Pengalaman Trading Saham Syariah Investasi forex tanpa trading

Peringkat broker opsi biner:

Pengalaman Jujur dari Seorang Ex-Trader Saham

Dalam berinvestasi di pasar saham, kita mengenal bahwa ada beberapa pendekatan yang dapat dipakai dalam menganalisis sebuah saham. Kita mengenai ada istilah Fundamental Analysis dan ada istilah Technical Analysis. Dalam keseharian nya (meskipun tidak selalu), fundamental analysis lebih banyak dipakai oleh value investor dan technical analysis lebih banyak dipakai oleh trader.

Termasuk yang mana kah saya? Well, sebelum saya menjawab, semoga apa yang akan saya tuliskan dalam artikel ini tidak menjadi debat kusir yang tidak berkesudahan. Karena sudah sering sekali terjadi debat kusir bahwa tipe trader lebih cepat kaya daripada tipe investor, atau tipe investor lebih baik daripada tipe trader, dst. Buat saya, baik investor maupun trader adalah PILIHAN. Tidak ada yang lebih baik atau buruk, yang ada hanyalah manakah tipe investasi yang lebih cocok dengan Anda? Apabila Anda memiliki waktu full time untuk nongkrong di depan laptop atau smartphone Anda mengecek pergerakan harga saham, mungkin Anda lebih cocok menjadi trader. Namun bagi Anda yang memiliki kesibukan lain (dan saya yakin banyak dari Anda yang menjadikan investasi di saham sebagai second source of income), mungkin Anda lebih cocok menjadi investor.

Saya sendiri awal nya ketika tahun 2009 – 2020 lebih banyak menjadi seorang Trader. Namun, sejak 2020 dan sampai saat ini, saya lebih memilih menjadi seorang Value Investor. Why? Nah inilah yang akan saya coba jelaskan dalam artikel ini. Sekali lagi, semoga apa yang akan saya tuliskan ini tidak menjadi bahan perdebatan, namun alangkah indahnya jika Anda bisa melihat nya dengan perspektif setengah gelas kosong dan bukan setengah gelas isi.

Ketika saya menjadi seorang trader di tahun 2008 – 2020, memang berasa sekali bahwa jika mestakung (semesta mendukung), profit yang dihasilkan dengan menjadi seorang trader bisa lebih cepat. Misalkan jika MA20 memotong MA50 ke atas (Golden Cross), maka itu adalah sinyal untuk membeli saham tersebut. Sebaliknya jika MA50 memotong MA20 ke bawah (Dead Cross), maka itu adalah sinyal untuk menjual saham tersebut.

Namun, secara tidak sadar, ketika menjadi seorang trader, saya seperti “dipaksa” untuk selalu berada di depan laptop memperhatikan pergerakan harga saham. Ketika market dibuka pukul 09.00, saya sudah standby di depan laptop. Saya bisa melepaskan mata saat pukul 12.00 – 13.30 (market break) dan setelah 16.15 (market closing). Di kantor pun, saya selalu mencuri waktu untuk melihat harga saham. Bahkan ketika lagi meeting, saya juga selalu pegang smartphone dan membuka layar online trading. Intinya adalah saya menjadi addicted untuk selalu melihat pergerakan harga saham. Hal ini dimaklumi karena untuk seorang trader, every second is momentum.

Namun, ketika Semesta Tidak Mendukung, psikologis sebagai seorang trader biasanya akan mulai terganggu. Seorang trader terbiasa untuk “berperang” setiap hari, sehingga ketika ia harus melakukan cut loss, yang ada dibenak nya adalah bagaimana membalikkan cut loss tadi supaya menjadi profit. Masalahnya di sini adalah, seorang trader biasanya memiliki jiwa harus menang. Jika saya cut loss 2%, maka saya harus profit 3% di transaksi berikut nya. Namun jika di transaksi berikutnya saya cut loss lagi 3% (sehingga kasar nya sudah cut loss 5%), saya harus profit 6% di transaksi berikutnya, dan begitu seterusnya.

Peringkat broker opsi biner:

Dan inilah pelajaran terbesar yang saya pelajari ketika menjadi seorang trader : Ketika Anda berusaha “membalikkan” kerugian Anda menjadi profit, maka sebenar nya FEAR dan GREED Anda sudah menguasai diri Anda. Dan ketika Fear dan Greed itu sudah menguasai diri Anda, maka keputusan trading Anda biasanya akan SALAH. Anda tidak lagi berpikir bahwa tujuan awal Anda berinvestasi di pasar saham adalah untuk melindungi nilai asset anda, namun tanpa disadari Anda sedang menuju arah menjadikan pasar saham sebagai arena judi.

Singkat katanya, Anda tidak lagi bisa berpikir jernih. Akibatnya? Anda menjadi stress dan depresi, dan bukan hal yang asing ketika kita mendengar ada trader saham yang bunuh diri karena menderita kerugian di pasar saham. Ini yang sempat saya alami di tahun 2020 (meskipun Puji Tuhan tidak sampai bunuh diri), namun saya merasakan stress dan depresi akibat kerugian yang saya alami di pasar saham. Keuntungan yang saya raih dari tahun 2009 – 2020 hilang disapu bersih saat tahun 2020. Sejak saat itu, saya menepi dari pasar saham selama kurang lebih 1 tahun.

Dengan sisa kepercayaan diri yang ada saat itu (lebih tepat nya penasaran), saya mulai membaca lebih banyak lagi literasi tentang pasar saham. Salah satu buku yang “menampar” saya adalah buku “How to Lose Money in Investment” karya Jere Jefferson. Di buku itu 100% menampar karena semua “kebodohan” saya ada semua di buku itu hahaha (tertawa miris mengingat masa lalu).

Cover Buku How to Lose Monet in Investment – Jere Jefferson.

Lalu kemudian, saya juga lebih banyak membaca buku-buku yang membahas investasi ala Warren Buffett ataupun buku yang membahas tentang Analisa Fundamental (kalau sebelumnya saya lebih banyak baca buku tentang membaca candle stick, membaca garis support dan resisten, dan technical analysis lainnya). Dari mix and match itu semua, saya mulai mengumpulkan lagi keberanian (dan tentu saja modal) untuk memulai lagi investasi saya di pasar saham dari pertengahan tahun 2020.

Menjadi seorang value investor sangatlah indah bagi saya. Saya melihat pasar saham dari sisi yang berbeda 180 derajat. Tidak hanya skill Analisa fundamental nya, namun yang lebih saya soroti adalah sisi psikologis nya. Berikut adalah beberapa perbedaan sudut pandang mendasar yang saya alami antara menjadi seorang value investor dan menjadi seorang trader.

Pertama, Seorang Value Investor justru senang jika harga saham turun. Loh koq bisa? Katakan Anda membeli saham A di harga 1000, jika harga saham tersebut kemudian turun ke 900 (turun 10%), seorang trader akan melihat itu sebagai sebuah KESALAHAN dan harus segera melakukan cut loss. Sementara seorang Value Investor akan melihat itu sebagai sebuah KESEMPATAN dan justru melakukan pembelian lebih banyak dengan catatan tidak ada masalah dengan fundamental perusahaannya. Bahasa kerennya, Saham Turun? Be Happy!

Kedua, seorang value investor tidak harus selalu berada di depan laptop. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, every second is momentum bagi seorang trader. Namun, bagi seorang value investor, harga saham akan naik dengan sendirinya selama kinerja perusahaan juga meningkat. Dan Value Investor sadar betul bahwa itu membutuhkan waktu. Menunggu di depan laptop tidak akan membuat harga saham naik, namun Analisa yang baik dan benar, akan memperbesar peluang kita mendapat profit dari pasar saham.

Ketiga, Seorang value investor membeli perusahaan, sedangkan seorang trader membeli harga saham. Dengan menjadi seorang Value Investor, saya tidak khawatir jika harga saham turun. Tapi saya akan khawatir jika perusahaan yang saya pegang sahamnya mengalami penurunan kinerja. Bukan nya bertanya kenapa harga sahamnya turun, tapi value investor akan menganalisa kenapa laba bersih nya turun? Mengapa arus kas nya negative? Mengapa hutang perusahaan meningkat? Dsb. Buat saya, mengetahui hal-hal seperti itu jauh lebih memberikan ilmu ketimbang mencari tahu kenapa harga saham naik atau turun.

Keempat dan yang paling penting buat saya, menjadi seorang Value Investor jauh lebih santai dan jauh dari kata stress. Tahukah Anda bahwa rata-rata Value Investor berusia panjang? Hal ini karena Value Investor jarang stress dan menikmati hidup. Warren Buffett di usianya yang 86 tahun masih terlihat sangat aktif dan sehat, bahkan ada yang lebih senior lagi, yaitu Irving Kahn, yang berusia 109 tahun ketika meninggal tahun 2020. Menjadi seorang trader, jujur saja, tingkat stress nya jauh lebih tinggi. Apa gunanya jika punya banyak uang tetapi tidak bisa menikmati hidup, bukan?

Apakah mudah berevolusi dari seorang trader menjadi seorang value investor? Tentu saja tidak. Awalnya masih saja tergoda untuk melakukan trading. Namun, saya berusaha konsisten dan semakin hari saya semakin bisa mengontrol diri. Hasilnya? Sejauh ini mampu membuat saya tertawa lebar melihat hasil investasi saya.

Sekali lagi, artikel ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan teman-teman trader, karena balik lagi ini semua adalah PILIHAN. Akhir kata, jika Anda memutuskan menjadi seorang trader, BE THE BEST TRADER. Dan jika Anda memutuskan menjadi seorang Value Investor, BE THE BEST VALUE INVESTOR. That’s All .

Mau Pilih Investasi atau Trading? Kenali Perbedaannya

Pernah ada kampanye “Ayo ke Bank” yang diprogramkan Bank Indonesia tahun 2007-2008 untuk mengajak masyarakat kembali memilih bank sebagai pilihan utama dalam mengelola uang. Gencarnya produk investasi dari berbagai model dan berbagai macam perusahaan sempat membuat orang mulai beralih dari tabungan ke investasi. Dan kini bank bukan lagi pilihan satu-satunya untuk berinvestasi karena masih banyak pilihan lain, seperti investasi di pasar modal, emas, properti, dan sebagainya.

Dalam dunia pengelolaan aset, sering kali kita mendengar istilah investasi dan trading. Awalnya, trading hanya digunakan dalam dunia pasar modal dan forex. Namun, sejatinya kedua istilah tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu mengembangkan aset dengan cara yang berbeda. Pemahaman yang baik mengenai perbedaan keduanya menjadi kunci sukses dalam mengembangkan aset yang kita kelola. Nah, apa sajakah perbedaan kedua istilah tersebut? Bagaimana kaitannya dengan investasi?

Baca Juga: Buat Pensiunan, Cobalah Bisnis Ini Agar Tetap Produktif

Pahami Perbedaan Antara Investasi dan Trading

Trading via onlinemoneyinvestment.com

Keduanya memang memiliki tujuan yang sama, yaitu mencari keuntungan. Namun, sebenarnya ada perbedaan yang mendasar antara investasi dan trading. Perbedaan tersebut terletak pada “siapa” yang bekerja secara aktif untuk mendapatkan keuntungan.

Karakteristik Investasi

Sederhananya, investasi diartikan sebagai kegiatan menanamkan modal. Dengan demikian, segala aktivitas ekonomi yang membutuhkan modal dianggap sebagai investasi. Investasi sifatnya pasif. Artinya, Anda sebagai investor tidak menjalankan langsung usaha tersebut untuk mendapatkan keuntungan karena sudah ada pihak lain yang mengelola uang tersebut. Dan Anda hanya tinggal menikmati keuntungannya (tak menutup kemungkinan adanya kerugian) saja.

Kelebihan dan Kekurangan Investasi

Saat menyimpan uang di bank, Anda bisa dikatakan sebagai investor. Uang tabungan Anda digunakan pihak bank untuk menjalankan kegiatan bisnis. Kelebihan sebagai investor adalah mendapat keuntungan dalam bentuk bunga tanpa perlu ikut menjalankan bisnis. Investasi adalah pilihan yang tepat bagi Anda yang memiliki kegiatan utama yang lain.

Sementara kekurangan dari investasi adalah Anda tidak bisa mengendalikan atau menentukan target profit yang ingin didapatkan dalam periode tertentu. Bisa saja profit yang Anda peroleh signifikan dan bisa saja kemungkinan terburuknya Anda menderita kerugian. Semuanya tergantung kepada pengelolanya dan tingkat profitabilitas perusahaan.

Karakteristik Trading

Kebalikan dari investasi adalah trading, yang sifatnya lebih aktif. Sebagai investor, Anda adalah pelaku usaha yang harus bekerja sendiri untuk mendapatkan target profit pada periode tertentu. Untung dan rugi sebagai hasil dari modal yang Anda tanamkan tergantung pada Anda sendiri sebagai trader. Jika sukses mengelolanya, Anda akan mendapatkan profit. Sebaliknya, Anda akan kehilangan uang dalam jumlah besar jika mengelolanya secara asal-asalan.

Salah satu contoh trading adalah aktivitas investasi di bursa efek atau foreign exchange (forex). Anda harus mulai memahami sifat dari forex trading, strategi trading, dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi profitabilitas Anda di dunia trading. Karena sifat trading menghendaki investor untuk aktif.

Pahami dan Putuskan Kapan Menjadi Investor dan Kapan Sebagai Trader

Dalam mengelola dana untuk investasi, Anda harus memahami apakah ingin mengambil keuntungan jangka pendek dengan margin keuntungan dan risiko kecil atau jangka panjang dengan margin dan risiko lebih besar. Dalam hal ini, Anda harus memutuskan apakah akan menjadi trader atau investor atau berlaku sekaligus sebagai investor dan trader. Hal ini bertujuan agar bisa mengambil keuntungan yang besar dalam transaksi, misalnya jual beli saham.

Contohnya begini kita mengaku sebagai investor. Portofolio kita berisi saham-saham yang fundamentalnya tidak jelas, semisal “saham gorengan” dan sebagainya. Kemudian saat melihat fluktuasi harga, kita menjadi panik. Atau sebaliknya kita mengaku sebagai trader, tetapi tidak memiliki rencana trading yang jelas. Hanya ikut-ikutan rumor atau tidak mau cut loss saat tren harga saham berbalik turun. Oleh karena itu, penting untuk memahami posisi Anda, kapan sebagai investor dan kapan sebagai trader.

Baca Juga: Kenali ATM Lebih Jauh: Jenis, Jaringan, dan Biaya yang Dikenakan

Logika Sederhana Di Balik Investasi

Dalam dunia investasi, berlaku dua kaidah utama yang harus dipahami investor supaya tidak terjebak dalam penyesalan. Terlebih penyesalan tersebut terjadi akibat penipuan investasi bodong yang kini sedang marak. Kaidah-kaidah yang perlu Anda ketahui, yaitu:

Makin berisiko investasi Anda, imbal baliknya makin tinggi. Contoh investasi risiko tinggi dengan potensi imbal balik besar adalah saham. Namun, ingat investasi ini beda dengan money game atau gambling/judi. Jadi, berhati-hatilah.

  • Jangan tempatkan investasi Anda ke satu instrumen investasi saja

Hal ini bertujuan jika terjadi risiko terhadap satu jenis investasi, aset Anda tidak akan hilang semuanya karena terbagi dalam beberapa jenis investasi.

Belakangan ini sering muncul penawaran agen yang bisa datang ke rumah-rumah dan menawarkan investasi dengan mengeluarkan sejumlah uang, baik sebagai modal atau biaya registrasi. Konsekuensinya, Anda diminta untuk bekerja keras membangun jaringan (misalnya mengajak orang untuk bergabung atau membeli suatu produk) dan profit yang diperoleh ditentukan seberapa banyak orang yang bisa Anda ajak. Jenis seperti ini bukanlah investasi, melainkan lebih tepatnya Anda adalah agen pemasaran sebuah produk. Prinsipnya, kalau investasinya pasif, Anda tidak perlu bekerja.

Mengenal Berbagai Jenis Investasi Terbaik dan Terpercaya untuk Anda

Ilustrasi Investasi via moneycontrol.com

Berikut ini beberapa jenis investasi yang aman dan bisa Anda coba untuk mengembangkan aset.

Investasi Properti

Investasi jenis ini cocok bagi Anda yang tidak ingin berspekulasi dengan dana investasi. Kelebihan investasi properti, seperti tanah dan real estate, adalah nilainya yang selalu bertambah. Namun, kekurangannya adalah modal yang dibutuhkan relatif besar ketimbang investasi lainnya. Investor bisa menikmati keuntungan nilai jual yang naik saat properti dijual. Dan juga penghasilan bulanan jika disewakan.

Investasi Emas

Emas banyak diburu investor karena memiliki likuiditas yang tinggi. Gampang dijual, bisa digadaikan, dan harga jual cenderung naik. Cara investasinya juga gampang. Anda cukup membeli emas dan menjualnya suatu saat ketika Anda membutuhkan dana atau harganya sedang naik. Anda bisa membeli emas batangan Aneka Tambang (Antam) di toko emas, Pegadaian, atau ke butik emas Antam secara langsung jika ingin investasi emas mulai dari nominal 1 gram sampai 500 gram.

Investasi Reksa Dana

Produk reksa dana paling cocok bagi investor pemula yang baru mengenal pasar modal. Reksa dana menawarkan begitu banyak pilihan, seperti reksa dana campuran, surat utang negara, reksa dana saham dan reksa dana terproteksi yang bisa disesuaikan dengan profil risiko investor. Secara sederhana, reksa dana dapat diartikan dengan menyebar investasi Anda dengan menggunakan instrumen investasi yang ada. Return on Investment yang ditawarkan biasanya lebih tinggi, yakni sekitar 8-25%) dibanding tabungan atau giro. Pengelola investasi melalui produk reksa dana disebut manajer investasi.

Investasi Tabungan, Deposito, dan Obligasi

Deposito dan tabungan merupakan investasi yang paling aman, tetapi nilai imbal baliknya paling kecil. Bahkan, jika bank tempat Anda menabung dilikuidasi atau ditutup, Pemerintah akan menjamin uang Anda. Tipe investasi ini cocok bagi Anda yang tidak menyukai spekulasi alias ingin investasi yang aman tanpa risiko.

Investasi obligasi mirip dengan tabungan. Hanya saja dana obligasi dikelola perusahaan. Secara sederhana, obligasi sama dengan surat utang (aksep) jangka panjang yang dikeluarkan perusahaan atau Pemerintah untuk nominal dan jangka waktu tertentu. Caranya gampang, Anda cukup meminjamkan uang kepada perusahaan dan Anda mendapatkan bunga selama jangka waktu pinjaman (biasanya antara 5-20 tahun).

Investasi saham

Jika sudah familiar dengan pasar modal, Anda bisa masuk ke investasi saham. Dengan membeli saham dari sebuah perusahaan, otomatis Anda sudah memiliki andil (share) di perusahaan sesuai dengan dana yang diinvestasikan. Anda bisa memperjualbelikan saham tersebut lewat perusahaan sekuritas atau dibiarkan saja sampai nilainya naik untuk tujuan jangka panjang. Profit yang Anda peroleh disebut dividen yang bisa didapatkan setiap tahun sekali.

Apapun Jenis Investasinya, Pastikan Memahami Cara Kerja dan Risikonya

Penting untuk diketahui investor, apa pun jenis investasi yang Anda pilih, pastikan menerapkan manajemen risiko investasi secara benar untuk meminimalkan risiko kerugian akibat hal-hal yang tidak Anda prediksi sebelumnya. Manajemen risiko bisa berjalan dengan baik jika Anda memahami cara kerja dan alur dana investasi. Jangan cepat tergoda dengan untung besar dalam waktu singkat. Dalam investasi, selalu berlaku high risk, high return. Jadi berhati-hatilah dalam mengelola dana Anda.

Peringkat broker opsi biner:
Penghasilan di Internet
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: