Indikator Perdagangan Etf – Indikator Penilaian Likuiditas ETF yang Keliru Selama Ini

Peringkat broker opsi biner:

Indikator Penilaian Likuiditas ETF yang Keliru Selama Ini

Artikel ini merupakan pembahasan lebih lanjut dari artikel sebelumnya yang diterbitkan pada tanggal 13 Februari 2020 yang berjudul “Sebenarnya, ETF Likuid atau Tidak?”. Dalam artikel tersebut, telah digambarkan mengenai likuiditas ETF di pasar primer dan sekunder melalui mekanisme kuotasi yang diberikan oleh Dealer Partisipan. Dalam artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai likuiditas ETF dan perbedaan mendasar mengenai likuiditas itu sendiri bagi efek ETF dibandingkan dengan efek saham.

Yoga Prakasa, CFP®

Banyak investor profesional maupun perorangan yang notabene berkecimpung dalam industri pasar modal Indonesia, masih meragukan likuiditas dari efek ETF. Keraguan atas likuiditas ETF dapat dimengerti dengan mengamati perdagangan yang terjadi (done) atas unit penyertaan ETF di Bursa Efek yang secara harian terbilang masih sedikit.

Sebenarnya, perdagangan unit ETF yang sudah terjadi bukanlah merupakan indikator yang akurat atas likuiditas suatu ETF. Mengapa demikian? Mari kita telaah bersama-sama.

Apa itu likuiditas?

“Likuiditas” dalam investasi secara umum dan sederhana diartikan sebagai kemudahan seorang investor untuk mentransaksikan instrumen investasinya. Tingkat likuiditas diukur dengan seberapa mudah transaksi tersebut dapat dilakukan dan seberapa jauh pengaruhnya terhadap harga instrumen tersebut. Semakin mudah suatu instrumen investasi diperjualbelikan dan semakin sedikit pengaruhnya terhadap harga, maka instrumen tersebut “semakin likuid”.

Itulah sebabnya mengapa properti dan real estate dikatakan kurang likuid karena kecepatan transaksi atas instrumen tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap harganya. Sebagai contoh, apabila seorang Investor sedang terdesak membutuhkan dana, maka dia perlu menurunkan harga penawaran atas propertinya secara signifikan apabila ingin segera terjual.

Peringkat broker opsi biner:

Bagaimana dengan likuiditas pada efek saham?

Dalam transaksi saham, likuiditas diukur dengan 3 faktor transaksi: volume, nilai, dan frekuensi. Saham yang likuid berarti aktif diperdagangkan yang ditandai dengan volume, nilai, dan frekuensi transaksi yang tinggi. Banyaknya pembeli dan penjual di pasar mengakibatkan harga saham tersebut tidak mudah dipermainkan oleh “bandar”.

Mengapa likuiditas ETF berbeda dengan saham?

Pengertian likuiditas pada ETF menjadi berbeda mengingat struktur dari ETF itu sendiri dan mekanisme perdagangannya.

ETF adalah Reksa Dana

ETF adalah Reksa Dana, yang oleh regulator diklasifikasikan sebagai Reksa Dana yang Unit Penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek. Aset yang mendasari ETF adalah instrumen investasi (Efek) lain yang juga diperdagangkan di Bursa Efek. Sehingga likuiditas dari aset dasar suatu ETF perlu menjadi pertimbangan bagi Investor yang akan berinvestasi pada ETF. Investor Reksa Dana konvensional juga perlu memperhatikan likuiditas dari aset dasarnya, namun karena ETF bersifat transparan maka keseluruhan aset dasarnya dapat dengan mudah diketahui.

    ETF diperdagangkan di Bursa Efek

    Tidak seperti Reksa Dana konvensional, di mana Investor membeli/menjual unit penyertaannya kepada Manajer Investasi, Investor ETF membeli/menjual unit penyertaannya melalui Bursa Efek. Karena seluruh aset dasar ETF dapat diketahui langsung oleh Investor, maka harga perdagangan saham-saham yang menjadi aset dasar ETF tersebut juga dapat diketahui oleh Investor. Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang mencerminkan harga wajar (fair market value) dari ETF bergerak mengikuti: 1) penawaran beli (bid) dan penawaran jual (offer) dari ETF itu sendiri dan 2) bid dan offer aset-aset dasarnya. Harga bid dan offer aset-aset dasar itulah yang digunakan oleh Dealer Partisipan dalam memberikan real-time quotation baik di Pasar Primer maupun Sekunder. Dengan adanya Dealer Partisipan, maka kemungkinan terjadinya penyimpangan harga ETF dengan NAB-nya menjadi sangat kecil.

    ETF diperdagangkan di 2 Pasar: Primer & Sekunder

    Unit penyertaan ETF yang sudah diterbitkan oleh Bank Kustodian dapat diperjualbelikan antar Investor di Bursa Efek Indonesia melalui perantara pedagang efek (broker) mana saja yang terdaftar sebagai Anggota Bursa. Perdagangan unit dengan cara ini disebut sebagai Pasar Sekunder (secondary market) sama layaknya pada perdagangan saham. Ada pasar lain di mana unit ETF dapat ditransaksikan, yaitu Pasar Primer. Serupa dengan pengertian primary market pada perdagangan saham, jual-beli dilakukan terhadap unit penyertaan yang baru diterbitkan (dalam hal Investor melakukan pembelian) atau yang akan ditarik dari peredaran (dalam hal Investor melakukan penjualan). Hanya saja, penawaran perdana unit ETF dilakukan secara terus menerus (continuous offering), berbeda dengan saham yang melakukan penawaran perdana sekali dengan kesempatan untuk melakukan rights issue dikemudian hari. Broker yang mendapat kewenangan untuk melakukan penawaran / memberikan kuotasi di Pasar Primer disebut sebagai Dealer Partisipan, dan dapat berjumlah lebih dari satu.

    Adanya peran Dealer Partisipan dalam ETF

    Seperti telah disebutkan sebelumnya, Dealer Partisipan adalah broker yang memiliki kewenangan melakukan transaksi di Pasar Primer. Untuk mendapatkan kewenangan tersebut, Dealer Partisipan telah menandatangani perjanjian dengan Manajer Investasi. Sesuai dengan peraturan Bapepam-LK nomor IV.B.3, Dealer Partisipan wajib memiliki kemampuan untuk mewujudkan perdagangan yang likuid atas unit penyertaan ETF. Atas dasar itu pula Dealer Partisipan wajib secara berkala atau terus-menerus menyampaikan penawaran bid dan offer di Pasar Sekunder. Sehingga dengan kata lain, likuiditas ETF juga sangat ditentukan oleh kemampuan Dealer Partisipannya.

Dengan melihat struktur serta karakteristik ETF di atas, menjadi jelas bahwa likuiditas ETF dipengaruhi oleh: 1) likuiditas aset dasarnya dan 2) kemampuan dari Dealer Partisipan.

Bagaimana dengan likuiditas ETF kelolaan IPIM?

IPIM saat ini mengelola 3 ETF saham berbasis indeks, yaitu Reksa Dana Premier ETF LQ-45 (ticker: R-LQ45X) yang mengacu kepada Indeks LQ-45, Reksa Dana Premier ETF IDX30 (ticker: XIIT) yang mengacu kepada Indeks IDX30, serta yang baru diluncurkan akhir April lalu, Reksa Dana Syariah Premier ETF JII (ticker: XIJI) yang mengacu kepada Indeks JII. Ketiga Indeks tersebut diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia.

Pada Pasar Sekunder, ETF IPIM terlihat kurang likuid karena terdapat sedikit kuotasi terlebih pada fraksi harga yang terdekat dengan NAB pada saat perdagangan. Hal ini terjadi karena: 1) masih sedikitnya jumlah pemegang unit penyertaan dan 2) kurang aktifnya pemegang unit penyertaan tersebut dalam memperdagangkan unit milik mereka. Akan tetapi, pada fraksi harga yang berikutnya (sekitar 0,5-1,0% dari NAB) pada kuotasi bid maupun offer, terdapat kuotasi harga penawaran yang besar yang mana merupakan kuotasi dari Dealer Partisipan.

Dealer Partisipan, sesuai dengan peraturan Bapepam-LK nomor IV.B.3, wajib memiliki kemampuan untuk mewujudkan perdagangan yang likuid atas unit penyertaan ETF. Selain memberikan penawaran bid dan offer di Pasar Sekunder secara terus-menerus, penawaran bid dan offer juga diberikan oleh Dealer Partisipan di Pasar Primer. Bagi Dealer Partisipan PT Indo Premier Securities, pemberian kuotasi diformulasikan secara elektronik dan dilakukan oleh mesin (server) sehingga selisih (spread) antara bid-offer terjaga mengikuti pergerakan pasar terus-menerus selama jam perdagangan.

Dengan melihat kedua faktor yang menjadi penentu likuiditas ETF tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa ETF kelolaan IPIM likuid. Hal ini dikarenakan: 1) aset yang mendasari indeks-indeks acuan ETF tersebut tergolong berkapitalisasi besar dan memiliki likuiditas transaksi yang tinggi serta 2) Dealer Partisipan memiliki sistem kuotasi yang dapat menyesuaikan dengan kondisi pasar sepanjang jam bursa dan menjaga selisih bid-offer baik di Pasar Primer maupun di Pasar Sekunder.

Mengapa ETF kelolaan IPIM “kurang likuid” dilihat dari transaksi yang dicatat di Bursa Efek?

Transaksi ETF di Bursa Efek hanya mencatat transaksi yang telah dilakukan (done) di Pasar Sekunder, karena memang yang terjadi di Pasar Sekunder adalah transaksi murni atas jual-beli unit ETF antar Investor.

Sedangkan transaksi ETF di Pasar Primer tidak dicatat sebagai transaksi ETF oleh sistem Bursa. Hal ini dapat dipahami karena yang terjadi di Pasar Primer adalah pembentukan (creation) unit baru yang masuk ke pasar dan penarikan (retraction) unit lama dari peredaran di pasar. Pembentukan unit baru dapat dilakukan apabila saham-saham yang menjadi aset dasar telah dibeli oleh Dealer Partisipan dan diserahkan kepada Bank Kustodian untuk “ditukar” dengan unit ETF. Sebaliknya, penjualan unit lama dilakukan oleh Dealer Partisipan dengan “menukar” unit ETF kembali menjadi saham-saham dasarnya.

Maka dari itu, pencatatan yang terjadi di Bursa Efek atas transaksi di Pasar Primer adalah: 1) pembelian saham-saham dasar dalam rangka pembentukan unit ETF dan 2) penjualan saham-saham dasar dalam rangka penarikan unit lama ETF. Dengan demikian, penggunaan indikator likuiditas saham (volume, nilai, dan frekuensi transaksi) menjadi tidak akurat, dan bahkan menjadi tidak relevan dalam penilaian likuditas ETF.

Diharapkan dengan pembahasan ini, Investor dan masyarakat umum dapat memperdalam pemahaman atas likuiditas ETF, sehingga dapat menilai secara kritis pemberitaan-pemberitaan mengenai ketidaklikuidan ETF.

Indikator Perdagangan Etf – Indikator Penilaian Likuiditas ETF yang Keliru Selama Ini

Jakarta, 19 November 2020

Pencatatan Perdana Reksa Dana Premier ETF Indonesia Financial (XIIF)

Setelah sebelumnya PT Indo Premier Investment Management (”IPIM”) memperkenalkan Exchange Traded Fund (”ETF”) berbasis Indeks dan sektoral, IPIM kembali menunjukan komitmennya dengan meluncurkan satu lagi produk ETF baru yaitu ETF pertama dengan pengelolaan yang bertema sektor Finansial. Produk tersebut diberi nama Premier ETF Indonesia Financial dengan kode perdagangan XIIF. ETF tersebut diharapkan dapat memberikan pilihan bagi Investor untuk mengambil peluang dalam pergerakan pasar saham Indonesia khususnya saham-saham sektor keuangan.

“Kami konsisten untuk terus memperkaya ragam produk ETF di Indonesia agar dapat dimanfaatkan Investor sehingga Investor memperoleh ragam alternatif investasi yang fleksibel, mudah dan murah sehingga mempermudah strategi pengelolaan dan pencapaian target imbal hasil portofolio Investor”, ungkap John D. Item, Direktur Utama IPIM.

Premier ETF Indonesia Financial dengan kode perdagangan XIIF merupakan produk ETF Ekuitas yang dikelola secara aktif, dimana Manajer Investasi memiliki kewenangan untuk menentukan emiten yang masuk ke dalam portofolio XIIF. Dalam hal ini IPIM memilih tema Financial-Related dilatarbelakangi oleh struktur demografi penduduk Indonesia yang didominasi oleh angkatan kerja usia produktif dan potensi pembangunan infrastruktur yang akan terus didorong oleh pemerintahan Jokowi – JK. Kedua hal tersebut membutuhkan pembiayaan dari sektor keuangan.

Sebagai sumber utama pendanaan sektor riil suatu negara, sektor keuangan menjadi proxy dari pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ekonomi Indonesia sebagai ekonomi terbesar 16 dunia dengan pertumbuhan diatas 5% per tahun menjadikan sektor keuangan di Indonesia kedepannya masih berpotensi menjadi investasi yang menjanjikan.

Untuk produk ETF terbaru ini, IPIM kembali menggandeng Deutcshe Bank, AG cabang Jakarta sebagai Bank Kustodian dan PT Indo Premier Securities sebagai Dealer Partisipan.

Elwin Karyadi, Director, Head of Global Transaction Banking and Investor Services Indonesia dari Deutsche Bank AG Cabang Jakarta mengatakan : ”Kami mengucapkan terima kasih kepada IPIM untuk kembali menunjuk Deutsche Bank sebagai Bank Kustodian untuk ETF baru ini. Mandat ini diberikan dengan mempertimbangkan track record kami dalam penyediaan jasa layanan Kustodian dan Fund Administration services untuk ETF di pasar modal Indonesia.

Kode Ticker Reksa Dana Premier ETF Indonesia Financial

”Indo Premier Securities sebagai Dealer Partisipan selalu menyempurnakan mekanisme perdagangan Premier ETF untuk meningkatkan likuiditas perdagangan baik di pasar primer maupun pasar sekunder sehingga kami bangga dan turut mendukung IPIM dalam melakukan inovasi produk ETF,” ujar Direktur Indo Premier Securities, Noviono Darmosusilo.

Keunggulan ETF atau Reksa Dana Bursa dapat dilihat dari berbagai sisi. Bagi Investor Reksa Dana, ETF Saham adalah layaknya Reksa Dana Saham, dengan kelebihan dapat diperdagangkan setiap saat selama jam perdagangan di BEI sehingga penentuan Nilai Aktiva Bersih (NAB) dapat dilakukan tanpa menunggu akhir hari. Sementara itu bagi Investor saham, ETF Saham memiliki kode perdagangan dan diperdagangkan seperti layaknya saham, dengan kelebihan diversifikasi seketika karena terdiri dari portofolio saham unggulan sehingga dapat mengurangi volatilitas perdagangan dan risiko investasi pada satuan saham. Ini sangat bermanfaat bagi Investor saham di Bursa Efek Indonesia yang volatilitasnya cukup tinggi.

Dengan keunggulan dari dua sisi tersebut, ETF menjadi instrumen investasi yang dapat dimanfaatkan Investor asing maupun domestik dalam menghadapi volatilitas pasar saham seperti saat ini. Keunggulan ETF berupa transparansi penuh, fleksibilitas tinggi, continuous pricing (perhitungan harga/NAB setiap saat selama jam bursa) serta kecepatan eksekusi melalui penerapan teknologi yang mutakhir, memungkinkan Investor untuk memiliki kontrol penuh pada tiap kondisi pasar.

“Melalui XIIF, Investor akan memiliki sekumpulan saham-saham sektor keuangan unggulan hanya dengan 1 transaksi. Investor dapat dengan cepat meningkatkan atau menurunkan porsi saham-saham sektor keuangan ketika kondisi pasar saham bergerak fluktuatif sehingga Investor dapat dengan cepat mengambil keuntungan atau menghindari kerugian secara efisien sesuai dengan strategi pengelolaan portofolio mereka. Di samping itu, transparansi portofolio produk ETF terjaga karena daftar portofolio diunggah ke website BEI setiap hari bursa sehingga Investor dapat mengetahui keseluruhan isi portofolio ETF dan meningkatkan akurasi pengelolaan portofolio milik Investor secara keseluruhan,” ujar John menegaskan.

Direktur BEI, Uriep Budhi Prasetyo, menjelaskan: ”Premier ETF Indonesia Finansial dengan kode saham XIIF yang diluncurkan hari ini, diharapkan dapat memberikan kemudahan berinvestasi bagi Investor Indonesia maupun Investor asing. Kami melihat XIIF dapat mewakili saham-saham sektor keuangan dengan likuiditas yang baik. Penambahan ETF baru ini menjadikan Bursa Efek Indonesia telah memiliki 7 ETF Saham, sehingga diharapkan dapat memberikan alternative investasi yang beragam yang dapat dimanfaatkan oleh Investor untuk mengelola portofolio investasinya dengan fitur kecepatan eksekusi saham dan instant diversifikasi yang ada pada ETF-ETF yang beredar saat ini”

”Pertumbuhan sektor keuangan Indonesia akan menarik ke depannya, manfaatkan dengan cara membeli ”XIIF”. Ini adalah cara baru berinvestasi di pasar saham dengan mudah, murah dan transparan”. tutup John dengan antusias.

TENTANG PT INDO PREMIER INVESTMENT MANAGEMENT (”IPIM”)

PT Indo Premier Investment Management (“IPIM”) adalah anak perusahaan dari PT Indo Premier Securities. IPIM didirikan pada tahun 2003 dan telah mendapatkan ijin sebagai Manajer Investasi dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam & LK). Sejak 18 Januari 2020, IPIM telah melakukan proses pemisahan diri (spin-off) dan memperbaharui ijin sebagai Manajer Investasi.

Dengan dukungan penuh dari induk perusahaan, di mana PT Indo Premier Securities merupakan perusahaan yang mengutamakan keunggulan teknologi dalam melakukan inovasi di industri pasar modal, memungkinkan IPIM untuk melakukan inovasi dalam menciptakan produk yang unik dengan pendayagunaan teknologi serta system back office yang kuat.

IPIM merupakan Manajer Investasi yang meluncurkan Reksa Dana Saham ETF pertama di Indonesia, yaitu Premier ETF LQ-45 (R-LQ45X) pada tanggal 18 Desember 2007. Selain Reksa Dana ETF yang baru diluncurkan, Reksa Dana andalan kami yang lain adalah Premier ETF LQ-45 (berbasis Indeks), Premier ETF IDX30 (berbasis Indeks), Premier ETF Syariah JII (berbasis Indeks) dan Premier ETF Indonesia Consumer, Premier ETF SMinfra18 (berbasis Indeks), Premier ETF SRI-KEHATI, Premier Campuran Fleksibel dan Premier Makro Plus.

Saat ini IPIM memiliki 17 produk Reksa Dana. Tujuan penerbitan produk Reksa Dana baru adalah untuk memperkaya ragam Reksa Dana yang dapat dipilih oleh Investor sesuai dengan kebutuhan investasinya. Produk-produk Reksa Dana IPIM antara lain: Reksa Dana Pendapatan Tetap, Reksa Dana Campuran, Reksa Dana Saham dan ETF, serta Reksa Dana Terproteksi.

TENTANG DEUTSCHE BANK AG, CABANG JAKARTA

Deutsche Bank AG, Cabang Jakarta – Bank Kustodian – adalah kantor cabang dari Deutsche Bank Aktiengesellschaft (”Deutsche Bank AG”), institusi perbankan yang didirikan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan Negara Republik Federal Jerman.

Deutsche Bank AG Cabang Jakarta telah mendapatkan persetujuan sebagai Kustodian di bidang pasar modal dari Badan Pengawas Pasar Modal (“BAPEPAM”) berdasarkan Surat Keputusan Ketua BAPEPAM Nomor Kep-07/PM/1994 tanggal 19 Januari 1994, dan mulai memberikan jasa kustodian di Indonesia sejak tahun 1994.

Bisnis Investor Services dari Deutsche Bank AG Cabang Jakarta menyediakan jasa kustodian, fund administration services, dan jasa-jasa terkait lainnya kepada nasabah dalam dan luar negeri, seperti kustodian global, perusahaan pengelola asset, perusahaan asuransi, Reksa Dana[DB1] , dana pensiun, investment bank, broker-dealer Efek[DB2] , dan perusahaan-perusahaan[DB3] .
[DB1]Mina email from KD, delete this, I do believe we have Mutual Fund as our client please consult again with KD
[DB2]Mina email from KD, delete this, I do belive the use of Securities/efek so it will give a clear information that the broker dealer dealing with us is a securities broker dealer, please consult again with KD I hope it just a matter of translation only
[DB3]Mina email from KD, delete this, I do believe we have some companies (non financial institution) as our client please consult again with KD

Bagikan ini:

Menyukai ini:

Daily Market Review 25 Juni 2020

1. GLOBAL
Market US ditutup flat cederung negatif di kisaran -0.42% sampai -0.7%
Market Eropa ditutup flat cenderung mix di kisaran -0.2% sampai 0.17%
Driver:
• Data Penjualan rumah baru pada bulan Mei naik 18,6 % ke level 504.000 unit diatas ekspektasi analis dilevel 440.000.
• Consumer Confidence bulan Juni meningkat ke level 85.2 diatas ekspektasi di level 83.
• Kekwawatiran terhadap kekerasan di Irak dan kenaikan harga minyak dunia
• Indeks Iklim bisnis Jerman bulan Juni mengalami penurunan ke level 110.4 dibandingkan bulan sebelumnya di level 111.2.

2. DOMESTIC
IHSG ditutup menguat sebesar 0.42% ke level 4.862.24. Dimana Asing Net buy sebesar Rp 119 miliar.
Penguatan IHSG kemarin dipicu oleh teknikal rebound setelah beberapa hari indeks mengalami penurunan. Pada pelelangan SBN kemarin tercatat jumlah penawaran yang masuk sebesar Rp 13. 8 T, dimana yang terserap sebanyak Rp 8,3 T, bi to cover ratio sebesar 1,6 x. Dimana penawaran yang masuk cukup besar pada SUN dengan tenor waktu jatuh tempo jangka panjang, selain karena memberikan imbal hasil yang relatif cukup tinggi, dan juga ini mengindikasikan para investor masih percaya kedepannya perekonomian Indonesia akan semakin membaik.

Conclusion & Recommendation:
Secara long term, ekspektasi ke depannya fundamental Indonesia akan terus membaik seiring dengan perbaikan ekonomi Tiongkok, struktur demografi yang menguntungkan, dan arus urbanisasi yang besar terutama apabila sumber daya manusia terkelola dengan baik.
Namun secara short term kita mengekspektasikan adanya peningkatan volatilitas di pasar terutama karena faktor ketidakpastian akan hasil pemilihan presiden 9 Juli 2020 mendatang dan juga ketidakpastian keadaan di Irak. Karena itu, bagi investor yang tidak ingin terexpose terlalu besar pada volatilitas di pasar bisa disarankan untuk memanfaatkan ETF broad index kita, ETF R-LQ45X dan ETF XIIT.
Opsi lainnya adalah untuk masuk RPCF bagi yang mempunyai strategi untuk meminimalkan risiko volatilitas yang tinggi dengan memanfaatkan alokasi asset yang optimal.

Bagi investor yang ingin memanfaatkan efek seasonal menjelang lebaran, investor bisa disarankan masuk XIIC karena sektor konsumer yang akan diuntungkan ketika masyarakat Indonesia akan menambah kegiatan konsumsi mereka untuk mempersiapkan kebutuhan pada bulan Ramadhan mendatang. Diperkirakan sektor konsumsi ini akan terjadi proyeksi peningkatan permintaan sebesar 20 – 30 persen periode 2 bulan sebelum Lebaran hingga 2 minggu setelah Lebaran. Ditunjang daya beli masyarakat yang sudah mulai meningkat dibanding tahun lalu yang sempat turun akibat kenaikan harga BBM.

Untuk jangka panjang, para investor tidak perlu khawatir karena siapa pun presidennya, pasti ada sektor yang diuntungkan;
Jika yang terpilih adalah capres no. 2 maka investor bisa disarankan untuk masuk XISI kita. Karena sejauh ini kita lihat rencana program capres tersebut terus menekankan pada pembangunan infrastruktur Indonesia dan komitmen beliau pada sektor infrastruktur, antara lain dengan tol laut yang terus beliau tekankan pada kesempatan debat capres, pembangunan 2,000km jalan baru (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua), 10 pelabuhan baru, airport dan kawasan industri.
Selain itu kita masih melihat bahwa sektor infrastruktur di Indonesia masih mempunyai potensi yang sangat besar karena 5 tahun terakhir competitiveness infrastruktur kita naik 14 ranking dari ranking 96 tahun 2008 menjadi ranking 82 pada tahun 2020. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, alokasi pembiayaan infrastruktur terhadap PDB Indonesia masih hanya sebesar 2%, dimana negara-negara tetangga sekitar 4-5% terhadap PDB. Dengan masih besarnya potensi infrastruktur di Indonesia untuk dibangun dan disupport dengan presiden yang pro-infrastruktur, maka kita ekspektasikan ETF XISI kita berpotensi untuk mencetak imbal hasil yang signifikan. Terlebih lagi, Indonesia masih memiliki banyak wilayah potensial yang belum tersentuh, jika dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang memiliki lahan lebih sedikit.

Sebaliknya jika yang terpilih adalah capres no.1, maka investor bisa disarankan untuk masuk ETF XIJI kita yang dimana mempunyai eksposur ke Mining & Energy 7.18% dan Agri 2.95%. Karena kalau kita lihat rencana program capres no.1 tersebut menekankan untuk pembangunan dalam sektor pertanian dan agribisnis, serta mining & energi agar menjadi value-added bagi Indonesia, sehingga bisa menekan laju impor. Program-programnya mencakup seperti pembangunan perbankan untuk sektor agri, mencetak 2juta hektar lahan baru untuk produksi pangan, dan membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi & air dengan kapasitas 10,000MW dan melaksanakan penyediaan listrik nasional mencapai 100% sampai tahun 2020. Kebutuhan listrik Indonesia mencapai 8.4% per tahun, sementara Indonesia masih memiliki cadangan batu bara yang besar, sehingga apabila batu bara tersebut dapat dikonversikan untuk kebutuhan listrik, akan meningkatkan permintaan batu bara dalam negeri. Sektor infrastruktur juga akan diuntungkan, karena beliau mencanangkan percepatan pembangunan infrastruktur dasar untuk mendukung kegiatan ekonomi utama dengan pengalokasian dana sebesar 10.32% dari total belanja negara periode 2020 -2020. Contohnya seperti alokasi anggaran 1 Miliar/desa untuk pengembangan infrastruktur (total 75.244 desa), pembangunan rel kereta api total 4000 km.
Oleh karena itu, dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia, sektor – sektor lainnya seperti emiten –emiten berbasis konsumsi juga akan diuntungkan, karena sekitar 17 persen dari total pengeluaran perusahaan berasal dari beban biaya logistik dan transportasi yang tinggi.

Sebagai tambahan, untuk investor yang percaya bahwa kondisi makroekonomi Indonesia akan berubah seiring dengan terpilihnya presiden dan jajaran pemerintahan yang baru dan ingin diuntungkan dengan setiap perubahan makroekonomi variabel tersebut bisa disarankan untuk masuk Makroplus.

Peringkat broker opsi biner:
Penghasilan di Internet
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: