangkan pacuan perdagangan global dihasilkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah peningkalan kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi dan penguatan kelembagaan. Kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi baik makro maupun sektoral, baik moneter dan fiskal maupun di sektor riil, harus serempak dan harmonis mendukung upaya ini.

Permasalahan yang paling mendasar adalah bagaimana nasib rakyat banyak dalam keseluruhan proses yang sedang berlangsung. Dengan kata lain, bagaimana nasib ekonomi rakyat yang 26 juta orang (14% dari jumlah penduduk) hidup di bawah garis kemiskinan sebagai akibat liberalisasi perdagangan itu? Tantangan yang besar dalam menghadapi globalisasi adalah pencegahan akan semakin membesarnya kesenjangan.

Persaingan bebas dalam kondisi ekonomi rakyat seperti sekarang tidaklah seimbang, dan karenanya tidak wajar dan tidak adil. Selama ini saja, lapisan ekonomi rakyat yang diartikan sebagai usaha ekonomi kecil masih lemah dan kurang tangguh untuk menghadapi dan memperoleh manfaat dari ekonomi yang terbuka. Tanpa ada usaha yang terarah pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan hanya akan melewati lapisan rakyat banyak ini, dan akan dinikmati hanya oleh sedikit orang. Inilah tantangan yang harus dijawab, yang tidak bisa dihindari.

Garnbar berikut ini memperlihatkan pemihakan yang nyata yang diwujudkan dalam langkah-langkah strategis untuk memperbaiki kondisi keterbelakangan dan memperkuat posisi daya saing ekonomi rakyat itu.

Gambar.1 Pembangunan ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat

Dari gambar tersebut mengedepankan transformasi struktural (structural transformation) untuk memperkuat kedudukan dan peran ekonomi rakyat dalam perekonomian nasional guna peningkatan kesejahteraannya.

Transformasi struktural tersebut dilakukan melalui peroses perubahan dari ekonomi tradisional ke ekonomi modern, dari ekonomi lemah ke ekonomi yang tangguh, dari ekonomi subsisten ke ekonomi pasar, dan ketergantungan kepada kemandirian. Perubahan strukutral serupa ini mensyaratkan langkah-langkah mendasar yang meliputi pengalokasian sumber daya, penguatan kelembagaan, serta pemberdayaan sumber daya manusia.

Dalam upaya ini beberapa langkah strategis harus ditempuh. Diantaranya yang periling adalah sebagai berikut :

Pertama, peningkatan akses kepada aset produksi (productive assets). Bagi masyarakat petani yang masih dominan dalam ekonomi rakyat, modal produktif yang utama adalah tanah. Oleh karena itu, kebijaksanaan pemilikan, penguasaan dan penggunaan tanah sungguh penting dalam melindungi dan memajukan ekonomi rakyat ini. Pemilikan tanah yang makin mengecil (marjinalisasi) harus dicegah. Persoalan ini tidak mudah, karena menyangkut baya dan hukum waris. Namun, dalam rangka proses modernisasi budaya masyarakat, kebiasaan untuk membagi tanah semakin kecil sebagai warisan harus dihentikan. Untuk bisa melakukan hal itu memang harus ada alternatif, antara lain berupa nemanfaatan lahan secara lebih efisien (misalnya mixed farming), penciptaan lapangan kerja perdesaan di luar pertanian (agroindustri dan industri jasa) dan sebagainya. Dalam rangka ini upaya untuk memelihara dan meningkatkan produktivitas (dan demikian juga nilai aset) lahan harus ditingkatkan, misalnya dengan pengairan, pemupukan, diversifikasi usaha tani atau pemilihan jenis budi daya (untuk memperoleh nilai komersial yang tinggi).

Segi lain yang juga sangat mendasar dalam rangka transformasi struktural ini ternyata adalah akses kepada dana. Tersedianya kredit yang memadai dapat menciptakan pembentukan modal bagi usaha rakyat sehingga dapat meningkatkan produksi pendapatan dan menciptakan surplus yang dapat digunakan untuk membayar kembali kreditnya dan melakukan pemupukan modal.

Salah satu kendala yang membatasi adalah adanya prasyarat perbankan yang membuat masyarakat lapisan bawah umumnya dinilai tidak banable. Keadaan ini menyebabkan sedikitnya interaksi antara lembaga keuangan yang melayani pemberian kredit dengan masyarakat kecil yang rnemerlukan kredit. Akhirnya, modal makin banyak terkonsentrasikan pada sektor modern, khususnya pada usaha besar, yang pada gilirannya makin mempertajam jurang kesenjangan. Oleh karena itu, langkah yang amat mendasar yang harus ditempuh adalah membuka akses ekonomi rakyat kepada modal. Untuk itu diperlukan pendekatan yang berbeda dengan cara-cara perbankan konvensional.

Akses kepada modal harus diartikan sebagai keterjangkauan yang memiliki dua sisi, pertama, ada pada saat diperlukan, dan kedua, dalam jangkauan kemampuan untuk memanfaatkannya. Dengan demikian, persyaratan teknis perbankan seperti yang biasa digunakan di sektor mdoern, tidak bisa diterapkan pada lini ini, paling tidak pada tahap awal.

Kedua, memperkuat posisi transaksi dan kemitraan usaha ekonomi rakyat. Sebagai produsen dan penjual, posisi dan kekuatan rakyat dalam perekonomian sangatlah lemah. Mereka adalah price taker karena jumlahnya yang sangat banyak dengan pangsa pasar masing-masing yang sangat kecil. Lebih jauh lagi, dalam operasinya mereka biasanya menghadapi kekuatan usaha besar yang melalui persaingan tidak seimbang akan mengambil keuntungan yang lebih besar. Akibatnya tidak ada insentif untuk meningkatkan mutu karena keuntungan dari peningkatan mutu jusrtu akan ditarik oleh usaha besar. Oleh karenanya, kualitas dan tingkat keterampilan rendah menjadi karakateristik dari ekonomi rakyat. Selain itu, khusus untuk yang bergerak di sektor pertanian bahan makanan. umumnya jumlah penawaran rakyat tidak dapat menyesuaikan secara cepat dengan naik turunnya harga, terlebih lagi sifat produksinya yang tidak tahan lama.

ketiga,meningkatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Program pendidikan harus makin terkait dengan kebutuhan pasar kerja, terutama pasar kerja setempat Pelayanan kesehatan juga harus makin ditingkatkan secara makin merata, disertai dengan peningkatan gizi. Di samping pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan, kesehatan berperan besar dalam monentukan produktivitas.

Keempat, kebijaksanaan pengembangan industri harus mengarah pada penguatan industri rakyat. Industri rakyat, yang berkembang menjadi industri industri kecil dan menengah yang kuat harus menjadi tulang punggung industri seperti yang dilakukan di Taiwan. Proses industrialisasi harus mengarah ke perdesaan dengan memanfaatkan sumber daya lokal setempat yang umumnya adalah agroindustri. Dalam proses itu justru harus dihindari “penggusuran” ekonomi rakyat karena yang datang adalah industri berskala besar yang mengambil lahan subur, merrsak lingkungan, menguras sumber daya, dan mendatangkan tenaga kerja dari luar, yang justru rnenyaingi ekonomi rakyat sendiri. Akibatnya adalah lerjadinya proses pemiskinan baru dan diciptakannya kesenjangnn antara pendatang dan masyarakat selempat. Industri perdesaan, adalah industri kecil dan sedang, yang memanfaatkan sumber daya lokal setempat dengan cara yang lestari (sustainable development), memakai tenaga kerja setempat, menggunakan lembaga-tembaga sosial dan ekonomi yang ada, dan memperkuat ekonomi rakyat pada umunnya. Pola industrialisasi serupa ini harus ditempuh bersamaan dengan pengembangan industri berteknologi tinggi dan padat modal di perkotaan.

Kelima, kebijaksanaan ketenagakerjaan yang merangsang tumbuhnya tenaga kerja mandiri sebagai cikal bakal lapisan wirausaha baru, yang berkembang menjadi wirausaha kecil dan menengah yang kuat dan sating menunjang, Dalam rangka itu secara luas harus disediakan pelatihan keterampilan teknis, manajemen dan perdagangan, termasuk pengetahuan mengenai pasar serta cara untuk memperoieh pendanaan. Bagi mereka harus disediakan sistem pendanaan seperti kredit yang diperingan syarat-syarat dan biayanya, modal ventura dan sebagainya.

Keenam, pemerataan pembangunan antar daerah. Ekonomi rakyat tersebar di seluruh penjuru tanah air. Dalam rangka pengembangan ekonomi rakyat ini, perhatian besar perlu diberikan agar pembangunan dapat lebih merata dan dengan demikian memberi kesempatan yang lebih besar pada ekonomi rakyat di daerah yang terbelakang untuk berkembang. Oleh karena itu perlu ada pendekatan yang sesuai dengan kondisi setempat, atau yang disebut sebagai region specific atau local specific .

Selain itu Pemerintah Daerah perlu diberi tanggung jawab yang lebih luas untuk membangun daerahnya dan memperkuat ekonomi rakyatnya. Dalam rangka itu proses percepatan otonomi daerah yang bertitik tumpu di tingkat kabupaten, maka sumber daya manusia dan institusi-institusi daerah perlu terus-menerus diperkuat. Penguatan itu antara lain dengan makin memberikan kepercayaan yang lebih besar dalam mengelola dana pembangunan.

Ketujuh, adanya perangkat peraturan daerah yang memadai untuk melindungi dan mendukung pengembangan ekonomi rakyat yang ditujukan khusus untuk kepentingan rakyat kecil.

4.5. Model Pengembangan Perekonomian Berbasis Kerakyatan di Papua

Dalam rangka lebih memberikan keberpihakan kepada penduduk lokal maka diperlukan suatu bentuk yang memungkinkan suatu proses yang berlangsung secara sistematis dan terus menerus sehingga membentuk sosok pengusaha Papua yang mampu menjalankan bisnis secara mandiri.

Beberapa bentuk atau pola pengembangan kegiatan perekonomian yang berbasis kerakyatan antara lain :

Mengingat kondisi masyarakat di Papua saat ini, maka pola pengembangan perekonomian berbasis kerakyatan dapat dilakukan secara terintegrasi antara berbagai dinas/instansi dan lembaga keuangan yang berada di Papua,

Pengembangan ini dilakukan di mulai dari mempersiapkan orang asli Papua dengan skill dan kemampuan tehnis produksi dan pemasaran yang dilaksanakan oleh Dinas Tehnis seperti perindustrian, perdagangan, koperasi. Selanjutnya pihak perbankan atau ventura masuk dengan menyediakan berbagai fasilitas keuangan dan akhirnya organisasi seperti Kadin dan PD Irian Bhakti berperan dalam memasarkan hasil produksi

Kondisi budaya masyarakat, kemampuan wirausaha, entreprenural skills, maka pembangunnn pertanian dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat adalah : pola keterpaduan. Aktivitas ini dilakukan oleh tiga komponen :

– Komponen produksi, pembinaan ketrampilan management, skill dan tehnik produksi.

– Koponen penyandang dana/intermediasi perbankan

– Komponen distribusi dan pemasaran

Pengembangan ekonomi masyarakat dilakukan secara terpadu dengan masing-masing komponen mengambil tanggung jawab sesuai fungsinya. Instansi tehnis melakukan fungsi empowering/penguatan skills, kemampuan produksi, teknik produksi, pembinaan management dan sebagainya.

Setelah melalui pembinaan dan penguatan kemampuan tehnis dan siap memasuki kegiatan produksi, maka komponen perbankan memainkan peranan sebagat penyandang dana dengan berbagai kebijakan yang memudahkan baik mekanisme dan prosedur serta jaminan dan biaya bungan pinjaman. Perbankan milik pemerintah daerah khususnya Bank Pembangunan Daerah dapat melalukan fungsi tersebut, dengan memberdayakan Bank Perkreditan Rakyat dan Ventura yang beroperasi di wilayah Papua.

Setelah fase produksi selesai dan siap untuk dipasarkan, maka Perusahaan Daerah Irian Bhakti yang memiliki cabang-cabang di seluruh Kabupaten di wilayah Provinsi Papua dapat memainkan peranan dalam pemasarannya Hal tersebut dapat dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai institusi yang berkaitan dengan kegiatan promosi dan perdagangan di daerah ini seperti Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kadin dan sebagainya.

Pemerintah menyediakan bibit (kopi, coklat. buah-buahan, peternakan dan perikanan) melalui APBD dan diberikan secara bebas kepada masyarakat untuk di tanam diatas lahannya sendiri.

  1. Pengembangan Bisnis Incubator

Membangun pusat-pusat pelatihan dan diklat yang disediakan secara khusus untuk melatih dan mempersiapkan orang asli Papua menjadi pedagang/ pengusaha. Pola yang dikembangkan di negara lain seperti di Amarika dan juga Malaysia dimana dibangun fasiliias untuk membina dan mengembangkan pengusaha berkulit hitam

Kebijakan Permodalan dalam rangka pengembangan perekonomian berbasis kerakyatan dilakukan melalui berbagai pola sebagai berikut:

Pemerintah daerah dapat mengalokasikan dana untuk pengembangan perekonomian berbasis kerakyatan. Dana tersebut disalurkan melalui BPD, Ventura maupun BPR. Kebijakan tersebut dilakukan selain untuk menjaga kontinuitas, tetapi juga untuk rrendidik masyarakat asli Papua mengenai perbankan.

  1. Bagian dana BUMN untuk pengembangan Usaha Kecil dan menengah Pemerintah Daerah dapat melakukan pembicaraan dengan BUMN untuk mendapatkan bagian dana tersebut untuk pembinaan barbagai kegiatan perekonomian berbasis kerakyatan khususnya masyarakat asli Papua.

Kebijakan di bidang produksi diarahkan untuk memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada masyarakat lokal untuk menguasai proses produksi. Di bidang kelautan misalnya, nelayan harus dilengkapi dengan peralatan penangkapan ikan (jaring, perahu, motor) sehingga mereka melaksanakan produksi secara penuh. Di bidang peternakan, misalnya penyediaan kandang, bibit obat serta makanan ternak juga dilakukan sehingga memungkinkan pengusaha Papua dapat menjalankan bisnis secara baik. Di bidang pertanian, upaya dilakukan dengan menyediakan bibit, peralatan produksi dan pupuk hendaknya dilakukan dalam upaya memberikan kesempatan kepada penduduk asli Papua menguasai kegiatan produksi di bidang pertanian.

Pemasaran yang dilaksanakan dalam rangka kebijakan pengembangan perekonomian berbasis kerakyatan, menghendaki bahwa seluruh saluran distribusi mulai dari produksi sampai ke pasar harus dikuasai oleh mayoritas penduduk asli Papua. Sehubungan dengan itu, berbagai kebijakan penduduk asli Papua untuk dapat terlibat dalam kegiatan pemasaran.

a) Kegiatan Nelayan

Pengembangan masyarakat nelayan di Papua dalam rangka pengembangan ekonomi kerakyatan, maka mulai dari produksi penangkapan ikan sampai kepada pemasaran harus dikuasai oleh nalayan Papua.

Untuk itu kebijakan di bidang kelautan atau nelayan, dilakukan dongan menyediakan peralatan produksi seperti jaring, perahu motor, dsb, dan juga diciptakan pasar penjulan ikan, atau dapat mengaktifkan tempat pelelangan ikan yang sudah lama tidak berfungsi.

b) Produksi Pertanian

Kegiatan pertanian mulai dari produksi, panen dan pemasaran dikuasai sepenuhnya oleh penduduk asli Papua.

Kegiatan-kegiatan produksi dan pemasaran yang berkaitan dengan pengelolaan hutan dapat melibatkan mayoritas penduduk asli Papua. Pembentukkan Kopermas dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan hendaknya melibatkan peranan yang lebih tesar dari penduduk asli.

Sehubungan dengan itu, maka kebijakan pemasaran yang dilaksanakan dalam rangka pengembangan ekonomi yang berbasis kerakyatan diarahkan untuk menciptakan berbagai bentuk saluran distribusi yang memungkinkan orang asli Papua terlibat lebih banyak dalam pemasaran.

a) Skenario 1. Tanpa Pedagang Pengumpul

pada skenario pertama ini, saluran distribusi mulai dari produksi sampai pemasarannya dikuasai oleh orang asli Papua. Nelayan misalnya bagaimana mereka menangkap ikan dan membawa sampai ke pasar.

b) Skenario 2. Dengan Pedagang Pengumpul

Mengingat kondisi penduduk asli Papua yang melakukan kegiatan ekonomi secara sporadis dan tidak kontinue, maka pembinaan yang diberikan dalam rangka kebijakan pemberdayaan perekonomian berbasis kerakyatan, memerlukan kebijakan khusus. Kebijakan khusus yang dimaksud ialah kebijakan yang memungkinkan orang asli Papua dapat menjual dengan tetap pada space pasar yang disediakan oleh Pemerintah. Berkaitan dengan itu beberapa efirmatif action yang perlu dilakukan sebagai berikut:

  1. Pemisahan secara permanen Los Pasar untuk Orang Asli Papua dan pedagang dari luar.
  2. Pemerintah membeli Los Pasar/Ruko misalnya, kemudian dikontrakkan dengan harga yang terjangkau oleh pedagang/pengusaha Asli Papua,

Menyediakan lokasi/pasar khusus (pasar tradisional) yang diperuntukkan bagi pedagang/pengusaha Papua

Pola pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan untuk penrjuatan penduduk asli Papua :

KONDISI LEMBAGA-LEMBAGA PENUNJANG PEREKONOMIAN RAKYAT

3.1. Lembaga Pembiayaan

Lembaga pembiayaan sebagai salah satu unsur penunjang ekonomi rakyat dalam hal parmodalan yang saat ini ada di Papua terdiri dari lembaga bank dan lembaga keuangan bukan bank.

Lembaga pembiayaan yang ada di Provinsi Papua adalah :

v Bank Umum, terdiri dari ; Bank Rakyat Indonesia (BRI) , Bank Papua. Bank BNI 1946, Bank Mandiri, Bank Danamon dan Bank Tabungnn Negara (BTN)

v Bank Perkreditan Rakyat ( BPR Phidectama, BPR Irian Sentosa, BPR Nusaintim, BPRS Muamalat).

v Perusahaan Modal Ventura ( PT. Sarana Papua Ventura )

v Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian

Dari sisi wilayah operasi, Bank Papua dan BRI telah beroperasi sampai di tingkat distrik sedangkan bank-bank yang lain (Mandiri BNI 1946, dan Danamon) dan Perum Pegadaian sudah beroperasi di tingkat ibukota kabupaten di seluruh Papua. BTN berkedudukan di ibukota Provinsi Papua. PT Sarana Papua Ventura berkedudukan di Jayapura namun memiliki wilayah operasi di seluruh Papua. Sebagian besar BPR berkedudukan di Jayapura, kecuali BPT Nusa Intim yang berkedudukan di Biak Timur.

Walaupun lembaga keuangan baik bank maupun non bank sudah hadir di Papua sampai tingkat kabupaten/distrik dan menyalurkan dana bagi permodalan usaha, namun kenyataan menunjukan bahwa aliran dana modal tersebut lebih banyak dinikmati oleh pengusaha monengah dan besar.

Sebagian besar usaha ekonomi rakyat di Papua masih dikategorikan sebagai usaha mikro yang unaccessible terhadap dana modal yann disalurkan oleh perbankan karena beberapa kendala, Yaitu :

  1. Kendala Geografis. Lembaga keuangan terutama bank umum sangat sulit untuk menjangkau pengusaha mikro karena tempat usaha dan tempat tinggal terpencil dan tersebar,
  2. Kendala Ekonomi. Usaha yang dikelola berskala kecil dan terisolir (sulit transportasi dan pasar) sehingga biaya transaksi bagi kedua belah pihak sangat tinggi,
  3. Kendala Hukum/Legalitas. Dengan adanya regulasi yang mensyaratkan perbankan untuk memperhatikan legalilas usaha cukup debitur maka ada sebagaian perbankan mengalami hambatan dalam membiayai pengusaha mikro/sektor informal.
  4. Kendala Desain. Banyak program pengembangan usaha kecil/mikro merupakan paket kebijakan pemerintah yang sering kali tidak sesuai dengan kondisi obyektif sektor usaha mikro yang sangat bervariasi berdasarkan lokasi, jenis usaha, dan latar belakang sosial budaya setempat.
  5. Kendala Koordinasi. Lemahnya koordinasi dengan instansi publik atau pihak -pihak yang terkait dengan pengembangan usaha mikro
  6. Kendala Tenaga Kerja. Pengembanga usaha mikro mengharuskan adanya monitoring dan dampingan yang kontinyu membutuhkan tenaga lapangan yang jumlahnya harus memadai.

Oleh karenanya untuk melayani usaha mikro lembaga keuangan sangat berhati-hati bahkan dituntut memiliki nyali guna menemukan cara atau pola yang tepat agar memperkecil resiko yang dinilai sangat tinggi.

Situasi ini mendorong para pelaku ekonomi mikro terpaksa memanfaatkan lembaga informal yang ada disekitar wilayahnya berupa rentainer, pengijon atau pelepas uang lainnya yang dapat diperoleh dengan mudah, cepat dan tepat dengan tingkat suku bunga yang sangat tinggi. Akibatnya banyak usaha mikro tidak berkembang.

Dibandingkan dengan perbankan, lembaga pembiayaan bukan bank memiliki potensi dan peluang yang lebih cukup dalam menyalurkan dana modal kepada pengusaha mikro dan minimikro dipandang dari segi mekanisme pembiayaan yang selama ini dipraklekkan :

  1. Bank Perkreditan Rakyat ( BPR )

v Pemberian kredit ( modal kerja / investasi ) berkisar dan Rp. 50 000.- sampai dengan Rp. 50. 000. 000.-

v Melayani usaha perorangan / kelompok baik yang berbadan hukum maupun tidak atau dengan kata lain usaha yang produktif

v Memiliki tenaga lapangan yang bekerja secara kontinyu di lapangan sesuai wilayah kerjanya untuk melakukan kegiatan monitoring, penagihan kredit dan identifikasi calon nasabah,

v Melakukan kerjasama pembinaan dan pendampingan calon nasabah maupun nasabah dengan Lembaga Swadaya Masyarakai (LSM).

v Memberikan sanksi/tindakan hukum kepada nasabah yang lalai melaksanakan kewajibannya dan dinilai merugikan pihak bank.

  1. Perusahaan Modal Ventura

v Pemberian Penyertaan Modal (modal kerja/investasi) minimal Rp. 5.000.000.- (lima juta rupiah )

v Melayani usaha perorangan/kelompok baik yang berbadan hukum maupun tidak atau dengan kata lain usaha yang produktif.

v Melakukan dampingan dan monitoring rutin dilapangan baik oleh staf maupun melalui kerja kemitraan dengan Pelugas penyuluh Lapangan (PPL) dari instansi tehnis pemerintah maupun LSM yang mempunyai wilayah kerja didaerah tersebut.

v Memberikan sanksi/tindakan hukum kepada Perusahaan Pasangan Usaha (PPU) yang lalai melaksanakan kewajibannya dan dinilai merugikan pihak perusahaan,

  1. Perusahaan Umum Pegadaian

v Dapat memberikan pinjaman modal kerja minimal Rp.50.000 –

v Melayani usaha perorangan yang tidak berbadan hukum

v Melakukan tindakan hukum berupa pelelangan barang jaminan jika peminjam tidak melaksanakan kewajibnnnya.

Dengan demikian jelas terlihat bahwa lembaga keuangan tersebut di atas memang tersedia bagi usaha mikro. Namun karena keterbatasan modal maka lembaga-lembaga keuangan tersebut cenderung terkonsentrasi di daerah-daerah perkotaan (Jayapura, Biak dan Sorong).

Oleh karena itu penting bagi pemerintah untuk melakukan perkuatan kelembagaan tersebut dan menyiapkan prasarana lain yang memadai untuk mempercepat dan memperluas pelayanan permodalan bagi pelaku usaha mikro sehingga dapat menjangkau banyak tempat di Provinsi Papua.

3.2. Peraturan dan Perundang-undangan

  1. Kondisi Peraturan Perundang-undangan

TAP MPR No. 16/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka Demokrasi Ekonomi, yang dipopulerkan dengan sebutan Ekonomi Kerakyatan mempuyai arti penting sebagai pernyataan tekad agar pemerintah benar-benar berpihak pada ekonomi rakyat yang sebelumnya mengalami masa suram meskipun berbagai perundang-undangan telah menyebutkan perlindungan padanya. Ketetapan MPR tersebut menegaskan prinsip-prinsip sebagai berikut

  1. Pemberian prioritas kepada pengusaha ekonomi lemah terutama pemanfaatan sumber daya alam.
  2. Usaha kecil, menengah dan koperasi sebagai pilar ekonomi nasional sebagai vvujud keberpihakan pada kelompok usaha ekonomi rakyat.
  3. Usaha besar dan BUMN sebagai mitra pengusaha kecil, menenga dan koperasi.
  4. Tanah sebagai basis usaha pertanian diutamakan bagi pertumbuhan pertanian rakyat.

Menurut Mubyarto, meskipun sejak pemerintahan Bung Karno ekonomi rakyat “tidak digencet”, tetapi faktanya mereka “Tergencet”(Mubyarto 1999 : MPR dan Ekonomi Kerakyatan, Tanggapan atas kritik Kian Gie).

Lebih lanjut dikatakan pula bahwa Demokrasi ekonomi harus diartikan sebagai desentralisasi pengambilan keputusan-keputusan ekonomi.

Namun kenyataannya kebijakan Nasional di Bidang Ekonomi dalam hal regulasi cenderung memperhatikan usaha besar dan lembaga keuangan yang memperoleh fasilitas dan kemudahan.

Diterbitkannya UU No. 22/1999 secara subtantif memberikan kewenangan dan keleluasaan (desentralisasi) kepada daerah untuk dapat mengambil langkah-langkah konkrit operasional dan prakarya untuk memajukan daerahnya dan mendatangkan kesejahteraan masyarakat, melalui penyelenggaraan pemerintahan yang berpihak pada rakyat, termasuk pengembangan ekonomi rakyat.

Peluang ini juga sulit untuk dilaksanakan di daerah, karena masih terjadi tarik menarik penyelenggaraan kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, sehingga sebagian besar kebijakan pembangunan sektor masih ditentukan oleh Pemerintah Pusat seperti sektor kehutanan, perikanan, pertambangan yang merupakan potensi primadona di Provinsi Papua.

MPR telah menetapkan kebijaksanaan khusus Provinsi Papua dan Aceh, yang lebih lanjut diterjemahkan oleh Pemerintah dengan PP NO. 21/2001 juga telah menetapkan kebijaksanaan Otonomi khusus kepada Provinsi Papua, yang peresmian/pencanangannya telahdilaksanakan sejak tanggal 1 Januari 2002.

Pelaksanaan UU No. 21 tahun 2001 terbentur dengan kebijakan Pemerintah Pusat dalam hal pemberlakuan peraturan perundang-undangan lain dan pembentukan elemen pelaksanaan Otonomi Khusus.

3.3. Birokrasi

Birokrasi pemerintahan adalah salah satu unsur penunjang yang penting dalam pengembangan perekonomian rakyat. Hal itu disebabkan karena birokrasi pemerintahan memiliki sejumlah kewenangan urusan formal yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi, baik di tingkat produksi, konsumsi, maupun distribusi barang dan jasa. Kewenangan formal tersebut juga menunjukan posisi dan peran dari birokrasi dalam sebuah sistem kemampuan sumberdaya manusia yang ada. Dalam kurun waktu tertentu, pelaku ekonomi skala kecil membutuhkan pembinaan dari intansi teknis, hal mana membutuhkan kecakapan dari sumberdaya manusia dari pihak yang menjadi pembina.

Birokrasi yang akuntabel adalah birokrasi yang harus dapat mempertanggung jawabkan pelaksanaaan fungsi dan perannya, khususnya dalam kaitan dengan pengembangan perekonomian rakyat. Birokrasi yang akuntabel juga siap untuk digugat peran dan fungsinya manakala menyimpang dari yang diatur dalam regulasi. Dalam kenyataan banyak sekali kasus-kasus pelanggaran kewenangan dalam birokrasi, atau yang dikenal dengan KKN, yang dalam banyak hal lebih menguntungkan pemilik modal besar, dan menghambat perkembangan perekonomian rakyat.

tabel. 4. Ijin-ijin Yang Dapat Dikeluarkan Oleh Pemerintah Kabupaten (Kasus Kab. Manokwari)

IJIN YANG DIKELUARKAN

(PT, CV, Wartel, Firma, UD, Koperasi, Yayasan)

  1. SITU Toko
  2. SITU Kios
  3. SITU Rumah Makan
  4. SITU Aneka Industri
  5. SITU Industri Wisata

(Hotel, Restoran, Bar, Cafe.B’lyar)

  1. Surat Ijin Menjual Minuman Beralkohol
  2. Surat Ijin Angkutan Umum

Dinas Pariwisata 10. Surat Ijin Usaha Rumah Makan

11. Surat Ijin Usaha Hotel Melati Satu

12. Surat Ijin Usaha Pondok Wisata

13. Surat Ijin Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum (Bilyar, gelanggang renang, pemandian alam, kolam memancing)

Dinas Petemakan 14. Ijin Usaha Perdagangan Sarana Produksi Petemakan

15. Ijin Usaha Jagal/Pemotongan Ternak

16. Ijin Usaha Perdagangan Ternak dan Bahan Asal Ternak Dinas Pekerjaan Umum 17. Ijin Mendirikan Bangunan

Dinas LLAJ 18. Surat Ijin Trayek Angkulan’Penumpang Umum

Peran dan fungsi birokrasi di tingkat provinsi papua dan di tingkat pemerintah kabupaten/kota, ditentukan oleh sistem regulasi yang mengalokasikan kewennangan pengembangan perokonomian rarakyat. Semakin besar kewenangan yang diberikan, maka semakin besar pula peluang keterlibatan pamerintah provinsi/kabupaten dalam proses pengembangan perekonomian rakyat.

Sebelum diberlakukunnya UU No. 22/1990 dan UU No. 25/1990, kewenagan Pemda dalam mendukung perekonomian rakyat tergambar sistem perijinan yang dapat dikeluarkan oleh pemerintah – kabupaten/provinsi. Kasus Kabupaten Manokwari sebagaimana tertera dalam Tabel 1 yang memberikan gambaran kewenangan perijinan perekonomian daerah.

Sistem perijinan yang diatur bervariasi untuk setiap kabupaten dan kota. Nampak pada Tabel 1. bahwa sebelum era desentralisasi berlaku. kewenangan Birokrasi Pemda tingkat II selaku pihak yang berhadapan langsung upaya pengembangan perekonomian rakyat sangat terbatas Bidang-bidang yang menyentuh perekonomian rakyat, yaitu sektor ekstraktif (kehutanan, kelautan dan perikan, pertanian, pertambangan) tidak menjadi bagian keweenangan Pemerintah Kabupaten. Kewenagan tersebut ada di tingkat provnsi dan atau pusat pemerintahan di Jakarta.

Posisi dan peran Pemda dalam meningkatkan porekonomian rakyat di tingkat provinsi maupun kabupaten tidak banyak beberubah. Kewenangan Pemda dalam bidang atau sektor yang potensial dalam mengembankan perekonomian rakyat belum banyak diperoleh Pemda. Walaupun sejumlah kewenangan telah diperluas. Sektor-sektor ekstraktif ynng memberikan peluang pengembangan perkekonomian rakyat, seperti kehutannn, perikanan dan kelautan, dan pertambangan sudah mendapatkan kewenangan yang lebih baik, namun masih dalam batasan-batasan yang justru kurang mendorong perekonomian rakyat.

Selain perijinan, upaya pembinaan dan pengawasan terhadap perijinan yang dikeluarkan bagi pelaku ekonomi kecil (UKM) sebagai komponen terbesar dalam perekonomian rakyat dilakukan oleh sejumlah instansi teknis yang memiliki kapabilitas dan kompetensi dengan bidang-bidang usaha yang dikembangkan oleh UKM.

Untuk menjamin bahwa perijinan yang diberikan kepada pelaku ekonomi kerakyatan, di tinhkat birokrasi diprlukan suatu badan pengawas perijinan yang dalam operasionalisasinya bekerjasama dengan pihak-pihak terkait menegakan aturan/Perda. Pengawasan ini merupakan bagian dari penegakan hukum (Law Enforcement) yang secara langsung atau tidak langsung menciptakan kepastian hukum dalam berusaha.

3.4. Lembaga-Lembaga Penelitian dan Pengembangan

Lembaga-lembaga penelitian yang dimaksud di sini adalah organisasi pemerintah atau non pemerintah yang secara terstruktur melakukan kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangnn di bidang-bidang tertentu yang secara langsung atau tidak langsung terkait dengan upaya-upaya pengembangan perekonomian rakyat.

Tabel 5. Lembaga/Organisasi Penelitian Yang Ada di Provinsi Papua

1 Balai penelitian kehutanan Kehutanan Manokwari 2 Balai inventarisasi hutan Kehutanan Jayapura 3 Balai penelitian peranian Pertanian Jayapura, Manokwari Dept. Pertanian UNCEN 4 Pusat Penelitian Kependudukan Kependudukan Jayapura UNCEN 5 Pusat penelitian irian jaya Antropologi Jayapura Yayasan Bhakti Cenderawasih UNCEN 6 Pusat penelitian Hukum dan HAM Hukum Jayapura Uncen 7 Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lingkungan Hidup Jayapura UNIPA 8 Pusat Penelitian Pemberdayaan Fiskal dan Ekonomi Daerah Sosial Ekomi Manokwari UNIPA 9 Pusat penelitian ubi-ubian dan sagu Pertanian Manokwari UNIPA 10 Pusat penelitian keanekaragaman hayati Biologi Manokwari UNIPA 11 Badan penelitiandan pengembangan pemda papua Jayapura Pemda Prov. Papua 12 Badan metearologi dan geofisika Meteorologi Semua kab. Dept. perhubungan 13 Stasiun lembaga penelitian antariksa nasional Klimatologi/antariksa Biak Lapan

tabel 5 menunjukan bahwa lembaga-lembaga penelitian adalah milik pemerintah daerah dan universitas dan swasta (kolaborasi Pemda dan Uncen), dan berkedudukan di dua kota, yaitu Jayapura dan Manokwari.

Di samping lembaga-lembaga penelitian tersebut, beberapa lembaga swadaya masyarakat dan swasta nirlaba juga melaksanakan kegiatan penelitian sesuai dengan concern masing-masing lembaga. Di bidang lingkungan hidup, misalnya, terdapat cabang organisasi-organisasi tingkat dunia seperti WWF (World Wide Fund for Nature), The Conservation International (Cl), The Nature Conservation (TNC), dan the Natural Resources Management (NRM). Walaupun bersifat insidentil, sejmlah badan usaha di bidang jasa konsultan juga melakukan upaya-upaya penelitian maupun pengkajian sebagai bagian dari bisnis informasi yang dikelolanya.

PERSIPURA BERANG ! (bukti PSSI melakukan kebohongan publik)

Terkuak sudah apa sebenarnya yang terjadi dibalik hiruk pikuk keikutsertaan Persipura Jayapura di ajang Liga Champions Asia musim 2020, hal itu diketahui manajemen Persipura setelah mendapat surat yang dikirimkan AFC kepada PSSI tertanggal 30 November 2020, terkait keberadaan Persipura dan usulan PSSI untuk menggantikan Persipura dengan Arema Indonesia dan Persija Jakarta.
“Dari surat ini akhirnya jelas bahwa, PSSI yang telah mengusulkan kepada AFC agar kami diganti di Liga Champions Asia, mereka ingin kami diganti oleh Arema dan Persija Jakarta, walaupun dengan sangat jelas AFC menyampaikan bahwa, berlaga di Liga champions adalah hak Persipura sebagai juara liga domestik musim sebelumnya,” tegas Benhur Tommi Mano, Ketua Umum Persipura, dalam jumpa pers bersama wartawan di Hotel Relat, Jayapura, Jumat (2/12) kemarin.
“Dan apabila nanti kalau kami benar tidak ikut Liga Champions Asia, PSSI yang harus bertanggung jawab, karena itu adalah mutlak hak kami, kami diundang AFC untuk ikut Liga Champions karena kami juara musim lalu, dan itu jelas dalam surat AFC ini, jelas kami kecewa dengan kenyataan ini, karena ini menyangkut harkat dan martabat orang Papua, kenapa kami diperlakukan seperti ini,” ujar Tommi Mano sambil menunjuk surat yang dikirimkan AFC kepada PSSI. Pada tanggal 30 November 2020 lalu, AFC mengirimkan sebuah surat kepada PSSI, surat dengan kop AFC tersebut ditujukkan kepada Prof. Dr. Ir. Djohar Arifin Husin, selaku President Football Assosiation of Indonesia, surat tersebut tertulis dalam bahasa inggris, yang apabila diterjemahkan, artinya seperti ini :
Salam Hormat, Re-konfirmasi keikutsertaan klub klub di Indonesia pada kompetisi ACL dan AFC Cup 2020. Merujuk surat saudara (PSSI.red) tertanggal 29 November 2020 perihal tersebut diatas. Kami (AFC.red) mencatat surat dan permintaan saudara untuk mengganti Persipura Jayapura dengan Arema Indonesia sebagai peserta babak play off ACL dan juga mencalonkan juara ketiga Liga Indonesia (Persija Jakarta).
Sesuai regulasi kompetisi ACL 2020 dan AFC Cup 2020, klub-klub yang dapat dipilih sebagai wakil pada AFC Club Competition adalah juara dan runner up dari liga domestic, karena itu, Persipura Jayapura dan Arema Indonesia adalah klub-klub yang terpilih sesuai dengan club entry forms resmi yang diserahkan kepada AFC oleh PSSI.
Bila Persipura tidak mau untuk berpartisipasi dalam AFC Club Competition pada musim 2020, dengan sangat menyesal kami informasikan pada anda bahwa klub juara ketiga (Persija Jakarta), tidak boleh ikut serta atau mengganti.
Kami mengucapkan terimakasih pada anda untuk mencatat perihal diatas, dan harap konfirmasi apakah Persipura Jayapura mau mengambil bagian (ikut serta) dalam babak play off ACL pada hari kamis, 1 Desember 2020.
Bila Persipura Jayapura tidak bersedia ikut serta, maka tidak akan ada peserta dari Indonesia dalam babak play off ACL, dan Arema Indonesia akan ikut serta dalam babak penyisihan AFC Cup 2020 (fase grup).
Demikian isi surat dari AFC yang berisi usulan PSSI untuk mengganti Persipura di ajang Liga Champions,”Dari isi surat ini kan sudah jelas kalau Persipura berhak ke Liga Champions karena juara Liga Indonesia musim lalu,” beber Tommi Mano.
Seperti pemberitaan beberapa media, bahwa PSSI memberikan ancaman kepada Persipura bahwa apabila tetap mengikuti kompetisi yang bukan digulirkan oleh PSSI maka PSSI akan menjabut jatah Persipura di Liga Champions Asia,”Ini kan lucu, yang punya hak kita, kenapa mereka yang harus mencabut itu,” berang Tommi Mano.
Selama ini, dalam pemberitaan, dikatakan bahwa, AFC juga tidak menyetujui kalau peserta ACL adalah mereka yang mengikuti kompetisi diluar PSSI, hal ini oleh Persipura dianggap sebagai pembohongan public,”Ini kan pembohongan, padahal PSSI sendiri yang tidak menginginkan Persipura ikut ACL, jadi kalau nanti Persipura tidak ikut, itu atas usulan PSSI, jadi PSSI harus bertanggung jawab untuk itu, dan kami akan menuntut hak kami, ini persoalan harkat dan martabat orang Papua, Persipura ini kebanggaan masyarakat Papua,” tegasnya.
Diduga sebagian kalangan, bahwa, PSSI sedang mengusahakan agar Arema versi Siti Nurzannah dan Persija versi Hadi Basalamah untuk dapat bermain di Liga Champions Asia dan AFC Cup musim 2020, kedua klub tersebut dianggap loyal karena mengikuti kompetisi IPL yang digulirkan oleh PSSI sebagai Federasi.
Dan sebagai akibat dari keputusan AFC nanti, Persipura akan mengambil langkah hokum untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak Persipura dalam keikutsertaannya pada Liga Champions Asia musim 2020.

7 Keajaiban Janin

Proses pembelajaran janin sudah dimulai sejak dalam kandungan, janin ikut belajar pada trimester kedua dan ketiga, seperti di dalam ruang Amphitheater yang lebih canggih dari kelas mana pun di dunia.Berikut keahlian-keahlian bayi yang sudah dimiliki sejak dalam kandungan, menurut Fred J. Schwartz, MD, ahli anestesi dari Piedmont Hospital in Atlanta, Georgia.

1. Kebiasaan Menghisap Jempol
Wajar jika kebanyakan bayi suka mengisap jempol, karena ternyata kebiasaan ini sudah dimulai sejak dalam kandungan. Refleks isap ini membantu bayi saat akan menyusu, maka ibu tidak perlu lagi memaksakan untuk menyodorkan puting. Keahlian mengisap jempol ini sudah mulai sejak minggu ke-19 karena otak bayi telah mencapai jutaan saraf motorik sehingga ia mampu membuat gerakan sadar seperti menghisap jempol.

2. Kebiasaan Berenang
Sejak bayi di dalam kandungan ia sudah terbiasa berada di dalam air selama 9 bulan, yaitu cairan ketuban. Bayi sedang senang-senangnya berenang di usia kehamilan 20 minggu. Saat ini bayi sedang membuat gerakan-gerakan aktif yang dapat dirasakan ibu, mungkin karena panjangnya baru separuh dari panjang lahir dan beratnya baru sekitar 340 gram sehingga ia masih punya banyak ruang untuk berenang.

3. Kebiasaan Cegukan
Saat hamil, terkadang ibu merasakan gerakan continu di satu bagian perutnya. Bisa jadi saat itu janin sedang cegukan. Hal ini biasanya dirasakan sejak kandungan menginjak minggu ke-25. Hal ini menandakan bahwa janin sedang berlatih pernapasan. Saat ini janin menghirup dan mengeluarkan air ketuban, ketika air ketuban yang tertelan terlalu banyak maka ia akan cegukan. Hal ini sesuatu yang wajar.

4. Mendengar
Banyak yang menyarankan ibu hamil sering-sering berkomunikasi dengan janin dalam kandungannya. Hal ini benar, karena meski masih di dalam kandungan, janin sudah dapat mendengar suara ibunya sendiri dan suara orang lain di sekitarnya. Saat melakukan USG 4 dimensi, selain memeriksa kelengkapan organ tubuh, dokter juga akan meminta janin melakukan sesuatu dan melihat respon si janin. Misalnya, ketika janin sedang menunduk, ketika dokter meminta ia menegakkan kepala, ternyata janin bisa mengikuti perintah. Jadi sebaiknya ibu hamil berhati-hati dalam berkata-kata karena janin juga bisa mendengar jika ibunya sedang marah-marah. Hal ini terbukti dengan reaksi perut yang langsung mengencang.

5. Membedakan Terang dan Gelap
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi sejak dalam kandungan 27-28 minggu sudah bisa membuka matanya, sehingga sudah bisa membedakan antara gelap dan terang. Bisa terlihat ketika dokter menempelkan senter di perut, ia bisa melihat cahaya yang masuk melalui dinding rahim. Bahkan janin bisa mengedipkan mata jika menurutnya terlalu silau atau terang.

6. Mengekspresikan Diri
Sejak dalam kandungan janin ternyata sudah bisa mengekspresikan diri sesuai dengan yang sedang dirasakan ibunya. Jika ibu dalam keadaan bahagia, duduk santai sambil mendengarkan musik, maka janin juga akan merasakan kebahagiaan tersebut sehingga ia akan tersenyum. Sebaliknya, jika ibu sedang stres, maka janin akan menyengitkan dahi. Lihat saja pada potret USG 4 dimensi bayi Anda.

7. Belajar Dua Bahasa
Ternyata, bayi di dalam kandungan bisa belajar memahami bahasa yang sering ia dengar, bahkan hingga dua bahasa sekaligus. Dan kemampuan ini terbawa hingga mereka lahir. Dalam sebuah penelitian yang dimuat di Psychological Science, bayi yang terbiasa mendengar dua bahasa selama dalam rahim ibunya kelak akan lebih mudah belajar dua bahasa. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian psikolog dari Universitas of British Columbia dan Organization for Economic Cooperation and Development di Perancis.

MUHAMMAD YASIN (27209030)

Kamis, 15 April 2020

MATRIX IFAS PT. BAKRIE TELECOM, Tbk

MATRIX IFAS PADA PT. BAKRIE TELECOM, TbkKESIMPULAN DAN STRATEGI PERUSAHAAN BERDASARKAN METODE MATRIXStrategi Perusahaan Internal : Konsumen dibuat tersenyum dan penasaran dengan berbagai taktik pemasaran ESIA yang secara tangible dinikmati melalui iklan-iklan esia. Lihat saja bagaimana esia mendobrak melalui pricing strategy, dengan munculnya tarif per detik, dan sms per karakter. Sebuah inovasi baru dari ESIA yang langsung menghadang para pemain lama di seluler, akhirnya hal ini diikuti hampir oleh semua operator. Langkah yang cukup diperhitungkan adalah strategy untuk memecahkan pasar seluler khususnya GSM dengan memunculkan berbagai macam Hape low end tematis. Dan langkah inipun kemudian diikuti oleh hampir seluruh operator seluler di Indonesia. Strategy baru yang dimunculkan untuk mengakuisi dan sekaligus penetrasi pasar adalah ESIA Bispak (Esia bisa pake tarif manapun..), strategy ini menguatkan positioning ESIA sebagai TERMURAH, karena pelanggan dapat langsung membandingkan tarif operator seluler lainnya bahkan memberi diskon lagi sebanyak 10 %, untuk membuktikan bahwa ESIA adalah termurah. Dan langkah ini pun mulai diikuti oleh operator- operator seluler yang lainnya. Serta merta belum habis penasaran market terhadap ESIA BISPAK, muncul kembali iklan ESIA SUKA-SUKA untuk memanjakan pelanggan dan calon pelanggan dengan tawaran memilih nomer ESIA sesuai keinginan. Erick Mayer mengeluarkan istilah Innovation Destructive dengan strategy-strategy yang dilakukan dalam menggoyang pasar seluler. Efektifkan program-programnnya? Hal ini belum bisa dinilai efektif atau tidak karena ESIA juga masih pada level market share yang sama dibanding dengan operator-operator lainnya. Paling tidak, perlu analisis lebih untuk mengatakan strategy yang dijalankan ESIA cukup ampuh untuk memenangkan heart share pelanggan.

Tapi lepas dari efektif atau tidaknya strategy tersebut langkah-langkah ESIA benar-benar menunjukan sebuah operator yang memposisikan dirinya sebagai Market Challenger.

Eksternal : Walaupun termasuk pendatang baru di dunia seluler tapi ESIA tidak masuk dengan strategy statis atau lebih dikenal dengan market follower. ESIA masuk memposisikan dirinya sebagai penantang pasar. Dari perspektif marketing setidaknya ESIA menerapkan 9 Hukum dasar pemasaran dari 22 hukum dasar (“The 22 immutable laws of marketing”, Al Ries & Jack Trout, 1993) dan menggunakan seluruh konsep pergantian (6 konsep) di lateral marketing, menggunakan 3 konsep strategi bersaing tetapi lemah di 1 taktik pemasaran. 9 (sembilan) hukum dasar marketing yang dilakukan adalah Hukum kepemimpinan, Hukum Kategori, Hukum ingatan/pikiran, Hukum persepsi, Hukum Tangga, Hukum Lawan. Hukum Atribut, Hukum Ketunggalan dan Hukum eksklusivitas. Hukum kepemimpinan menyebutkan ‘ lebih baik menjadi yang pertama daripada menjadi yang lebih baik, dan ini terlihat dengan jelas dari berbagai strategy tarif esia, merubah dari tarif pe menit menjadi per detik, tarif sms per kirim pesan (per 160 karakter) menjadi per karakter, menawarkan nomer sesuai keinginan pelanggan dengan ESIA SUKA-SUKA, dan lainnya dan hampir selalu dalam setiap promo ESIA menyebutkan sebagai yang Pertama di Indonesia. Mungkin tidak lebih baik dari kompetitor seluler lainnya, tetapi ESIA menjadi yang pertama dalam programprogram tersebut. Hukum kategori, menyebutkan ‘ Jika anda tidak dapat menjadi yang pertama dalam sebuah kategori, buatlah kategori baru yang menjadikan Anda yang pertama’. ESIA jelas tidak masuk dalam persaingan Coverage, atau kategori teknologi tinggi seperti halnya GSM dengan 3G, 3,5 G, atau bahkan layanan Black berry, tetapi ESIA masuk dengan hukum kategori di atas, bahwa Jikalah tidak bisa mengalahkan market leader dalam semua kategori maka menanglah di beberapa kategori dimana market leader lemah. ESIA memainkan dengan menawarkan 14 Hape Tematis, mempositioningkan sebagai operator seluler Termurah dengan program ESIA BISPAK, SMS per karakter dan lainnya. adalah mencoba tampil beda, jika dalam beberapa kategori kalah maka unggulah di kategori-kategori yang lepas dari perhatian market leader. Inilah yang sering dimainkan ESIA, salah satu promonya adalah Talk Time ESIA paling lama, dimana salah satu benefitnya adalah terima telepon esia dapat Rp.50,-, Variasi Hape Tematis yang menarik, SMS per karakter dan lainnya. 6 (enam) konsep yang lateral marketing yang digunakan oleh ESIA adalah konsep subtitusi, kombinasi, pembalikan, penghilangan, pembesar-besaran, dan pengubahan urutan. Dalam konsep subtitusi kita bisa melihat program-program pemasaran ESIA seperti ‘yang lain sibuk perang tarif, ESIA malah bagi-bagi uang’, ‘ESIA sukasuka& rsquo; pilih sendiri nomor anda dimana ESIA menghilangkan peran outlet lepas untuk langsung direct marketing melalui web, dan program-program lainnya. Dalam Konsep Penghilangan, ESIA tampil dengan tarif per detik, sms per karakter. Dalam konsep pembesar-besaran digunakan ESIA untuk focus menawarkan berbagai jenis Hape ESIA dengan sangat Tematis, bahkan terkesan ESIA adalah operator penjual Hape bukan Staterpacknya maupun Vouchernya, dan konsep-konsep lainnya. 3 (tiga) strategy bersaing yang diterapkan oleh ESIA yang pertama adalah keunggulan biaya murah melalui campaign ESIA TERMURAH, tarif layanan per detik, sms per karakter yang mengarah pada ‘pay what you use’. Strategy yang kedua adalah Focus, ESIA begitu focus menyasar potensi pasar terbesar seluler yaitu anak muda ke atas melalui Event sms-sms lucu dan terpendek, Event lomba bicara berjam-jam, hape-hape tematis, dan lainnya. Dan Strategy ke 3 yang dilakukan ESIA adalah Diferensiasi, dengan menawarkan program ESIA BISPAK, ESIA SUKASUKA, beragam Hape tematis, dan lainnya.Dengan pola di atas ESIA benar-benar memposisikan dirinya sebagai Penantang Pasar (market challenger). Dan akhirnya apapun yang dilakukan ESIA mau tidak mau, senang atau tidak senang akan menggelitik pasar dan sangat mengganggu langkah kompetitor. Saya melihat bahwa konsep Innovation Destructive yang di beberkan oleh Erich Mayer bukan lah sebuah konsep tunggal tapi merupakan gabungan dari berbagai macam strategy di atas. Langkah Cantik ESIA sebagai market challenger . Hanya ada satu taktik pemasaran yang agak lemah di ESIA. Dan ini menjadi titik yang kritis yang membuat strategy program di atas menjadi tidak powerfull untuk penetrasi dan akuisisi pasar. Hal tersebut adalah Managing Distribution Channel. Channel ibarat aliran darah dari jantung, jika bermasalah maka sebagus apapun jantungnya, darah tidak akan bisa mengalir. Pola Franchise yang digunakan ESIA sangat-sangat tidak menguntungkan, demikian pula konsep teritori dengan mengandalkan dealer juga sangat lemah untuk membawa misi penetrasi dan akuisisi pelanggan.

Generating a Strategic Factor Analysis Summary
(SFAS) Matrix
Alat yang digunakan dalam menyusun faktor-faktor strategis perusahaan adalah matriks SWOT. Matriks ini menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman internal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan internal yang dimiliki. Matrik ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis.
Untuk menyimpulkan faktor-faktor strategis sebuah perusahaan yaitu dengan cara mengkombinasikan faktor strategis eksternal (EFAS) dengan faktor strategis internal (IFAS) ke dalam sebuah ringkasan analisis faktor-faktor strategi (SFAS) yang pada saat digunakan bersamaan dapat menjadi seperangkat alat analisis yang kuat bagi analisis strategi. Penggunaan bentuk SFAS , yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pada kolom 1 yaitu faktor strategis. Daftarkan item-item EFAS dan IFAS yang paling penting ke dalam kolom faktor strategis kunci, kemudian tentukan mana yang merupakan kekuatan (S), kelemahan (W), peluang (O), dan ancaman (T).
2. Tinjau bobot yang diberikan untuk faktor-faktor dalam tabel EFAS dan IFAS tersebut, dan sesuaikan hingga jumlah total dalam kolom bobot EFAS dan IFAS mencapai angka 1.00.
3. Masukkan pada kolom peringkat yang diberikan manajemen perusahaan pada setiap faktor dari tabel EFAS dan IFAS.
4. Kalikan bobot dengan peringkat untuk menghasilkan jumlah pada kolom skor berbobot.
5. Berikan tanda X dalam kolom durasi untuk menunjukkan apakah satu faktor memilikihorizon waktu jangka pendek( 3tahun).
6. Berikan keterangan untuk masing-masing faktor dari tabel EFAS dan IFASSFAS yang dihasilkan meringkas faktor-faktor strategis eksternal dan internal dalam satu bentuk. SFAS hanya berisi faktor-faktor strategis yang paling penting dan menyediakan basis bagi perumusan strategi.

Reviewing of Mission and Objective
Point selanjutnya yang harus dilakukan manajemen ialah menguji ulang misi dan tujuan perusahaan saat ini sebelum dapat menghasilkan dan mengevaluasi strategi-strategi alternatif. Pengujian ulang ini sangat penting, karena ketika membuat keputusan, biasanya ada kecenderungan lebih berkonsentrasi hanya pada alternatif-alternatif saja daripada pada tujuan yang ingin dicapai. Kecenderungan tersebut meluas karena memang lebih mudah untuk berhubungan dengan tindakan alternatif yang ada daripada memikirkan apa yang ingin kita capai di masa yang akan datang.
Masalah-masalah dalam kinerja dapat muncul dari tidak tepatnya pernyataan misi, yang dapat terlalu sempit atau bahkan yang terlalu luas. Apabila misi tidak memberikan topik integratif bagi bisnis perusahaan, maka manajer-manajer menjadi tidak jelas denganarah perusahaan. Seperti tujuan-tujuan dan strategi dapat bertentangan, divisi-divisi yang saling bersaing satu sama lain, yang nantinya dapat membawa kerusakan bagi perusahaan sebagai satu kesatuan.
Tujuan-tujuan sebuah perusahaan dapat juga dinyatakan dengan cara yang tidak tepat. Tujuan tersebut mungkin terlalu menitikberatkan pada sasaran operasional jangka pendek, atau bahkan terlalu luas. Kemudian adanya kesenjangan perencanaan antara tujuan yang direncanakan dengan yang dicapai. Apabila kesenjangan tersebut terjadi, yang harus dilakukan ialah mengubah strategi untuk meningkatkan kinerja atau menurunkan tujuan yang akan dicapai agar lebih realistis. Oleh sebab itu diperlukan tinjauan yang bersifat konstan terhadap tujuan-tujuan.

Generating Alternative Strategies by Using a TOWS Matrix
Kita telah membahas bagaimana perusahaan menilai situasinya dan meninjau strategi-strategi perusahaan yang tersedia. Kemudian selanjutnya ialah mengidentifikasicara-cara alternatif sehingga organisasi dapat menggunakan kekuatan khususnya untuk menggunakan kesempatan atas peluang-peluang atau untuk menghindari ancaman dan mengatasi kelemahannya. Matriks SWOT menggambarkan bagaimana manajemen dapat mencocokkan peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi suatu perusahaan dengan kekuatan dan kelemahan internalnya. Metode ini mengarah pada brainstorming untuk menciptakan strategi-strategi alternatif yang mungkin tidak terpikirkan oleh manajemen. Matriks SWOT dapat diaplikasikan pada perusahaan bisnis tunggal maupun multi bisnis.

Strategi SO
· Pengembangan teknologi untuk membuat handphone yang berteknologi tinggi dan fitur yang lebih baik.
· Menambah jumlah persediaan (handphone)
· Menjual produk dengan harga yang bersaing
· Meningkatkan pemasaran produk pada pasar baru
· Meningkatkan efisiensi operasi dengan mengandalkan keunggulan bersaing
Strategi WO
· Peningkatan kualitas pelayanan
· Menekan tarif untuk mempertahankan gaya hidup masyarakat
· Meningkatkan saluran distribusi
· Memperluas jaringan
· Diversifikasi produk

Ancaman
· Persaingan produk dari perusahaan lain
· Persaingan dari pendatang baru
· Persaingan tarif dari perusahaan sejenis
· Krisis ekonomi melanda Indonesia
· Peningkatan peraturan-peraturan pemerintah.

Strategi ST
· Manajemen puncak yang memiliki kemampuan bersaing tinggi dengan perusahaan lain
· Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk
· Fokus bisnis kepada segmen retail
· Menambah fasilitas pelayanan konsumen di tempat-tempat yang strategis
· Meminimalkan laba jangka pendek untuk mempertahankan laba jangka panjang.
Strategi WT
· Segera mengatasi masalah teknis
· Pengembangan jaringan pelayanan baru
· Efisiensi dalam pemasaran
· Membuat inovasi produk
· Menggunakan tarif sesuai dengan peraturan pemerintah.

Dalam literature manajemen strategi, para peneliti mencoba mendefinisikan strategi korporat sebagai :
1.strategi yang menitik beratkan pada pernyataan jangka panjang dan luas mengenai bisnis apa yang akan memasuki oleh suatu organisasi dan apa yang di inginkan dalam bisnis tersebut.
2.suatu cara bagaimana perusahaan menciptakan nilai melalui konfigurasi dan koordinasi dari aktifitas multi pasar nya.

Strategi yang digunakan oleh PT. Bakrie Telecom adalah strategi pertumbuhan karena diperlihatkan sebagai arah yang diinginkan perusahaan untuk dijalankan yaitu mengembangkan program baru atau memperbaiki program yang lama dengan tujuan menarik lebih banyak pelanggan dan lebih banyak sumber daya.
Sebagai pertumbuhan melibatkan pencapaian sasaran pertumbuhan yang spesifik dengan meningkatkan level operasi perusahaan.

Matriks SPACE (Strategic Position and Action Evaluation)

Matriks SPACE mengindikasikan apakah straregi yang agresif, konservatif, defensive atau kompetitif yang paling cocok dengan organisasi tertentu. Sumbu untuk Matriks SPACE mewakili dua dimensi internal, yaitu kekuatan keuangan (financial strength – FS) dan keunggulan kompetitif (competitive advantage – CA)dan dua dimensi eksternal yaitu stabilitas lingkungan (environmental stability – ES) dan kekuatan industri (industrial strength – IS). Keempat faktor ini adalah penentu yang paling penting dari keseluruhan posisi strategis organisasi.

Posisi Strategis Internal Posisi Strategis Eksternal

Kekuatan Keuangan (Financial Stabilitas Lingkungan (Environmental
Strength – ST) Stability)

Tingkat pengembalian atas investasi Perubahan teknologi
Pengungkit (leverage) Tingkat inflasi
Laba yang dihasilkan Kisaran harga produk pesaing
Modal kerja Hambatan untuk masuk ke pasar
Arus kerja Tekanan persaingan
Elastisitas harga terhadap permintaan
Risiko yang ada dalam bisnis

Keunggulan Kompetitif Kekuatan Industri (Industry Strength –
(Competitive Advantage – CA) IS)

Pangsa pasar Potensi pertumbuhan
Kualitas produk Potensi laba
Siklus hidup produk Stabilitas keuangan
Kesetiaan pelanggan Utilisasi sumber daya
Utilisasi fasilitas pesaing Kemudahan masuk ke pasar
Pengetahuan teknologi Produktivitas
Kontrol atas pemasok dan distributor

Peringkat broker opsi biner:
Penghasilan di Internet
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: