Mengambil Forex Terhadap Uang Tunai, Forum trading bitcoin indonesia

Peringkat broker opsi biner:

5 Mata Uang Kripto Alternatif Bitcoin

Bitcoin

Keberhasilan Bitcoin sebagai mata uang digital terdesentralisasi telah menginspirasi terciptanya beragam crypto currency lain, yang secara kolektif disebut sebagai altcoins. Bukan hanya itu, sistem Bitcoin telah menjadi acuan dari segala standard yang melandasi setiap altcoin tersebut. Dari sekitar 200 altcoins yang saat ini beredar, kita akan membahas 5 di antaranya yang paling populer dan bahkan digadang-gadang berpotensi menjadi pesaing Bitcoin. Apa sajakah 5 mata uang kripto tersebut?

1. Litecoin
Mata uang berlabel LTC ini merupakan salah satu “peniru” Bitcoin pertama. Jika Bitcoin adalah “emas”-nya mata uang kripto, Litecoin ini adalah “perak”-nya. Diluncurkan pada tahun 2020 oleh eks insinyur Google Charlie Lee, Litecoin memiliki karakteristik yang sama dengan Bitcoin sebagai mata uang kripto; terdesentralisasi dan peredarannya tidak diatur otoritas. Selain itu, Litecoin baru bisa didapat dengan cara yang sama dengan memperoleh Bitcoin baru, yakni melalui proses mining atau penambangan.

Akan tetapi, Litecoin mining tidak memerlukan perangkat super seperti halnya pada penambangan Bitcoin. Algoritmanya lebih mudah dipecahkan dan blok Litecoin tercipta dalam durasi 2.5 menit, jauh lebih cepat dari blok Bitcoin yang memerlukan waktu 10 menit. Kemudahan mining yang dapat mendukung lebih banyak transaksi dalam waktu singkat itulah yang menjadi kelebihan Litecoin.

Di sisi lain, nilai Litecoin masih cukup kesulitan menyusul Bitcoin yang sudah mencapai kisaran $500, bahkan pernah menyentuh level $1000. Di akhir kuartal pertama 2020, harga per 1 Litecoin hanya berada di kisaran $15. Supply Litecoin pun lebih banyak daripada Bitcoin, karena pembuatan LTC baru akan dibatasi ketika jumlah yang beredar sudah mencapai 82 juta. Hal ini tentu berbeda jauh dengan Bitcoin yang dikonsep untuk berhenti tercipta ketika jumlahnya mencapai 21 juta.

2. Ethereum
Ethereum memiliki keunikan yang membuatnya berbeda dari altcoin lain. Pada dasarnya, mata uang berlambang ETH ini adalah platform software yang bisa di-coding sendiri dan diaktifkan melalui sistem blockchain oleh para developer-nya. “Processing power” dari software ciptaan developer itu kemudian dijual dan dibayar dengan ether, atau mata uang mirip Bitcoin.

Peringkat broker opsi biner:

Meski baru dirilis tahun 2020, perkembangan Ethereum bisa dikatakan sangat cepat. Saat ini saja, kapitalisasi market Ethereum (sekitar 1 milyar dolar) sudah menyalip altcoin lain yang meluncur lebih dulu, dan berbaris di posisi kedua setelah Bitcoin. Cara Ethereum mengatasi serangan hack pun cukup unik. Setelah sistemnya diretas pada 2020 silam, Ethereum membelah diri menjadi Ethereum “baru” (sudah bebas dari hack) dan Ethereum Classic (platform lama yang masih terimbas serangan hacker).

Meski sudah terbagi ke dalam 2 jenis, nilai Ethereum tidak berkurang drastis. Kedua jenis Ethereum tersebut sama-sama mengalami pertumbuhan nilai, terbukti dari kapitalisasi Ethereum Classic yang masih tumbuh hingga kini mencapai 141 juta Dolar. Praktis, Ethereum baru dan Ethereum Classic masing-masing menduduki posisi 2 dan 4 dalam daftar altcoin terbesar di dunia.

3. Dogecoin
Dirilis di tahun 2009, usia Dogecoin sebenarnya tak terpaut jauh dari Bitcoin. Hanya saja, mata uang kripto ini sejak awal sudah dikonsep untuk user-friendly, baik dari segi penggunaan, penambangan, maupun kelas harga. Jadi meskipun Dogecoin disebut-sebut telah mengalami kemajuan pesat, kapitalisasinya tetaplah yang terendah di antara altcoin lain, yaitu sekitar 25 juta Dolar.

Penambang Dogecoin bisa memproses transaksi dengan mudah dan hanya dalam 1 menit. Selain itu, tak ada limit jumlah Dogecoin yang bisa ditambang, meski di beberapa sumber disebutkan bahwa ada batasan sejumlah 100 milyar. Besaran suplai yang hampir tak terbatas praktis membuat nilai Dogecoin sangat rendah, cuma setara $0.67 per 1 DOGE (lambang mata uang Dogecoin). Meski harganya sangat kecil untuk seukuran mata uang kripto, Dogecoin tetap memiliki banyak penggemar karena relatif ramah pengguna dan bisa mendatangkan passive income bagi kelompok penambang yang lebih luas.

4. Dash
Dash sebetulnya merupakan perpanjangan tangan dari Bitcoin. Kemunculannya berakar dari keinginan beberapa developer Bitcoin untuk memperbaiki kekurangan mata uang digital tersebut, terutama dalam hal anonimitas dan kecepatan transaksi. Upaya itu pada akhirnya berujung pada penciptaan mata uang kripto baru yang masih berbasis pada software Bitcoin, yaitu Dash.

Selain lebih unggul dalam hal jaminan privasi dan transaksi instan, Dash juga menggunakan Masternodes, suatu sistem yang dirancang untuk meningkatkan sekuritas transaksi. Sebagai informasi, Masternodes dapat menghindarkan pengguna dari upaya pemalsuan dan manipulasi transaksi dengan memindai Blockchain dua kali.

5. Peercoin
Peercoin atau PPC adalah mata uang kripto yang penambangannya tidak bekerja dengan sistem proof of work, tapi proof of stake. Artinya, seorang pengguna tidak perlu bekerja membantu transaksi apapun untuk mendapatkan Peercoin baru, karena ia bisa memperolehnya dengan menyimpan uang yang bersangkutan saja.

Sistem itu dapat menghindarkan sistem Peercoin dari manipulasi sepihak. Faktanya, sistem penambangan proof of work Bitcoin memang bisa memberikan kontrol besar bagi siapapun yang mempunyai 51% power komputer mining. Sementara itu, untuk bisa memiliki kendali yang sama, seorang pengguna Peercoin harus bisa mendapatkan hal mustahil, yakni menguasai minimal 51% uang yang beredar di sirkulasi.

Peredaran Peercoin tidak dibatasi seperti halnya Bitcoin, yang uang barunya akan berhenti muncul setelah total di sirkulasi mencapai 21 juta. Untuk saat ini, nilai Peercoin masih setara dengan $2.60. Proses penemuan uang baru cenderung lama, menghabiskan waktu sekitar 10 menit. Meski demikian, reward Peercoin mining sangat besar (100 PPC) dan uang yang diperoleh akan terus bertambah nilainya seiring dengan berjalannya waktu, karena adanya sistem proof of stake yang diandalkan di sini.

Akhir Kata
Melihat bagaimana Bitcoin masih unggul dalam kapitalisasi pasar, tak bisa dipungkiri bahwa peran mata uang digital yang diprakarsai oleh Satoshi Nakamoto itu masih tak tergantikan. Namun demikian, banyak altcoins terus bermunculan dengan teknologi yang lebih mutakhir untuk meminimalisir kekurangan Bitcoin. Jadi tak menutup kemungkinan jika di masa depan, 5 mata uang kripto di atas bisa mensejajarkan diri atau bahkan mengungguli Bitcoin.

Cara Trading Bitcoin Di Indonesia

Bitcoin

Bagi Anda yang tertarik dengan dunia Bitcoin dan ingin mengambil keuntungan darinya, aktivitas trading Bitcoin bisa menjadi solusi menarik. Tujuan trading di sini tidak sama dengan mengumpulkan Bitcoin secara umum. Hal itu karena, Anda tidak membeli Bitcoin untuk digunakan sebagai alat pembayaran online, tapi untuk dijual lagi saat harganya sudah lebih tinggi dari harga beli sebelumnya.

Prinsip dasarnya sama seperti trading forex, yaitu membeli di harga rendah dan menjual di harga tinggi untuk mendapatkan keuntungan dari selisih nilai tukar. Namun demikian, trading Bitcoin di sini bukanlah spot forex yang memiliki leverage dan margin. Anda benar-benar membeli dan menjual Bitcoin sesuai nilai riil yang dimiliki, seperti halnya ketika Anda menukarkan uang di money changer.

Nah, adakah kiat-kiat trading Bitcoin khusus yang disarankan untuk pemula? Dirangkum dari berbagai sumber, inilah tips cara trading Bitcoin untuk mempermudah para pemula.

Menghadapi Naik Turun Harga
Ketika harga cenderung bergerak naik maka tindakan yang paling tepat adalah mengambil posisi BUY. Katakanlah saat ini harga 1 Bitcoin senilai Rp3,000,000,- dan Anda meyakini harga tersebut masih akan naik dalam beberapa waktu ke depan, maka belilah Bitcoin. Ketika harga benar-benar naik hingga mencapai Rp3,600,000,- dan Anda memutuskan untuk menjualnya saat itu, maka Anda sudah mendapatkan keuntungan Rp3,600,000,- – Rp3,000,000,- = Rp600,000,-.

Perhitungannya mudah bukan? Namun sayangnya, pergerakan Bitcoin tak selalu menanjak ke atas. Ada kalanya harga bergerser turun atau justru merosot tajam. Kalau terlanjur membeli Bitcoin tepat sebelum harga menurun, apa yang harus dilakukan? Dalam hal ini, Anda bisa bersabar untuk menunggu sampai harga Bitcoin naik kembali, atau melakukan strategi jual untuk membeli Bitcoin lebih banyak.

Sebagai contoh, Anda membeli 1 Bitcoin di harga Rp3,000,000,-. Ketika harga turun menjadi Rp2,800,000,-, Anda memperkirakan harga akan terus merosot dan baru akan rebound setelah menyentuh angka Rp2,500,000,-. Karena itu, Anda tak ragu untuk menjual Bitcoin di harga Rp2,800,000,- meski mendapat rugi Rp200,000,-.

Strateginya adalah, saat harga benar-benar mencapai Rp2,500,000,-, Anda menggunakan hasil penjualan sebelumnya, yaitu Rp2,800,000,- untuk membeli Bitcoin pada nilai tukar Rp2,500,000,-. Alhasil, Anda akan mendapatkan 1.12 Bitcoin. Jika analisa Anda benar dan Bitcoin kemudian naik hingga ke level Rp3,200,000,-, maka artinya Anda akan mengumpulkan keuntungan sebesar (Rp3,200,000,- – Rp2,500,000,-) x 1.12 = Rp784,000,-.

Profit tersebut tentunya jauh lebih besar daripada keuntungan Rp200,000,- yang Anda dapatkan jika membiarkan posisi beli di Rp3,000,000,-.

Belajar Analisa
Dasar keputusan BUY dan perkiraan rebound harga dalam 2 contoh kasus di atas tak bisa ditebak-tebak begitu saja. Sebagai trader, Anda harus bisa menganalisa untuk mendapatkan dasar prediksi yang melandasi keputusan Anda. Secara umum, analisa bisa dilakukan secara teknikal (membaca pergerakan harga di chart) dan fundamental (memperhatikan berita dan isu global).

Akan tetapi, trader Bitcoin Indonesia sebenarnya memiliki solusi tambahan yang bisa mempermudah analisa. Seorang master Bitcoin pernah menyatakan jika pasar Indonesia adalah trend follower. Artinya, situasi yang terjadi di luar negeri akan tercermin dalam pergerakan Bitcoin di Indonesia, tapi bersifat lagging. Hal ini tentunya bisa memberikan gambaran lebih jelas untuk persiapan trader Bitcoin Indonesia. Jika harga Bitcoin di luar negeri sedang naik, maka trader Indonesia bisa bersiap untuk melakukan BUY. Begitupun sebaliknya jika harga Bitcoin di pasar global mengalami penurunan.

Transaksikan Sesuai Batas Toleransi
Resep bertahan di dunia trading, baik itu spot maupun bukan, forex ataupun Bitcoin, adalah dengan mengendalikan risiko di taraf yang bisa ditoleransi. Artinya, jika Anda tak sanggup menerima kerugian lebih dari Rp1,000,000,-, maka jangan membiarkan loss berlarut-larut hingga melebihi jumlah tersebut.

Selain itu, tak ada gunanya memaksakan ambil posisi dengan target besar, jika Anda tak mampu menanggung risiko yang besar pula. Oleh karenanya, tetapkan target keuntungan yang realistis sesuai dengan risiko yang bisa Anda tolerir. Jika berhasil mempertahankan kelangsungan dana, maka kesuksesan akan mengikuti dengan sendirinya, dan di saat itulah Anda sudah siap untuk menetapkan target-target yang lebih besar.

Peringkat broker opsi biner:
Penghasilan di Internet
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: