Evaluasi Dan Optimalisasi Strategi Perdagangan Edisi Kedua Bidang Perdagangan Luar Negeri

Peringkat broker opsi biner:

Perkembangan Sektor Perdagangan Indonesia Termasuk Perdagangan Luar Negeri

NAMA : ZULFAHMI

NIM : 1104020031

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bagi kebanyakan negara berkembang, sektor perdagangan khususnya perdagangan luar negeri memegang peranan penting dalam mendukung perekonomian negara tersebut. Sektor perdagangan yang berbasis pada industrialisasi memegang peranan kunci karena produk yang dihasilkan diharapkan mampu bersaing dengan produk industri negara lain dalam pasar global. Kemajuan pembangunan sektor industri maupun perdagangan diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi kemajuan pembangunan pertumbuhan ekonomi (Sudaryati, 2002: 2).

Peringkat broker opsi biner:

Prestasi pembangunan dapat dinilai dengan berbagai macam cara dan tolak ukur, baik dengan pendekatan ekonomi maupun dengan pendekatan non ekonomi. Salah satu cara tolak ukur untuk menilai prestasi pembangunan tersebut adalah dengan melihat tingkat pertumbyhan ekonomi daerah. Pada umumnya, laju pertumbuhan ekonomi suatu negara ditunjukkan dengan menggunakan tingkat pertumbuhan PDB/PNB. Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan PDB/PNB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk atau apakah perubahan stuktur ekonomi terjadi atau tidak. Suatu perekonomian baru dapat dinyatakan dalam keadaan berkembang jika pendapatan perkapita menunjukkan kecenderungan jangka panjang yang meningkat (Lincolin Arsyad, 1999 : 7)

Stok modal atau investasi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan tingkat pendapatan nasional. Kegiatan investasi memungkinkan suatu masyarakat terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan taraf kemakmuran (Sukirno, 2000 : 367). Pada saat krisis ekonomi yang terjadi pada akhir tahun 1997 dan awal tahun 1998, proses pembangunan ekonomi di Indonesia terasa berhenti, bahkan pertumbuhan ekonomi negative pada awal tahun 1998. Hal tersebut mengakibatkan perkembangan pertumbuhan ekonomi nasional turun hingga 8% selama tahun 1998, dan perekonomian nasional secara keseluruhan mengalami kontraksi sebesar 12,64%.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sektor Perkembangan Perdagangan di Indonesia

Tujuan reformasi perdagangan adalah membangun perekonomian yang berorientasi perdagangan untuk mencapai tambahan ekspor di masa datang di atas trend yang berlaku. Target jangka pendek dapat berupa menambah ekspor non-migas pada 2009 dan terus berkembang untuk pencapaian target jangka menengah selanjutnya pada tahun 2020. Di samping itu juga mengurangi ketergantungan perdagangan luar negeri Indonesia kepada negara tertentu seperti Amerika Serikat, sehingga keadaan ekonomi negera tersebut tidak terlalu memengaruhi perdagangan dan ekonomi Indonesia.

Pemerintah perlu terus melakukan strategi perdagangan komprehensif yang dapat:

• Memberi peluang untuk pengembangan industri.

• Memperbaiki akses Indonesia di pasar utama dunia.

• Mendukung perdagangan internal dengan menghilangkan kendala (bottleneck) infrastruktur dan hambatan regional dalam perdagangan internal dan antardaerah.

• Menggalakkan dan mendiversifikasi produksi dan basis ekspor Indonesia ke wilayah tujuan ekspor yang baru.BAB II PERDAGANGAN LUAR NEGERI B UTIR – BUTIR PEMIKIRAN PERDAGANGAN INDONESIA 2009 – 2020 26

• Memperbaiki formulasi dan koordinasi kebijakan perdagangan.

• Mendukung kebijakan perdagangan, industri, dan pertanian yang akan disatukan agar tercipta industri-industri berdaya saing.

Ada beberapa langkah pemerintah di bidang perdagangan antara lain:

  • Program Pemerintah mengenai harmonisasi tarif jangka menengah pada bulan Februari 2006 menuju kepada tingkat tarif rendah dan standar, mengkhususkan pada kerangka penurunan tarif periode 2005-2020.
  • Beberapa langkah non-tarif untuk kelompok produk pertanian.
  • Upaya perbaikan fasilitasi perdagangan.
  • National and ASEAN Single Window (satu jendela layanan pengurusan dokumen ekspor dan impor).
  • Penyempurnaan seluruh peraturan dengan melakukan upaya standarisasi proses dokumentasi/bisnis menuju satu sistem.
  • Prosedur ke-pelabuhanan harus terintegrasi dengan prosedur pengurusan perdagangan.
  • Terwujudnya penggunaan sistim dokumen on line dan elektronik.

B. Perdagangan Luar Negeri

Persaingan bisnis di era perdagangan bebas menunjukkan perkembangan yang pesat sehingga seolah tidak ada batas antarnegara. Indonesia harus berkompetisi dengan negara lain di bidang perdagangan, baik negara maju maupun negara berkembang. Perdagangan bebas membuka peluang bagi produsen Indonesia untuk menjual produknya ke luar negeri dan sebaliknya memberi pilihan produk yang lebih banyak kepada masyarakat. Penganjur perdagangan bebas berargumen bahwa liberalisasi menguntungkan semua negara dan keseluruhan ekonomi di dunia. Setiap negara dapat berkonsentrasi untuk memproduksi barang tertentu dengan seefisien mungkin untuk meningkatkan kapasitas ekonomi dunia.

Peran pemerintah diharapkan sangat sedikit dalam perdagangan bebas dan seakan-akan ‘diharamkan’. Namun demikian, perdagangan bebas antar- negara yang tidak terkontrol oleh peran pemerintah dan negara dapat berakibat pada keadaan dimana pengusaha dalam negeri terutama sektor Usaha Kecil dan Menengah semakin terpuruk karena berkompetisi dengan pengusaha dari negara maju. Untuk itu tetap diperlukan peran pemerintah dan kalangan dunia usaha untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif, agar semua pelaku usaha dapat tetap bertahan dan bersaing satu sama lain secara sehat.

Sistim perdagangan bebas meminta setiap negara membuka akses yang adil dan tidak diskriminatif terhadap satu sama lain. Akses terbuka ini menjadi tertutup jika terjadi ketimpangan teknologi dan informasi perdagangan sehingga dunia usaha negara berkembang seperti Indonesia menjadi dirugikan.

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk dan daya beli yang terus meningkat sehingga menghasilkan potensi pasar yang sangat besar dan menarik minat pelaku usaha di luar negeri untuk masuk dan mengembangkan pasar. Banyak perusahaan baru bermunculan dan para investor asing mulai menanamkan modalnya dan meramaikan kompetisi bisnis di Indonesia. Pengusaha dalam negeri bersaing dengan rekannya dari negara lain. Demikian pula, dalam berbisnis di luar negeri pengusaha Indonesia dapat ikut serta mengambil bagian. Kalau di dalam negeri pengusaha Indonesia sukar bersaing dengan pengusaha asing, maka dalam perdagangan dengan negara lain akan lebih berat untuk pengusaha Indonesia.

Untuk dapat bersaing pada tingkat perdagangan dunia, maka dunia usaha dalam negeri harus tumbuh kuat. Untuk cepat tumbuh kuat tentu salah satunya diperlukan kebijakan pemerintah yang menguntungkan pengusaha dalam negeri. Meskipun perdagangan bebas berarti tidak ada batas negara, kebijakan yang menguntungkan masih dapat diciptakan dengan syarat tidak melawan hukum perdagangan bebas dunia.

Kebijakan yang menguntungkan pengusaha dalam negeri dilakukan oleh negara maju sebagaimana sikap negara industri maju yang secara tidak langsung melakukan proteksi terhadap industri dalam negerinya melalui berbagai isu seperti isu lingkungan hidup, ketenagakerjaan dan lain-lain. Menghadapi perdagangan bebas dunia, maka kalangan dunia usaha juga perlu untuk mengambil sikap dalam menjaga keseimbangan dunia usaha dalam negeri dan luar negeri.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Tujuan reformasi perdagangan adalah membangun perekonomian yang berorientasi perdagangan untuk mencapai tambahan ekspor di masa datang di atas trend yang berlaku. Target jangka pendek dapat berupa menambah ekspor non-migas pada 2009 dan terus berkembang untuk pencapaian target jangka menengah selanjutnya pada tahun 2020. Persaingan bisnis di era perdagangan bebas menunjukkan perkembangan yang pesat sehingga seolah tidak ada batas antarnegara. Indonesia harus berkompetisi dengan negara lain di bidang perdagangan, baik negara maju maupun negara berkembang. Perdagangan bebas membuka peluang bagi produsen Indonesia untuk menjual produknya ke luar negeri dan sebaliknya memberi pilihan produk yang lebih banyak kepada masyarakat. Penganjur perdagangan bebas berargumen bahwa liberalisasi menguntungkan semua negara dan keseluruhan ekonomi di dunia.

Strategi perdagangan Indonesia hadapi tantangan global

Selasa, 3 Februari 2020 01:34 WIB

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Jakarta (ANTARA News) – Udara dingin yang bisa mencapai minus tujuh pada pagi hari di Davos, Swiss, tidak menyurutkan lebih dari seribu CEO perusahaan besar dari berbagai belahan dunia mengikuti pertemuan tahunan World Economic Forum yang berlangsung sejak 21-24 Januari 2020

Ajang tahunan WEF menjadi penting bagi mereka dalam mengambil keputusan bisnis ke depan karena dalam forum itu dibahas berbagai tren, tantangan, dan solusi dan peluang di tahun ini.

Tahun ini organisasi yang didirikan profesor di bidang bisnis dari Universitas Jenewa, Swiss, Klaus Schwab itu mengambil tema besar diskusi “The New Global Context” yang tidak hanya membahas masalah ekonomi, tapi juga politik, sosial, lingkungan, dan teknologi.

Namun sejak awal, Klaus Schwab menegaskan bahwa pertemuan tahunan yang tidak hanya dihadiri CEO, tapi juga akademisi, tokoh politik dan pemerintahan, serta lembaga swadaya masyarakat dan jurnalis itu, bukan hanya untuk menginventaris masalah, tapi juga mencari solusi.

“Kita datang di sini untuk menangani berbagai tantangan regional dan domestik,” katanya pada pembukaan forum tersebut.

Ia berharap dari interaksi para pemimpin perusahaan, tokoh, dan akademisi, serta LSM, dan jurnalis itu akan menghasilkan salah satunya kesepakatan dan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif berkelanjutan, di tengah tantangan global yang makin berat.

Tantangan tersebut antara lain berasal dari harga minyak mentah dunia yang cenderung menurun dan krisis di sejumlah negara yang belum berakhir, sehingga mempengaruhi perubahan bisnis dan pertumbuhan ekonomi global.

Dalam diskusi awal terkait ekonomi makro terungkap bahwa negara berkembang akan mendapat tantangan besar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Hal itu terkait dengan perlambatan ekonomi global, proses pemulihan ekonomi Amerika Serikat, krisis di Eropa yang bisa muncul sewaktu-waktu, penurunan harga minyak dunia, serta perlambatan laju pertumbuhan ekonomi China yang selama ini menjadi motor penggerak pertumbuhan global.

Pada diskusi dengan pembicara antara lain Co-founder and Managing Director The Carlyle Group David M. Rubenstein, Deputy Managing Director International Monetary Fund (IMF) Min Zhu, CEO SOHO China Zhang Xin, Vice-Chairman GE Hong Kong SAR John Rice, dan ekonom asal Jerman Axel Weber itu juga terkemuka tantangan lain di bidang ekonomi berupa risiko penggelembungan aset di beberapa beberapa negara, inflasi tak terkendali, kegagalan mekanisme sistem keuangan, dan krisis ekonomi pada sebagian negara utama di dunia.

Dari semua itu yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan harga minyak mentah yang menyentuh angka di bawah 50 dolar AS/barel, serta keengganan AS memangkas produksi shale oil, yang bakal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia.

Salah satu negara yang diperkirakan akan “terpukul” oleh tantangan global yang masih berat itu adalah adalah Rusia. Perekonomian negeri Beruang Merah itu diperkirakan tumbuh di bawah proyeksi 4,8 persen pada tahun ini.

Ekonomi Domestik

Lalu bagaimana dampak ekonomi global tersebut terhadap Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil yang juga hadir pada WEF nampak tidak khawatir dengan hal tersebut. Ia yakin kekuatan ekonomi domestik masih besar untuk menghadapi tantangan global yang bakal menghadang

Apalagi ia menilai pembicaraan mengenai Indonesia sangat positif di forum dunia itu. Pada sejumlah diskusi banyak pembicara yang mengapresiasi berbagai kebijakan pemerintah terutama di bidang reformasi birokrasi dan perbaikan iklim investasi. .

“Saya melihat pesan Presiden Joko Widodo tentang perbaikan iklim investasi di Indonesia sudah tersebar luas di sini (WEF),” ujar Sofyan.

Oleh karena itu ia tidak ragu investasi asing ke Indonesia bakal terus mengalir. Apalagi sejumlah negara maju melonggarkan likuiditas mereka.

Sofyan justru mengkhawatirkan penurunan pertumbuhan ekonomi Tiongkok karena negeri Tirai Bambu itu merupakan salah satu tujuan utama ekspor komoditas Indonesia.

Pada 2020, misalnya, ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai 22,6 miliar dolar AS dan pada Januari-Oktober 2020 nilai ekspor telah mencapai 14,6 miliar dolar AS.

Sofyan mengakui ada kecenderungan ekspor Indonesia menurun, tidak hanya karena perlambatan ekonomi Tiongkok, namun juga akibat pemerintah melarang ekspor bahan tambang dalam keadaan mentah (primer). Selama ini ekspor Indonesia ke Tiongkok didominasi produk bahan primer, termasuk tambang dan perkebunan.

Namun jangka menengah dan panjang, ia yakin dengan pelarangan ekspor bahan mentah, maka nilai ekspor Indonesia akan meningkat karena harga komoditas bakal naik setelah diolah terlebih dahulu di dalam negeri.

Hal senada dikemukakan Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel yang juga hadir di WEF. Ia menilai tantangan global yang semakin berat, merupakan peluang untuk menunjukkan kekuatan ekonomi dan pasar domestik.

“Pasar domestik kita yang besar adalah insentif dan bisa dimanfaatkan lebih maksimal di tengah tantangan global saat ini,” katanya di sela-sela pertemuan bilateral dengan sejumlah negara di Davos.

Untuk itu, ia akan mengoptimalkan semua perangkat yang ada di Kementerian Perdagangan untuk melindungi pasar dalam negeri, mendorong investasi, dan mendukung penguatan industri nasional.

Kendati demikian, Rachmat menegaskan pihaknya juga akan terus mencari peluang-peluang baru untuk menggenjot ekspor produk manufaktur bernilai tambah tinggi guna memenuhi target kenaikan ekspor tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan.

Untuk itu, meski baru tiga bulan sejak pelantikan menjadi Menteri Perdagangan, ia langsung memanggil para pejabat perwakilan perdagangan di luar negeri — yang terdiri dari 24 atase perdagangan, 19 pejabat Indonesia Trade Promotion Centre (ITPC), konsul perdagangan di Hong Kong, dan kantor dagang dan ekonomi di Taiwan — guna membuat strategi ekspansi pasar ekspor.

“Pejabat perwakilan perdagangan di luar negeri harus berperan aktif dan inovatif meningkatkan ekspor di negara akreditasi masing-masing,” ujar Rachmat yang juga mantan anggota Komite Inovasi Nasional (KIN) itu.

Keseriusan itu juga terlihat ketika ia meminta secara khusus Atase Perdagangan Indonesia di Jenewa, Swiss, Nugraheni Prasetya Hastuti untuk mencari peluang baru ekspor produk manufaktur.

“Tolong cari peluang-peluang lain untuk meningkatkan ekspor kita ke Swiss,” pintanya ketika berada di Bandara Zurich sebelum kembali ke tanah air pascamenghadiri pertemuan WEF di Davos, beberapa waktu lalu.

Permintaan Rachmat itu terkait strategi jangka menengah Kementerian Perdagangan untuk mengubah struktur komoditas ekspor. Selama ini ekspor nonmigas Indonesia didominasi produk primer (bahan mentah) yang mencapai 63 persen, sedangkan produk manufaktur hanya 37 persen.

Ke depan struktur itu akan diubah menjadi 65 persen produk manufaktur dan 35 persen produk primer. “Untuk mencapai target itu, saya akan berkoordinasi dengan Menteri Perindustrian Saleh Husin,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Riset itu.

Sejauh ini pihaknya telah menginventarisasi 60 produk untuk mendukung perubahan struktur ekspor tersebut, antara lain berupa produk jasa, produk kreatif, produk kulit, elektronik, tekstil, kimia, kayu dan mebel, serta produk logam yang permintaannya masih tinggi di dunia, di samping mampu menyerap tenaga kerja yang besar.

Perubahan itu juga sejalan dengan prediksi Bank Dunia dalam “Commodity Price Forecast” yang menyebutkan indeks harga komoditas enegi akan turun dari 123,2 pada 2020 menjadi 121,9 pada 2020. Sedangkan indeks harga produk manufaktur naik dari 109 pada 2020 menjadi 115,4 pada 2020.

Oleh karena itu ia mengajak seluruh kekuatan terutama di jajaran Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk bekerja lebih keras dan tangkas, bahkan kalau perlu melewati rintangan yang berbahaya sekalipun agar target 300 persen kenaikan ekspor bisa tercapai.

“Seperti suatu ungkapan dalam Bahasa Itali yang pernah dipopulerkan Bung Karno, Vivere Pericoloso, yang berarti hiduplah secara berbahaya. Kemendag bercita-cita besar meningkatkan daya saing hingga dapat melipatgandakan ekspor nonmigas selama 2020,” ujarnya.

Oleh Oleh Risbiani Fardaniah
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Peringkat broker opsi biner:
Penghasilan di Internet
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: