Mengukur Kinerja Sistem Perdagangan Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja PT X Menggunakan

Peringkat broker opsi biner:

rahmat akmal’s notes

Just a thought…

Categories

  • E-book (2)
  • Productivity (5)
  • Productivity in Picture (3)
  • Supply Chain Management (2)

Recent Posts

PENDEKATAN PENGUKURAN KINERJA SUPPLY CHAIN MANAGAMENT

I. Pendahuluan
Salah satu dampak dari globalisasi adalah segmentasi pasar atau konsumen yang relatif masif dan terjadinya turbulensi perubahan prilaku serta karakteristik konsumen. Karena itu, pengukuran kinerja perusahaan secara berkesinambungan atau priodik menjadi hal yang sangat penting bagi manajemen untuk melakukan evaluasi terhadap performa perusahaan dan perencanaan tujuan di masa mendatang.

Banyak perusahaan belum berhasil memaksimalkan potensi Suppy chain mereka karena mereka seringkali gagal untuk mengembangkan ukuran kinerja dan metrik yang diperlukan untuk sepenuhnya mengintegrasikan mereka rantai suplai untuk memaksimalkan efektivitas dan efisiensi. Lee dan Bilington dalam Vanany et al (2005) menyarankan Supply Chain Performance Measurement System (SCPMS) yang bertujuan untuk mengukur performansi kerja dar suplay chain diperlukan bagi perusahaan untuk sukses menerapkan SCM. Hal ini penting, perusahaan menerapkan SCPMS yang baik dalam rangka untuk memantau dan mengevaluasi operasi suplay chain secara periodik. Sebaliknya, banyak perusahaan merasa sulit untuk efektif mengevaluasi kinerja kegiatan supply chain mereka (cooper et al, 1997) Banyak model yang telah dibuat oleh akademisi, praktisi dan kolaborasi antara keduanya. Model SCOR adalah model populer di Indonesia. Ini Bahkan diindikasikan dengan banyaknya jumlah pelatihan yang telah dilakukan di beberapa perusahaan dalam Indonesia seperti: Charoen Pokphand, Coca-Cola, Unilever, Garuda Indonesia, dll.

1.1.Tinjauan Pustaka
Pengertian Kinerja dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah (1995) adalah kinerja diartikan sebagai sesuatu yang ingin dicapai, prestasi yang diperlihatkan dan kemampuan seseorang, prestasi yang diperlihatkan dan kemampuan kerja. Menurut Wibowo (2008) berasal dari pengertian performance. Adapun pengertian performance sebagai hasil kerja atau prestasi kerja. Namun, sebenarnya kinerja mempunyai makna luas, tidak hanya hasil kerja, tetapi bagaimana proses pekerjaan berlangsung. Adapun pendapat lain yang dikemukakan oleh Armstrong dan Baron dalam Wibowo (2008), kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen, dan memberikan kontribusi pada ekonomi.

Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengukur kinerja suplay chain menggunakan pendekatan konvensional. Survei literatur mengungkapkan bahwa biasanya ada dua kelas sistem SCPM: Financial dan Non Financial. Makalah ini akan membahan mengenai keduannya secara lebih mendalam sebagai mana berikut sebagai mana termuat dalam Agami (2020) :

A. Financial Performance Measurement Systems (FPMS)
Pengukuran kinerja sistem keuangan(financial) umumnya disebut sebagai metode akuntansi tradisional untuk mengukur kinerja Suplay chain. Metode ini terutama memfokuskan pada indikator keuangan dan karenanya selalu dikritik tidak memadai karena mereka mengabaikan pengukuran untuk pentingan dan strategis non-keuangan. 2 Metode FPMS yang poluler adalah :

Peringkat broker opsi biner:

1. Activity-Based Costing (ABC)
Pendekatan ABC dikembangkan pada tahun 1987 oleh Kaplan dan Bruns (1987) dalam upaya untuk menghubungkan pengukuran keuangan terhadap kinerja operasianal. Ini melibatkan pemilahan kegiatan-kegiatan menjadi tugas-tugas individu atau tempat pengeluaran biaya (cost driver). Biaya yang kemudian dialokasikan berdasarkan tempat biaya ini bukan pada biaya akuntansi tradisional biasa.

2. Economic Value Added (EVA)
EVA merupakan pendekatan untuk mengestimasi pengembalian modal perusahaan. Ini dikembangkan pada tahun 1995 oleh Stern et al. (1995) dalam rangka memperbaiki kekurangan metode akuntansi tradisional yang hanya terfokus pada keuangan jangka pendek. Pendekatan EVA ini didasarkan pada premis bahwa nilai pemegang saham meningkat bila perusahaan memperoleh hasil lebih besar daripada biaya modal. EVA mencoba menghitung nilai yang diciptakan oleh suatu perusahaan mendasarkan pada laba operasi yang melebihi modal (melalui hutang dan ekuitas). Meskipun berguna untuk menilai kontribusi eksekutif tingkat tinggi dan jangka panjang pemegang saham nilai, metrik EVA gagal untuk mencerminkan kinerja suplay chain karena hanya mempertimbangkan indikator keuangan murni.

B. Non-Financial Performance Measurement Systems (NFPMS)
peneliti percaya bahwa saat ini tersedia SCPM non-keuangan pendekatan dapat diklasifikasikan menjadi sembilan jenis yang berbeda dikelompokkan sesuai dengan kriteria pengukurannya,sebagaimana diuraikan berikut ini :

1. Supply Chain Balanced Scorecard (SCBS)
Pada tahun 1992, Kaplan dan Norton (1992) memperkenalkan Balanced Scorecard (BSC) sebagai suatu alat manajement dalam hal pengukuran kinerja. Sejak itu, SCBS diakui sebagai alat untuk pengukuran kinerja yang paling popular baik dikalagan penelitian dan industri. Hal ini dikarena memungkinkan seorang manajer untuk mengamati dengan seimbang dari kedua sisi baik operasional ataupun keuangan keuangan pada saat bersamaan. Tujuan dan pengukuran diambil dari strategi perusahaan. Brewer dan Speh (2000) menunjukkan bagaimana sebuah supply chain kerangka kerja manajemen terkait dengan balanced scorecard.

2. Dimension-based Measurement Systems (DBMS)
Awalnya pada tahun 1999, Beamon (1999) mengidentifikasi tiga pengukuran sebagai komponen yang diperlukan dalam kinerja sistem pengukuran supply chain, yaitu: Sumber Daya (R), Output (O) dan Fleksibilitas (F). Dia percaya bahwa masing-masing komponen mempunyai fungsi yang sama vital dalam mereflksikan kinerja perusaahan secara keseluruhan, sebagai hasil dari efek yang ditimbulkan ketiganya komponen tersebut. Contoh ukuran kinerja ini adalah R : biaya produksi , biaya inventory dan return on investment
(ROI). O : termasuk total penjualan, pengiriman tepat waktu, sedangkan F : mengukur perubahan volume dan pengenalan produk baru

3. Interface-based Measurement Systems (IBMS)
IBMS dikemukakan pada tahun 2001 oleh Lambert dan Pohlen (2001). Mereka mengusulkan kerangka di mana kinerja masing-masing terkait dengan Suplay Chain. Kerangka dimulai dengan keterkaitan pada fokus perusahaan dan bergerak ke luar satu link pada suatu waktu. Pendakatan dari link satu ke link yang lain ini menyelaraskan kinerja dari point awal sampai ke kesuluhan tujuan memaksimalkan nilai pemegang saham. Pendekatan IBMS secara teoritis terlihat baik tetapi dalam bisnis yang sebenarnya, membutuhkan keterbukaan dan berbagi informasi pada total setiap lini yang pada akhirnya sulit dalam penerapannya (Ramaa et al., 2009).

4. Perspective-based Measurement Systems (PBMS)
PBMS berfokus di semua kemungkinan suplay chain perspektif dan memberikan langkah-langkah untuk mengevaluasi masing-masing persektif (Ramaa et al., 2009). Mereka dikembangkan pada tahun 2003 oleh Otto dan Kotzab (2003) yang mengidentifikasi enam perspektif utama sebagai berikut: System Dynamics, Riset Operasi, Logistik, Pemasaran, Organisasi dan Strategi Sebuah contoh dari PBMS adalah Logistik yang Scoreboard (Lapide, 2000) di mana disarankan ukuran kinerja focus hanya pada aspek logistik dari suplay chain. Diukur dalam Kategori umum berikut: kinerja keuangan (contoh : biaya dan pengembalian aset), indikator produktivitas logistik contoh : pesanan dikirim per jam), kualitas logistik (contoh : kerusakan pengiriman) dan pengukuran waktu logistik (contoh : order entry waktu).

5. Hierarchical-based Measurement Systems (HBMS) Pada tahun 2004, Gunasekaran et al. (2004) mengembangkan HBMS dipengukurannya diklasifikasikan sebagai strategis, taktis atau operasional. Ide Utama adalah untuk menetapkan pengukuran di mana mereka dapat menjadi solusi yang yang sesuai dengan tingkat manajemen, sehingga memudahkan dalam pengambilahan keputusan yang cepat dan tepat (Ramaa et al.,2009) Metrik lebih lanjut dibedakan sebagai keuangan atau non-keuangan. Sistem seperti mengaitkan hirarkis pengukuran kinerja supply chain dan pemetaan pengukuran kinerja ke dalam tujuan organisasi. Namun dalam sistem tersebut, panduan yang jelas tidak dapat dibuat untuk mengukur kinerja dalam tingkat yang berbeda yang dapat mengurangi konflik antara mitra suplay chain yang berbeda.

6. Function-based Measurement Systems(FBMS)
FMBS adalah salah satu pengukuran yang mengkombinasikan untuk mencakupi proses yang berbeda dalam suplay chain (Ramaa et al., 2009). Dikembangkan tahun 2005 oleh Christopher (2005) untuk mencakupi pengukuran yang detail dalam setiap suplay chain. Meskipun mudah dalam penerapannya dan target dapat di berikan ke masing-masing departmen, tapi dia tidak memberikan solusi untuk pengukuran level yang tinggi (Top Level). FMBD dikiritik karena fungsi suplay chain dipisahkan dan di isolasi dengan keseluruhan strategy sehingga hanya member manfaat yang bersifat local dan dapat membahayakan suplay chain itu sendiri.

7. Efficiency-based Measurement Systems (EBMS)
EBMS mengukur kinerja suplay chain berdasarkan effisiensinya. Beberapa pendekatan yang dikembangkan dalam konteks ini (Ramaa et al, 2009;. Chan dan Qi, 2003, Chan, 2003, Charan, et al, 2007;. Sharma dan Bhagwa, 2007, Chen dan Paulraj, 2004]. Wong dan Wong (2007) memberikan kerangka kerja untuk mempelajari kinerja supply chain dengan mengembangkan Analisis Data Envelopment (DEA) model untuk efisiensi kinerja Suplay chainal menggunakan aplikasi studi kasus. Chen et al. (2006) meneliti efisiensi yang ada antara dua anggota supply chain. Mereka mengusulkan beberapa DEA supply chain berbasis fungsi efisiensi bertujuan untuk mengidentifikasi inefisiensi di antara anggota supply chain dengan mengembangkan dua fungsi efisiensi.

8. Generic Performance Measurement Systems (GPMS)
Sejak awal 1980-an, sejumlah model pengukuran kinerja generik dan kerangka kerja, tidak selalu spesifik untuk suplay chain saja, telah dikembangkan. Yang masing-masing memiliki manfaat masing-masing dan keterbatasan. Namun, tinjauan literatur menunjukkan bahwa sangat sedikit dari mereka (Tangen, 2004; Kurien dan Qureshi, 2020) dikutip secara luas.

9. Supply Chain Operations Reference Model (SCOR)
SCOR Model diciptakan oleh Supply Chain Council (Stephens, 2001; Huang et al, 2004;. Lockamy dan McCormack, 2004). Versi pertama dikembangkan pada tahun 1996. Ini adalah kerangka kerja untuk memeriksa rantai pasokan secara rinci melalui mendefinisikan dan mengkategorikan Proses yang membentuk rantai, menetapkan metrik untuk proses tersebut dan Meninjau tolok ukur yang sebanding. Kerangka model SCOR dapat ditemukan di Huang et al(2004). Ini adalah kerangka-satunya cross functional terintegrasi yang menghubungkan pengukuea kinerja, praktik terbaik dan persyaratan perangkat lunak untuk model proses bisnis yang terperinci. Model SCOR mendefinisikan suplay chain terdiri dari lima proses utama: Plan (Rencana),Resource ( Sumber), Make (Membuat), Deliver (Pengiriman) dan Return (barang kembali). Kinerja proses yang paling diukur dari 5 perspektif: Reliability, Responsiveness, Fleksibilitas, Biaya dan Aset.

III. Kesimpulan

  1. Saat ini Industri semakin memerlukan SCPM . Penelitian tentang SCPM semakin berfokus pada bagaimana merancang dan menerapkan pengukuran kinerja sistem supply chain untuk mengatasi perubahan, konteks dan dan kebutuhannya
  2. Secara global terdapat 2 jenis besar SCPMS yaitu yang bersifat financial (Financial Supply Chain Performace system) dan non-finansial (Non Financial Suplay Chain Performance System.
  3. Financial Suplay Chain Performace system dianggap gagal untuk mencerminkan kinerja suplay chain karena hanya mempertimbangkan indikator keuangan saja. Maka Banyak perusahan yang mengalihan pengukuran kinerja yang memperhatikan setiap aspek dari fungsi suplay chain.

IV. Daftar Pustaka
Agami Nedaa, Saleh Mohamed and Rasmy Mohamed. Supply Chain Performance Measurement Supply Chain Performance Measurement. Journal of Organizational Management Studies. Article ID 872753. Vol. 2020 (2020).

Iwan Vanany, Patdono Suwignjo, and Dito Yulianto. 2005. Design of suplay chain Design of
Suplay chain Performance for lamp. Industrial Engineering Department, Sepuluh Nopember
Institute of Technology (ITS) Surabaya.

Kurien G. P. and Quresh Quresh. 2020. Study of performance measurement practices in supply chain management. nternational Journal of Business, Management and Social Sciences Vol. 2, No. 4, 2020, pp. 19-34

Wibowo. 2008. Manajemen Kinerja. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Mengukur Kinerja Sistem Perdagangan Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja PT X Menggunakan Pendekatan Balanced Scrore Card (BSC)

The page you were looking for could not be found.

To help you find what you are looking for, why not

Technical details: Error 404 – Not Found
article is null from Elasticsearch Service 33321717

Peringkat broker opsi biner:
Penghasilan di Internet
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: