Kami Strategi Perdagangan Minyak

Peringkat broker opsi biner:

PERUSAHAAN MINYAK BUMI

PERTAMBANGAN MINYAK BUMI

SAMBUTAN

Jumat, 19 Maret 2020

STRATEGI PEMASARAN

Diposting oleh KHAIRUL HISYAM di 10.49

Reaksi:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman

Arsip Blog

PROFIL

VISI DAN MISI

Menjadi Perusahaan Minyak Nasional Kelas Dunia

Menjalankan usaha inti minyak, gas, dan bahan bakar nabati secara terintegrasi, berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat

Tata Nilai

Competitive (Kompetitif)

Peringkat broker opsi biner:

Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional, mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar biaya dan menghargai kinerja

Confident (Percaya Diri)

Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa

Customer Focused (Fokus Pada Pelanggan)
Beorientasi pada kepentingan pelanggan, dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.

Commercial (Komersial)
Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat.

Capable (Berkemampuan)
Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun kemampuan riset dan pengembangan.

STRATEGI PEMASARAN

ARTIKEL

Apa Itu Gas Alam ?

Gas alam seperti juga minyak bumi merupakan senyawa

hidrokarbon (Cn H2n+2) yang terdiri dari campuran

beberapa macam gas hidrokarbon yang mudah terbakar dan non-hidrokarbon seperti N2, CO2 dan H2S. Umumnya gas yang terbentuk sebagian besar dari metan CH4, dan dapat juga termasuk etan C2H6 dan propan C3H8. Komposisi gas alam bervariasi, tetapi umumnya tipikal gas alam (sebelum dilakukan pemrosesan) adalah seperti pada tabel di bawah ini.

Gas alam yang didapat dari dalam sumur di bawah bumi, biasanya ber-gabung dengan minyak bumi. Gas ini disebut sebagai gas associated. Ada juga sumur yang khusus menghasilkan gas, sehingga gas yang dihasilkan disebut gas non associated. Sekali dibawa ke atas permukaan bumi, terhadap gas dila-kukan pemisahan untuk menghilang-kan impurities seperti air, gas-gas lain, pasir dan senyawa lainnya. Beberapa gas hidrokarbon seperti propan (C3H8) dan butan (C4H10) dipisahkan dan dijual secara terpisah. Setelah diproses, gas alam yang bersih ditransmisikan ke titik-titik penggunaan melalui jaringan pipa, yang jauhnya dapat mencapai ribuan kilometer. Gas alam yang dikirim melalui pipa tersebut merupakan gas alam dalam bentuk yang murni karena hampir seluruhnya adalah metan (CH4).

Gas alam yang dikirim tersebut merupa-kan ‘dry gas’ atau ‘gas kering’. Metan adalah molekul yang dibentuk oleh satu atom karbon dan empat atom hidrogen sebagai CH4. Gas metan mudah terbakar dimana secara kimia terjadi reaksi antara metan dan oksigen yang hasilnya berupa karbon di-oksida (CO2), air (H2O) ditambah sejumlah besar energi, sebagaimana persamaan be-rikut :

CH4[g] + 2 O2[g] CO2[g] + 2 H2O[50] + 891 kJ

Pengukuran Gas Alam

Gas alam dapat diukur dalam sejumlah cara. Sebagai gas, ia dapat diukur melalui volume pada temperatur dan tekanan nor-mal, dinyatakan dalam cubic feet (CF), yang umumnya dipakai dalam ribuan cubic feet (MCF), jutaan cubic feet (MMCF), atau triliun cubic feet (TCF). Gas alam juga sering diukur dan dinyatakan dalam British thermal unit (BTU). Satu BTU adalah sejumlah gas alam yang akan menghasilkan energi yang cukup untuk memanaskan satu pound air dengan satu derajat pada tekanan normal. Satu cubic feet gas alam mengan-dung sekitar 1,027 BTU. Gas alam yang dikirim melalui pipa di USA, diukur dalam satuan ‘therms’ untuk penggunaan pemba-yaran. Satu ’therm’ adalah ekivalen dengan 100.000 BTU, atau sekitar 97 SCF gas alam.

Konsumsi Gas Alam Dunia

Gas alam dewasa ini telah menjadi sumber energi alternatif yang banyak digunakan oleh masyarakat dunia untuk berbagai keperluan, baik untuk perumahan, komersial maupun industri. Dari tahun ke tahun penggunaan gas alam selalu meningkat. Hal ini karena banyaknya keuntungan yang didapat dari penggunaan gas alam dibanding dengan sumber energi lain. Energi yang dihasilkan gas alam lebih efisien. Tidak seperti halnya dengan minyak bumi dan batu bara, penggunaannya jauh lebih bersih dan sangat ramah lingkungan sehingga tidak menimbulkan polusi terhadap lingkungan. Disamping itu, gas alam juga mempunyai beberapa keunggulan lain, seperti tidak berwarna, tidak berbau, tidak korosif dan tidak beracun.

Apabila kita lihat pertumbuhan konsumsi gas alam dunia dalam 20 (dua puluh) tahun ke depan berdasarkan data dan proyeksi dari Energy Information Administration (USA) dalam International Energy Outlook tahun 2002, maka proyeksi konsumsi gas alam dunia akan mencapai 162 trilliun cubic feet (TCF) pada tahun 2020. Jumlah ini merupakan 2 (dua) kali konsumsi pada tahun 1999 yang sebesar 84 TCF. Kalau pada tahun 1999 pangsa pasar gas alam dibandingkan sumber energi lain adalah 23%, maka pada tahun 2020 diproyeksikan akan naik menjadi 28%.

Cadangan Gas Alam Dunia

Berdasarkan data dari Natural Gas Fundamentals, Institut Francais Du Petrole pada tahun 2002, cadangan terbukti (proved reserves) gas alam dunia ada sekitar 157.703 109 m3 atau 142 Gtoe (1000 m3 = 0,9 toe). Jumlah cadangan ini jika dengan tingkat konsumsi sekarang akan dapat bertahan sampai lebih dari 60 tahun. Apabila kita bandingkan dengan cadangan minyak dunia, maka berdasarkan tingkat konsumsi sekarang, minyak bumi hanya akan dapat bertahan sampai 40 tahun ke depan saja. Namun demikian, penemuan baru cadangan gas alam umumnya lebih cepat daripada tingkat konsumsinya. Pada tahun 1970, cadangan terbukti gas alam dunia hanya sekitar 35 Gtoe. Dengan asumsi konsumsi sebesar 47 Gtoe, berarti selama 30 tahun terakhir tambahan cadangan gas alam adalah sebesar 154 Gtoe.

Dengan menggunakan metode estimasi yang konvensional, total sumber gas alam dunia dapat mencapai 450 gtoe, sedangkan apabila estimasi berdasarkan unconventional yang tingkat ketidakpastiannya lebih tinggi maka sumber gas alam dapat mencapai 650 gtoe. Cadangan gas alam tersebar di seluruh benua, dengan cadangan terbukti (proved reserves) terbesar berada pada negara-negara pecahan Uni Soviet dan Timur Tengah.•

KEUNGGULAN

POTENSI, PRESTASI, APRESIASI Sumber daya manusia (SDM), modal, dan teknologi sangat strategis dalam mewujudkan tersedianya barang dan jasa. Setelah faktor ini tersedia, terminologi yang tidak kalah pentingnya adalah produktivitas dan kinerja. Untuk ini ada tiga rangkaian yang kait mengait yaitu menggali potensi SDM, sehingga tercipta prestasi dan kinerja, dan seterusnya perusahaan memberikan apresiasinya kepada mereka yang berprestasi.

Dalam berbagai sumber literatur rumus pengelolaan SDM tampaknya ada kesepakatan bahwa apresiasi diberikan kepada pihak yang mampu memberikan sumbangsih, nilai tambah, produktivitas, bahkan keuntungan lainnya bagi organisasi atau perusahaan. Apresiasi ini bentuknya sangat bervariasi, dari sekedar ucapan hingga materi.

Menggali potensi dan merangsang terciptanya prestasi, terkait dengan motivasi. SDM berprestasi membutuhkan motivasi bersifat material dan non material (jenis indirect motivation). Sifatnya khusus, dari mulai berbentuk pujian, penghargaan, dan hingga penghargaan material. SDM juga membutuhkan indirect motivation yaitu dalam bentuk fasilitas dan kebijakan yang mendukung gairah bekerja, kelancaran tugas, sehingga pekerja akan bersemangat dan merasa didukung.

Rumus ini pada umumnya sangat melekat dalam keseharian pekerja, antara pimpinan dan bawahannya. Tujuannya adalah untuk memotivasi sekaligus menggali potensi dan merangsang lahirnya inovasi baru. Dengan demikian, pihak yang menerima apresiasi akan semakin mempertajam visinya ke depan untuk berbuat jauh lebih baik. Ada unsur pemicu semangat di dalamnya.

Idealnya memang seperti itu, apalagi di era kompetisi saat ini. Keunggulan perusahaan atau keunggulan produk dari suatu perusahaan terletak pada keunggulan inovasi. Seluruh lini perusahaan harus mampu menciptakan inovasi-inovasi baru untuk memperkuat daya saing perusahaan itu sendiri. Hal ini tidak terlepas dari sejauhmana perusahaan mampu menggali potensi dan prestasi SDM-nya. Hasil dari berbagai inovasi ini yang perlu dipertahankan dan digairahkan dengan manajemen apresiasi. Manajemen motivasi. Setidakya bedakanlah antara yang berprestasi dan yang tidak.
Salah satu contoh yang up to date misalnya dalam inovasi operasi dan produk yang mendukung program lingkungan hidup, program nasional bahkan global.
Pada kondisi berbagai tuntutan nasional dan global yang harus dijawab, semua pihak harus memiliki visi. Ada suatu tujuan. Dengan kata lain, mereka paham betul akan dibawa kemana kapal yang mereka kendarai. Dan mereka pun tahu akan dikayuh dengan cara apa dayung yang sedang mereka pegang untuk menggerakan kapal ini.

Saat jibaku menuju satu tujuan itu berlangsung, tidak sedikit pengorbanan yang dikeluarkan. Modalnya hanya loyalitas untuk mendapatkan yang terbaik dengan cara-cara yang terbaik. Semua ini untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan. That?s it.

Strategi dan Kebijakan Pengembangan Industri Hilir Minyak Sawit Indonesia

Hilirisasi industri minyak sawit nasional merupakan salah satu bagian penting dalam pembangunan jangka panjang industri minyak sawit Indonesia. Tujuan studi ini adalah untuk menganalisis dukungan kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah untuk mempercepat hilirisasi tersebut di Indonesia, yang akan menjadi industri strategis di masa mendatang, mengingat posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia.

Melalui hilirisasi industri minyak sawit Indonesia menuju 2045 diproyeksikan mampu merubah posisi Indonesia dari “raja” CPO dunia saat ini, menjadi “Raja Hilir” melalui tiga jalur hilirasasi yakni Oleofood (oleofood complex), oleochemical complex dan biofuel complex. Hilirisasi minyak sawit tersebut merupakan kombinasi strategi promosi ekspor (export promotion) dan subsitusi impor (import substitution).

Strategi dan Kebijakan Pengembangan Industri Hilir Minyak Sawit Indonesia

Kebijakan hilirisasi yang ditempuh mencakup Kebijakan Insentif Pajak, Pengembangan Kawasan Industri Integrasi Industri Hilir Sawit dengan Fasilitas/Jasa Pelabuhan, kebijakan Bea Keluar (duty) dan pungutan ekspor (levy) dan kebijakan mandatory biodiesel untuk subsitusi solar impor.

PENDAHULUAN

Indonesia telah berhasil menjadi produsen CPO terbesar dunia sejak tahun 2006 lalu. Tantangan berikutnya adalah merubah Indonesia dari “raja” CPO dunia menjadi “raja” produk hilir dunia yakni produk oleofood, produk oleokimia dan biofuel. Mempertahankan apalagi terlena sebagai “raja” CPO dunia sangat merugikan Indonesia khususnya dalam jangka panjang. Ketergantungan Indonesia pada pasar CPO dunia akan membuat industri minyak sawit Indonesia mudah dipermainkan pasar CPO dunia karena industri hilir minyak sawit berada dan dikuasai negara-negara lain. Selain itu, nilai tambah industri hilir juga tidak dinikmati Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia perlu mempercepat hilirisasi minyak sawit didalam negeri.

Hilirisasi industri minyak sawit nasional hendaknya ditempatkan sebagai bagian dari strategi industrialisasi Indonesia. Sebagai bagian dari strategi industrialisasi nasional, hilirisasi minyak sawit perlu dirancang jauh kedepan (visioner) misalnya sampai menuju 100 tahun Negara Republik Indonesia yakni sampai tahun 2045. Kita harus memutuskan saat ini, mau seperti apa industri minyak sawit kita pada tahun 2045.

Melalui hilirisasi industri minyak sawit Indonesia menuju 2045 diproyeksikan mampu merubah posisi Indonesia dari “raja” CPO dunia saat ini, menjadi “Raja Hilir” yakni produk Oleofood, Biolubrikan, Biosurfaktan dan Biofuel pada tahun 2045. Jika “Raja Hilir” tersebut dapat kita raih, maka Indonesia akan menjadi pemain penting dalam ekonomi global. Indonesia tidak perlu mengejar menjadi pemain industri otomotif global yang bukan kompetensi kita. Hal yeng perlu dikejar Indonesia adalah menjadi pemasok bahan bakar biofuel dan pelumas otomotif global.

Hilirisasi yang dimaksudkan adalah hilirisasi minyak sawit didalam negeri, meskipun tidak tertutup kemungkinan hilirisasi minyak sawit di negara lain (go internasional) sebagai salah satu strategi penetrasi pasar. Strategi hilirisasi minyak sawit didalam negeri bukan berarti merubah regim dari melihat keluar (outward looking) menjadi melihat kedalam (inward looking). Hilirisasi minyak sawit didalam negeri yang dimaksudkan merupakan perpaduan strategi promosi ekspor (export promotion) dengan subsitusi impor (import substitution). Intinya melalui hilirisasi domestik kita mengolah CPO menjadi produk-produk bernilai tambah lebih tinggi baik untuk tujuan eskpor maupun untuk pengganti produk yang diimpor selama ini seperti solar, avtur, premium, plastik, pelumas, dan sebagainya.

Dalam tulisan ini dukungan kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah untuk mempercepat hilirisasi tersebut di Indonesia.

TIGA JALUR HILIRISASI DOMESTIK

Pintu gerbang hilirisasi minyak sawit adalah industri refinery yakni industri yang mengolah CPO/PKO menjadi produk antara yakni olein, stearin dan PFAD (palm fatty acid distillate). Produk antara yang dihasilkan dari industri refinery ini dapat diolah lebih lanjut untuk memperoleh produk-produk minyak sawit yang lebih hilir. Menurut data GIMNI (2020) kapasitas terpasang industri refinery di Indonesia telah mencapai 15,4 juta ton.

Secara umum hilirisasi minyak sawit yang sedang berlangsung di Indonesia saat ini dapat dikelompokkan atas tiga jalur hilirasasi yakni jalur hilirisasi oleopangan complex, oleokimia complex dan biofuel complex (Gambar 1). Pertama, Jalur Hilirisasi Oleopangan (oleofood complex) yakni industri-industri yang mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk antara oleo pangan (intermediate oleofood) sampai pada produk jadi oleopangan (oleofood product). Berbagai produk hilir oleopangan yang telah dihasilkan di Indonesia antara lain minyak goreng sawit, margarin, vitamin A, Vitamin E, shortening, ice cream, creamer, cocoa butter/specialty-fat dan lain-lain.

Kedua, Jalur Hilirisasi Oleokimia (oleochemical complex) yakni industri-industri yang mengolah mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk-produk antara oleokimia/oleokimia dasar sampai pada produk jadi seperti produk biosurfaktan (misalnya ragam produk detergen, sabun, shampo), biolubrikan (misalnya biopelumas) dan biomaterial (misalnya bioplastik).

Ketiga, Jalur Hilirisasi Biofuel (biofuel complex) yakni industri-industri yang mengolah mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk-produk antara biofuel sampai pada produk jadi biofuel seperti biodiesel, biogas, biopremium, bioavtur.

Gambar 1. Tiga Jalur Hilirisasi Minyak Sawit

Hilirisasi minyak sawit dengan tiga jalur tersebut merupakan bagian penting dari strategi industrialisasi di Indonesia yakni kombinasi strategi promosi ekspor (EO) dan subsitusi impor (SI). Dari segi strategi EO, hilirisasi minyak sawit dilakukan secara bertahap yakni fase pertama (EO1) dan dilanjutkan dengan fase lanjutan (EO2). Hilirisasi fase EO1 diharapkan dapat merubah ekspor produk minyak sawit mentah menjadi produk hilir setengah jadi seperti RBD olein, RBD stearin, PFAD, fatty acid, fatty alcohol, glycerol dan lainnya.

Sedangkan hilirisasi fase EO2 diharapkan produk yang diekspor adalah produk jadi seperti produk oleofood kemasan (minyak goreng, margarin), oleokimia jadi (sabun mandi, detergen, shampoo dan lainnya) dan biofuel (biodiesel, biogas, bioethanol dan lainnya). Strategi promosi ekspor melalui hilirisasi minyak sawit juga dilaksanakan pararel dengan strategi susbsitusi impor yang dapat dikelompokkan atas dua fase yakni fase pertama (SI1) yakni menghasilkan produk antara yang selama ini masih diimpor Indonesia. Sedangkan fase kedua (SI2) adalah menghasilkan produk jadi untuk menggantikan produk jadi yang diimpor selama ini. Termasuk kedalam fase subsitusi impor kedua ini adalah penggantian solar dengan biodiesel (mandatory biodiesel), penggantian petropelumas dengan biopelumas dan lainnya.

Dengan demikian perpaduan antara strategi EO dan SI hilirisasi minyak sawit yang sedang berlangsung sesungguhnya merupakan 4 kombinasi strategi hilirisasi yakni EO1SI1 (hilirisasi untuk mengekspor produk antara sekaligus mensubtitusi produk antara yang masih diimpor), EO1SI2 (hilirisasi untuk mengekspor produk antara dan mensubsitusi produk jadi yang diimpor), EO2SI1 (hilirisasi untuk mengekspor produk jadi dan mensubsitusi produk antara yang diimpor) dan EO2SI2 (hilirisasi untuk mengekspor produk akhir dan mensubsitusi produk jadi yang diimpor).

Idealnya industrialisasi berevolusi dari EO1SI1 menuju EO2SI2. Bergerak dari produk bernilai tambah rendah ke produk yang bernilai tambah tinggi. Dari segi kepentingan nasional tentu akan lebih bermanfaat jika Indonesia menuju eksportir produk jadi minyak sawit karena manfaat ekonomi (multiplier ekonomi) akan terjadi didalam negeri. Perpaduan strategi promosi ekspor dan subsitusi impor (EO1SII) tersebut berlaku untuk ketiga jalur hilirisasi tersebut. Tidak hanya terbatas hanya pada industri hilir minyak sawit melainkan juga dilihat kaitannya dengan industri-industri/produk lain terkait dalam perekonomian pengembangan industri biodiesel (FAME) tergolong pada strategi EO2SI2 yakni menghasilkan biodiesel untuk mensubsitusi solar yang diimpor (mandatori biodiesel) dan sekaligus mengekspor biodiesel. Demikian juga pengembangan bioavtur dan biopelumas berbahan minyak sawit juga termasuk dalam strategi EO2SI1 tersebut.

Dengan demikian, manfaat ekonomi hilirisasi bahkan industri minyak sawit secara keseluruhan tidak hanya melihat berapa devisa yang dihasilkan dari ekspor tetapi juga perlu diperhitungkan berapa devisa yang dihemat akibat subsitusi impor. Nilai strategis industri biodiesel di Indonesia tidak hanya dilihat berapa besar devisa yang diperoleh dari ekspor biodiesel tetapi juga mencakup devisa yang dihemat dari pengurangan impor solar akibat disubsitusi biodiesel domestik.

KEBIJAKAN HILIRISASI

Dalam sejarah perkebunan kelapa sawit Indonesia, kebijakan industrialisasi dan perdagangan internasional sudah mengalami berbagai perubahan. Pada periode sebelum 1978 industri minyak sawit Indonesia lebih berorientasi pada pasar ekspor (export orientation), kemudian berubah pada orientasi pasar domestik (domestic market orientation) yang menyebabkan pasangsurut hilirisasi pasar domestik (Tomic dan Mawardi 1995; Sato, 1997; Sipayung, 2020). Dua regim kebijakan mempengaruhi industri minyak sawit dalam periode 1973-2020 yakni kebijakan alokasi dan harga maksimum CPO domestik (1973-1990), pajak ekspor minyak sawit dengan berbagai variasi (1991-2020). Untuk mempercepat hilirisasi minyak sawit didalam negeri, pemerintah mengeluarkan rangkaian berbagai kebijakan/instrument juga dikeluarkan untuk mempercepat hilirisasi seperti: (1) Pengurangan pajak penghasilan (tax allowance) untuk industri hilir kelapa sawit yang mengacu pada PP 52 tahun 2020 jo PP 62 tahun 2008 jo PP 1 tahun 2007; (2) Insentif Pajak (tax holiday) untuk industri hilir kelapa sawit perintis dengan mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.011/2020 tentang Pemberian Fasilitas Pembebasan Pajak Penghasilan Badan; (3) Pembebasan Bea Masuk atas impor mesin serta barang dan bahan untuk pembangunan atau pengembangan industri dalam rangka penanaman modal (PMK 76 tahun 2020) dan (4) Pengembangan Kawasan Industri Integrasi Industri Hilir Sawit dengan Fasilitas/Jasa Pelabuhan seperti Sei Mangkei (Sumatera Utara), Dumai-Kuala Enok (Riau), Tanjung Api-api (Sumatera Selatan) dan Maloy (Kalimantan Timur).

Kebijakan Bea Keluar. Kebijakan dengan fokus hilirisasi minyak sawit dimulai pada tahun 2020, dengan merubah kebijakan pajak ekspor menjadi kebijakan Bea Keluar CPO dan produk turunannya (PMK No. 128/2020 dan PMK No. 75/2020). Tujuannya adalah (1) menjamin ketersediaan bahan baku minyak sawit bagi industri domestik; (2) mengamankan pasokan serta harga minyak goreng didalam negeri; dan (3) mendukung Program Nasional Hilirisasi Industri Kelapa Sawit.

Kebijakan Bea Keluar (BK) tersebut pada prinsipnya memuat lima hal berikut : (1) Bea Keluar CPO dan atau CPKO dikenakan setelah produsen CPO memperoleh keuntungan, (2) Batas bawah harga CPO yang dikenakan BK CPO adalah jika harga CPO lebih besar dari US$750/ton; (3) Tarif BK produk hilir lebih rendah daripada produk hulunya dengan maksud mendorong hilirisasi didalam negeri; (4) Tarif BK minyak goreng kemasan lebih rendah daripada minyak goreng curah, untuk mendukung program National Branding dan (5) cakupan produk yang dikenakan BK diperluas seperti produk-produk hydrogenated, bungkil, PFAD yang merupakan bahan baku penting industri domestik. Dengan demikian kebijakan BK sebagai pajak ekspor diberlakukan secara progresif. Bea keluar baru diterapkan jika harga CPO dunia lebih besar dari USD 750 per ton dengan tarif 7.5 persen. Dengan penetapan BK secara ad valorem tax maka dengan meningkatnya harga CPO dunia, besaran tarif makin meningkat antara 7.5 persen sampai 22.5 persen. Pada harga CPO dunia lebih dari USD 1250 besarnya tarif BK maksimum 22.5 persen.

Pada tahun 2020 kebijakan BK tersebut dirubah menjadi BK yang baru (PMK 136/2020) dan dikombinasikan dengan kebijakan pungutan ekspor (PMK 114/2020). Kebijakan pungutan ekspor (levy) diberlakukan sebesar USD 50/ton CPO untuk setiap harga CPO dunia. Selain itu juga memberlakukan pungutan ekspor dengan tarif yang lebih rendah dengan makin ke hilir pada produk turunan CPO. Berbeda dengan BK lama yang menggunakan tarif relatif ad valorem, untuk mempermudah administrasi (unifikasi) pemungutan BK dan pungutan ekspor (levy) di pabean, instrumen BK baru menggunakan nilai absolut ad valorem yang dimulai pada harga CPO dunia di atas USD 750 per ton dengan tarif USD 3 per ton. Sehingga dengan tarif pungutan ekspor yang tetap sebesar USD 50 per ton maka secara total menjadi USD 53 per ton (Tabel 1) atau setara dengan pajak ekspor CPO 6.8 persen (Tim Riset PASPI, 2020).

Jika harga CPO dunia meningkat dari USD 750 menjadi USD 1000 per ton, tarif BK juga mengalami peningkatan dari USD 3 menjadi USD 93 per ton. Tarif BK terbesar yakni sebesar USD 200 per ton dipungut jika harga CPO dunia mencapai di atas USD 1250 per ton. Sementara itu, pungutan ekspor CPO secara absolut tetap sebesar USD 50 per ton untuk setiap tingkatan harga CPO dunia. Dengan demikian, kombinasi instrumen BK dan pungutan ekspor CPO menghasilkan pajak ekspor sebesar USD 50-250 per ton atau 6.7-20 persen. Jika dihitung rataan untuk setiap tingkatan harga CPO dunia (kecuali di bawah USD 750) pajak ekspor CPO baru adalah 13.85 persen. Dengan demikian, pajak ekspor CPO yang baru tersebut lebih rendah dari pajak ekspor CPO sebelumnya. Pajak ekspor CPO baru ratarata 7.7 persen di bawah pajak ekspor CPO lama (Tim Riset PASPI, 2020).

Tabel 1. Tarif Pajak Ekspor (kombinasi BK dan Pungutan Ekspor) Minyak Sawit dan Produk Turunannya Setelah PMK 136/2020 dan PMK 114/2020

Tabel 1. Tarif Pajak Ekspor (kombinasi BK dan Pungutan Ekspor) Minyak Sawit dan Produk Turunannya Setelah PMK 136/2020 dan PMK 114/2020

Dibandingkan dengan kebijakan sebelumnya (PMK No. 128/2020 dan PMK No. 75/2020) kombinasi kebijakan BK dan pungutan ekspor tersebut (PMK No. 136/2020 dan PMK No. 114/2020) memberikan insentif hilirisasi sebagai berikut (1) kebijakan pajak ekspor RBD Palm Olein yang baru lebih tinggi dibandingkan dengan pajak ekspor sebelumnya, (2) pajak ekspor RBD Palm Olein Kemasan lebih rendah dibandingkan dengan kebijakan sebelumnya. (3) pajak ekspor biodiesel lebih rendah dari kebijakan sebelumnya. Kebijakan baru tersebut secara umum dapat mendukung program hilirisasi minyak sawit. Pajak ekspor bahan mentah (CPO) yang lebih tinggi daripada pajak ekspor produk turunannya dapat mendorong hilirisasi melalui tiga jalur hilirisasi tersebut di atas. Demikian juga pajak ekspor produk yang makin ke hilir (misalnya RBD Palm Olein Kemasan) yang lebih rendah dari produk hulunya (RBD Palm Olein) juga dapat mendorong hilirisasi tersebut.

Pajak ekspor RBD Palm Olein Kemasan yang lebih rendah dari Biodiesel dapat dipandang sebagai bagian dari instrumen kebijakan untuk mengurangi masalah tradeoff fuel food. Kebijakan mandatori biodiesel dikhawatirkan akan menarik CPO ke industri biodiesel sehingga dikhawatirkan industri oleofood akan kehilangan dayasaingnya. Dengan menerapkan pajak ekspor yang lebih rendah pada industri oleofood (RBD Palm Olein Kemasan) dibandingkan produk di industri biodiesel diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara mendorong implementasi kebijakan mandatori biodiesel dan mendorong ekspor produk-produk hilir oleofood. Selain itu tarif ekspor biodiesel yang lebih tinggi tersebut merupakan instrumen untuk menahan sebagian produksi biodiesel didalam negeri sehingga implementasi mandatori biodiesel dapat kondusif dilaksanakan.

Kebijakan Mandatori Biodiesel. Kebijakan subsitusi solar dengan biodiesel sawit (FAME) merupakan bagian dari hilirisasi minyak sawit dalam negeri. Selain meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar domestik, kebijakan mandatory biodiesel juga merupakan strategi subsitusi impor (EO2SI2). Pengembangan biodiesel disetiap negara termasuk di Indonesia, ditujukan pada tiga hal pokok yakni (1) Mengurangi ketergantungan pada fosil-fuel (energy security); (2) Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca (GHG) khususnya CO2 kontributor utama pemanasan global (global climate changef mitigation) dan (3) Menciptakan/memperluas pasar komoditas pertanian untuk mendorong pembangunan pedesaan (rural development).

Kebijakan pengembangan bahan bakar nabati di Indonesia telah dimulai sejak tahun 2004 (Tabel 2) yakni Pertama, kebijakan pramandatori (persiapan) pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi (2004-2008). Kedua, kebijakan mandatori biodiesel B-1 (2008), B-2,5 (2020), B-10 (2020), B-15 (2020), B-20 (2020). Dan direncanakan akan menjadi B-30 (2020, 2025).

Tabel 2. Landasan Kebijakan Mandatori di Indonesia

Tabel 2. Landasan Kebijakan Mandatori di Indonesia

KESIMPULAN

Hilirisasi minyak sawit yang sedang berlangsung di Indonesia terdiri atas tiga jalur hilirasasi yakni (1) Jalur Hilirisasi Oleopangan (oleofood complex) yakni industri-industri yang mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk antara oleopangan sampai pada produk jadi oleopangan. (2) Jalur Hilirisasi Oleokimia (oleochemical complex) yakni industri-industri yang mengolah mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk-produk antara oleokimia/oleokimia dasar sampai pada produk jadi seperti produk biosurfaktan dan (3) Jalur Hilirisasi Biofuel (biofuel complex) yakni industri-industri yang mengolah mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk-produk antara biofuel sampai pada produk jadi biofuel. Hilirisasi minyak sawit tersebut merupakan kombinasi strategi promosi ekspor (export promotion) dan subsitusi impor (import substitution). Kebijakan hilirisasi yang ditempuh mencakup Pertama, Kebijakan Insentif Pajak (tax allowance, tax holiday, pembebasan impor atas mesin serta barang dan bahan). Kedua, Pengembangan Kawasan Industri Integrasi Industri Hilir Sawit dengan Fasilitas/Jasa Pelabuhan seperti Sei Mangkei (Sumatera Utara), Dumai-Kuala Enok (Riau), Tanjung Api-api (Sumatera Selatan) dan Maloy (Kalimantan Timur). Ketiga, kebijakan Bea Keluar (duty) dan pungutan ekspor (levy) dan Keempat, kebijakan mandatory biodiesel untuk subsitusi solar impor.

Peringkat broker opsi biner:
Penghasilan di Internet
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: