Pendaftaran Sistem Perdagangan Alternatif Kenali Sistem Perdagangan Alternatif Sebelum Memulai

Peringkat broker opsi biner:

Kenali Sistem Perdagangan Alternatif Sebelum Memulai Trading

Industri Perdagangan Berjangka yang ada sudah ada saat ini tampaknya masih harus berbenah diri seiring dengan maraknya keluhan dan pengaduan masyarakat yang berasal dari Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) yang difasilitasi oleh Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) serta diawasi oleh Bappebti.

Masih banyak masyarakat umum dan nasabah yang belum mengerti benar tentang perdagangan kontrak derivatif melalui Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) dan menganggap eksistensi SPA tidak membawa manfaat terhadap ekonomi.

Pada artikel ini saya ingin mencoba memberikan catatan dan pandangan saya mengenai Sistem Perdagangan Alternatif.

Sistem Perdagangan Multilateral dan Bilateral

Dari pengamatan saya, masih banyak masyarakat dan bahkan nasabah yang telah melakukan aktivitas perdagangan kontrak derivatif belum banyak mengetahui informasi tentang mekanisme perdagangan dan struktur pasar.

Di dalam perdagangan derivatif dikenal dengan istilah Sistem Perdagangan Multilateral dan Bilateral, keduanya diatur/diselenggarakan oleh Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) serta Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) serta diawasi oleh Bappebti .

Sistem Bilateral disini merujuk pada Sistem Perdagangan Alternatif (SPA).

Peringkat broker opsi biner:

Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) adalah sistem perdagangan yang berkaitan dengan jual beli Kontrak Derivatif selain Kontrak Berjangka dan Kontrak Derivatif Syariah, yang dilakukan di luar Bursa Berjangka, secara bilateral dengan penarikan Margin yang didaftarkan ke Lembaga Kliring Berjangka. (icdx.co.id)

ICDX (Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia), JFX (Bursa Berjangka Jakarta)

Perbedaan mendasar mengenai kedua sistem perdagangan ini adalah, pada Sistem Perdagangan Multilateral transaksi dilakukan dengan sistem bursa (on-exchange) dimana terdapat banyak pembeli dan penjual sama seperti di Bursa Saham.

Sedangkan pada Sistem Perdagangan Bilateral transaksi dilakukan di luar bursa dan nasabah berhadapan dengan pedagang/dealer (lawan tetap).

Perbedaan kedua sistem ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

*Order Driven: Sistem penetapan harga berdasarkan permintaan dan penawaran di bursa oleh penjual dan pembeli (centralized system).

*Quote Driven: Sistem penawaran harga oleh pedagang berdasarkan harga referensi.

JFX (Jakarta Futures Exchange) atau BBJ (Bursa Berjangka Jakarta)

Sistem Perdagangan Alternatif dikenal dengan istilah Over The Counter Market (OTC Market), namun dengan beberapa perbedaan.

Di Amerika Serikat sebagai contoh, OTC Market memegang peranan yang penting untuk memenuhi kebutuhan institusi dan masyarakat akan sarana nilai lindung ataupun untuk spekulasi.

OTCQX, OTCQB and OTC Pink marketplaces merupakan sistem perdagangan OTC Market yang beroperasi di Amerika Serikat dan diawasi oleh Financial Industry Regulatory Authority (FINRA).

Perbedaan SPA dan OTC dapat dilihat pada tabel berikut:

Sejarah Sistem Perdagangan Alternatif

Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) diakomodasikan karena didesak oleh dua alasan.

Alasan pertama, SPA merupakan upaya memperbaiki kualitas perlindungan masyarakat dari praktek perdagangan kontrak derivatif di luar bursa yang tidak bertanggung jawab dan telah merugikan banyak nasabahnya.

Praktek ini telah berlangsung lama sebelum UU 32 Tahun 1997 tentang perdagangan berjangka komoditi (PBK) lahir.

Aktivitas usaha dari pialang yang tidak terdaftar di bursa berjangka tersebut belum bisa secara langsung ditransformasikan ke dalam standar yang dikehendaki oleh UU 32 karena subjek komoditinya belum ditetapkan dalam Keputusan Presiden dan transaksinya lebih mudah dilakukan dengan pola bilateral di luar bursa, sementara UU 32 belum mengatur mekanisme perdagangan di luar bursa.

Perdagangan produk kontrak derivatif yang ditransaksikan secara OTC (di luar bursa) dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang tidak terdaftar pada BBJ dan tidak diawasi oleh Bappebti.

Belum ada payung hukum yang jelas dan perlindungan bagi nasabah masih sangat minim.

Alasan kedua, citra industri perdagangan derivatif terkait langsung dengan malpraktek para pialang yang tidak teregulasi tersebut.

Tanpa upaya mengakomodasikan kegiatan tersebut ke dalam praktek yang lebih beradab dan well-regulated, citra tentang perdagangan derivatif nyaris mustahil diperbaiki.

Ketiga, menyelamatkan industri perdagangan berjangka yang baru lahir yang kelahirannya pun atas dorongan inisiatif pemerintah dari kebangkrutan.

Pada tahap-tahap awal beroperasinya, transaksi multilateral atas kontrak komoditi primer masih belum layak sebagai sebuah industri.

Sementara pemerintah sama sekali tidak menyediakan anggaran untuk menunjang operasional pelayanan publik.

Sekedar perbandingan, Bursa Efek Indonesia (BEI), selama 15 tahun pertama operasinya, 100% dibiayai oleh APBN sampai industri pasar modal menjadi layak dan feasible secara ekonomis.

Kontroversi Sistem Perdagangan Alternatif

Ada miskonsepsi yang fatal di tengah masyarakat yang menyamakan kegiatan SPA dengan “ponzi scheme” seperti pada kasus Ibist, Smartway Forex, Wahana Globalindo, Sarana Perdana Indoglobal dan sederet panjang kasus serupa.

Kasus-kasus di atas jelas merupakan penipuan yang sejak awal dirancang rapi. Jumlah masyarakat yang dikorbankan sangat banyak, melibatkan jumlah uang yang luar biasa besar.

Ponzi Scheme model ini tidak ada urusannya dengan SPA.

Pelakunya bukan pialang yang berizin, operasinya tidak berada di bawah pengawasan otoritas (Bappebti), tidak meregistrasikan transaksinya ke bursa, dan tidak tunduk pada peraturan perundangan di bidang perdagangan derivatif.

Citra buruk industri perdagangan derivatif tidak bisa dilepaskan dari praktek para pialang tidak bertanggung jawab yang telah berlangsung ber tahun-tahun.

Perbaikan perlindungan masyarakat dan perbaikan citra industri mau tidak mau mengharuskan pemerintah menertibkan praktek mereka.

Pihak-pihak yang menyatakan bahwa SPA tidak memberi manfaat ekonomis, harus terlebih dahulu menyimak fakta berikut:

Perlindungan yang lebih baik kepada masyarakat pemilik dana, pajak yang selama ini digelapkan oleh para pialang nakal kini bisa diperoleh dan diaudit secara transparan.

Dana marjin yang selama ini pergi ke luar negeri kini bisa mengendap di sistem perbankan nasional, peluang bagi para pengusaha untuk melakukan lindung nilai fluktuasi kurs antar hard currencies.

Dalam perkembangan industri perdagangan derivatif hingga saat ini, SPA masih merupakan satu-satunya segmen yang lukratif secara ekonomis.

Penghasilan BBJ tergantung sepenuhnya dari aktivitas SPA. Para pialang berizin menghidupi dirinya dari transaksi SPA.

Kelemahan Sistem Perdagangan Alternatif

Saat ini, perdagangan SPA diatur dalam amandemen UU No.10/2020 Bab IIIA. Payung hukum SPA menjadi sangat jelas di Indonesia. Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang mengatur perdagangan “OTC” dalam undang-undang.

Penawaran perdagangan OTC oleh perusahaan yang tidak terdaftar sebagai anggota Bursa adalah illegal.

Harus diakui seiring dengan perjalanan SPA masih menunjukkan kelemahan, walau tak bisa dipungkiri memberikan perlindungan yang jauh lebih baik ketimbang praktek-praktek pialang tidak bertanggung jawab yang (sebelumnya) no man’s land.

Banyaknya keluhan dan pengaduan masyarakat pada satu sisi memperlihatkan betapa masih rapuhnya mekanisme dan pengaturan SPA, tapi pada sisi lain ia juga merupakan indikator proses pembelajaran yang dialami dan sedang berlangsung di industri ini.

Berikut beberapa kelemahan SPA:

Metode pemasaran yang sangat tidak beretika.

Mayoritas keluhan masyarakat bersumber dari fakta bahwa tenaga pemasaran yang digunakan oleh perusahaan pialang adalah para oportunis yang tidak memahami esensi perdagangan berjangka dan kosong pengetahuan tentang etika bisnis.

Akibatnya banyak sekali nasabah yang terbujuk bertransaksi, padahal mereka tidak tahu, belum siap dan bahkan secara finansial belum layak untuk ikut bertransaksi.

Broker melakukan praktek bucketing.

Praktek Bucketing dilakukan dengan mengurangi atau mengecilkan porsi transaksi nasabah yang seharusnya dengan tujuan menguntungkan broker sendiri. Ilustrasi praktek bucketing: Nasabah memasukkan sejumlah dana Rp 500 juta sementara hanya Rp 100 juta yang dicatat di kliring, itu sisanya ditampung pialang.

Transaksi ini tidak dalam skema yang benar. Dan broker yang ketahuan melakukan praktek Bucketing bisa dibekukan kegiatan operasinya.

Biasanya perusahaan pialang yang nakal memberikan nomor rekening segregated account yang tidak terdaftar di Kliring Berjangka Indonesia (KBI) atau Indonesian Clearing House (ICH).

Untuk melihat nomer segregated account yang terdaftar di KBI dapat dilihat di halaman website PT Kliring Berjangka Indonesia (www.ptkbi.com)

Sistem transaksi yang fragmented dan tidak transparan.

Karena BBJ dan KBI belum mampu menyediakan platform sistem perdagangan yang memenuhi syarat, para penyelenggara SPA mengembangkan sendiri teknologi transaksinya masing-masing.

Broker yang “Nakal” bisa memanfaatkan kelemahan ini dengan tidak memberikan akses kepada nasabah terhadap posisi terbuka dan posisi dananya dan transaksi sering tidak dilaporkan kepada nasabah.

Kesimpulan

Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) sebenarnya memberikan peluang yang lebih besar dengan banyaknya produk yang ditawarkan (forex, komoditas, indeks, cfd saham).

Selain itu banyak keuntungan yang tidak bisa didapat di Perdagangan Bursa Berjangka (Futures) atau Bursa Efek seperti:

  • Fleksibilitas
  • Transaksi mudah (market order langsung done)
  • Peluang dua arah (two way opportunity)
  • Akses ke produk global,
  • Volume tinggi (likuid)
  • Pergerakan harga yang cepat
  • Market 24 jam
  • High risk – high return dan
  • Adanya fasilitas leverage hingga 1:100.

Meskipun citra perdagangan kontrak derivatif terutama di SPA banyak tercoreng akibat kasus-kasus malpraktek dan broker curang yang dengan sengaja mengeruk dana nasabah, sebenarnya peluang meraih keuntungan di perdagangan forex dan komoditi masih terbuka.

Perkembangan Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) kini pun sudah semakin baik dengan perbaikan pada sistem pengawasan real time atau Central Surveillance System (CSS).

Calon nasabah yang ingin berpartisipasi harus paham betul dan selektif dalam memilih broker.

Pilih broker yang fair, memiliki reputasi bagus dan bonafit. Nasabah ataupun calon nasabah yang ingin bertransaksi mulai melakukan hal-hal krusial seperti memeriksa kembali dan mulai mempelajari aturan SPA.

Pelajari kembali perjanjian dan hak-hak nasabah. Segala keputusan transaksi berada pada kendali anda sendiri. Pilih perusahaan pialang yang selalu memberikan edukasi kepada nasabahnya. Periksa kembali legalitas broker anda.

Pilihlah Pialang yang selalu membayar profit nasabah. Pilih broker yang menawarkan harga terbaik, biaya transaksi (komisi dan spread) yang kompetitif.

Dan yang terakhir adalah, kekuasaan dana berada di tangan anda. Pastikan selalu mendapatkan akses dana anda sendiri dan kemudahan melakukan withdrawal (penarikan) dana.

Jenis-Jenis Broker Forex yang Perlu Anda Ketahui

Menyambung artikel sebelumnya “Kenali Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) Sebelum Anda Memulai Trading” dalam artikel ini saya mencoba memberikan penjelasan lebih lanjut tentang jenis-jenis broker terutama bagi anda yang tertarik dalam trading forex. Pemilihan broker adalah salah satu persiapan penting sebelum anda melakukan transaksi. Artikel ini menggambarkan tentang jenis-jenis broker online trading. Secara umum terdapat 2 jenis broker, yaitu broker berjenis Dealing Desk (sering disebut dengan Market Maker) dan Non Dealing Desk (ECN dan STP).

Broker Dealing Desk (Market Maker)

Broker yang dimana mereka membuat suatu pasar tersendiri dengan aturan penyelenggara (market maker). Dalam kasus ini lawan dari trader adalah tetap, lawan yang dimaksud adalah Pedagang Penyelenggara (dealer).

Ada yang menganggap broker jenis ini rawan potensi conflict of interest, karena menganggap loss nasabah adalah keuntungan bagi broker (bandar). Hal ini tidak sepenuhnya benar. Saya ingin memberikan gambaran bagaimana broker dealing desk bekerja.

Broker dealing desk yang teregulasi menjalankan operasinya sesuai dengan aturan penyelenggaraan yang telah ditetapkan oleh regulator dan aktivitasnya dipantau secara aktif oleh badan pengawas. Setiap negara memiliki aturan penyelenggaraan yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri broker online trading yang ada merupakan broker jenis dealing desk. Aktivitas perdagangan forex di Indonesia diselenggarakan dan diatur dalam Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) yang telah saya jelaskan pada artikel sebelumnya “Kenali Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) Sebelum Anda Memulai Trading”.

Di dalam Sistem Perdagangan Alternatif, tugas Pialang (broker) hanya menyalurkan amanat kepada nasabah ketika nasabah mengambil posisi baik BUY (Beli) ataupun SELL (Jual). Nasabah bertransaksi dengan Pedagang Penyelenggara (dealer) melalui Pialang (broker). Transaksi di registrasi oleh Pialang dan Pedagang Penyelenggara ke bursa, lembaga kliring dan Bappebti. Nasabah anonim dimata Pedagang Penyelenggara, Bappebti memonitor perdagangan secara aktif. Guarantee buyer/seller adalah Pedagang Penyelenggara (bukan pialang/broker). Sistem Perdagangan Alternatif saat ini sudah memiliki payung hukum yang jelas melalui amandemen UU No.10/2020 Bab IIIA.

Jika anda ingin bertransaksi (trading) pastikan broker anda teregulasi dan legal. Kasus-kasus penipuan seringkali terjadi pada broker yang tidak teregulasi dan nasabah tidak bisa membuat pengaduan ketika dana dibawa lari oleh broker. Ciri khas dari broker yang tidak teregulasi ini sebenarnya bisa dilihat dari sistem transfer dana. Broker yang tidak teregulasi membolehkan pembayaran melalui deposit pihak ketiga, dana boleh dititipkan oleh Introduce Broker (semacam agen). Tidak memiliki kantor resmi dan tidak memiliki ijin resmi dimana dia beroperasi (illegal) dan nasabah tidak mendapatkan konfirmasi atau penjelasan perjanjian, aturan dan resiko trading dari wakil pialang.

Broker Non Dealing Desk

Pada dasarnya Broker Non Dealing Desk adalah broker yang hanya bertugas meneruskan order langsung kepada pasar, lembaga keuangan atau bank- bank besar, ataupun kepada likuidator lain. Jenis broker Non Dealing Desk dibagi menjadi 3 , yaitu ECN Broker, STP Broker dan STP + ECN.

Sumber Illustrasi: Babypips

ECN (Electronic Communication Network)

Di broker jenis ECN nasabah/trader dapat terlibat dan berpartisipasi secara langsung di dalam pasar antar bank (interbank market), dimana lawan dari nasabah adalah pelaku lain di dalam pasar antarbank seperti lembaga keuangan Bank (Investment Bank), lembaga keuangan non Bank, maupun Retail Trader (perorangan) dimana mereka saling berinteraksi Jual dan Beli secara bersamaan. Namun seringkali Investment Bank atau pihak likuidator bisa menjadi lawan dari client / nasabah. Salah satu pendapatan dari Investment Bank berasal aktivitas yang dinamakan Proprietary Trading atau Investment Bank juga melakukan aktivitas perdagangan Forex dengan dana mereka sendiri dan mengambil posisi yang berlawanan dengan client mereka. Keuntungan Bank adalah loss dari nasabah. Karena pada dasarnya “The bank traders are the market”. Mereka juga memiliki Trading Room dan seorang Chief Trader akan mendapatkan bonus dari keuntungan Proprietary Trading.

Trading mealui Broker jenis ECN cenderung kurang fleksibel dibanding melalui broker jenis Dealing Desk karena adanya batasan aturan seperti (aturan dari CFTC Amerika) yang melarang strategi hedging, leverage yang sangat rendah (untuk di Amerika menggunakan leverage 1:50), terbatas dengan aturan First In First Out (FIFO) dan tidak ada akun parsial (mini). Selain itu broker ECN memiliki biaya komisi yang lumayan tinggi. Keunggulan dari broker jenis ECN terletak pada kecepatan eksekusi, ketersediaan harga yang baik (karena langsung ke likuidator), namun kalau anda tidak terbiasa seringkali bingung karena fiturnya yang lebih terbatas. Selain itu broker ECN menawarkan pilihan akun yang didesain khusus untuk retail trader dan institusi. Biasanya broker ECN yang teregulasi dengan benar (bukan broker yang mengklaim ECN) banyak dipilih oleh institusi dan profesional trader dengan dana yang besar.

Broker jenis ECN murni tidak menggunakan Metatrader sebagai platform trading. Biasanya memiliki platform trading sendiri seperti Trading Workstation (TWS) yang digunakan oleh Interactive Brokers.

Berikut beberapa regulator Luar Negeri yang bisa dijadikan acuan: FCA (UK), NFA (USA), FSA (JP), FINMA (Switzerland), ASIC (Australia), DFSA (Denmark), AMF (France), MFSA (Malta) or BAFIN (Germany). Jika Broker luar tidak terdaftar pada regulator tersebut bisa jadi adalah Broker Bucket Shop.

Straight Through Processing (STP)

Beberapa Broker mengklaim bahwa mereka broker ECN padahal tidak, kenyataannya mereka adalah broker jenis Straight Through Processing (STP). Broker jenis ini berfungsi sebagai penghubung dengan liquidity providers yang memiliki akses kepada pasar antar bank (interbank market) . Broker STP memiliki lebih dari satu liquidity provider dan antar liquidity provider menawarkan bid ask price yang berbeda-beda. Sebagai contoh saya ingin menjelaskan sistem penawaran harga yang digunakan:

Misal Broker STP memiliki 3 liquidity provider.

Sistem broker STP akan menyortir secara otomatis harga yang ditawarkan. Pada contoh ini harga terbaik pada posis Bid adalah 1.3000 (anda ingin menjual di harga paling high) dan harga terbaik pada posisi ask adalah 1.3001 (anda ingin membeli di harga paling low). Harga bid/ask terbaik yang ditawarkan sekarang adalah 1.3000/1.3001. Apakah harga ini yang akan muncul pada platform trading anda? tentu saja tidak. Biasanya broker akan melakukan fixed mark up pada harga yang besarannya telah ditentukan oleh perusahaan. Jika perusahaan menentukan markup sebesar 1 pip, maka harga yang muncul di platform trading adalah 1.2999/1.3002.

Direct Market Access (DMA)

Broker DMA broker yang cara kerjanya hampir sama dengan broker berjenis ECN dengan campuran STP, tetapi bedanya di broker DMA adalah terikat kontrak dengan suatu liquiditor tertentu, serta menggunakan sistem transaksi dengan basis Best Rate dari para liquiditornya. selain itu ada beberapa hal lain yang membedakannya.

Unregulated Broker / Bucket Shop

Selain itu sebenarnya masih ada broker jenis lain yang sering prakteknya sering merugikan nasabah. Dalam dunia trading forex, broker ini dikenal dengan istilah Bucket Shop. Broker jenis jelas tidak teregulasi dan illegal.

Bucket Shop adalah broker yang harus anda hindari, karena mereka berpotensi besar untuk memanipulasi transaksi anda ataupun bertindak curang sehingga anda akan mudah mengalami kekalahan yang semestinya tidak terjadi. Pada umumnya bucket shop tidak berijin sebagaimana mestinya, dan hanya berijin sebagai perusahaan biasa atau lainnya (bukan sebagai perusahaan pialang) dan hal ini sering
mengecoh para calon nasabah yang masih awam.

Ciri-ciri broker bucket shop adalah terletak di tempat-tempat yang tidak jelas atau terpencil (negara offshore yang tidak jelas) dan tidak berijin regulasi sebagaimana mestinya (ini yang biasanya dilakukan). Disamping itu ciri-ciri lain dari broker bucket shop adalah mereka memperbolehkannya transfer uang dengan pihak ke 3 / perorangan, ataupun menggunakan Voucher, boleh menggunakan Money Changer bank lokal, pendaftaran yang sangat mudah dan terkesan sembarangan serta tanpa verifikasi yang memadai.

Kondisi yang ditawarkan broker bucket shop seringkali diluar kondisi normal dari keadaan pasar yang sesungguhnya, seperti leverage yang terlalu tinggi (misal 1:1000 keatas), spread rendah yang tidak masuk akal (contoh: 1 pip fixed bahkan 0 pip fixed, padahal di pasar sesungguhnya spread adalah selalu berubah atau berfluktuatif terus setiap detiknya), dan juga terdapat bonus-bonus besar (welcome bonus) yang tujuannya bersifat pancingan / menjebak para nasabah agar mau menempatkan dananya (yang pada akhirnya adalah untuk “dimakan” oleh broker curang tersebut).

Hal-hal curang yang biasa dilakukan oleh broker berjenis Bucket Shop yaitu: requote yang berlebihan, eksekusi order yang lambat, jika terkena TP (target profit) sulit untuk dieksekusi tetapi sebaliknya jika terkena SL (stop loss) maka mudah sekali dieksekusi, server yang sering down, manipulasi atau rekayasa harga quote, menghilangkan transaksi profit secara sepihak dengan dalih trading anda tidak sah, penarikan dana seringkali tertahan atau tidak bisa dilakukan, pernyataan yang tidak benar, dan hal-hal penipuan (Scam) lainnya.

Bucket shop yang seringkali memberikan pernyataan salah dan menyesatkan mengenai sistem mereka, seperti mereka menyatakan bahwa mereka adalah broker berjenis ECN, DMA ataupun STP tetapi kenyataannya mereka adalah Scam. Oleh karena itu peran Legalitas Pemerintah / Regulasi sangatlah penting supaya sebagai pengawas broker atau pialang untuk tidak sembarangan dan tidak memberikan pernyataan salah yang dapat menyesatkan masyarakat.

Peringkat broker opsi biner:
Penghasilan di Internet
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: